Kemarin, 7 Juli 2021 papa genap berusia 58 tahun. Artinya, akhir bulan ini beliau sudah lepas dari kewajiban kerjanya sebagai POLRI.
Akan tetapi, Allah berkata lain. Kami diberikan suatu ujian beberapa hari belakangan. Papa luka dan infeksi kakinya.
Sebagai penyandang DM, luka adalah salah satu momok menakutkan yang sangat dihindari. Tetapi, luka-luka kecil biasa terjadi dan selama ini tidak ada masalah yang berarti. Tapi, qadarullah luka kali ini memberikan pengalaman yang berbeda. Terjadi infeksi, kaki papa bengkak. Akibatnya? Fatal. Bukan hanya bengkak biasa. Beliau tidak bisa berjalan, bahkan dudukpun harus dipapah.
Papa yang tampan nan gagah, pak polisi kebanggaan kami, kini harus tergeletak tak berdaya di atas tempat tidurnya. Pantas saja, beberapa hari sebelum kutau kabar ini, Yai (panggilan Nabila ke Papaku) enggan menjawab panggilan video dari cucu tercintanya.
Sampai akhirnya kutau kabar ini, akan tetapi Nyai (panggilan Nabila ke Mamaku) terkesan mengentengkan kondisi ini. Mungkin satu alasannya : tidak ingin anak-anaknya yang jauh di rantau khawatir akan kondisi papa. Akan tetapi, si bungsu kami diam-diam mengirimkan kondisi papa. Dan spontan saja, kami kami terkejut, takut, dan khawatir akan kondisi papa.
Kutau di masa pandemi seperti ini lebih baik tinggal di rumah, tidak kemana-mana, termasuk mengunjungi keluarga tercinta. Tapi kondisi ini berbeda menurutku, daripada aku menyesal akhirnya, kuputuskan pulang ke rumah mama papa di Palembang setelah melakukan swab sebelumnya.
Yah, hampir seminggu aku di sini. Libur UAS semester 2 menuju semester 3 yang kukira akan baik-baik saja, yang kukira kubisa belajar banyak tentang hal-hal yang belum kukuasai sebelumnya, yang kukira bisa kumanfaatkan dengan bahagia tanpa beban belajar seperti biasanya, ternyata disiapkan Allah dengan pembelajaran yang berbeda.
Di sini kubelajar, betapa nikmat hidup normal yang sering kali kita anggap biasa, sesungguhnya adalah rejeki yang sangat luar biasa dari Allah. Ketika kulihat papa merasa sakit di sekujur tubuhnya, sesungguhnya nikmat tidak merasakan sakit dan dapat beraktivitas seperti biasa kadang lupa disyukuri.
Semoga fase pembelajaran ini segera terlewati. Papa yang kian hari tubuhnya kian kurus, dapat sehat kembali, menjadi gagah kembali. Mama yang selalu berjuang sekuat tenaga merawat papa dengan penuh kesabaran di tengah tanggung jawab beratnya sebagai kepala sekolah semoga selalu sehat dan diberi balasan kebaikan yang luar biasa oleh Allah. Adikku Uti yang juga selalu menemani Mama dan Papa di rumah, tetap di rumah dan merelakan aktivitas kampusnya semoga selalu sehat dan diberikan jalan hidup, karir, dan rezeki terbaik dari Allah. Abang kami Okky, yang sedang berjuang di tanah Kalimantan semoga selalu sehat dan segera diberi amanah sebagai orang tua.. Aaaaamiiiin ya Robbal Alami