Setelah lima tahun lima bulan gue bekerja di kantor dengan jam kerja 8-5, dengan struktur hierarki yang ketat dan penuh orang bossy tapi juga kok ya rajin memenuhi mesjid saat adzan berkumandang, dan kondisi perminyakan yang anjlok karena, katanya, ada perang minyak antara Rusia dan Amerika. Dan jangan lupa, setelah lima tahun lima bulan gue harus setengah mati menempuh jalanan Jakarta hampir 1 jam padahal jarak kantor ke rumah gak sampai 10 km, alias kalau gue lari (10K) juga bisa kan? Heuh.
Akhirnya gue menyerah dengan itu semua. Ditambah lagi, beberapa teman di PHK, gaji dipotong, penghematan, dan gue yang masih dipertahankan dipaksa mengerjakan semua pekerjaan teman-teman yang sudah di PHK. Sialan.
Setelah gue pikir-pikir. Gue gak punya anak yang harus dikasih makan, orang tua gue juga mampu membiayai diri mereka sendiri, gue gak punya cicilan dan utang, gue gak punya hasrat untuk jadi Diplomat ataupun Pegawai UN karena batas usia sudah lewat. So, WHAT THE F* I’M DOING IN THIS OFFICE? Akhirnya gue putuskan untuk keluar dan menyerahkan semua takdir gue kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Apa yang ada di otak gue saat itu? Katanya takdir hidup manusia sudah dituliskan jauh sebelum bumi dibuat, artinya jalan cerita hidup gue sudah ada. Jadi ya sudahlah, gue ikut aja jalannya mau kemana. Simpel.
Segera setelah gue resign pada Maret 2017, gue langsung ngetrip ke Malaysia dan Singapura dengan modal tiket 500 ribu PP. Di KL, gue kemana-mana naik Grab, murah juga masak... cepat dan nyaman pula. Di Singapura gue mengalami iritasi mata sampai SELAPUT BENING KORNEA GUE ROBEK! Saat itu. gue di Singapura backpacker alias kere ga mungkin ke rumah sakit... belum pernah seumur-umur lihat ada benda bening ngewer-ngewer di mata gue... OMG, it was so scary! Akhirnya setelah gue google, itu ternyata hal yang “biasa” terjadi dan bisa diupayakan untuk diobati sendiri. Yang gue lakukan saat itu adalah: 1. Lepas lensa kontak, jangan dipakai lagi, 2. Bilas dengan air mengalir, 3. Berkedip yang banyak. Setelah itu, Alhamdulillah selaputnya balik lagi, ternyata mereka bisa saling merekat kembali. HEBAT YA!
Long story short, setelah gue berkelana akhirnya gue balik lagi ke Jakarta, broke af, dan pengangguran. Hahahaha. Kerjaan favorit adalah tidur sepanjang hari, nonton K-Variety dan Drakor, baca buku, dan tidur. Sampai akhirnya, saat Lebaran tetiba Om gue (Adeknya Emak) ini datang ke rumah gue... dia bercerita soal perusahaannya di bidang pameran, blablablablabla. Sampai pada kalimat, mau gak kerja dengan Om? Ya, gue sih mau aja, daripada nganggur.
Pekerjaan baru gue ini adalah mengurus keuangan di perusahaan Om gue. Dia trauma berat karena beberapa anak buahnya korupsi di perusahaannya. Saking besarnya korupsi anak buah itu, sampai dia bisa bikin perusahaan sendiri di bidang yang sama dan sampai sekarang jadi rival. Gue gak ngerti dendam apa yang anak buah itu punya di dalam hati sampai segitunya ke Om gue.
Karena ini kerja dengan keluarga, akhirnya banyaklah rahasia keluarga mereka yang gue jadi tau. But, I’m always trying to be professional. Pas awal-awal kerja, gue terkejut bahwa sesungguh menjadi pengusaha itu berarti bisa meraup sebanyak-banyaknya peluang yang menghasilkan uang. Selama ini, dari contoh orang tua, cara menghasilkan uang adalah dengan bekerja kepada negara (jadi PNS) atau ke perusahaan (kerja swasta). Mereka gak ajarin ada peluang usaha, jualan, apa kek, whatever. Gue jadi mengerti hadist pintu rejeki paling banyak adalah dengan menjadi pengusaha. It’s true.
Gue juga takjub dengan pekerjaan baru ini, event organizer khusus untuk kegiatan pemerintah yang punya anggaran. OH, TERNYATA ADA YA USAHA BEGINI? Dan selanjutnya, gue jadi paham bahwa ada banyak jenis event organizer. Gak cuma wedding atau birthday party.
Setelah satu tahun sembilan bulan bekerja di bidang ini, gue jadi melihat peluang besar di bidang ini di Indonesia untuk kedepannya. Tapi, gue kekurangan ilmu. Yes, di negara ini bidang event ini ibaratnya hanya bagian tetelan di Pariwisata. Sementara, Pariwisata Indonesia hanya fokus ke seberapa banyak kunjungan wisatawan ke sebuah kota, seberapa cantik panorama alam yang ditawarkan, dan seberapa banyak like foto yang beredar di sosmed. Simpel banget, padahal masih banyak potongan kue bisnis lain yang bisa digarap. UGH.
Oleh karena itu, gue berencara untuk sekolah lagi keluar negara, khusus untuk belajar bidang ini: Event Management. I’m currently working on it.
Kadang mikir ya, gue udah tua bener sebenarnya untuk mulai belajar hal baru lagi, tapi ah... bodo amat lah. Gue belum kawin - gak ada rencana juga dalam waktu dekat, gue gak punya utang apalagi cicilan, dan kedua orang tua gue mapan dan mandiri. Yowes!
Jakarta, 17 Februari 2019