The worldly life has been created as a place of testing. The wise person should fully habituate himself to patience.
Ibn al-Jawzi (via islamic-art-and-quotes)
KIROKAZE

Andulka
tumblr dot com

roma★
Cosmic Funnies

shark vs the universe
cherry valley forever

JBB: An Artblog!
art blog(derogatory)

izzy's playlists!

tannertan36
AnasAbdin
🪼
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

祝日 / Permanent Vacation
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

PR's Tumblrdome

Kaledo Art
I'd rather be in outer space 🛸

oozey mess

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Algeria
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Bahrain

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Argentina

seen from Italy
@meidhaaudina
The worldly life has been created as a place of testing. The wise person should fully habituate himself to patience.
Ibn al-Jawzi (via islamic-art-and-quotes)
On my ojek ride to work, -which only lasted for no more than ten minutes, I imagined myself living in my grandma's house back in the countryside. Taking care of goats and cows, planting various of flowers, beekeeping..
To My 2018
2018 sudah hampir seminggu.
Selama seminggu pula, rasanya kayak ....
Di hari terakhir 2017, tepatnya hari minggu kemarin, aku memutuskan untuk bertemu, silaturahmi dengan teman kantor lama. Cuma satu orang, Mbak Rita namanya, yang sepanjang tahun lalu sampai saat ini bantuin kerjaan papa. Sejak dapat kerjaan baru, hampir nggak pernah komunikasi sama Mbak Rita. Karena ngerasa bersalah, akhirnya aku ajak Mbak Rita ketemu di Mal Kelapa Gading. Kita makan dan ngobrol soal banyak hal. Kabar baik dan buruk. Obrolan sesama perempuan.
Bukan keputusan yang buruk untuk ketemu Mbak Rita, karena aku sendirian, ditinggal Echa yang pulang ke Garut karena sedang minggu tenang. Mbak Rita juga sama, menunggu suaminya yang belum juga jemput untuk acara keluarga katanya. Mumpung besoknya libur dan kupikir nggak akan begitu capek untuk keluar rumah hari itu, aku masih bisa istirahat di rumah seharian penuh di rumah besoknya.
Ketika akhirnya masuk kerja, hari Selasa, aku berangkat seperti biasanya. Aku sadar di tasku nggak ada dompet. Aku pikir, oh, mungkin ketinggalan di rumah. Kadang begitu. Meski dompet nggak ada, aku nggak begitu panik karena aku emang bukan orang yang menyimpan uang tunai dalam jumlah besar (padahal ukuran dompetku segede gaban) dan kartu ATMku satu-satunya ada di saku tas. Jadi persoalan uang insya Allah aman, pikirku.
Sampai hari Rabu, aku ingat harusnya aku sudah bisa ambil paspor yang kuperpanjang beberapa minggu sebelumnya, kemudian kurogoh isi tas, bermaksud mengambil dompet di mana di dalamnya kusimpan kertas tanda terima dari Kanim dan bukti pembayaran dari bank. Dua hal itu dan mungkin KTP yang diperlukan untuk ambil paspor. Baru deh inget, dompetku nggak ada di tas dari kemarin. Kemudian kuambil ponsel dan kirim pesan untuk adikku yang ada di rumah barangkali dia menemukan dompetku. Setelah itu, tentu saja nggak kupikirkan lagi.
Sampai di rumah, adikku bilang dia nggak lihat dompetku, akupun mencari-cari sampai kulkas, rak sepatu kursi-kursi meja makan, lemari, geser kasur, kolong ranjang, termasuk ngintip kolong sofa, semuanya, dan bener nggak ada. Seketika sedih. Sebagai orang yang cukup sering kehilangan barang, dompet merupakan barangku yang nggak pernah hilang.Sampai-sampai aku berani simpan paspor di dompet, bikin orang-orang yang tahu selalu tanya,“emang nggak takut hilang?”. Tapi aku pede aja. Saat aku cari-cari nggak ada, aku nggak percaya.Masa sih?
Tahu dompet beneran nggak ada, rasanya pengen nangis aja. Nyoba inget-inget apa aku lihat dompet pas pulang dari MKG hari Minggunya, dan nggak inget sama sekali. Karena Seninnya nggak kemana-mana, pastinya aku nggak pake/nyariin dompet juga. Bener-bener cuma inget pake dompet hari Minggu, dibawa ke MKG. Aku belum nyerah, belum ngurus surat kehilangan dan sebagainya, akhirnya, karena aku kerja, aku minta adikku ke MKG dan tanya satpam di sana barangkali ada yang nemuin dompetku. Hasilnya nihil.
Perkara dompet belum selesai, di kantor kerjaan lagi banyak banget. Udah dua hari aku pulang jam sembilan lewat. Sabtu ini yang harusnya aku libur, aku harus masuk. Terlalu banyak pekerjaan yang nggak mungkin selesai kalau aku nggak masuk hari ini. Bener-bener banyak sampai akhirnya aku bawa pulang. Padahal sebelumnya mana pernah aku bawa pulang kerjaan.
Sebenernya, aku nulis seperempat tulisan ini tadi pagi di kantor, pas sharing folder tempat aku simpen file kerjaan belum connect juga, sisanya kutulis di rumah. dan.... pas sampe rumah... ternyata dompetku sudah ketemu! Adikku geser sofa, dan ternyata dia di bawahnya. Hehehe. Karena celahnya kecil, pas kuintip kemarin nggak kelihatan apa-apa. Ya, seketika dukaku selama kurang lebih seminggu pertama di 2018 langsung terobati rasanya. Meski kerjaan kantor belum juga selesai, hilang sudah kewajibanku untuk bolak balik urus-urus surat kehilangan dan nggak kepikiran lagi gimana caranya ambil paspor. Allah memang Maha Baik. :)
Sekian ya curhatnya. Selanjutnya semoga aku bisa cerita yang lebih bagus lagi, nggak yang kehilangan-kehilangan kayak gini lagi. Hehehe.
Love,
Mei
Aku suka mendengar. Lagu, cerita, tawa, tangis, keluh, kesah, doa, harapan. Kuaminkan.
Thanks
Thank you, tumblr readers, for all your comments, likes, reblogs, and overall awesomeness this year. It’s been amazing to see the publication of my first book, first calendar, and many other exciting projects. I’m thankful I get to make comics. And most of all, I’m thankful people all over the world can read and enjoy them.
(via DrMassicotte)
Nada
Apa yang pertama kali kamu ingat setiap mendengar kata nada? Namaku Nada, tapi aku mungkin orang yang paling berharap namaku berubah, seandainya aku bisa mengabaikan fakta bahwa nama ini adalah hadiah paling pertama yang ayah dan ibu berikan untukku, bahkan jauh sebelum aku melihat dunia. Kata nada akan mengingatkanmu pada irama, lagu, suara, dan semacamnya, bukan? Pada kenyataannya, menjadikan Nada sebagai namaku adalah ironi. Aku tak pernah merasakan, menikmati, ataupun mengerti seperti apa itu nada. Jangankan membedakan tinggi rendah suatu bunyi, aku bahkan tak tahu seperti apa bunyi itu. Ya, telingaku tak bisa menangkap apa yang orang sebut gelombang bunyi. Kasarnya, aku tuli.
Aku tak tahu persis apa yang terjadi, bagaimana mulanya aku menjadi tuli. Ibu bilang, aku terlahir sehat tanpa cacat. Aku mulai tuli sejak umurku kurang dari setahun. Nada kecil tiba-tiba terserang demam tinggi seminggu lebih. Setelah pulih, Nada kecil tak pernah merespon panggilan ibu. Ibu yang khawatir kemudian membawa Nada kecil ke dokter. Di depan dokter, ibu menangis setelah sang dokter memvonis Nada kecil tuli.
Tuli di umur yang sangat dini menjadikanku tak bisa berbicara normal pula. Kemampuanku belajar berbicara hanya sebatas mengamati gerakan bibir ibu. Aku tak punya memori seperti apa itu suara dan bagaimana manusia mengeluarkan suara. Tak ada yang bisa kujadikan contoh, maka mengeluarkan suara, merupakan pengalaman yang paling asing seumur hidupku.
Aku pernah merasa kecewa karena aku begitu berbeda. Kemampuan komunikasi yang terbatas membuatku tak punya banyak teman. Banyak orang yang cenderung menjauhiku ketika mengetahui fakta bahwa aku tuli. Sampai aku merasa manusia banyak sekali yang egois, tak bisa menerima perbedaan, tak bisa menerima keberadaanku.. Hingga aku sadar, akulah yang egois. Ibu, manusia paling sabar sejagat raya, berhasil membuatku mengerti. Aku mengerti, mereka begitu bukan karena mereka egois dan tidak menerima keadaanku, tapi karena mereka merasa tak mampu berteman denganku. Bukan karena kemampuan komunikasiku yang terbatas, tapi mereka merasa kemampuan komunikasi mereka terbatas untuk bisa berteman denganku. Aku mengerti, aku istimewa, dan hanya orang yang istimewa pulalah yang mampu berteman denganku.
Mereka yang mendengar bunyi, seringkali menganggap duniaku sunyi. Siapa bilang? Siapa pula yang merasakan, kecuali diriku sendiri? Aku tidak merasa sepi, atau sunyi. Bahkan seorang Beethoven masih bisa membuat musik saat telinganya menuli seiring waktu. Meski aku tak yakin aku bisa bermusik, tapi semangat Beethoven sudah cukup menginspirasi bahwa menjadi tuli bukan penghalang bagiku untuk tetap hidup.
Hingga usia 20 tahun sekarang ini, ayah dan ibu tak pernah terpikir mengganti namaku, kecuali kalau aku mau, katanya. Saat kutanya kenapa ia mau mempertahankan Nada menjadi namaku, kau tahu apa jawaban mereka?
“Ayah dan Ibu masih berharap kamu akan bisa benar-benar mendengar nada, Nak. Selain itu, kami sudah cari, Nada punya banyak arti lain pula. Dalam Bahasa Arab, Nada berarti embun. Dan, dalam bahasa Slavia, Nada berarti harapan, Nak. Nada bukan melulu sesuatu yang tidak bisa kamu rasakan”
Aku hidup dengan harapan yang sama pula. Meski kekurangan, aku merasa hidupku sangat cukup dengan harapan yang kupunya. Lalu, mengapa banyak orang yang lebih cukup dariku, masih merasa kekurangan?
Jatinangor, 26 November 2014
© Meidha Audina
Allah (ﷻ) made man to be somebody, not just to have things.
— ﷽ (@IslamicThinking) November 12, 2017
Kemarin, sembari nunggu @annisariti selesai kerja, saya mampir ke Perpustakaan Nasional RI yang baru dibuka bulan September lalu. Saya penasaran karena dua hal: pertama, karena katanya perpustakaan ini merupakan perpustakaan tertinggi di dunia (dengan total 24 lantai). Kedua, karena saya kecewa dateng ke Perpusnas sebelumnya di Salemba, karena sistem perpustakaan tertutup, memaksa kita sebatas mencari buku di data komputer. Kalo kamu nggak tahu cari buku apa, ya bye aja. Hix. Dan.. saya kagum. Semacam all out, mereka punya semua di sini. Koleksi monograf, lukisan dan koleksi seni lainnya, koleksi kuno, audio visual dengan pilihan CD musik dan DVD film berbagai genre, koleksi bacaan anak-anak lengkap dengan fasilitas penunjang seperti nursery room (ada di lantai koleksi bacaan anak), ruang diskusi, toilet di setiap lantai, tempat duduk melimpah ruah, kantin, dan banyak lagi. It was like a fascinating new place. Walau saya lihat, banyak rak-rak buku yang bisa dibilang masih kosong, dan koleksi bukunya sendiri masih kurang lengkap, gaada karya sastra nonfiksi seperti novel, kumpulan puisi, cerpen, dan sebagainya (atau saya yg nggak nemu ya). Tapi yang jelas, ini keren. Akan lebih keren lagi kalau tempat ini makin baik di kemudian hari (jangan sampai makin jelek tentunya). Semoga pengunjung bisa menggunakan fasilitas di sini dengan baik dan bijak dan pihak pengelola Perpusnas bisa mengelola tempat ini dengan baik, ya. Aamiin. Saat ini, Perpusnas buka tiap Senin-Jumat pukul 8.30-18.30 dan Sabtu 8.30-16.00. Namun ada wacana akan dibuka tiap hari hingga pukul 22.00. Semoga terealisasi! Hihi. P.S. Yes I did visit to look around 😅, not to read some books tho, but I'll be ready to read for the next visit lol (at Perpustakaan Nasional Republik Indonesia)
Spread a lil kindness for your surroundings. :')
Because I wish I had a chance to know more about people I admire.
Bukan Salah (Asuh) Ayah dan Ibu
Dulu, dulu sekali, saat sedang masih labil-labilnya, saya pernah bertengkar dengan Ibu. Saat itu, saya kecewa dengan perlakuan Ibu sampai khilaf dan dengan gegabahnya mengatakan bahwa ada satu kesalahan Ibu pada pola asuhnya terhadap saya dulu yang ternyata berdampak pada bagaimana saya di hari itu. Pun sebaliknya, Ibu sedih karena katanya saya mengecewakan. Lupa apa masalahnya, tapi saya begitu ingat pada perkataan Ibu,
“Ibu tuh memang engga sekolah tinggi. Ibu engga taulah apa tuh yang psikolog atau buku-bukumu bilang. Tapi kamu jangan bilang gitu sama Ibu, karena bagaimanapun Ibu usaha yang terbaik buat kamu. Jangan hanya karena kamu belajar terus kamu merasa lebih pintar, jangan hanya karena kamu mengaji lalu kamu berasa lebih shalihah.”
Ah! It was really broke my heart. Sedih luar biasa rasanya mendengar kalimat-kalimat itu keluar dari mulut Ibu, bukan karena kalimat-kalimatnya, tapi karena sadar betapa mengerikannya jika memang iya ternyata apa yang Ibu katakan itu benar dan selalu demikian. Lalu saya menangis hebat sampai akhirnya tertidur dan bangun dalam keadaan demam. Hebatnya Ibu, permintaan maaf saya begitu cepat dikabulkan, dan beliau kembali seperti bagaimana saya melihat teduhnya sehari-hari, “Iya, sebelum kamu bilang apa-apa juga udah dimaafin. Udah jangan nangis, kalau nangis nanti kamu sakit. Kamu mau makan apa hari ini?” Maa syaa Allah, semoga Allah selalu baik pada Ibu karena kebaikan hatinya.
Benar kiranya bahwa setiap orang memang berpotensi mengecewakan untuk satu sama lain, tidak terkecuali untuk hubungan anak dan orangtua. Kalau dipikir-pikir, setiap anak pasti punya cerita menyenangkan dan menyedihkan tentang bagaimana orangtuanya mengasuh dan mendidiknya sewaktu kecil.
Kemarin, saya dan teman-teman di kantor randomly berdiskusi tentang bagaimana dinamika pola pengasuhan orangtua berpengaruh terhadap diri kami saat ini. Tidak semuanya baik, pun tidak semuanya buruk. Satu per satu dari kami pun saling mengungkapkan insight-insight yang seketika muncul di pikiran,
“Aku baru sadar sekarang-sekarang kalau ternyata apa yang dilakukan Bapak dan Ibu dulu bikin aku kesulitan untuk bisa berpikir, memilih, dan memutuskan sesuatu.”
“Waktu kuliah, aku sering kehabisan uang karena aku konsumtif banget. Kalau stress pasti aku langsung belanja padahal engga butuh-butuh banget. Terus aku ingat sesuatu, dulu kalau aku nangis atau rewel pasti langsung dikasih uang dan disuruh jajan.”
“Mama sama Papa dari dulu jarang ngasih aku apresiasi. Terus lama-lama aku jadi suka merasa minder dan engga percaya diri.”
“Daya juang aku tuh rendah, kayaknya karena dulu kalau mau apa-apa gampang banget, pasti langsung ada, pasti langsung dibeliin dan seringnya tanpa aku harus minta dulu.”
dan seterusnya.
Bukan ngobrol berdaya namanya jika tidak ada pembelajaran apapun yang bisa diambil. Lalu kami pun menyadari sesuatu, bahwa bagaimana pun kami tidak perlu marah, kecewa, atau bahkan membenci orangtua hanya karena sesuatu yang sebenarnya mereka pun tidak pernah bermaksud untuk melakukan kesalahan. Teman saya bilang, “Semua yang kita sadari sekarang sebenarnya bukan untuk menyalahkan orangtua atas apa yang dilakukannya dulu terhadap kita. Justru jadi tantangan tersendiri, gimana caranya kesalahan yang sama engga kita ulangi lagi nanti ke anak-anak kita.”
Mendadak saya ingat sesi belajar dengan Ibu Evangeline Suaidy, seorang psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati saat beliau diundang ke NuParents untuk membahas tentang Self-Assessment, beliau bilang,
“Dengan membaca satu dua buku, belajar sekali dua kali, atau mendalami suatu ilmu, seringkali kita dengan mudahnya menyalahkan orangtua dan menunjukkan kekecewaan atas kesalahan mereka yang baru kita temukan saat dewasa. Tapi kita lupa bahwa pada saat orangtua mengasuh dan membesarkan kita dari dulu sampai sekarang, mereka sudah melakukan yang terbaik sejauh yang mereka ketahui, semampu yang bisa mereka upayakan. Jadi, jika dulu mereka mengasuh kalian dengan begini dan begitu yang mungkin sekarang kalian menyadari letak kelirunya dimana, itu sungguh bukan karena mereka berniat melakukan kesalahan, tapi karena itulah bentuk kasih sayang terbesar dan terbaik yang dapat mereka lakukan. Sekarang, kalian mau kan memaafkan?”
Yup! Semua bukan karena orangtua salah mengasuh, tapi karena itulah yang terbaik yang mereka ketahui dan itulah yang mampu mereka upayakan untuk kebaikan kita. Untuk kebaikan kita~
Zaman dulu memang tidak secanggih sekarang ketika kajian pra-nikah mudah ditemukan, buku parenting banyak dijual dimana-mana, seminar sering diadakan di berbagai kota, komunitas yang peduli tentang pengasuhan mulai bermunculan, belum lagi materi-materi yang menjamur di media sosial. Oleh karena itu, wajar kiranya jika dulu orangtua kita menganggap bahwa mengasuh anak adalah kemampuan naluriah yang akan muncul dengan sendirinya seiring dengan pernikahan dan kelahiran anak. Tapi, bagaimana pun, tentunya ini tidak lantas menjadi celah yang memperbolehkan kita untuk kecewa dan menyalahkan orangtua kita atas kesalahan-kesalahan pengasuhan yang dulu pernah mereka lakukan terhadap kita. Sebab, itulah yang terbaik dari mereka untuk kita. Alhamdulillah. Tabarakallahu. Semua nyatanya membentuk dan mendewasakan kita sedemikian rupa. Allah, semoga Engkau selalu menyayangi Ayah dan Ibu, memudahkan setiap urusannya, dan melimpahkan hidupnya dengan segala kebaikan.
Selamat belajar! Bukan untuk mengkritisi dan menyalahkan masa lalu, tapi untuk memperbaiki masa depan dan membangun peradaban.
di balik kemungkinan
Aku ada di barisan pertama, tapi kamu mencari yang berada di tengah kerumunan. Matamu kesana kemari, pandangmu berpindah-pindah. Aku berada di barisan paling depan, menjadi teman yang ikut serta tertawa dan bersedih, ikut serta dalam diskusi-diskusi yang kamu hadiri, ikut serta dalam perjalanan-perjalanan yang diabadikan dalam foto-foto yang kita bagikan bersama-sama.
Aku ada di baris paling depan. Tapi kamu tetap percaya bahwa yang kamu cari itu harus yang jauh, dengan bertukar lembaran kertas, sesuatu yang asing seperti lebih menantang. Dan berkali-kali kamu harus kecewa ketika kertas itu berpulang kesisimu.
Barisan paling depan yang ada di lingkaranmu selama ini hanya kamu anggap sebagai teman. Kecil kemungkinan untukmu memulai dari situ, kamu memulai dari belakang. Dari hal-hal yang masih misteri, dari kebaikan-kebaikan yang kamu definisikan dalam bentuk kata-kata. Padahal kebaikan-kebaikan yang nyata hadir silih berganti ada di barisan paling depan lingkaranmu.
Ya, aku salah satunya. Dan tidak masuk dalam kemungkinanmu.
©kurniawangunadi | 8 Oktober 2017
Something New
It is sooo long since I last wrote something on my Tumblr, isn't it? I finally write something again, this time, about what I feel after +- a week in my new work place. A kind of, diary, I guess. Talking my feeling out. Lol.
I am someone who never dreams of working a desk job. Imagining sitting in an office all day used to freak me out, like, why do I want to bore myself out like that. There's so many things to do out of working in the office. So... why would I?
I dream of having an eating place. You name it; café, restaurant, or a simple food store. I love cooking. I'd like to work on my kitchen and let people eat my food. But, to build that dream, I need money... and I have nothing. So, It will take much time to build my dream, money doesn't come in instant, and I simply am not that brave, I don't have the confidence to start it by now.
Other than that, I am someone who thought I would get married (even) before I graduate college. No kidding, Lol. I was like, coming to a premarital seminar, etc, etc, knowing that my time to get married would come, I just felt like I need to prepare myself. Tho I never felt like all the knowledges and infos I got from those seminars are useless, I still haven't married yet. Because, later I realized, after seeing some of my friends getting married, I'm actually not ready for marriage. It is not an easy thing to do.
So after all this time, reality hits me. In the middle of thinking of what I should do now, I finally am thinking to look for a job. I actually started working for my dad in his office since earlier this year, It was nice until I feel like helping my dad in his office doesn't improve me much, the work isn't much and I would still have much free time. I was not helping that much. And, tho I still got my salary from him, it feels like a pocket money instead.
Thanks to the experience I got from my dad's office (lol), courses I got (because the field is not related to my college major haha) and a lil help here and there, I finally got a job! It excited me so much to the point the security of my new office building could see how nervous I was on my first day of work. I was nervous. Not knowing how it feels to work for a company, with all brand new people who doesn't know who I am. Mixed feelings. Then, relieved dept I belong is a nice dept. Ever. I love how loud the laugh I hear while I am working, once in a while. No intimidating feels I would think there will be. All nice people, only work things are stressing and tiring. Of course. :D I am so grateful to have such nice working environment. :)
As someone who never dreams of working a desk job, after getting a real desk job for around a week (it isn't much time, I know) it is actually never as boring as I thought it would be. I'm not sitting all day doing nothing. Work keeps coming and I would try to have it done by the time I have to get home. This routine may look repeating, but the work I have to do is never the same. It keeps changing.
As someone who dreams of having an eating place, this is the start. I know this work isn't related to this dream at all. But this work is the one I can get the money and confidence I need to build my dream restaurant from. Keep fighting towards your dream, Mei! Do your best in your work!
As someone who thought I would get married before graduate from college, it is such a nice way for me to think that actually a husband is tired coming home from work, at least. It is so nice to have someone who brings you drink by the time you arrived home (just like my sister did to me today hahaha). I'll keep this in mind until I finally have one, lol. May the time will come someday. On the right time. :D
September 5, 2017
A new employee,
Meidha Audina
Makin' fries for afternoon snack~~~ . "Kenapa goreng kentang sama kulitnya?" 1. Ngurangin sampah (ofc) 2. Nutrisi buah/sayur banyak berada tepat di bawah kulitnya. Daripada nutrisinya banyak kebuang karena kulitnya dikupas, selama kulitnya edible, mending makan aja ya kan. (Walaupun, ini, digoreng, hehe) #journeytozerowaste #Ilivesustainably
Ada yang tau ini apa? . Yang dulu sering kosan saya jaman kuliah, pasti tau deh. Hehe. . Waktu kuliah, bisa dibilang saya ini semangka freak. Kayaknya hampir tiap hari beli semangka, terutama pas lagi murah (dulu di nangor pernah harganya cuman +-5000 sekilo. Sekarang mah dimana deh harga segitu), bisa sebutir semangka seberat +-4 kg utk dua hari. Hahaha. Di saat yang sama, waktu itu saya sudah mulai tahu soal zero waste lifestyle, dan nyari2 cara buat ngurangin sampah. Tau banget kan, kulit semangka itu lumayan tebel. Akhirnya saya carilah, kulit semangka ini bisa diapain sih? . "Kulit semangka kan sampah organik, kenapa harus dikurangin juga?" Inilah penerapan 3R paling pertama, Reduce! Meskipun kulit semangka ini sampah organik, tapi tetap harus dikurangi. Karena dekomposisi sampah organik, terutama sisa makanan merupakan salah satu penghasil gas rumah kaca, alias penyebab terjadinya global warming. Apalagi saya masih belum bisa ngolah sampah organik dengan benar (dijadiin kompos, misalnya) masih saya buang ke landfill, artinya masih perlu banget ngurangin sampah, termasuk sampah organik. . Setelah searching, ketemulah kalo kulit semangka (tepatnya bagian putihnya) bisa dibikin manisan. Sejak saat itu, tiap kali beli semangka, saya pasti bikin manisan kukit semangka. Nggak langsung sih, kalo nggak sempet biasanya saya simpen dulu di freezer. Rasanya? Enak sih sebenernya. Saya suka-suka aja, bisa dicemilin kalo lagi gaada cemilan, tapi kadang ngerasa kalo hasilnya terlalu manis, dan tentu saja, boros gula. . Karena kemarin lagi ngabisin stok kimchi dengan bikin sop kimchi, akhirnya saya nyoba-nyoba 'nyemplungin' sedikit kulit semangka ini ke dalam sopnya. Rasanya.. lucu. Namanya juga coba-coba 😅. Kalo rasa sih nggak aneh, ya. Karena basicnya kulit semangka ini nggak ada rasanya, paling ada sedikiiiit rasa manis. Cuman teksturnya is a brand new feel banget. Kalo dibandingin, mungkin agak mirip sayur oyong, cuman ini lebih kenyal, nggak lembek kayak oyong, dan memang teksturnya pun seperti ini kalo dibikin manisan. Cuma baru aja kalo di makanan asin. Tapi, overall sih, not bad lah. Heuu. #journeytozerowaste #Ilivesustainably
Today's grocery. Bahagia adalah bisa belanja tanpa kantong plastik. Yeay! . Beberapa tahun yang lalu, saya nggak sengaja nyari dan menemukan dua buah buku berjudul Zero Waste Home dan The Zero Waste Lifestyle. Dua buku ini secara umum memaparkan gaya hidup mereka, bagaimana mereka mengurangi sampah, dan menerapkan secara utuh reduce, reuse, recycle. Mungkin buku itu yang bikin saya tergugah untuk mencoba mengikuti gaya hidup mereka yang mereka paparkan di kedua buku itu. . Itu beberapa tahun yang lalu. Saya ngerasa gaya hidup seperti itu adalah sebuah gaya hidup ideal buat seseorang yang concern terhadap lingkungan. Saya ngerasa gaya hidup seperti itu adalah aksi paling nyata seseorang yang ga 'sebatas' koar-koar di jalan soal lingkungan, jangan buang sampah sembarangan, dll. Tapi sesungguhnya, saat saya mencoba, sulit banget menerapkan gaya hidup seperti itu. Kadang lupa bawa kantong sendiri, ujung-ujungnya belanja pake kantong plastik, in guilt. . Kenapa harus Zero Waste? Saya ceritain kasus paling dekat, ya. Mungkin aja kalian tahu, beberapa waktu lalu, seekor paus terdampar di Norwegia dengan kondisi sekarat, dan akhirnya mati. Ketika diautopsi ditemukan 30 kantong plastik di ususnya yg membuat paus tidak visa menyerap makanannya, sehingga paus tsb berperilaku tidak wajar dan akhirnya terdampar. Kadang, saya sendiri suka takut, jangan-jangan salah satu, atau mungkin semua kantong plastik itu pernah saya pake. Yang entah gimana caranya bisa sampe laut dan ditelan sang paus. Naudzubillahimindzalik. 🙁 . Berlebihan, ya? Nggak apa-apa, mungkin itu cuman pola pikir saya yang berlebihan. Tapi saya merasa perlu melakukan sesuatu untuk mengurangi rasa bersalah saya. Salah satunya, hari ini, belanja pake kantong yang dibawa sendiri adalah step pertama. Supaya nggak lupa2, mending bekel satu kantong belanjaan di tas kalo kemana-mana, dan selalu catat kebutuhan dan rencanakan kapan harus belanja, apapun itu. Jadi ga tiba-tiba khilaf belanja tanpa rencana. Selain ngurangin sampah, bisa jadi hemat pengeluaran juga, kan? #journeytozerowaste #Ilivesustainably