Kalau diingat-ingat lagi, rasanya lucu sekaligus menghangatkan hati. Ternyata gadis kecil yang dulu selalu penasaran dengan banyak hal, sekarang sudah tumbuh sejauh ini.
Sejak kecil, aku memang suka mencoba apa saja. Hampir setiap tahun aku tampil di panggung pentas seni, bahkan bisa sampai tiga kali dalam setahun. Aku mencoba menyanyi, membaca puisi, mendongeng, menari, hingga bermain musik. Entah kenapa, aku selalu penasaran dengan pengalaman baru. Rasanya sayang kalau ada kesempatan yang dilewatkan begitu saja.
Memasuki SMP hingga SMA, rasa penasaranku bergeser ke alam. Aku mulai menyukai gunung, susur sungai, hingga menyusuri pantai. Aku pernah mengikuti lomba lintas medan dan, di luar dugaan, menjadi juara satu. Ada juga beberapa perlombaan ekstrakurikuler lain yang berhasil kuikuti. Waktu itu aku hanya berpikir, "Coba saja dulu."
Saat kuliah, ruang eksplorasiku semakin luas. Rasanya hampir semua kegiatan ingin kucoba. Aku aktif di organisasi mahasiswa, kepanitiaan, hingga Badan Eksekutif Mahasiswa. Aku pernah beberapa kali ikut aksi di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, berlari menghindari aparat, bahkan sempat diangkut menggunakan mobil taktis polisi. Kalau mengingatnya sekarang, rasanya seperti adegan dalam film. Tidak pernah terbayang sebelumnya aku akan mengalami hal-hal seperti itu.
Di masa kuliah juga, aku mulai aktif menjadi relawan di berbagai kegiatan sosial. Aku pernah menjadi relawan Warga Bantu Warga saat pandemi Covid-19, ikut penggalangan dana untuk anak yatim dan anak pejuang kanker, hingga bergabung dalam Kelas Inspirasi untuk berbagi mimpi kepada anak-anak di berbagai pelosok.
Kehidupan asrama juga memberiku banyak ruang untuk bertumbuh. Aku menjadi mentor bagi adik tingkat, mengajar tahsin, mulai menghafal Al-Qur'an, menjadi pelatih pramuka, sekaligus dipercaya menjadi asisten laboratorium. Semakin banyak hal yang kupelajari, semakin aku sadar bahwa belajar ternyata tidak pernah memiliki batas.
Saking besarnya rasa ingin tahuku, aku bahkan pernah "terdampar" menjadi bagian dari kader sebuah partai politik. Awalnya benar-benar tidak sengaja. Aku hanya penasaran seperti apa prosesnya. Setelah mengenalnya lebih jauh dan merasa sudah cukup memahami, aku memilih keluar. Kalau mengingatnya sekarang, rasanya konyol juga. Tetapi memang begitulah aku, sering kali belajar dengan cara mengalami langsung.
Perjalananku belum berhenti di sana. Aku bergabung dengan organisasi sosial yang berfokus pada santunan anak yatim di berbagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Perjalanan ini dimulai dari kegiatan di pesantren dhuafa dan yatim piatu, lalu berlanjut ke berbagai panti asuhan. Dari lereng Merapi hingga pesisir Gunungkidul , banyak daerah yang sempat kami datangi. Bertemu orang-orang baru, mendengar cerita hidup mereka, dan menjadi bagian kecil dari kebahagiaan mereka selalu memberiku energi yang sulit dijelaskan.
Karena berasal dari bidang kesehatan, aku juga sempat belajar bekam, ruqyah, hingga pengobatan herbal. Aku beberapa kali terlibat dalam kepanitiaan nasional untuk berbagai acara besar. Bahkan pernah tiba-tiba menjadi panitia bootcamp digital marketing, sesuatu yang sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar rencanaku.
Lalu dunia kerja membawaku ke pengalaman yang sama sekali berbeda. Aku pernah menjadi call center asuransi dengan segala tuntutan multitaskingnya ; menganalisa penyakit. mengangkat telepon, mengurus billing, membalas WhatsApp, email, hingga berbagai administrasi lain dalam waktu yang bersamaan. Setelah itu, entah bagaimana ceritanya, aku justru tertarik bekerja di biro umrah dan belajar menghadapi berbagai berkas serta proses administrasi yang tidak kalah rumit.
Hari ini, langkahku membawaku lebih dekat dengan dunia yang benar-benar kusukai. Aku fokus menulis, freelencer konten kreator yang pastinya tetap di bidangku kesehatan, serta berkarya di bidang digital marketing.
Kalau ditanya hal paling random yang pernah kupelajari, mungkin jawabannya cukup banyak. Aku pernah memasang tali untuk rappelling kemudian turun tebing yang di bawahnya sungai, mendaki Gunung Andong, menikmati matahari terbit di Bromo, berjalan di hamparan kebun teh di Wonosobo, dan pada akhirnya menulis buku demi buku yang lahir dari perjalanan hidupku sendiri.
Kadang aku sendiri heran ketika melihat ke belakang.
Hidupku mungkin tidak berjalan lurus. Tidak juga selalu sesuai rencana. Banyak belokan yang tidak pernah kuduga, banyak kesempatan yang datang tanpa diundang, dan banyak peran yang kupelajari hanya karena rasa penasaran.
Namun mungkin memang begitulah caraku bertumbuh.
Aku bukan seseorang yang selalu tahu akan menjadi apa di masa depan. Aku hanya seseorang yang tidak pernah berhenti belajar, mencoba, dan berani berkata, "Boleh, aku coba."
Dan mungkin, justru dari semua hal yang terlihat acak itulah, aku akhirnya menemukan diriku yang hari ini.
Akhir Juli 2026







