Cakap kecil terdengar dari ujung ruang; teguk one shot espresso selalu terasa pahit meski baru sampai di ujung lidah. Setidak-tidaknya, mirip dengan pahitnya sendi hidup yang berjalan dalam siklus, begitu katanya.
Angka sebelas tertunjuk apik oleh jarum arloji dinding warna hitam pekat, tergantung dan melekat di atas pintu kamar. Minimalis serta tanpa warna; tipikal ruang personal yang membosankan. Suasana sepi dan cuaca dingin menyelimuti hari yang tersisa sebelum berganti tepat satu jam berikutnya.
Masih membahas tentang ruang yang sama, lelaki yang masih terbalut setelan denim biru langit tengah terduduk rapi di hadapan nakas kerjanya. Tangan kiri mengurut pelipis, sembari tangan kanan bergerak lihai di atas kertas. Ukiran pena bertinta hitam pekat terus bergerak dalam ritme tanpa jeda.
Matanya tak berkutik satu senti pun di hadapan secarik kertas berwarna coklat; kalau ingatannya tak salah, ia sebut itu kertas kraft. Gerak tangannya sesekali membentuk jeda, mengusap kertas perlahan—layaknya harta berharga, lalu melanjutkan sisa aktivitas yang sempat ia hentikan meski hanya beberapa detik.
Mengurai kata, menguntai frasa, hingga mengudara tanpa jeda.
Tinta pena mulai memenuhi halaman kertas. Deru napas turut menyertai kata demi kata yang mengisi. Temponya tepat; tak terlalu cepat, juga tak serta merta melambat. Kata serta frasa yang terus mengalir, seolah membiarkan arloji menggulirkan jarumnya tanpa henti.
Waktu—dan kesempatan—seolah turut berakhir. Masih pena yang sama, tengah berusaha mengakhiri seluruh untaian kata dengan titik di ujung kanan kertas—beriringan dengan namanya yang turut tertera dengan apik. Deru napas melambat, seiring dengan tubuh tegap yang perlahan menyamankan diri pada kursi hitam nan empuk—kursi kerja yang ia beli tanpa sesal berlebih.
Angan berkelana, melaju sembarang arah. Netra enggan terpejam, sebab ditolak oleh sang benak. Menjadi masuk akal ketika fajar urung tersingkap—tersirat aksi tentang waktu yang memilih bergulir dalam tempo melambat.
Tahun lalu, angan yang sama turut berkelana. Membahas soal bayang abstrak; personal, futuristik, dan tentang kamu. Tanpa bentuk dan tak punya arah, mengisi angan tanpa tujuan—sebab kamu, kan, tujuannya?
Tahun lalu, pernah ada jemari yang bertaut. Manis, meski publik meringis. Magis, sebab ada dua hati yang turut berbagi tangis—mungkin, itu kita?
Tahun lalu, dua cangkir kopi terpesan untuk pertama kali. Secangkir latte serta espresso; total dua untuk kamu dan diriku.
Lidahku mengelu, sebab espresso ternyata bukan seleraku. Tersenyum manis, sebab latte ternyata serupa dirimu—sang empu dari garis senyum yang tipis.
Tahun lalu, dunia hanya tentang kamu, dan anganku.
“Kalau tahun ini, dunia bicara tentang apa?”
Tanya singkat itu mengudara; berakhir tanpa jawaban, sebab dunia tak sediakan.
Carik kertas dan gurat pena, memasang paras atas rasa dalam realita.
Niat terucap, ketika realita siap mengelak. Kalah telak atas langkah yang terlambat. Secarik kertas tak berhasil tersalip—kemudian berakhir menjadi arsip tersurat tanpa tenggat waktu yang menjerat.
Lalu, tanya yang sama kembali mengudara—dengan sedikit gubahan.
“Kalau sudah begitu, mungkinkah dunia masih ingin bicara?
Tentu saja. Hanya, pasti bukan diriku yang dunia tuju.
Entah, terkesan mustahil saja di mataku. Realita telah berakhir pahit—macam espresso petang ini—dalam galur ceritaku. Lalu, buat apa dunia susah payah bicara padaku kembali ‘kan?
Mungkin, lebih baik kalau tak usah saja. Kasihan juga duhai dunia. Nanti hanya buang waktunya untuk hamba tak tahu diuntung semacam diriku.
Lelaki yang serba terlambat; soal waktu—dan kamu—yang mencekat.