Membatin
Akhir-akhir ini aku sering dibuat terdiam. Rasanya banyak hal kecil yang hanya terucap dalam hati, tiba-tiba Allah wujudkan begitu saja.
Beberapa bulan lalu aku bergumam dalam hati, "Duh, kok pengen kering kentang ya. Tapi males bikin, wkwk." Dan di hari yang sama, ada tetangga yang mengirim makanan syukuran satu bulan pernikahan. Salah satu menunya? Kering kentang.
Belum lama setelah itu aku membatin, "Pengen ngerasain sunset, main sampai malam, lihat gemerlap kota dari atas. Tapi di mana ya?" Dalam hati bahkan sempat terlintas Jogja.
Padahal waktu itu aku ke Jogja hanya untuk menjenguk teman yang keguguran. Tidak ada rencana jalan-jalan sama sekali. Tapi qadarullah, tiba-tiba diajak teman ke Puncak Sosok. Aku duduk menikmati langit sore yang perlahan berubah menjadi malam. Melihat pemandangan yang ternyata sudah lama kurindukan. 🥹
Maklum, sekarang sudah jadi anak rumahan yang jarang ke mana-mana.
Lalu suatu hari saat scroll Shopee, aku membatin, "Pengen beli permen herbal." Eh, saat mampir ke sebuah toko kecil, ada permen herbal yang persis seperti yang aku inginkan. Padahal tokonya sederhana dan tidak terlalu besar.
Masih di Jogja, aku sebenarnya tidak ingin pergi ke mana-mana. Karena memasuki 10 hari pertama Dzulhijjah, aku ingin fokus beribadah.
Tapi karena sudah terlanjur di Jogja, aku sempat menghubungi beberapa teman untuk bertemu. Bahkan ada rencana naik KRL sampai Karanganyar. Dalam hati aku berpikir, "Yah, sepertinya nggak jadi fokus ibadah ini."
Tahu apa yang terjadi?
Qadarullah, satu per satu rencana itu batal.
Dan aku? Justru berada di kos teman, menangis, berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan beribadah sepuasnya. Bahkan karena teman-teman sedang bekerja, aku benar-benar punya waktu sendiri dengan Allah.
Sepulang dari Jogja, aku kembali membatin, "Kok pengen bakpao ya." Eh, saat Idul Adha, pulang dari masjid malah dapat bakpao.
Setelah itu malam-malam tiba-tiba pengen mie level. Tidak lama kemudian, bapakku pulang dan membelikan mie level tanpa aku minta.
Lalu kemarin aku sempat membatin, "Waduh, lagi nggak ada uang. Paling bentar lagi ada yang WA minta bekam."
Dan benar saja.
Tidak lama kemudian ada yang menghubungi untuk terapi bekam. 🥹
Kalau dipikir-pikir, ternyata bukan hanya hal-hal kecil yang sering Allah wujudkan. Beberapa lintasan hati tentang pekerjaan juga pernah Allah kabulkan.
Dulu saat masih kuliah, aku pernah membatin ingin bekerja di kantor, tetapi tetap di bidang kesehatan dan bukan di rumah sakit. Rasanya waktu itu hanya angan sederhana. Namun qadarullah, setelah lulus aku justru bekerja sebagai call center klaim asuransi kesehatan. Persis seperti yang pernah terlintas dalam pikiranku bidang kesehatan tapi di kantor.
Setelah resign, aku kembali punya keinginan lain. Aku ingin bekerja di biro umrah. Alasannya sederhana, aku ingin lebih dekat dengan impian untuk bisa berangkat umrah suatu hari nanti. Dan lagi-lagi Allah bukakan jalannya. Aku benar-benar bekerja di biro umrah sebagaimana yang pernah aku harapkan.
Lalu setelah resign lagi, aku mulai membatin ingin memiliki pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah. Ingin lebih banyak waktu bersama keluarga, lebih fleksibel, dan tidak harus setiap hari keluar rumah. Saat itu rasanya juga tidak mudah membayangkan bagaimana caranya. Tapi qadarullah, keinginan itu pun perlahan Allah wujudkan.
Meski begitu, semua yang terwujud ternyata tidak selalu datang bersama kemudahan.
Ada masa-masa jatuh bangun. Ada tekanan pekerjaan, kebingungan, ketidakpastian, fitnah, rasa lelah, bahkan air mata yang tidak sedikit. Dari jauh terlihat seperti doa yang langsung dikabulkan, padahal di baliknya tetap ada proses panjang yang harus dijalani. Tetap ada ujian yang mengajarkan sabar, tawakal, dan penerimaan.
Mungkin memang begitulah cara Allah mendidik hamba-Nya. Bukan hanya memberi apa yang kita inginkan, tetapi juga membentuk diri kita melalui perjalanan menuju keinginan itu.
Tapi di tengah semua itu, aku sadar masih sering kufur nikmat.
Aku heran, kenapa hal-hal kecil yang hanya terlintas dalam hati sering sekali Allah kabulkan. Sementara doa-doa besar seperti menikah, umrah, atau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, belum juga terlihat jawabannya.
Padahal bisa jadi Allah sedang mengajariku untuk melihat cara-Nya bekerja lewat hal-hal kecil terlebih dahulu. Bahwa Dia mendengar. Bahwa Dia tahu. Bahwa Dia memperhatikan.
Bukankah jika perkara sekecil kering kentang, bakpao, mie level, permen herbal, pekerjaan yang pernah dibayangkan, sampai waktu khusus untuk beribadah saja Allah perhatikan, lalu bagaimana mungkin Dia tidak mengetahui doa-doa besar yang setiap hari kita panjatkan?
Mungkin bukan karena doa-doa besarku diabaikan. Bisa jadi karena Allah sedang menyiapkan waktu terbaik untuk mengabulkannya.
Astagfirullah.
Semoga Allah selalu menjaga hati ini agar lebih banyak bersyukur daripada mengeluh. Dan semoga ketika doa-doa besar itu belum tiba, aku tetap mampu melihat betapa banyak doa-doa kecil yang sebenarnya sudah Allah jawab setiap hari. ...









