08 | Jeruk Shantang Madu
"Ah, sial!"
Tiang besi tak bersalah itu menjadi korban tendanganku. Aku semakin menggerutu. Tidak ada satu hal pun yang berjalan sesuai dengan rencanaku hari ini.
Mengapa sangat sulit sih, semuanya.
Tak lama, aku terduduk di teras rumah, meluruskan kedua kakiku. Sepi dan dingin. Mataku mengitari kebun rumah kami. Pohon-pohon jeruk ini sudah mengelilingi rumah sejak delapan tahun lamanya. Ekor mataku melihat meja makan dihiasi semangkuk jeruk shantang madu, buah favoritku dan nenek.
Ingatanku terbang kembali di saat aku masih duduk di bangku SMP. Nenek masih bersama kami. Rumah ini masih terasa hangat. Gelak tawa menghiasi seisi ruangan saat semua tiba di rumah. Bedanya adalah kebunku masih kosong. Hanya ada satu pohon mangga yang di sekitarnya terhiasi oleh pot-pot bunga cantik milik Mama.
Suatu hari, aku bertengkar dengan Ayah. Pulang sekolah, pohon manggaku hilang ditebang. Bayangan pohon yang selalu meneduhkan rumahku lenyap. Semut yang semakin banyak di sekitar rumahku menjadi penyebabnya. Mangga adalah buah kesukaan nenek. Aku merasa kesal dan mengurung diri di kamar. Nenek tersenyum kecil lalu menghampiriku.
"Ngga harus sesedih itu dong?"
"Gak suka, rumah kita jadi gerah. Mangga kan buah kesukaan nenek."
Nenek terdiam, tapi kemudian senyum kembali menghiasi wajahnya.
"Kamu mirip ya sama bapakmu."
Aku mengernyitkan kedua alisku. Rasanya tidak enak dibilang mirip dengan Ayah. Duh males banget deh. Dia kan yang bikin aku kesal!
"Yaudah nenek sih ikhlas. Memang benar kok banyak semut setiap mangganya panen," ujar Nenek, membela tindakan anaknya.
Aku terdiam, enggan membalas.
"Besok kita beli buah-buahan, yuk. Nenek pengen beli jeruk."
"Jeruk?"
"Lho iya, jeruk shantang madu, buah kesukaan nenek kan bukan cuma mangga."
Memegang daguku sembari manggut-manggut, aku mengiyakan ajakan nenek.
"Nanti tanam jeruk aja ya. Kamu mau kan nanam jeruk?"
"Males, nek. Nanti mulai dari awal lagi, deh. Pohon jeruk kan kecil," protesku.
Nenek mengangkat satu jarinya di hadapanku. "Tanam satu pohon saat kamu bersyukur akan suatu hal. Satu jeruk untuk satu syukur. Gak capek kan, bu Tani?"
"Ngga sih, ta-"
"Shhh, pokoknya gitu, ya. Nanem pohon itu suatu amal jariyah tau?"
"Kok bisa?"
"Setiap pohon yang kamu tanam, menghasilkan oksigen yang dihirup seluruh makhluk yang ada di sini. Ibu, bapak, nenek, kamu, adikmu, bahkan hewan-hewan di sekitar. Itu sebuah amal ibadah," jelas nenek panjang lebar. "Jadi gimana? Janji?"
"Janji, nek."
Kedua kelopak mataku terbuka. Kali ini tersenyum, melihat buah oranye menghiasi kebunku. Tidak kosong lagi, namun penuh dedauan hijau dan semburat oranye senja. Nenek sudah pergi, tapi aku punya beratus nikmat syukur yang kudapat selama ini.
Aku mengambil dua buah jeruk dari meja makan. Memakannya satu per satu. Mengambil satu sekop kecil dan mulai menggalinya kembali. Meski hariku buruk, ada hal yang ingin aku syukuri.
Aku bersyukur bisa makan jeruk hari ini... dan aku bersyukur punya nenek yang sangat hebat.














