Apa kabar, Ramadhanku?
Masih ingat tidak seperti apa perasaan kita kala kita ditinggal bulan ramadhan pergi? Sedih, bahagia atau biasa aja?
Masih ingat juga tidak, perihal janji-janji untuk berbenah selepas ramadhan? Kala itu, barangkali diri kita pernah berjanji, akan berbenah dan menuju baik selepas ramadhan.
Kini, ramadhan tinggal menghitung beberapa hari. Bukan pada lama atau sebentar menunggunya. Tapi lebih kepada dalam masa menunggu itu persiapan seperti apa yang sudah kita persiapkan. Sesiapa saja yang sedang merindu pasti paham perasaan ini.
Dalam masa menunggu biasanya seseorang itu akan melakukan yang terbaik. Barangkali diri kitapun bisa melakukan yang demikian. Melatih diri yang biasanya lebih emosi, senggol bacok. Sekarang lebih melatih jiwa untuk lebih sabar. Apalagi dalam sholat, yang biasanya secepat kilat. Semoga dilakukan dengan thuma'ninah dan lebih khusyu. Lebih tenang, dengan perasaan bahagia tentunya.
Barangkali bisa kita latih mulai sekarang, melatih untuk sholat sunnah setelah sholat wajib kita dirikan dengan tepat waktu. Sholat sunnah qobliah dan ba'diyah. 2 rokaat sebelum Shubuh. 4 rokaat sebelum Dzuhur. 2 rokaat setelah Dzuhur. 2 rokaat setelah Maghrib. Dan 2 rokaat setelah Isya…
Jangan lupa sholat witirnya juga. Ini yang cukup sulit ya biasanya. Gpp, dipaksa dulu. Nantinya akan terbiasa.
Dan mencoba melatih pula untuk membiasakan diri bangun disepertiga malam. Atau jika belum bisa setidaknya bangun sebelum adzan shubuh. Caranya? Pasang alarm dimana-mana ya.
Cara ini pula sesungguhnya ampuh bagi yang belum menikah, sebagai tips n trik melatih diri sebagai ibu yang baik yang mana nantinya akan bangun pagi dan mempersiapkan kebutuhan keluarga di pagi hari. Atau sebagai ayah yang bertanggungjawab dengan melaksanakan sholat berjamaah di masjid.
Paksa, dipaksa ya. Dan memang berat diawalnya. Bangun dengan kemampuan mata yang berat. Dan kalau sudah melek (buka mata), duduk sebentar, jangan lupa napas. Baca doa dulu, lalu ambil wudhu trus lanjut sholat.
Untuk diawal jangan ngoyo ya, santai dulu. Tidak perlu langsung dengan rokaat banyak. Dua rokaat cukup untuk permulaan. Dan niatkan untuk istiqoma. Caranya? Ya minta sama Allah supaya diberi keistiqomahan dalam menjalankannya.
Banyak banget yang harus dilatih. Katanya rindu, maka sebaik-baik rindu adalah temu. Dan sebaik-baik temu adalah pertemuan yang membaikkan.. masih rindukan? Masih ingin bertemu ramadhan dengan kualitas pribadi yang baikkan?
Nah kalau iya, mari kita lanjutkan.
Mulai saat ini, bisa dicoba juga. Membiasakan diri dekat dengan Al-Qur'an. Yang biasanya jauh-jauhan ni ya, kita coba untuk memperbaikinya kembali. Gak usah malu, apalagi malu-maluin.
Setiap habis sholat maghrib atau sholat shubuh. Coba untuk membaca 8 - 9 ayat atau 2 lembar Qur'an. Alhamdulillah kalau sudah terbiasa 1 juz per hari. Atau terbiasa pula membacanya setelah sholat wajib. Ini ampuh untuk melatih kepekaan dan kelembutan hati kita.
Ini semua semata buat apa sih? Buat persiapan diri dan jiwa kita untuk menyambut bulan ramadhan. Supaya Allah lihat kesungguhan kita, kecintaan kita. Dan semoga Allah ridha atas apa yang kita upayakan ini.
Jangan lupa juga belajar berbagi, punya kelebihan sedikit saja. Coba untuk belajar shodaqoh senyum, shodaqoh masakan, ilmu, atau apa saja yang bermanfaat . Supaya nanti terbiasa ketika di bulan yang semua amalan dilipat gandakan. Kita bisa berbagi sepenuh hati. Ikhlas karena-Nya.
Ah iya, satu lagi. Persiapkan semua keperluan di bulan ramadhan. Semisal baju baru, kebutuhan makanan, buat roti kering dan semacamnya. Agar nanti ketika sudah memasuki bulan ramadhan apalagi di 10 hari terakhir ramadhan kita bisa fokus tanpa di pusingkan lagi dengan persiapan lebaran semisal kue dam semacamnya. Dan ini lebih menguntungkan juga sih, lebih murah, hemat dan bisa santai nantinya. Biasanya untuk kaum wanita.
Ah ramadhan. Tinggal menghitung beberapa hari dari sekarang. Persiapkan dengan sebaik-baik persiapan ya. Semoga dalam penantian menyambutnya kita bisa berbenah mulai dari sekarang. Yang dirindu segera tiba.. semoga Allah memampukan kita untuk bertemu dengannya (bulan ramadhan)..
- Ibn Syams












