Kamis Ke-300 Aparicion con vida! #MelawanLupa
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Xuebing Du
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
Monterey Bay Aquarium
Sweet Seals For You, Always
★
Cosmic Funnies
𓃗
Cosimo Galluzzi

titsay
Show & Tell
Lint Roller? I Barely Know Her
KIROKAZE
YOU ARE THE REASON
No title available
tumblr dot com

Discoholic 🪩
Sade Olutola
Keni
art blog(derogatory)
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Canada
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Ukraine

seen from Indonesia
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Japan
seen from Colombia
seen from Brazil

seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Ecuador
seen from Pakistan
seen from United States
@mayaawijaya
Kamis Ke-300 Aparicion con vida! #MelawanLupa
“Saya kuliah ambil perpajakan.”
Kebanyakan yang mendengar pernyataan tersebut akan cenderung mengaitkan pada sosok Gayus sebagai ikon koruptor perpajakan. Sebagai anak pajak, hal itu mengganggu banget buat saya. Menyebalkan memang, tapi mau gimana lagi. Faktanya sektor perpajakan yang susah...
Mbrebes mili,, AKU HARUS DISIPLIN!
A song from Marco Steffiano I don't worry i'll be fine someday
Reblog dari Suaracerita Aku tak apa menangis sendirian, yang terpenting saat aku bahagia aku tau aku bisa tertawa dengan siapa. Tapi entah sampai sekarangpun aku masih ragu, siapa orang yang bisa aku ajak tertawa saat aku bahagia. ------------------------------------------------------------------------ Suara : @dokterfina Cerita : @kurniawangunadi Backsound : Yiruma - kiss the rain (c)Medan, 14 Mei 2014 MENCARI SAHABAT Dalam perjalanan hidupnya. Tidak setiap orang bertemu dengan teman dekatnya, yang karena dekatnya lalu disebut sebagai sahabat. Bertanya-tanya mengapa orang lain memiliki sahabat sementara dia sendiri tidak. Lalu, ia mencari tahu sendiri pertanyaannya. Apa benar sahabat itu benar-benar ada atau tidak. Bila ada, mengapa ia tidak memilikinya. Ia merasa tidak dekat dengan siapapun, bilapun orang lain merasa dekat. Ia merasa biasa-biasa saja. Ia tidak tahu kepada siapa bisa bercerita. Tidak tahu kepada siapa hendak pergi bersama. Merasa begitu tenang sendirian, karena terbiasa sendiri. Merasa tidak suka diusik, meskipun ingin sekali bercerita. Tapi kepada siapa. Ia tidak pernah merasa sangat dekat kepada siapapun. Setiap kali kakinya melangkah, matanya menangkap perasahabatan orang lain. Mendengar dari kata-kata teman. Dan ia tidak pernah memilikinya. Ia hidup sendiri. Merasa sendiri dan begitu mencintai kesendiriannya. Meski pada saat yang sama dia bertanya-tanya. Siapakah yang sanggup menembus hatinya. Ia sendiri tidak tahu, apakah dia yang memiliki tembok yang tinggi atau ia orang lain yang membatasi dirinya. Ia merenungkan arti persahabatan dari orang-orang. Ia tidak tahu. Orang datang silih berganti di dalam hidupnya, tidak pernah ada yang benar-benar tinggal lama. Sebagai teman baik. Ia menanyakan pada dirinya. Apa yang sebenarnya ia butuhkan. Sebab apa ia memiliki batas yang begitu tinggi. Sampai kapan ia akan menutup diri. Sampai kapan ia akan memberikan kepercayaan kepada orang. Mungkin cukup kepada satu orang, teman hidup. Sahabat yang mungkin hanya akan ada satu saja sepanjang hidupnya.
Pada akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa ia telah menambatkan hatinya pada seseorang. Biarlah, kalau memang dia jodohku pasti kami akan didekatkan tetapi jika tidak aku akan bahagia jika dia bahagia dengan orang yang dia suka.
Sulung & Bungsu
Cerita Sahabat: Nanda
Gak tau kenapa malam ini semacam malam yang 'aneh'. Bawaannya saya mau merem tapi disisi lain pengen melek dan ngetik. Ya ngetik!
Untuk mengisi kemubaziran malam, saya memutuskan untuk menulis saja. Kali ini saya akan menulis tentang salah satu sahabat saya, Nanda Inggar Nusantari.
Dia adalah sosok yang secara pribadi saya kagumi dan saya cemburui.
Nanda adalah pribadi ceria, tangguh, dan optimis tanpa pernah memperlihatkan kesedihan dan kegalauannya (note: galau di luar cinta).
Dia adalah sosok yang memiliki cita-cita mulia. "Menjadi ibu dari 1000 anak yatim" adalah salah satu cita-cita mulianya yang sempat saya intip di buku hariannya. Sungguh hal itu membuat saya memandangnya dengan perasaan kagum.
Saya melihat ketulusannya mengajar di Panti Asuhan. Seperti saat ia Mengajr Willy membuat essay sampai akhirnya menang, mengarahkannya mencari beasiswa. Ya secara kebetulan saya pernah dua kali ikut Nanda ke Panti. Darinya aku belajar banyak..
Kebaikan hati Nanda memang pantas saya kagumi. Ia selalu senang membantu orang lain. Bahkan terkadang ia pun harus menanggung kerugian atas keuntungan orang lain yang ia bantu. Maka dari itu banyak orang yang menyayanginya. Dia seorang yang loveable karena kebaikan hatinya.
Dibalik itu, Nanda sukar menepati janji, sukar tepat waktu, dan sukar dihubungi. Entah kenapa dengannya... Hal itu sering membuat teman kami kesal hahaha. Terkadang saya juga kesal. Tapi saya sadar, saya 11-12 dengan dia soal keterlambatan. Yang saya tidak sukai dari dia terkadang dia suka menutup-nutupi sesuatu terkait achievement yang ia dapatkan. Menutupi permasalahan yang bisa diceritakan untuk memperingan bebannya. Atau menutupi hal lain yang sebenarnya tak perlu dia sembunyikan. Tapi apalah, toh semua orang memang butuh privasi kan? Ya abaikan saja hahaha.
Pesan untukmu Nan, tetaplah jadi orang yang baik tanpa terlalu menekan dirimu sendiri karena kamu sendiri akan lelah. Jangan menyimpan 'dendam' terlalu lama. Segera baikan dengan orang yang berkonflik denganmu. Dan ketika kalian baikan, jangan diomongkan di belakang. (Agaknya saya juga harus begitu :p)
Orang yang baik pasti akan dapat jodoh yang baik pula. Semoga lekas terlepas dari status jomblo!
Maaf menulis tanpa meminta izin terlebih dulu
Yang Mengasihimu,
Sahabatmu
Berhati-hatilah
Aku berpeluang jadi pengusaha sukses dong #LOL
They coloured my world
SIAPA KAMI?
Komunitas Biru Kasih (KUBIK) berdiri di Malang, 12 November 2013. Komunitas ini merupakan wadah para pemuda yang peduli pada isu-isu disabilitas. Kami yakin bahwa semua orang adalah setara dan berhak untuk maju. Dengan prinsip SHARING (berbagi), CARING (peduli), dan EMPOWERING (memberdayakan), menjadi acuan kami untuk memberikan nilai-nilai positif kepada masyarakat, terutama pada orang-orang difabel. Kami percaya pada kekuatan tekad, semangat maju, dan kolaborasi untuk membantu teman-teman difabel melangkah ke depan.
Nilai-nilai
Kemanusiaan
Kami menganggap semua manusia sama dan memiliki hak untuk menatap hari esok yang lebih baik.
Integritas
Kami bekerja secara terbuka, sukarela, dan tulus.
Berkelanjutan (Sustainability)
Kami bekerja tidak hanya untuk sekejap, tapi dalam jangka panjang dan berkelanjutan.
Misi
Satu tekad, semangat peduli, berbagi, dan kolaborasi untuk memberdayakan penyandang disabilitas.
PROGRAM KAMI
Ponorogo pernah mengalami gagal panen berkepanjangan di era 70an yang menyebabkan terjadinya kemiskinan. Kemiskinan ini berujung pada masalah kesehatan ibu-ibu hamil berupa kurangnya asupan gizi untuk kandungan. Akibatnya banyak anak-anak yang terlahir dengan keterbelakangan mental. Hal ini yang terjadi memunculkan fenomena “Kampung Idiot” yang wilayahnya mencakup 4 desa, yaitu Desa Karangpatihan, Desa Pandak, Desa Krebet, dan Desa Sidoharjo. Pada 2011 tercatat ada 276 jiwa menderita keterbelakangan mental, dan jumlahnya masih bertambah. Selain itu, ada juga warga yang mengalami cacat ganda dan cacat mental, yang selanjutnya disebut ‘difabel’, dengan usia produktif berkisar 30-45 tahun.
Kondisi tanah di keempat desa ini termasuk dalam lahan kering sehingga air sulit didapatkan. Lahan pertanian di keempat desa berupa ladang tadah hujan yang mengalami masa panen satu tahun sekali dengan jenis tanaman palawija. Padahal mata pencaharian utama penduduk keempat desa tersebut merupakan petani ladang. Selama ini banyak warga difabel yang tidak bisa melakukan kegiatan produktif bahkan ada yang harus dipasung oleh keluarganya. Warga difabel belum mampu mencukupi kebutuhan hidup sendiri atau menggantungkan hidup pada keluarganya.
Selama ini banyak bantuan yang masuk ke keempat “Kampung Idiot”. Dari Kementerian Keuangan membangun Rumah Kasih Sayang di Desa Krebet yang berfungsi sebagai tempat melatih keterampilan hidup para difabel dan memberikan bantuan makanan. Pemerintah juga memberikan bantuan melalui PNPM yang digunakan perbaikan infrastruktur. Sarana fisik tidaklah cukup, para penyandang disabilitas juga perlu diberdayakan secara ekonomi.
Berkaca pada permasalahan tersebut, kami membuat program bernama CHARITREE (Charity by sharing light and Tree). Program ini terdiri dari:
Pohon Kasih.
Program ini diwujudkan dengan pemberian 1 bibit pohon kepada 1 keluarga difabel. Fokus dari program ini yakni melakukan penanaman bibit pohon di masing-masing lingkungan rumah warga difabel. Bibit pohon yang ditanam merupakan “bibit buah Mangga” yang merupakan jenis tanaman tahunan, memiliki tingkat produktivitas tinggi, dan cocok untuk lahan kering.
Tujuan:
Penghijauan
Nilai tambah dalam hal gizi dan ekonomi keluarga
Pemberdayaan warga difabel
Output:
Setiap keluarga dengan anggota keluarga difabel mendapatkan 1 bibit pohon.
Warga difabel menjadi berdaya
Outcome:
Warga difabel menjadi mandiri dan produktif
Terpenuhi kebutuhan gizi dan peningkatan ekonomi
Lingkungan lestari
Lampion Cinta
Program ini berbentuk kegiatan pelatihan kepada warga melalui pembuatan lampu lampion. Sasaran dalam program ini adalah Kaum muda, warga kurang mampu, dan warga difabel. Kegiatan ini akan dilangsungkan di Rumah Kasih Sayang (RKS) di Desa Krebet dan Balai Latihan Kerja (BLK) Desa Karangpatihan.
Tujuan:
Melatih keterampilan kerajinan tangan untuk warga agar memiliki referensi usaha
Output:
Warga difabel memiliki tambahan keterampilan untuk menambah kemampuan ekonomi
Outcome:
Peningkatan kualitas hidup warga difabel.
PELAKSANAAN PROGRAM
Program CHARITREE akan dilaksanakan di Desa Karangpatihan, Desa Pandak, Desa Krebet, dan Desa Sidoharjo Kabupaten Ponorogo pada tanggal 28-29 Desember 2013.
SIAPA SAJA YANG TERLIBAT?
Relawan CHARITREE sebagai agen distribusi bibit dan pendamping pelatihan lampion. Kami juga terbuka bagi siapa saja yang hendak membantu menyukseskan acara ini dalam berbagai bentuk dukungan publikasi, materi, atau tenaga baik dari individu maupun institusi.
INFO KOMUNITAS
Email : [email protected]
Twitter : @KubikID
Fanpage FB : www.facebook.com/KomunitasKUBIK
Contact Person:
Anang Dwi Santoso – 085647319085
Adhitya Rachman – 081288846517
No Rekening KUBIK:
BNI a/n Nadhifatul Kholifah, No. Rek: 0172491911
Bank Mandiri a/n Nanda Inggar Nusantari, No. Rek: 1440011880755
BRI a/n Ayuhaeni Achsani, No. Rek: 712601002587530
Now I’m floating like a butterfly Stinging like a bee I earned my stripes I went from zero, to my own hero
#LatePost Ini video sewaktu presentasi project Pecha Kucha. Nama tim saya adalah Legend, dengan beranggotakan saya, Mas Andhika, Anthony, Ope, dan Sukma. Kebetulan tim kami dapat apresiasi dari Pak Wim dan Ali board of directors XL. Hehehehe
GOTONG ROYONG BANGKITKAN SIDOHARJO: TRANSFORMASI DARI KAMPUNG DISABLE MENJADI KAMPUNG CAPABLE
Identifikasi Masalah
Budaya! Suatu perlambang yang terdiri dari cipta, rasa, dan karsa. Cipta sebagai angan-angan atas kreasi dari otak manusia. Rasa sebagai perwujudan perasaan manusia. Serta karsa sebagai kehendak untuk mewujudkan apa yang menjadi angan-angan dan perasaan itu. Secara gamblangnya budaya merupakan kreasi imajinasi otak yang tercipta dari perasaan manusia yang diwujudkan.
Jika berbicara tentang budaya, erat kaitannya dengan kesejahteraan. Mengapa demikian? Hal mendasar dari budaya adalah untuk menciptakan suatu kedamaian, keamanan, dan tentu saja kesejahteraan. Kedamaian erat dengan religiusitas atau agama. Keamanan berkaitan dengan politik dan pertahanan. Sedangkan kesejahteraan berbicara tentang sosial dan ekonomi. sosial berkaitan dengan tidak adanya benturan dalam masyarakat dan ekonomi berkaitan dengan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan materinya.
Produk dari sebuah budaya adalah sistem sosial. Salah satu perwujudan dari system sosial ini adalah gotong royong. Gotong royong, kerja bakti sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan bangsa ini. Sejarah mencatat bahwa dengan gotong royonglah para pendiri republik mampu mengantarkan Bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaan.
Tengok saja bagaimana Candi Borobudur yang sempat dibanggakan sebagai salah satu keajaiban dunia dibangun. Keringat gotong royong dari masyarakat kala itulah yang menjadikan Borobudur menjadi kebanggaan bangsa. Tengok juga saat arek-arek Surabaya dengan gagah berani mengangkat senjata bersama-sama melawan tentara NICA. Berdasarkan fakta tersebut, budaya gotong royong inilah yang seharusnya bisa dimanfaatkan bangsa ini untuk mewujudakan masyarakat Indonesia yang berdaya saing dan mandiri. Budaya gotong royong bisa jadi senjata ampuh dalam upaya mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Sekarang tinggal bagaimana untuk mewujudkan hal itu menjadi nyata.
Kemiskinan sudah menjadi hal wajar terjadi di daerah dengan aksesibilitas yang sangat kurang. Ponorogo misalnya. Tahun 2012 lalu saya sempat melakukan penelitian disana. Ada Desa di 2 Kecamatan di Ponorogo yang mendapat julukan sebagai “Kampung Idiot”. Sejarahnya bermula ketika Ponorogo mengalami gagal panen berkepanjangan di era 70an yang menyebabkan terjadinya kemiskinan. Kemiskinan ini berujung pada masalah kesehatan ibu-ibu hamil berupa kurangnya asupan gizi untuk kandungan. Akibatnya banyak anak-anak yang terlahir dengan keterbelakangan mental. Hal ini yang terjadi memunculkan fenomena “Kampung Idiot” yang wilayahnya mencakup 5 desa, yaitu Desa Karangpatihan, Desa Pandak, Desa Krebet, dan Desa Sidoharjo.
Analisis
Berdasarkan data dari Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo di tahun 2011 terdapat 524 jiwa penyandang keterbelakangan mental disana. Melihat banyaknya media yang mengekspose berita penyandang disabilitas disana, akhirnya di tahun 2011 pemerintah melalui Kementerian Sosial mendirikan Rumah Kasih Sayang (RKS) yang dipusatkan di Desa Krebet. Pelayanan yang ada di RKS berupa penyediaan makanan untuk penyandang disabilitas dan pelatihan pembuatan kerajinan. Pelayanan yang diberikan tidak hanya bagi masyarakat Desa Krebet, namun juga bagi masyarakat dari daerah lain seperti Desa Sidoharjo yang letaknya berdampingan. Desa Sidoharjo sendiri memiliki masyarakat penyandang disabilias banyak dari Desa Krebet, yaitu 104 orang untuk Desa Krebet dan 323 orang untuk Desa Sidoharjo.
Aksesibilitas dalam memobiliasasi warga Sidoharjo untuk datang ke pelatihan terhambat. Dengan banyaknya warga penyandang disabilitas, perangkat desa sebagai pendamping kualahan jika harus selalu rutin mengantarkan penyandang disabilitas untuk datang ke RKS. Praktis upaya pemberdayaan masyarakat Sidoharjo terkendala.
Kondisi tanah di keempat desa ini termasuk dalam lahan kering sehingga air sulit didapatkan. Terlebih lagi di Desa Sidoharjo. Desa ini letaknya paling terpencil di dekat dengan Gunung Slahung dan perbukitan kapur yang tandus. Otomatis, lahan pertanian disana berupa ladang tadah hujan yang mengalami masa panen satu tahun sekali dengan jenis tanaman palawija. Padahal mata pencaharian utama penduduk keempat desa tersebut merupakan petani ladang. Selama ini banyak warga difabel yang tidak bisa melakukan kegiatan produktif bahkan ada yang harus dipasung oleh keluarganya. Warga difabel belum mampu mencukupi kebutuhan hidup sendiri atau menggantungkan hidup pada keluarganya.
Akses infrastruktu juga kurang memadai di Desa Sidoharjo. Akses tersebut terkait dengan akses secara fisik berupa kondisi jalan yang masih banyak terdapat jalan berbatu dan macadam. Kondisi lahan yang kering juga menimbulkan masalah ketersediaan air disana. Akan tetapi dari berbagai masalah itu, sebenarnya potensi partisipasi masyarakat masih besar untuk digunakan sebagai upaya kemajuan desa.
Solusi
Berdasarkan data yang saya dapatkan sewaktu penelitian, dalam keseharian masyarakat pada umumnya masih memiliki kepedilan yang kuat terhadap para penyandang disabilitas dan mau untuk maju. Nilai-nilai kebersamaan, saling memiliki, gotong royong, dan kestiakawanan sosial ini terus ada dalam masyarakat. Walaupun membangun jaringan atau networking dengan pihak atau instansi di luar sana adalah salah satu hal yang sangat penting tetapi pada kenyataan di desa ini belum terdapat organisasi. Namun, di salah satu dusun di Desa Sidoharjo yaitu Dusun Sidowayah memiliki sebuah forum yang dimotori oleh para pemuda yaitu Forum Sidowayah Bangkit. Forum ini membangun hubungan dengan pihak luar, terkait masalah bantuan ataupun pemberdayaan masyarakat.
Potensi lain yang bisa dikelola adalah perbukitan kapur tandus yang ada desa Sidoharjo. Perbukitan ini belum mendapat perhatian khusus untuk dimanfaatkan sebagai hutan desa. Bukit ini sedikit sekali terdapat pepohonan, itupun pohon jati yang memiliki masa pertumbuhan untuk bisa dimanfaatkan dengan jangka waktu yang lama sekitar 50 tahun. Menurut observasi yang saya lakukan di sekitar desa, banyak tanaman jambu monyet yang tumbuh subur dan berbuah disana. Setelah saya mencari data tentang tanaman ini, ternyata tanah seperti di Ponorogo memang cocok untuk ditanami jambu monyet.
Jambu monyet sendiri bagian-bagiannya memiliki manfaat yang banyak, mulai dari kayu, buah, dan biji jambu monyet (kacang mede). Jika perbukitan itu dapat dikelola dengan swadaya oleh masyarakat sebagai perkebunan akan sangat bayak sekali manfaatnya. Seperti konsep Agrowisata yang dikembangkan di Kota Wisata Batu. Selain sebagai fungsi ekonomi, pengembangan ini juga bisa menjadi fungsi konservasi hutan dan air tanah untuk memenuhi kebutuhan air warga desa kelak.
Konsep yang cocok untuk mewujudkannya adalah dengan pemberdayaan masyarakat dengan integrasi dari konsep Comunity Based Rehabilitation (CBR) dan community based Tourism (CBT) guna mewujudkan konservasi perbukitan kapur menjadi bentuk Agrowisata Jambu monyet nantinya. Comunity Based Rehabilitation (CBR) menurut PBB, merupakan salah satu staretgi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan rehabilitasi komunitas, kesetaraan kesempatan, dan integrasi sosial dari semua anak-anak dan dewasa yang menderita disabilitas. CBR diimplementasikan cara menggabungkan usaha dari orang-orang penderita disabilitas itu sendiri, keluarga, dan komunitas dalam fasilitas kesehatan, pendidikan, keterampilan, dan jasa.
Sedangkan CBT merupakan konsep pariwisata yang dikembangkan oleh kelompok masyarakat. CBT menurut Hausler merupakan suatu pendekatan pembangunan pariwisata yang menekankan pada masyarakat lokal (baik yang terlibat langsung dalam industri pariwisata maupun tidak) dalam bentuk memberikan kesempatan (akses) dalam manajemen dan pembangunan pariwista yang berujung pada pemberdayaan politis melalaui kehidupan yang lebih demikratis, termasuk dalam pembagian keuntungan dari kegitan pariwisata yang lebih adil bagi masyarakat lokal.
Integrasi konsep ini memerlukan partisipasi dari aktor-aktor seperti:
Pemerintah
Dinas Kehutanan dan Pertanian yang akan menjadi penyuluh dan pendamping dalam kegiatan berkebun.
Dinas pariwisata dan industry kreatif memberikan pendampingan dalam hal manajeman pariwisata dan penunjangnya seperti penginapan, kuliner, maupun paket wisata.
Dinas perindustrian memberikan pendampingan terkait pendampingan dalam hal produk olahan dari perkebunan dan kerajinan masyarakat.
Swasta, sebagai investor dan mitra kerjasama dalam pemasaran produk perkebunan Agrowisata Jambu Monyet
Masyarakat, sebagai actor utama pelaku manajemen dan teknis dalam Agrowisata Jambu Monyet yang diwujudkan melalui Kelompok-kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan Forum Masyarakat.
Kesimpulan
Gotong royong yang diwujudkan dalam partisipasi masyarakat untuk Agrowisata Jambu mede dengan konsep CBT dan CBR. Partisipasi ini tidak lepas dari actor lain yaitu pemerintah dan swasta. Melalui konsep tersebut diharapkan aka nada solusi untuk memberdayakan warga penyandang disabilitas secara khusus, memajukan ekonomi warga desa secara umum. Konservasi sumber daya alam yaitu hutan, bukit, dan air. Dengan upaya ini diharapkan kelak Desa Sidoharjo tidak lagi dicap sebagai desa disable tetapi desa yang capable. Desa yang mampu kelauar dari keterbatasan melalui transformasi positif yang dioperasionalisasikan dengan nilai-nilai budaya gotong royong.
Esai ini pernah diikutsertakan dalam lomba esaiPIL 2013 dan meraih juara ke-2.
http://pekanilmiah2013.blogspot.com/
Menghilangkan Keterlambatan dari Daftar Warisan“ Budaya” Bangsa
Time is not just about money anymore
Lo Kheng Hong, seorang investor saham terkemuka Indonesia berkata “time is money” itu keliru. Mengapa hal ini keliru? Makna kalimat tersebut “waktu adalah uang”. Waktu dan uang merupakan dua hal yang berbeda. Keduanya tidak dapat disamakan. Uang bisa dicari kapan saja sewaktu kehilangannya, tetapi waktu, sekali kehilangan mustahil untuk mengulangnya kembali. Waktu sangatlah berharga! Hal ini membuat saya berpikir alasan itulah yang menyebabkan adanya konsep time value of money.
Terlambat. Kata itu yang sering membuat saya galau. Penyesalan itu selalu menjadi siklus, berulang-ulang. Pada akhirnya, saya menghabiskan waktu berharga saya karena keteledoran, karena kemalasan, dan karena ketidakdisiplinan akan waktu. Terkadang saya harus membayar mahal kebiasaan buruk ini dengan kehilangan kesempatan berharga saya.
Pernah saya masuk bursa calon ketua pada organisasi yang saya ikuti, namun saya gagal karena reputasi saya yang suka ngaret. Padahal saya memiliki kapabilitas yang tidak kalah dengan teman saya yang terpilih. Satu sifat buruk itu meruntuhkan kepercayaan anggota organisasi saya. Saya mengambil hikmah dari hal ini bahwa jika ingin menjadi pemimpin maka jangan terlambat.
Hasnul Suhaimi dalam bukunya, Everyone Can Lead menuliskan bahwa pencapaian puncak kariernya sebagai pucuk pimpinan perusahaan besar bukan tanpa keteguhan yang ia tanamkan. Tepat waktu salah satu faktor yang berperan terhadap pencapaian ini. Ia menceritakan pengalamannya bahwa menunda hal-hal kecil justru membuat pekerjaan besar jadi terhambat. Ketika tertunda, hal kecil ini menjadi berdampak besar, menjadi molor dan menumpuk.
Luar Batas
Manusia berusaha tetapi Tuhanlah yang menentukan.
Saya pernah mendapatkan petuah dari ibu sahabat saya. Beliau orang yang sangat disiplin dalam waktu, hal itu menjadi hal utama yang diwariskan kepada teman saya. Beliau mengatakan walaupun seseorang sudah teratur, tepat waktu tetap saja sewaktu-waktu ada hal-hal diluar kemapuan manusia untuk mengendalikannya. Maka persiapkanlah segala sesuatu lebih awal!
Input dengan perencanaan yang matang akan berproses menghasilkan output yang maksimal. Suatu proses berjalan bukan tanpa masalah, dan bisa jadi hal itu terjadi diluar batas nalar. Perencanaan yang matang bisa saja gagal, apalagi perencanaan yang dibuat dengan tergesa-gesa atau bahkan tanpa perencanaan.
Toleransi Keterlambatan
Terlambat dianggap sebagai hal yang wajar di Indonesia. Tanpa perlu melakukan survey-pun fenomena ini bisa dilihat dengan kasat mata. Bahkan Indonesia sudah identik dengan keterlambatan di mata dunia internasional. Toleransi akan keberagaman suku dan agama terkalahkan akan toleransi keterlambatan.
Toleransi keterlambatan sudah menjadi kewajiban bukan lagi hak bagi individu maupun komunal. Lalu apakah hal ini yang akan terus dipelihara? Ketika Negara-negara tetangga sudah lepas landas dengan roket apakah bangsa ini harus tertatih-tatih menggunakan rakit? Sudah saatnya toleransi keterlambatan diubah dengan dispensasi keterlambatan agar ada pengeculian. Toleransi dibuat dengan landasan perbedaan keyakinan tapi dispensasi diberikan atas dasar keadilan. Karena dispensasi memberikan prasarat.
Nation Character Building
Generasi pemuda adalah calon pemimpin masa depan, bukan hanya sekedar pemimpin di masa depan. Sudah sepantasnya generasi muda Indonesia dipersiapkan dengan bangunan kompetensi yang matang dengan fondasi karakter yang kuat.
Suatu karakter komunal yang tidak dapat serta merta terwujud jika tidak dimulai dari karakter per individu. Keluarga menjadi magma dalam pendidikan karakter dan sekolah sebagai kawahnya. Peran guru, orang tua, dan lingkungan yang sinergis tentunya akan lebih memudahkan pembentukan karakter disiplin ini.
Saya pernah membaca tulisan tentang kepatuhan sosial dari perspektif individu dan kolektif.dari website Universitas Parahyangan bahwa ketidak-patuhan sosial merupakan hasil dari tindakan rasional seorang individu di dalam struktur sosial yang lemah sehingga tidak mendorong individu untuk melakukan tindakan yang dikehendaki secara sosial. Dalam tulisan itu pula disebutkan upaya menegakan kepatuhan sosial dapat dilakukan dari dua arah secara simultan, baik melalui penguatan institusional maupun pemberdayaan individual. Dari penjelasan ini dapat dilihat perwujudan karakter kedisiplinan perlu menjadi komitmen semua kalangan, dan diberlakukan dengan tegas. Ketegasan ini bisa dilakukan dengan pemberlakuan sanksi atas ketidakdisiplinan dengan sanksi sosial,
Ketika Seorang Pemimpin Terlambat
Ketika pemimpin terlambat, bukan hanya ia yang akan tertimpa masalah tapi organisasi dan manusia yang ada di dalam organisasi itu sendiri. Keterlambatan yang kecil yang hanya berhubungan dengan pribadi sendiri saja akan menjadi bencana besar, apalagi yang berhubungan dengan orang banyak.
Seorang dokter jika terlambat menangani pasien akan menyebabkan kematian. Terlebih lagi jika para policy maker negeri ini yang terlambat maka apa jadinya?
“Nggak ada pemimpin atau orang sukses yang punya kebiasaan menunda, atau sengaja karena malas atau entahlah….So kalau mau jadi pemimpin, mau jadi orang sukses..Action Now!” –Billy Boen
God knows we're worth it. I won't give up.
Kocakkkk gila. Aaron Ashab - Ketupat Song (Tim Pintar Edisi Lebaran) (by AaronAshab)
The closer you look, the less you see - J Daniel Atlas
Now You See Me