Bab 1 - Caesar
"Bu, seperti nya perlu di lakukan operasi sesar besok" Kata ibu dokter yang menangani Istriku saat kontrol USG buah hati kami.
"Hah? Besok dok?" Sahut istri ku yang saat itu masih berbaring di ranjang kontrol USG.
"Iya bu, ini perlu di tangani segera ya.. Gak apa apa, tenang aja" Balas ibu dokter pada istriku sambil memberikan senyum pada istriku, mengisyaratkan agar tetap tenang. Karna tidak menduga bahwa kelahiran buah hati nya hanya menunggu besok hari.
Malam itu setelah kami pulang ke rumah sehabis kontrol USG, hati kami senang bercampur khawatir. Karna tepat seminggu sebelum nya air ketuban dalam kandungan Ayu masih cukup untuk bisa di tangani secara normal. Meskipun Ayu sendiri merasa pasrah dengan posisi anak kami yang belum juga memasuki panggul, serta terlilit tali pusar pada leher nya akibat gerak nya yang sangat aktif, tetapi kami tetap yakin dengan analisa dokter kandungan yang mengatakan kepada kami bahwa dalam kondisi tersebut anak kami tetap bisa di lahirkan secara normal. Namun malam itu terasa mengagetkan kami karna si kecil akan datang ke dunia kami lebih awal 3 hari dari HPL nya, yang sudah di kabar kan oleh dokter kandungan sejak usia kandungan nya mencapai 1 bulan. Hal itu di sebabkan air ketuban dalam kandungan Ayu sudah semakin sedikit, akibat kinerja plasenta nya yang sudah semakin berkurang untuk menghasilkan air ketuban.
"Pak, besok Ayu lahiran kata dokter kandungan"
"Apa..?"
"Ayu lahiran besok..?"
"Kemarin-kemarin itu bukan katanya tanggal tiga?" Sahut bapak mertuaku sesaat aku tiba di rumah, sambil memarkirkan sepeda motor Mio milik Ayu di depan rumah.
"Iya pak, jadi besok Ayu akan di tangani secara sesar"
"Soalnya air ketuban Ayu udah tinggal sedikit banget, jadi harus perlu di tangani secepat nya"
"Kondisi begitu gabisa dengan lahiran normal kata dokter, bahaya" Jawabku sambil memasuki rumah menyusul Ayu yang sudah lebih dulu masuk ke rumah untuk duduk sejenak di depan tv. Saat itu jam yang tergantung di dinding tangga menunjukan hampir pukul sepuluh malam.
"Yang, gimana nih.. Besok aku lahiran, oh my God" Seru Ayu sambil menatapku dengan bahagia bercampur rasa kaget mendengar bahwa besok dia harus di tangani segera.
"Yaudah nanti malam sebelum tidur kita berdoa, supaya besok bisa berjalan dengan lancar ya sayang.. Kamu jangan bergadang kalo gitu, supaya ga ada pendarahan" Kataku dengan maksud menenangkan istriku yang masih tidak menyangka akan secepat itu di tangani sesar, serta akan melihat si kecil datang di tengah-tengah kami, sambil tanganku membelai lembut perut nya yang sudah besar.
Di ruang tamu, hanya ada kami berdua. Bapak di luar seperti biasanya, sesekali masuk hanya untuk buang air kecil atau menyeduhkan kopi atau minuman es bagi pembeli yang tidak lain adalah para tetangga yang biasa berkumpul setiap malam di depan rumah kami. Ayu duduk di kursi plastik warna hijau yang berada di depan pintu kulkas, dengan posisi duduk menghadap langsung ke bagian dalam rumah yang memanjang. Dan aku duduk di samping kiri menghadap dinding rumah yang di tutupi rak-rak dagangan warung bapak. Di kursi rotan yang meski umur nya sudah tua, tapi terasa masih sangat kokoh dan antik. Kursi itu adalah pembelian almarhum ibu mertuaku di tempat kerja nya yang juga bergerak di industri eksport produk-produk dari rotan.
"Dede.. Besok mama sama papa liat kamu.." Layak nya wajah seseorang yang sedang berbicara kepada anak kecil yang lucu dan ceria, Ayu berbisik pada bayi yang masih ada dalam kandungan nya sambil mengelus-elus dengan kedua tangan nya.
"Yang.. Apa kita PCR malam ini aja kesana? Jadi besok pagi udah ada hasil nya, gaperlu harus dateng dari pagi" Usulku sambil memandangi Ayu yang sedang asik mengajak bicara bayi yang besok sore akan di lahirkan nya.
"Iih udah malem gini, ngga ah! Mending besok aja yang".
Seketika itu juga aku menatap jam yang ada di handphone ku, aku menyadari betapa bodoh nya ide ku untuk memaksakan diri test PCR malam itu juga, "Ooh yaudah, pikir aku biar ga repot aja harus pagi-pagi di swab terus nungguin hasil nya sampe sore".
Setelah kami mengobrol sebentar tentang apa yang akan kami hadapi besok, seketika aku teringat pada keluargaku di Tangerang, mamah, Frans dan Monica. Mereka belum aku beri kabar tentang Ayu yang akan melahirkan besok dengan penanganan sesar.
"Halo Tor.." Sapa mamah ku dari ujung saluran telepon.
"Mah.. Lagi apa?"
"Lagi santai nih.. Nonton tv sama Monic.."
"Dede kemana?" Tanyaku seperti biasanyaa memastikan adik ku Frans saat sedang menelpon mamahku.
"Tau tuh, tadi pulang kerja sebentar terus keluar lagi"
"Kenapa?"
"Ooh.."
"Tadi Itor sama Ayu kontrol kandungan"
"Kata dokter dia lahiran nya di majuin ke besok sore mah"
"Dia perlu di tanganin dengan cara sesar" Jelasku kepada mamahku secara terperinci tentang apa yang aku dengar dari dokter kandungan. "Soal nya air ketuban Ayu udah tinggal sedikit, tadi Itor liat emang udah tinggal setitik doang" Sambungku.
"Oo gitu? Besok jam berapa?" Tanya mamah ku dengan nada layak nya seseorang yang kaget dengan kondisi Ayu.
"Kata dokter jam tiga sore mah, tapi pagi-pagi perlu test PCR dulu.. Nanti dari hasil nya baru keliatan Ayu akan di tangani sesar nya dengan prosedur covid atau ngga.." Jawabku dengan nada yang tenang agar mamahku tidak bertambah panik. Memang, dalam keluarga kami bahkan beberapa tetangga dan teman-teman yang pernah berbicara pada kami beranggapan, bahwa melahirkan dengan penanganan sesar adalah sesuatu yang menyeramkan. Tapi menurutku itu sudah menjadi takdir Tuhan yang melebihi keinginan manusia. Di tambah lagi dengan keadaan bayi kami yang memang perlu di tangani secara sesar agar selamat.
"Oo gitu... Yaudah kita berdoa aja supaya Tuhan sertai persalinan Ayu besok"
"Supaya dede bayi nya juga selamat dan sehat"
"Kalian juga berdoa ya sebelum tidur" Ucap mamahku yang terdengar sudah lebih tenang dari pada beberapa menit yang lalu. Dari ujung sambungan telepon kami, aku dapat mendengar Monic yang juga ikut senang mendengar kabar bahwa Ayu akan melahirkan keponakan pertama nya.
"Tapi yang bisa dateng nemenin Ayu di sana cuma suami doang mah"
"Oo iya karena lagi covid sih ya" Ucap mamahku yang mengerti kondisi dan situasi pandemi saat itu.
Lalu dengan nada yang tenang sambil serta merasakan kebahagiaan dalam hatiku, aku pun memohon pada mereka "Iya mah nanti Itor berdoa sama Ayu"
"Mamah juga sama Monic dan Frans doain Ayu dan anak Itor ya, supaya kedua nya selamat dan ga ada kekurangan suatu apapun".
Setelah selesai mengabari keluarga ku di Tangerang, kemudian tidak lupa aku menghubungi pak Joko menggunakan chat WhatsApp. Rekan kerja di kantor ku untuk izin cuti lima hari kedepan, serta meminta nya untuk memback up semua sisa pekerjaanku yang masih belum aku selesaikan sepanjang bulan Agustus. Karena biasa nya, rekapan pembayaran untuk instruktur kelas dan personal trainer hanya dapat di kerjakan pada setiap tanggal di akhir bulan, serta di sore hari. Setelah memastikan semua transaksi pembelian paket pelatihan personal trainer maupun kelas tidak ada lagi di hari itu.
Hari sudah semakin larut, dengan sangat hati-hati dan perlahan sambil tangan kiri nya memegang perut bagian bawah, sebagaimana seorang wanita yang sedang hamil tua, Ayu naik menyusuri anak tangga satu persatu menuju kamar tidur kami yang berada di lantai atas pada sisi kiri dari anak tangga terakhir. Aku pun mulai bergegas naik menyusul nya, untuk mengganti pakaian serta mempersiapkan segala sesuatu yang kami perlukan besok.
"Jadi besok kita naik apa yang ke Pelni?"
"Naik motor yang" Kataku ragu dengan jawabanku.
"Yakin kamu? Emang bisa naik motor? Bawaan kita banyak kan.."
"Iya, itu bisa kok sebenernya di taro depan"
"Supaya besok aku ga repot kalo mendadak mau kemana-mana, kan kalo ga ada kendaraan aku perlu naik ojek misalkan ada sesuatu yang di perluin" Jawabku.
"Jangan lah yang, bilang mas Joko aja biar besok sama dia ke Pelni nya.."
"Yaudah kalo gitu, nanti kamu coba hubungi mas Joko ya" Tutupku dengan menyadari kalo malam itu semua ide ku bodoh. Entah karena sebenarnya aku panik atau memang aku kurang minum air putih, sehingga otak ku untuk berfikir jadi tersumbat.
Sambil duduk di kasur kamar yang tanpa menggunakan ambalan, Ayu mengingatkanku untuk memastikan kembali tetang apa saja yang kita perlukan besok pagi untuk di bawa "Yang.. Coba liatin lagi barang-barang yang mau di bawa besok, aku mau hubungin mas Joko buat anter kita besok pagi"
"Takut nya dia gabisa" lanjut nya. Aku mulai membuka kembali tas ku dan Ayu untuk memperhatikan dengan seksama barang-barang yang kami butuhkan selama menginap di RS nanti, tidak lupa aku memperhatikan kebali tas berisi barang-barang kawan kecil kami yang akan segera tiba di dunia hanya dalam hitungan jam. Untung nya aku dan Ayu sudah mempersiapkan dari seminggu sebelum nya, segala surat-surat beserta fotokopi nya 5 lembar untuk masing-masing dokumen. BPJS, KTP suami-istri, Akta pernikahan, Kartu Keluarga, serta fotokopi KTP kedua orang saksi, yang tidak lain adalah mamahku dan adik perempuanku.
"Semua udah beres yang, tinggal bawa" Kataku pada Ayu yang sedang menatap halaman chat WhatsApp di handphone nya.
"Iya, aku udah hubungin mas Joko dan dia bisa besok pagi jam tuju pagi"
"Kita sarapan apa besok?" Tanyaku.
"Kita beli sarapan di jalan menuju Pelni aja, sekalian beliin mas Joko juga nanti".
Setelah semua barang bawaan kami sudah beres di tas kami masing-masing, kemudian aku mematikan lampu kamar dan mengajak Ayu untuk sejenak berdoa agar besok semua nya berjalan dengan lancar.
Saat itu adalah masa Pandemi Covid-19, wabah flu mematikan menurut badan WHO. Yang sudah hampir 2 tahun tidak kunjung lenyap dari muka bumi, sehingga mengakibatkan banyak orang kehilangan keluarga nya serta pekerjaan nya oleh karena perusahaan-perusahaan yang bangkrut karena terpaksa tutup mengikuti peraturan pemerintah terkait penanganan wabah. Tidak hanya menghancurkan Indonesia, wabah pandemi corona itu juga menjangkiti seluruh dunia, sehingga banyak negara yang mengalami kemerosotan ekonomi serta kemerosotan jumlah penduduk. Kekhawatirkan pun menguasai pikiran ku malam itu, mengingat besok harus menemani Ayu melahirkan buah hati kami. Kekhawatiran itu adalah tentang apa hasil test PCR kami besok. Sebab jika hasil test Ayu positif, maka Ayu akan di tangani sesar dengan prosedur Covid-19. Itu berarti dapat di pastikan bahwa Ayu tidak dapat langsung melihat bayi nya selama 14 hari sesaat dia melahirkan. Juga aku, jika hasil test ku positif, maka bisa di pastikan bahwa aku tidak dapat melihat secara langsung anak ku yang baru lahir itu selama 14 hari kedepan. Bukan hanya tidak dapat melihat anak kami, jika hasil test kami positif, kami tidak dapat bertemu satu sama lain selama 14 hari. Sungguh malam itu kami berdoa berharap segala-galanya kepada Tuhan.
Beberapa menit setelah kami selesai berdoa, tiba-tiba suara bapak mertuaku memanggil dari lantai bawah "Tor.. Besok si Ayu lahiran jam berapa?"
"Jam tiga sore pak kata dokter nya" Jawabku seketika.
"Udah bilang Joko buat anter besok?".
"Udah kok, tadi Ayu udah pastiin ke mas Joko" Tutupku.











