🩵 avery cochrane 🩵

Discoholic 🪩
todays bird

gracie abrams
Claire Keane

roma★

pixel skylines
macklin celebrini has autism
$LAYYYTER

if i look back, i am lost
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Not today Justin
Xuebing Du

ellievsbear
hello vonnie

PR's Tumblrdome

izzy's playlists!
Jules of Nature
RMH
The Stonewall Inn

seen from United States
seen from United States

seen from Australia

seen from Türkiye

seen from France
seen from United States
seen from Ghana

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Netherlands

seen from Spain
seen from Kenya

seen from United States
seen from Finland
seen from Brazil

seen from Ireland
seen from Bangladesh

seen from Bangladesh
seen from Colombia

seen from United States
@makamraiders
Kuasa gelap Djiwostara Sandhiyuda bersama kalian Sukowati Metal Invasion! Terimakasih @srg_official @reshaxsuck , kalian semua digdaya #djiwo #djiwostara #djiwoband #djiwo #djiwostarafraternity #bumisukowati #sukowati #sukowatimetalinvasion (at Sasana Manggala Sukowati)
Mari berpesta dalam gaung kebisingan Bumi Perdikan SUKOWATI! Moyang leluhur kalian adalah societas "Pasarah Srenggi" terpilih di masa lalu. Kini, rayakan gelora api semangatnya dan genapi takdir kalian di SUKOWATI METAL INVASION sebagai generasi metalhead yang lebih tangguh lagi dan mardhika! Kuasa gelap DJIVVOSTARA bersamamu! #djiwo #djiwostara #djiwoband #kthulhustiwa #krodha #srg_official #sukowati #sukowatimetalinvasion #sragenmetalheads
Gayatri - The Mother of Mantras
The Gayatri mantra, chronicled about 3000 years ago in the Rig Veda, is the most divine mantra of the Vedas and a daily prayer in Hinduism. It is also known as Savitri, for its words call upon the sun as a visible representation of highest illumination. The sun, the source of all light and life, is being praised and thanked. Among this doxology the Gayatri mantra asks for inspiration and enlightenment of the individual.
Gayatri, the “Veda-Mata” (the mother of the Vedas), devours all sins. There is nothing more cathartic and powerful than a repetition of Gayatri. If done with a pure spirit and a sincere soul, this mantra will not only destroy the Puruṣārtha, the four aims of life (Dharma, Artha, Kama and Moksha), it will also annihilate the three great impediments to spiritual progress, known as Avidya (ignorance), Kama (desire), and Karma (action). Eventually Gayatri frees from Samsrara, the cycle of birth and death.
As always, there is never one exact translation of a mantra. A free translation of Gayatri would be: “Let us meditate on the supreme effulgence of Brahman, from whom these three worlds Bhur(earth), Bhuvah(atmosphere), Svah (shining heavens) originated and who manifests to our eyes as the shining Sun. May those purifying divine rays enlighten our minds.”
oṃ - absolute reality, the supreme name of God, the source of all creation
bhūr - physical world; earth bhuvaḥ - subtle, mental world; atmosphere svaḥ - celestial, spiritual world; heavens
tát - That, Paramatma, the Absolute savitúr - sun, creator váreniyaṃ - most adorable
bhárgo - effulgence, destroyer of ignorance devásya - shining, divine dhīmahi - intuition, meditation, we meditate
dhíyo - intellect, understanding yó - who, which naḥ - our prachodáyāt - inspire, enlighten
“It is not possible for us to describe the greatness of Gayatri. It is not possible to act in this world beneficently without purity of mind. This purity of mind which brings in enlightenment leading to self-realisation is the result of the inspiration received from Gayatri. The avatara of Gayatri has occurred to aid us in the eradication of evil and to help increase the good.” - Jagadguru Sankaracharya
Gayatri - The Mother of Mantras
The Gayatri mantra, chronicled about 3000 years ago in the Rig Veda, is the most divine mantra of the Vedas and a daily prayer in Hinduism. It is also known as Savitri, for its words call upon the sun as a visible representation of highest illumination. The sun, the source of all light and life, is being praised and thanked. Among this doxology the Gayatri mantra asks for inspiration and enlightenment of the individual.
Gayatri, the “Veda-Mata” (the mother of the Vedas), devours all sins. There is nothing more cathartic and powerful than a repetition of Gayatri. If done with a pure spirit and a sincere soul, this mantra will not only destroy the Puruṣārtha, the four aims of life (Dharma, Artha, Kama and Moksha), it will also annihilate the three great impediments to spiritual progress, known as Avidya (ignorance), Kama (desire), and Karma (action). Eventually Gayatri frees from Samsrara, the cycle of birth and death.
As always, there is never one exact translation of a mantra. A free translation of Gayatri would be: “Let us meditate on the supreme effulgence of Brahman, from whom these three worlds Bhur(earth), Bhuvah(atmosphere), Svah (shining heavens) originated and who manifests to our eyes as the shining Sun. May those purifying divine rays enlighten our minds.”
oṃ - absolute reality, the supreme name of God, the source of all creation
bhūr - physical world; earth bhuvaḥ - subtle, mental world; atmosphere svaḥ - celestial, spiritual world; heavens
tát - That, Paramatma, the Absolute savitúr - sun, creator váreniyaṃ - most adorable
bhárgo - effulgence, destroyer of ignorance devásya - shining, divine dhīmahi - intuition, meditation, we meditate
dhíyo - intellect, understanding yó - who, which naḥ - our prachodáyāt - inspire, enlighten
“It is not possible for us to describe the greatness of Gayatri. It is not possible to act in this world beneficently without purity of mind. This purity of mind which brings in enlightenment leading to self-realisation is the result of the inspiration received from Gayatri. The avatara of Gayatri has occurred to aid us in the eradication of evil and to help increase the good.” - Jagadguru Sankaracharya
Gayatri Jayanti.
Gayatri Jayanti is the day the Gayatri Mantra was revealed to Brahmarishi Vishvamitra. Gayatri Mantra is the universally accepted hymn for all followers of Sanatana Dharma, what we know as present day Hinduism, regardless of individual sectarianism within the faith. Gayatri Mantra is personified as Gayatri Devi, the Mother of the Vedas. In 2017 Gayatri Jayanti falls on June 4th.
ॐ भूर्भुवः स्वः । तत्स॑वि॒तुर्वरेण्यं॒ भर्गो॑ दे॒वस्य॑ धीमहि । धियो॒ यो नः॑ प्रचो॒दया॑त् ॥
Om bhuvaḥ svaḥ tát savitúr váreṇ(i)yaṃ bhárgo devásya dhīmahi dhíyo yó naḥ prachodayāt.
‘We meditate on the effulgent glory of the divine Light; may He (She/That) inspire our understanding.“ ~Rigveda 3.62.10, translation: Sarvepalli Radhakrishnan.
Hail & Viktorios Byson Ramirez! "Semua Tiada Makna Binasa Pada Waktunya" #ardum #dischargetee #djiwo #djiwostarafraternity (at Peti Tenget)
... dan bertahtalah sang Bhairawa bersama penyaji visualnya (at Teras Gulo Jowo)
Credit to @enggakpapa : Djiwo!
Credit to @myrockinphoto : Kapala #blackmetal #bnw #bnw_society #bnw_life #instagram #666 #metal #noir #metal #bnw_captures #sonyimages #sonyxperia
Ketawang Puspawarna : Karya yang Mengangkasa
by Indra Pratama, pegiat Komunitas Aleut!
Kami mengirimkan pesan ini kepada seluruh alam semesta… Yang terdiri dari 200 milyar bintang di Galaksi Bima Sakti, beberapa -mungkin banyak- di antaranya, mungkin mempunyai planet yang didiami oleh peradaban yang bisa melakukan perjalanan ke luar angkasa. Bila salah satu diantaranya bisa bertemu dengan Voyager dan mampu mengerti isi dari rekaman ini, inilah pesan dari kami: Kami semua berusaha untuk mempertahankan keberadaan kami, sehingga kami bisa hidup bersama-sama dengan kalian. Kami harap suatu hari nanti, kami bisa menyelesaikan permasalahan yang kami hadapi, untuk ikut bergabung dalam sebuah komunitas Peradaban Galaksi. Piringan emas ini mewakili harapan, kebulatan tekad, serta niatan baik kami dalam alam semesta yang luas dan amat menakjubkan ini.
Kutipan pidato Jimmy Carter tersebut mungkin merupakan salahs atu pidato yang paling bersejarah dalam konteks harapan, imaji, dan keinginan liar manusia untuk bertemu, atau bahkan sekedar berinteraksi, dengan sahabat dari planet lain. Pidato tersebut masuk dalam Voyager Golden Records, rekaman phonograph yang dikirim ke angkasa luar bersama dengan wahana luar angkasa Voyager I yang diluncurkan pada thun 1977. Satelit Voyager adalah sebuah wahana luar angkasa tanpa awak yang diluncurkan amerika serikat tahun 1977 dengan beberapa tujuan yaitu :
1. meneliti luar angkasa lebih dalam dan luar angkasa yang tidak dapat dilihat oleh mata.
2. mencari keberadaan planet yang dapat dihuni
3. mencari planet yang berpenghuni.
Digerakkan dengan tenaga nuklir, Voyager diharapkan mampu mengirim data ke bumi sampai tahun 2025 ( 48 tahun setelah diluncurkan) sebelum pasokan listriknya habis.
Rekaman tersebut ditempatkan pada Voyager I dengan misi mustahil, sebagai pembawa pesan dari bumi kepada kemungkinan kehidupan di luar bumi. Dari maksud itu, Voyager Golden Records berperan sebagai profil audio yang dianggap mewakili bumi. Konten rekaman itu selain pidato dari Jimmy Carter, yang saat itu menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, berisi pula pidato dari Sekjen Persatuan Bangsa-Bangsa saat itu Kurt Waldheim, kalimat salam sapaan dalam 55 bahasa, suara-suara alam, seperti suara ombak, angin, petir, serta suara-suara binatang, termasuk kicauan burung dan suara dari ikan paus, serta 90 menit berisi musik-musik yang dianggap mewakili bumi, dari berbagai budaya.
Nusantara, yang memang memiliki tempat khusus dalam khasanah musik tradisional, menempatkan satu komposisi sebagai duta Indonesia di mata semesta, yaitu komposisi Ketawang Puspawarna Laras Slendro Pathet Manyura.
Ketawang Puspawarna
Teks dan melodi dari Ketawang Puspawarna Laras Slendro Pathet Manyura merupakan hasil karya dari Pangeran Mangkunegara IV, yang berkuasa di Mangkunegaran era 1853-1881. Ketawang Puspawarna ini biasanya dibunyikan sebagai tanda kedatangan pangeran maupun untuk mengiringi tarian. Gendhing ini memiliki lirik mengenai berbagai jenis bunga yang melambangkan beragam suasana, rasa, atau nuansa.
Puspawarna merupakan salah satu komposisi gamelan dengan jenis kendhangan (ritme) Ketawang yang dapat dilagukan dalam laras slendro maupun pelog. Movement yang dipakai adalah movement Pathet Manyura, yang biasa dipakai pada bagian happy ending dari sebuah pertunjukkan wayang, mewakili mood puas dan kegemilangan. Ketawang Puspawarna terdiri dari tujuh “cakepan” (bait) “gerongan” (lirik lagu). Biasanya, komposisi gending Jawa pada umumnya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk memainkannya. Sedangkan, Ketawang Puspawarna sangat berbeda karena hanya membutuhkan waktu lima menit untuk melantunkan setiap cakepan gerongan.
Versi dari komposisi ini yang mendapat kehormatan tersebut dibawakan oleh gamelan Keraton Pakualaman, yang diaransir ulang oleh pemimpinnya, yaitu Kanjeng Pangeran Haryo Notoprodjo, yang lebih dikenal dengan nama Tjokrowasito, atau Wasitodipuro, yang dikenal sebagai salah satu Empu Karawitan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
Proses seleksi untuk bisa masuk rekaman Voyager tentunya tidak sembarangan. NASA saat itu membentuk sebuah komite khusus untuk masalah seleksi rekaman-rekaman yang akan masuk. NASA menunjuk astronom Dr. Carl Sagan dari Universitas Cornell, sebagai pemimpin komite. Nama Carl Sagan dikenal luas di dunia non astronomi sebagai penulis novel Contact, yang kemudian dilayarlebarkan dengan bintang film Jodie Foster. Sagan dan timnya menyeleksi 115 suara alami yang dianggap mewakili suasana bumi: angin, ombak, kilat, burung, ikan paus, dan suara binatang lainnya. Ia juga menghimpun ucapan salam dari 55 bahasa yang dipergunakan makhluk bumi. Himpunan itu diawali bahasa Akkadian, yang digunakan bangsa Sumeria 6.000 tahun lalu, dan diakhiri dengan Wu, dialek modern Cina kini.
Tim Sagan juga menyeleksi bunyi-bunyian musik yang ada di bumi, musik berdurasi 90 menit yang meliputi klasik, etnis, dan modern. Yang mengusulkan agar Ketawang Puspawarna kepada Sagan adalah etnomusikolog dari Wesleyan University dan Universitas San Diego, Profesor Robert E. Brown. Brown memiliki rekaman live Ketawang Puspawarna yang dimainkan gamelan Pakualaman pimpinan Tjokrowasito pada tahun 1971 di Pakualaman.
Tjokrowasito
Tjokrowasito sendiri lahir pada 17 Maret 1909 di Kompleks Pakualaman. Ia dikenal sebagai putra dari R.W. Padmowinangun, pemimpin gamelan keraton.
Lingkungan Pakualaman sebagai keraton yang menaruh perhatian sangat tinggi kepada bidang pendidikan (baik tradisional maupun barat) , sastra dan kesenian memiliki andil besar pada perkembangan Tjokrowasito. Tjokrowasito memiliki kebebasan untuk terlibat di beberapa kelompok gamelan terkenal sebelum akhirnya mengambil alih jabatan pemimpin gamelan keraton Pakualaman dari ayah angkatnya pada 1962.
Tjokrowasito sebelumnya pernah terlibat di MAVRO (Mataramsche Vereeniging Radio Omroep) mulai tahun 1934 sebagai music director untuk segmen gamelan,sampai kemudian bergabung di Radio Hosokyoku sejak 1942 sampai 1945 selama pendudukan Jepang, and RRI Yogyakarta setelah kemerdekaan. Di masa terakhir inilah kiprahnya makin luas dan berkualitas. Ia dipercaya mengajar karawitan di beberapa negara sejak 1953, kemudian mengajar juga di Konservatori Tari Indonesia and Akademi Seni Tari Indonesia. Lalu mendirikan Pusat Olah Vokal Wasitodipuro.
Tjokrowasito juga merupakan salah satu penggagas awal bentuk kesenian Sendratari. Bersama koreografer Bagong Kussudiarjo di dekade 1960-an, ia pertama kali mementaskan Sendratari Ramayana di Prambanan, yang kini sudah menjadi salah satu trademark wisata kesenian Indonesia.
Tahun 1971 ia pindah ke Valencia, Amerika Serikat untuk mengajar di California Institute for the Arts. Ia juga menjadi dosen tidak tetap untuk beberapa kmpus ternama negeri Paman Sam, seperti University of California, Berkeley, dan San Jose University. Pada usia lanjut, tahun 1992 ia pulang ke Indonesia, dan menciptakan ruang kesenian yang aktif di kediamannya di Jogjakarta. Hingga wafat tahun 2007.
Selain komposisinya yang mengangkasa, ternyata Tjokrowasito juga menyusul mengangkasa. Lou Harrison, komponis terkemuka Amerika, mengusulkan agar nama Tjokrowasito menjadi nama salah satu bintang di angkasa. Harrison, memang dekat dengan Tjokrowasito. Mereka berkenalan tahun 1975 di Center of World Music di Berkeley. Harrison belajar pada Tjokrowasito dan menghasilkan beberapa karya yang bereksperimen dengan konsep, sistem gamelan, atau struktur tembang-tembang Jawa seperti Concerto in Slendro (1961), La Karo Sutro (1972), dan Main Bersama-sama (1978).
Pada 12 April 1983, sertifikat internasional Star Registry diberikan kepada Tjokrowasito. Letak persisnya di Andromeda Ra 23 h 35 mm 54 sd 43× 48×. Bintang itu dinamai Wasitodiningrat (nama saat Tjokrowasito dianugerahi gelar Kanjeng Raden Tumenggung oleh Pakualaman. Nama bintang baru itu kini tercatat di Library of Congress, Amerika Serikat.
Tahun 2009 Voyager I diketahui telah mencapai jarak 16,5 milyar kilometer dari matahari, sudah jauh menginggalkan sistem tata surya kita, dan terus akan melanglangbuana dengan kecepatan rata-rata 61.000 kilometer/jam. Kita tidak pernah tahu apakah Voyager I beserta Ketawang Puspawarna akan ditemukan dan dikenang seluruh jagat, ataukah hanya akan menjadi sampah antariksa.
Tetapi NASA, Voyager, Golden Records, Tjokrowasito dan Ketawang Puspawarna setidaknya telah jauh melangkah dibanding kebanyakan kita. Kita bahkan tidak berani bermimpi, ketika tidak ada orang-orang Robert Brown, apakah Ketawang Puspawarna, serta banyak karya besar musik tradisional kita akan dikenang, ataukah hanya teronggok menjadi sampah.
Sumber :
Arcana, Putu Fajar.2005. Brown Pilih “Ketawang Puspawarna”. Kompas Minggu, 21 Agustus 2005
Brown, Robert E. 2003. Notes to Java: Court Gamelan. Reissued edition. New York: Nonesuch.
I N. Wenten. 1996.The Creative World of Ki Wasitodipuro: the Life and Work of a Javanese Gamelan Composer. (Dissertation).
NASA. What is the Golden Records?. Diakses via (http://voyager.jpl.nasa.gov/spacecraft/goldenrec.html) tanggal 9 April 2012.
Sorrell, Neil. 1990. A Guide to the Gamelan. London: Faber and Faber. Hlm 68.
Sutton, R.Anderson. “Wasitodiningrat [Tjokrowasito, Wasitodipuro, Wasitolodoro], Kanjeng Radèn Tumenggung [Ki]”, Grove Music Online, ed. L. Macy. Diakses via (http://www.oxfordmusiconline.com/subscriber/article/grove/music/48809?q=wasitodipuro&search=quick&pos=1&_start=1#firsthit). Tanggal 9 April 2012.
Suyono,Seno Joko and Idayanie, Lucia. 2004. Puspawarna di Kehampaan Kosmis. Dimuat di Tempo Online tanggal 26 Juli 2004. Diakses via (http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2004/07/26/LYR/mbm.20040726.LYR94078.id.html) tanggal 9 April 2012.
Until The Light Takes Us (2008)
-Ulvrh