This pict was taken when I joined a volunteering activity in Tanjungan Village, Banten. Those little eyes showed so many hopes and dreams that they couldn’t say.
#volunteer #wonderfulindonesia #FKMUIPeduli11
d e v o n

Andulka
Stranger Things
Peter Solarz

No title available

No title available

JBB: An Artblog!

PR's Tumblrdome
art blog(derogatory)

Love Begins
TVSTRANGERTHINGS

titsay

Kiana Khansmith

JVL
Xuebing Du
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

★
sheepfilms
almost home
Game of Thrones Daily

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Indonesia
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Australia

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Canada

seen from Türkiye
@merizaw
This pict was taken when I joined a volunteering activity in Tanjungan Village, Banten. Those little eyes showed so many hopes and dreams that they couldn’t say.
#volunteer #wonderfulindonesia #FKMUIPeduli11
Hidup tuh jangan dipikir, tapi harus dihadapi dan dijalani
Anonim
Happy Holiday, Happy Family, Happy Me!
Location: Pulau Cemara Kecil, Kepulauan Karimun Jawa
#beach #wonderfulindonesia #explorekarimunjawa
Diary Magang Minggu ke-3
Nggak terasa masa magang udah berakhir. Rasanya cepet banget, padahal masih pengen lebih lama ngerasain jadi anggota sosmas hehehe... Begitu banyak pelajaran yang dapat aku ambil selama 3 minggu ini. Pelajaran tentang keikhlasan, kekeluargaan, manajemen waktu, pengorbanan, dan masih banyak lagi. Selasa, 28 Oktober 2014, adalah hari terakhir aku dan magangers lain mengikuti kegiatan rapat bidang Sosmas. Sedih, tapi harapan aku sih bisa ngikutin rabid lagi sebagai anggota yang sebenarnya huehehehe :p Rabid ini seperti biasa membahas proker-proker sosmas yang telah, sedang, dan akan berjalan. Sejauh ini yang aku tahu semua proker sosmas berjalan dengan baik. Tugas kami minggu ini adalah membuat mading, team building, dan video. Jujur saja, karena masih dalam suasana UTS, kami agak kurang serius mengerjakan tugas-tugas magang karena merasa keteteran. Namun kami merasa sangat bersalah karena hingga hari Kamis kami belum dapat menyelesaikan tugas-tugas kami hingga akhirnya kami merasa lebih keteteran. Kami merasa bersalah karena menyepelekan tugas. Aku benar-benar menjadikan hal ini sebagai pelajaran berharga. Ada satu hal yang berkesan banget waktu kita buat video, yaitu....dimarahin satpam...wkwkwk Hari Jumatnya, seperti biasa kami Rujak. Rujak hari ini spesial banget karena yang buat konsep adalah kami, magangers huehehehe. Hari ini anak-anak kami tuntun untuk membuat hiasan jendela. Anak-anak sangat antusias cenderung anarkis wkwkwk. Tapi aku sangat senang karena bisa kenal lebih banyak anak lagi dan bisa menjadi lebih akrab dengan mereka. Harapan aku, semoga hari ini bukan menjadi hari terakhir ikut Rujak, melainkan aku bisa menjadi penanggung jawab mereka tahun depan :)) Selesai rujak, kami langsung cuuus ikut Ourplane yeaaay! Semoga dalam ourplane ini kami bisa mengenal BEM secara lebih dekat dan mendapat pelajaran berharga yaa ;))
Diary Magang Minggu ke-2
Hari Sabtu, 18 Oktober 2014 adalah hari H pelaksanaan Konser Amal FKM UI Peduli 10. Aku dan para magangers lain ikut membantu meskipun hanya sedikit. Acara dimulai pukul 13.00, tapi kami harus datang sejak pagi untuk persiapan dekorasi dan gladi bersih. Seharusnya sejak Jumat malam kami sudah harus membantu mobilisasi barang-barang dekorasi dan sebagainya ke Auditorium gedung IX FIB UI, tetapi karena hari Jumat kami sudah ikut membantu acara donor darah hingga malam, kami pun diijinkan pulang dengan syarat harus datang pagi keesokan harinya.
Persiapan dan gladi bersih berlangsung lancar, kecuali saat ada sedikit gangguan listrik yang akhirnya dapat diatasi dengan baik. Hari itu para magangers selain membantu dekorasi dan persiapan-persiapan kecil lainnya, kami juga mendapat jobdesk untuk menjadi black man di panggung, yaitu blocking mic untuk beberapa pengisi acara. Selebihnya kami malah menikmati konser itu sendiri wkwkwk :P
Dengan dipandu oleh dua MC yang sangat kocak dan para pengisi acara yang ‘waah’ banget, acara ini menjadi sangat menarik dan berkesan. Konser Amal kali ini berlangsung dengan cukup sukses, meskipun jumlah penonton belum mencapai target. Waktu dimulainya acara pun ngaret beberapa menit, namun masalah ini dapat diantisipasi hingga akhirnya acara dapat berakhir tepat waktu. Aku merasa kerja keras seluruh panitia acara selama beberapa bulan ini tidak sia-sia. Melalui acara Konser Amal ini aku belajar banyak hal mengenai kekompakkan, konsistensi, ketulusan, dan kekeluargaan. Semoga dengan suksesnya Konser Amal dapat membawa kebaikan pula pada rangkaian acara Sosmas selanjutnya yaitu Peduli Desa, aamiin...
Hari Selasa, seperti biasa kami mengikuti rapat bidang pukul 06.45. Akhirnya minggu ini aku datang tepat waktu yeaaaay! Rapat pagi ini lebih banyak membicarakan evaluasi program-program yang telah berjalan seperti DORA dan Konser Amal. Kami juga membicarakan proker Desa Binaan, bakpao,Rujak, dan Peduli Desa. Rujak minggu ini rencananya akan diisi oleh anak-anak magang dalam materi kreatif. Namun karena ada acara ourplane maba, sepertinya harus ditunda untuk minggu depannya lagi :(
Hari Kamis sore, kami para magangers 2014 dikumpulkan semuanya di RIK KC 301. Agenda hari ini adalah dialog magang yeaaay! Para magangers di masing-masing LK akan mempresentasikan powerpoint dan yelyel. Urutan pertama yaitu Trotoar. Dengan yelyelnya yang kocak kami menjadi sangat terhibur. Tapi ternyata tidak hanya Trotoar, yelyel magangers di LK lain juga sangat bagus dan menghibur wkwkwk. BEM mendapat urutan kedua. Kami, dengan bidang yan sangat banyak harus mempresentasikan ppt dalam waktu yang sangat singkat sehingga dapat dikatakan penampilan kami tidak cukup optimal.
Jumat sore, sebenarnya hari ini magangers 2014 ada acara ourplane dari bidang PSDM, namun atas bujukan kak Memey kami pun memilih ikut Rujak wkwkwk. Rujak hari ini seruuuu banget karena tema nya adalah kreatif. Awalnya kami bingung karena sudah jam setengah 5 tapi anak-anaknya baru sedikit terkumpul. Tetapi akhirnya ada solusi, yaitu dengan belajar di luar ruangan. Cara ini ampuh untuk menarik anak-anak lain ikut bergabung. Dalam kreatif kali ini anak-anak ditugaskan menuliskan mimpi-mimpinya di lembaran kertas kecil, lalu digunting dengan berbagai bentuk dan ditempel di gambar pohon. Hari ini aku kenalan dengan banyak anak-anak lucu nan imut. Ada Siti, Abi, Albi, Tasya, Tari, Eva, Uun, Desti, Mario, Ayu, Kela, Risma, dan masih banyak lagi. Aku melihat impian-impian mereka yang tinggi dan aku harap mereka semua dapat mencapai semua impian yang tertempel di pohon itu satu-persatu, cepat atau lambat. Satu hal yang membuatku merasa amat sangat senang yaitu hari ini aku berhasil dekat dengan Eva. Jika minggu lalu ia selalu saja ingin memukulku, minggu ini dia bahkan mau aku pangku dan aku bantu mengerjakan tugasnya :)
Diary Magang Minggu ke-1
Hari Kamis sore tanggal 9 Oktober 2014 kami angkatan 2014 dikumpulkan di gedung RIK. Agenda hari itu adalah plotting magang. Beberapa minggu sebelumnya kami memang telah mengisi formulir tempat magang yang diiginkan. Aku memilih BEM bidang Sosial Masyarakat pada pilihan pertama. Sejak SMA kelas 3 dan ingin masuk FKM UI, aku memang telah sering memantau timeline twitter BEM FKM UI. Melalui twitter itu aku melihat beberapa program kerja BEM, di antaranya yaitu Rujak. Saat itu aku sangat tertarik dengan program Rujak karena aku memang suka dengan anak kecil dan ingin berkontribusi kepada masyarakat melalui kegiatan sosial. Setelah masuk FKM, aku baru mengetahui bahwa Rujak merupakan salah satu proker dari departemen Sosmas.
Pada saat penempatan magang diumumkan aku merasa takut apabila tidak mendapat tempat yang benar-benar aku inginkan. Aku semakin gugup karena namaku tidak ada di setiap LK. Tetapi pada slide terakhir aku sangat senang karena ternyata namaku ada di slide departemen Sosmas. Sebenarnya aku tidak menyangka karena banyak sekali teman-teman lain yang juga memilih Sosmas. Namun ternyata aku sangat beruntung bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar di Sosmas karena aku yakin di tempat inilah aku dapat berkembang dan menjadi bermanfaat bagi sesama. Di Sosmas ini aku bersama dengan enam maba lain, yaitu Kartika, Shaliha, Aisha, Ica, Galang, dan Iqbal.
Setelah pengumuman plotting kita bertujuh kumpul di depan SC bersama kakak-kakak Sosmas. Aku yakin mereka adalah orang-orang hebat. Berkumpul dan berkenalan dengan mereka menjadi momen yang sagat seru karena aku merasa dianggap sebagai keluarga. Aku juga benar-benar merasa beruntung karena bulan ini banyak proker Sosmas yang sedang berjalan sehingga aku yakin bisa mendapat banyak sekali pelajaran selama magang ini.
Hari Jumat tanggal 10 Oktober 2014 sore setelah gathering magangers BEM, kami magangers Sosmas berkumpul karena sore itu bertepatan dengan pelaksanaan Rujak. Inilah momen yang sangat aku tunggu-tunggu. Meskipun agak telat, kami akhirnya berangkat dengan naik kereta ke stasiun Depok Baru. Kemudian kami berjalan ke kampung Lio yang jaraknya tidak begitu jauh. Walaupun agak lelah setelah seharian berkegiatan, aku sangat senang setelah bertemu dengan anak-anak yang lucu-lucu. Semua rasa lelahku berganti dengan kebahagiaan. Aku melihat antusiasme mereka dalam belajar. Memang ada beberapa anak yang agak sulit diatur, contohnya adalah anak kecil bernama Eva. Dia agak keras wataknya, namun hal itu membuatku makin tertantang untuk dapat menjadi dekat dengannya.
Rabid pertamaku adalah hari Selasa pukul 06.45. Hari pertama rabid itu aku sangat sedih tidak dapat datang tepat waktu karena motorku mendadak mogok di tengah jalan. Rabid saat itu membahas mengenai proker DORA yang penanggungjawabnya adalah kak Memey. Dari situ aku tahu bahwa mengurus sebuah acara bukanlah hal mudah. Apalagi menangani proker yang sasarannya adalah masyarakat. Pada rabid itu aku semakin mengenal kekeluargaan di Sosmas ini. Malamnya kami magangers Sosmas mewawancarai kak Ading. Dari hasil wawancara kami, aku belajar banyak hal mengenai kegigihan dan ketulusan. Kami baru selesai saat waktu sudah cukup malam. Meskipun lelah, aku merasa tidak ada yang sia-sia di Sosmas ini karena tidak ada rasa lelah yang tak terbayar dan akan ada begitu banyak hal yang dapat aku jadikan pelajaran hidup.
Hari Kamis dan Jumat adalah hari dilaksanakannya proker donor darah Cherish 1.1. Di sini aku kembali mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dalam melangsungkan sebuah acara. Aku belajar bahwa keegoisan harus disingkirkan jauh-jauh saat menyelenggarakan sebuah acara. Kerja sama adalah kunci utama keberhasilan acara tersebut. Evaluasi mengenai acara kali ini memang cukup banyak, tetapi aku yakin tahun depan saat aku menjadi staff Sosmas dan dapat turut serta dalam kepanitiaan sesungguhnya, kami dapat membuat perbaikan dari kekurangan-kekurangan yang ada saat ini. :)
Resume Buku Tokoh Pergerakan : Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran
Soe Hok Gie, Sang Legenda Pergerakan Mahasiswa
Dalam kata pengantarnya, Harsya W. Bachtiar menyatakan bahwa mahasiswa merupakan suatu golongan yang boleh dikatakan baru di Indonesia tetapi dalam sejarah perkembangannya yang masih amat singkat, banyak sekali yang telah terjadi sebagai akibat kegiatan atau tindakan-tindakan mereka. Para mahasiswa adalah pelopor dari setiap pergerakan masyarakat. Tindakan mereka yang cenderung heroik sering memberikan pengaruh besar pada perkembangan masyarakat. Contoh peran besar mahasiswa dalam pemerintahan yaitu usaha mereka dalam meruntuhkan orde lama dan menggulingkan kekuasaan Soeharto pada era orde baru.
Soe Hok Gie yang lahir pada tanggal 17 Desember 1942 adalah seorang mahasiswa di jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Gie merupakan seseorang dengan pendirian teguh dan memiliki pemikiran yang tajam. Ia rajin mendokumentasikan setiap perjalanan hidupnya dalam buku harian yang setia menemaninya selama 12 tahun. Gie hidup di zaman pemerintahan orde lama dan menjadi tokoh penting dalam pergerakan perubahan yang terjadi di Indonesia saat itu.
Pada masa orde lama terjadi pergolakan besar-besaran di Indonesia. Gie buka hanya sekedar saksi dari peristiwa itu, namun juga menjadi tokoh yang turut memberikan andil dalam perubahan. Saat itu kampus merupakan ajang pertarungan kaum intelektual yang menentang atau mendukung pemerintahan Bung Karno. Tahun 1966-1969 Gie aktif berdemonstrasi , namun ia tak pernah ikut keanggotaan KAMI atau organisasi lain yang berbau agama. Ia memilih menjadi anggota Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis).
Meskipun turut berdemonstrasi turun ke jalan, Gie lebih banyak berjuang melalui tulisan. Berbagai kritik pedas mengenai hal-hal yang tidak beres pada pemerintahan orde lama dituangkannya ke dalam media cetak. Tulisan-tulisannya mewakili pemikiran Gie yang idealis, nasionalis, dan realis. Melalui tulisan, ia menggugah hati para pembaca dan mencoba mengembalikan kesadaran masyarakat yang pada saat itu terlanjur menganggap bahwa pemerintahan adalah hal yang tabu untuk disentuh.
Di tengah keheroikannya menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah, ternyata Gie memiliki kelemahan. Ia merasa kesepian an butuh cinta. Gie merasa bahwa banyak orang kagum atas keberaniannya menyampaikan kebenaran, namun di sisi lain tidak ada yang berani benar-benar menjadi orang terdekatnya. Hal ini dikarenakan mereka sadar bahwa menjadi in-group Gie adalah hal yang berisiko. Sungguh pedih hati Gie ketika sadar akan hal itu.
Soe Hok Gie adalah seorang pecinta alam sejati dan menjadi salah satu pelopor berdirinya Mapala UI. Ia mengagumi gunung dan alam bebas. Selain menulis tentang kritik terhadap pemerintahan, ia juga senang menulis berbagai sajak bertemakan keindahan alam. Meski demikian, di gunung lah ia menemui ajalnya. Pada 16 Desember 1969, satu hari sebelum ulang tahunnya, ia dan kawan karibnya, Idhan Lubis, meninggal dunia akibat menghirup gas beracun saat melakukan pendakian gunung Semeru. Banyak yang tak mempercayai kabar kematian Gie di usia yang begitu muda. Masyarakat keilangan sosok pemuda dengan pemikiran kritis dan berani menyampaikan kebenaran.
Tepat sebelum kematiannya, ia pernah berkata pada kakak kandungnya, Arief Budiman, “Akhir-akhir ini saya selalu berfikir, apa gunanya saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian.”
Esensi : Setelah membaca buku ini saya merasa sangat tergugah untuk turut melakukan pergerakan, tidak hanya diam saat melihat ketidakberesan di dalam negeri. Saya jadi lebih menghargai perjuangan para pendahulu di UI yang telah berhasil membuat berbagai perubahan yang sangat berarti bagi rakyat Indonesia saat ini.
Bergerak Bersama Awasi Pemilihan Rektor
Pemilihan rektor yang akan menjabat sebagai UI 1 tidak lama lagi akan dilaksanakan. Momen pemilihan rektor ini menjadi sangat krusial karena di dalamnya terdapat persaingan perebutan kekuasaan. Dalam setiap ajang perebutan kekuasaan kita tahu bahwa tidak semuanya dilakukan melalui persaingan yang sehat. Sebagai seorang mahasiswa di Universitas Indonesia sudah sepatutnya kita mengawasi pemilihan rektor ini dengan serius. Hindari sikap apatis karena dapat berdampak sangat buruk bagi kelangsungan UI lima tahun mendatang atau bahkan selamanya. Ajang ini lah yang akan menjadi titik balik bagi Universitas Indonesia. Apakah akan kembali ke masa kejayaan sebagai universitas terbaik, atau malah semakin tertindih oleh universitas-universitas lain.
Sebagai mahasiswa Universitas Indonesia, tentu kita memiliki banyak sekali harapan terhadap calon rektor yang baru. Harapan untuk menyelesaikan berbagai persoalan seperti bobroknya sistem BOPB yang selama ini telah kita suarakan, namun belum mendapat respon yang berarti. Dapat dikatakan UI saat ini berada dalam masa krisis. Banyak orang menilai bahwa prestasi UI mengalami kemerosotan selama beberapa waktu terakhir. Saya rasa hal ini merupakan salah satu dampak dari sistem birokrasi kampus yang tidak beres. Kita ingin suara kita didengar oleh pemimpin yang duduk di singgasana rektorat tersebut. Maka kita benar-benar butuh seorang rektor yang tepat, yang dapat membawa UI menjadi lebih baik.
Mahasiswa Universitas Indonesia tentu tidak ingin kejadian lalu terulang kembali akibat pemimpin yang tidak amanah. Para civitas akademik UI rindu berada di kampus yang menyandang gelar sebagai universitas terbaik di Indonesia. Namun apakah hal tersebut dapat terwujud apabila jajaran pimpinan UI mengalami kebobrokan dalam hal moral. Pemimpin yang memiliki komitmen saja tidak cukup untuk membawa UI menuju perbaikan. Kita butuh pemimpin yang dapat menjaga amanahnya dengan baik dan memimpin dengan penuh rasa cinta, tanggung jawab , ketulusan, serta terbebas dari kepentingan pihak luar. Kita butuh pemimpin yang mau membuka mata, hati, dan telinga atas segala persoalan di UI yang disuarakan oleh para mahasiswanya. Permasalahan-permasalahan di lingkungan kampus Universitas Indonesia menuntut untuk segera diatasi. Harapan itu tidak akan terwujud bila mahasiswanya saja masih bersikap ‘masa bodoh’ terhadap pemilihan rektor ini.
Saya rasa proporsi suara mahasiswa dalam MWA sangat tidak adil. Bagaimana mungkin sekitar 40 ribu mahasiswa hanya diwakilkan oleh satu suara, yaitu Moh. Amar Khoirul Umam. Padahal justru mahasiswa yang seharusnya memiliki andil paling besar dalam pemilihan rektor karena mahasiswa lah yang sehari-harinya mengalami kontak langsung dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pihak rektorat. Mahasiswa juga yang mengetahui berbagai persoalan yang terjadi di kampus, maka sudah seharusnya jumlah unsur mahasiswa dalam MWA ditambah. Namun untuk saat ini meskipun persentase suara mahasiswa sangat kecil, jangan sampai menggoyahkan tekad kita untuk membawa perubahan baik bagi UI.
Kita sebagai mahasiswa dalam pemilihan rektor kali ini harus benar-benar berpikir kritis dan radikal. Kenali para calon rektor beserta visi misinya. Jangan sampai salah memilih rektor karena pemimpin yang terpilih akan menentukan keberlanjutan nasib UI ke depannya. Mari kita awasi jalannya pemilihan rektor dari awal hingga akhir. Mari kita selamatkan UI kita tercinta. Seperti apa yang dikatakan Prof. H. Agus Salim bahwa membangun UI sama artinya dengan membangun Indonesia, maka menyelamatkan UI adalah usaha untuk menyelamatkan Indonesia pula.
Esensi : Mengkritisi artikel pilrek ini membuat pikiran saya menjadi lebih terbuka mengenai permasalahan-permasalahan di UI yang butuh untuk segera diatasi. Membuat saya sadar bahwa UI butuh pemimpin yang tepat. Hal ini membuat saya menjadi sangat bersemangat ikut berpartisipasi dalam pilrek ini karena saya ingin melihat UI kembali jaya seperti dulu lagi.
Analisis Video Potret Kecil Indonesia
Indonesia merupakan negeri dengan sejuta pesona. Keindahan alamnya diakui mancanegara. Kekayaan alamnya diperebutkan masyarakat dunia. Saya begitu bangga bertanah air di negara Indonesia, negara kepulauan terluas di dunia. Negara dengan jumlah gunung api terbanyak di dunia. Negara yang sangat subur sehingga dunia bertumpu pada negara kita sebagai paru-paru dunia. Dapat dibayangkan betapa melimpahnya kekayaan alam Indonesia.
Indonesia adalah negara multikultural. Ratusan suku bangsa dengan beragam bahasa dan adat istiadatnya menjadi kekayaan yang tak ternilai harganya. Jutaan orang dengan latar belakang kebudayaan dan agama yang berbeda-beda hidup secara berdampingan di Indonesia. Hal ini tentu tidak mudah. Diperlukan toleransi dan tenggang rasa yang teramat besar antarsesama warganya.
Menilik alam Indonesia yang begitu menakjubkan dengan latar belakang kebudayaan yang sangat beragam, apakah lantas Indonesia terbebas dari permasalahan? Untuk itu kelompok kami terinspirasi untuk membuat video mengenai berbagai contoh permasalahan yang masih ada di negara kita. Kami hanya mengambil gambar di sekitar UI karena kami menganggap bahwa masalah yang ada pada masyarakat sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan apa yang kami temukan di UI.
Pada video ini kami lampirkan beberapa foto tentang keindahan alam Indonesia seperti Tanah Lot Bali, Gunung Bromo, dan lain-lain. Saat melihat foto-foto keindahan alam ini tentu kita akan merasa takjub. Foto ini menyadarkan kita agar menyadari bahwa Indonesia memiliki potensi alam yang luar biasa, yang apabila diolah dan dimanfaatkan dengan baik akan menghasilkan kebermanfaatan besar bagi seluruh penduduk Indonesia. Namun ternyata alam yang indah saja tidak cukup membuat kita bangga karena ternyata masih banyak sekali permasalahan-permasalahan yang mengakar di Indonesia.
Sampah masih terus menjadi permasalahan utama lingkungan. Tumpukan sampah dapat dengan sangat mudah kita temui di pinggir jalan, selokan, maupun sungai. Satu hal yang menjadi sorotan kelompok kami yaitu di sepanjang pinggiran rel kereta api di Pondok Cina telah beralih fungsi menjadi tempat pembuangan sampah. Hal itu menjadikan kami merasa sangat tidak nyaman saat menyusuri jalan tersebut.
Tujuan kami selanjutnya yaitu stasiun UI. Di tempat ini kami menemukan sebuah papan peringatan yang dengan jelas tertulis larangan berjualan, namun sangat ironis karena masih banyak pedagang yang tidak menghiraukannya, bahkan dengan santainya berjualan di bawah papan larangan tersebut. Di depan stasiun, ada beberapa tanda peringatan dilarang parkir, namun pada kenyataannya tempat itu malah dijadikan tempat parkir.
Masalah sampah dan larangan itu hanyalah gambaran kecil dari sifat buruk bangsa ini yang selalu membiasakan hal yang salah. Masyarakat sekitar rel telah terbiasa membuang sampah di pinggir rel sehingga lama kelamaan sampah menumpuk dan tidak ada yang mempermasalahkannya. Apabila dibiarkan terus, kesehatan masyarakat sekitar yang akan terganggu. Pedagang yang berjualan di bawah papan peringatan pun dikarenakan telah terbiasa melakukan hal itu sehingga orang-orang tidak akan menganggapnya sebagai pelanggaran lagi. Begiu juga dengan orang-orang yang nekat memarkir motornya di depan stasiun UI. Padahal tanda larangan itu bertujuan demi keselamatan karena tidak adanya tukang parkir yang menjaga. Mereka menganggap hal itu bukan masalah, hingga jika pada akhirnya terjadi pencurian motor, mereka tidak dapat menyalahkan siapa pun.
Masih berlokasi di stasiun UI, kami dihampiri oleh seorang anak perempuan kecil dengan penampilan kumuh. Anak itu meminta uang pada kami dengan alasan untuk membayar uang sekolah. Pikiran pertama yang melintas di benak kami adalah kemana orang tua anak ini ? Mengapa tega membiarkan anak sekecil itu untuk meminta-minta belas kasihan orang lain. Inillah paradigma yang salah dari orang Indonesia. Mereka meminta-minta karena terbiasa diberikan uang oleh orang-orang yang berbelaskasihan. Memang baik tujuannya, namun dengan kita memberikan uang akan semakin membuat mereka tidak mau berusaha lebih baik dari hanya sekedar meminta-minta. Langkah yang sebaiknya dilakukan yaitu dengan memberikan pembekalan keterampilan kepada para tuna karya. Pemberian santunan sebaiknya disalurkan melalui badan yang terpercaya agar tepat sasaran.
Di kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya sangat jelas terlihat adanya ketimpangan sosial. Seperti di jalan Margonda Raya yang menjadi pusat perkembangan kota Depok. Gedung-gedung mewah menjulang tinggi tanpa banyak orang ketahui bahwa di balik jalan tersebut terdapat banyak pemukiman kumuh. Ini menjadi bukti bahwa pemerintah masih belum dapat menjamin kesejahteraan warganya secara menyeluruh. Bagaimana mungkin pemerintah mampu bekerja optimal apabila korupsi masih menjadi budaya?
Maka kita sebagai mahasiswa UI menjadi harapan rakyat untuk dapat menuntaskan segala permasalahan yang masih mengakar kuat di masyarakat.
Esensi : Dalam pembuatan video ini saya beserta kelompok turun langsung melihat permasalahan yang ada pada lingkungan sekitar UI. Hal ini membuat saya sadar bahwa masih banyak permasalahan yang harus dituntaskan. Saya juga sadar akan indahnya alam Indonesia yang harus dijaga. Saya sebagai mahasiswa menjadi tergerak ingin turut berkontribusi bagi masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada, dan juga menjaga kelestarian alam yang indah ini.
Organisasi? Siapa Takut!
Mahasiswa memiliki tiga fungsi utama, yaitu agent of change, agent of social control, dan moral force. Menanggapi ketiga fungsi mahasiswa yang tidak ringan tersebut, apa yang kita sebagai mahasiwa dapat lakukan? Sebagai seorang mahasiswa, kita diharapkan untuk dapat berkontribusi bagi masyarakat melalui pemikiran-pemikiran kritis dan radikal untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang ada pada masyarakat.
Soe Hok Gie, seorang mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia di tahun 60-an pernah berkata;“Kami adalah manusia – manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan – slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat, kalau ia mengenal objeknya, dan mencintai tanah air Indonesia, dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda, harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itu Kami naik gunung.” Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa hanya mahasiswa organisatoris saja yang dapat melakukan hal itu. Mengapa? Karena mahasiswa yang berorganisasi peka dengan keadaan sosial, baik di dunia kampus maupun di masyarakat luas. Berbeda dengan mahasiswa yang tidak berorganisasi di kampus, kegiatan mereka monoton dan hanya terfokus pada nilai akademis di kampus.
Di Universitas Indonesia terdapat banyak sekali Unit Kegiatan Mahasiswa atau UKM dan organisasi, baik itu di tingkat universitas maupun fakultas yang dapat kita ikuti. Di situlah tempat kita membangun karakter kepribadian kita. Dengan berorganisasi pula lah kita dapat mengamalkan tri dharma perguruan tinggi yang ketiga, yaitu pengabdian masyarakat.
Saat ini masih banyak mahasiswa ‘kupu-kupu’ atau kuliah pulang-kuliah pulang. Mereka belum menyadari arti penting organisasi dalam proses pengembangan diri. Memang tidak salah apabila mahasiswa tersebut lebih mementingkan prestasi akademik di kampus daripada mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi yang dianggap mengganggu kuliah dan memperlambat waktu lulus. Namun yang perlu kita ketahui adalah bahwa prestasi akademik bukan segalanya. Seorang yang sukses tidak hanya dilihat dari IPKnya saja, tetapi dari soft skill yang dimilikinya.
Soft skill dapat berupa sifat kepemimpinan, kedisiplinan, kemampuan untuk bekerja sama, dan kemampuan mengatur waktu. Semua hal ini dapat kita latih dengan mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi di kampus. IPK yang tinggi akan menjadi suatu kesia-siaan apabila seorang mahasiswa memiliki sifat individualisme yang tinggi, tidak disiplin, dan tidak memiliki sifat kepemimpinan.
Sungguh ironis apabila masih banyak mahasiswa yang beranggapan bahwa organisasi adalah suatu hal yang sia-sia dan merugikan karena dikhawatirkan akan mengganggu prestasi akademik. Pada kenyataannya banyak sekali mahasiswa organisatoris yang berprestasi dalam bidang akademik, bahkan banyak juga yang menjadi mahasiswa berprestasi. Sebagai contoh adalah kak Dewi Nur Aisyah atau biasa dipanggil kak Dewina, alumni FKM UI 2006. Saat kuliah ia sempat mengampu 13 amanah di 11 organisasi, namun hal tersebut tidak lantas menurunkan prestasi akademiknya. Kak Dewina mampu menjadi mapres utama FKM dan lulus cumlaude dalam waktu 3,5 tahun. Sungguh pencapaian yang sangat luar biasa untuk seorang mahasiswa yang tentunya sangat sibuk. Hal ini tentu menjadi cambuk bagi kita para mahasiswa baru untuk mengikuti jejak kak Dewina.
Dengan mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi maka kita harus pandai membagi waktu. Mau tidak mau lama-kelamaan kita akan terbiasa untuk disiplin dalam mengatur waktu, maka hal ini lah yang menjadi nilai tambah diri kita saat harus terjun langsung mengabdi pada masyarakat. Tidak perlu takut untuk mengikuti organisasi dan kegiatan kampus lainnya. Seperti yang dikatakan oleh kakak-kakak kami di FKM bahwa tidak ada hal yang perlu dikorbankan, baik akademis maupun organisasi, karena yang harus dikorbankan hanyalah waktu tidur kita. Tidak ada kesia-siaan apabila kita mengikuti organisasi, karena pada kenyataannya orang-orang organisatoris lah yang nantinya akan sukses saat berkarir di masyarakat.
Esensi : Dengan menulis esai opini ini saya menjadi tidak ragu lagi untuk mengikuti organisasi. Saya menjadi sadar bahwa nilai akademis bukan hal yang menjadi nilai utama, melainkan soft skill dan karakter kepribadian yang hanya dapat terbentuk apabila saya mengikuti organisasi.
Dengue Hemorrhagic Fever Mapping: Study Case in Karawang District, West Java Indonesia
Jurnal dengan judul asli “Dengue Hemorrhagic Fever Mapping: Study Case in Karawang District, West Java Indonesia” atau dalam bahasa Indonesia yaitu “Pemetaan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD): Studi Kasus di Kabupaten Karawang, Jawa Barat,Indonesia” ditulis oleh
Tris Eryando, Dewi Susanna, Doni Lasut, Dian Pratiwi.
Demam Berdarah Dengue atau lebih popular disebut DBD telah menjadi epidemi di berbagai negara tropis maupun subtropis. Asia adalah benua dengan jumlah penderita DBD terbanyak di dunia, sedangkan Indonesia menduduki peringkat pertama negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia.
Kabupaten Karawang, Jawa Barat merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia. Kasus demam berdarah menjadi masalah kesehatan masyarakat di daerah tersebut. Dari tahun ke tahun jumlah penderita DBD selalu mengalami peningkatan yang signifikan. Sebagian besar kasus menunjukkan bahwa DBD menyerang penduduk usia produktif yang tinggal di kawasan perkotaan dengan tingkat perkembangbiakan jentik yang tinggi. Arah pergerakan penyakit adalah difusi lokal. Kabupaten Karawang adalah kawasan dataran rendah yang rawan banjir. Musim hujan dimulai pada akhir Oktober dan berakhir pada awal Mei, tetapi peningkatan kasus DBD terjadi pada pergantian dari musim hujan ke musim panas. Ini membuktikan bahwa kelembapan di Kabupaten Karawang mendukung perkembangbiakan nyamuk penular DBD.
Beberapa faktor yang menngakibatkan tingginya kasus DBD di daerah ini antara lain karena masalah sosial ekonomi masyarakat sekitar. Faktor lainnya yaitu adanya keterbatasan jasa yang dihasilkan dari program sistem informasi yang belum berjalan dengan baik sehingga informasi yang dibutuhkan oleh para pembuat kebijakan kurang akurat, tidak relevan, dan tidak cukup tepat untuk mencapai keberhasilan dalam program penanggulangan masalah DBD. Permasalahannya ada pada informasi yang tidak akurat karena ketidaklengakapan data, bentuk laporan yang tidak informatif akibat keterbatasan analisis, dan pemetaan sederhana daerah endemik yang telah dilakukan namun belum menghasilkan informasi yang dapat memberikan gambaran nyata. Informasi yang tepat serta gambaran nyata sangat diperlukan dalam proses pengambilan keputusan. Pemetaan endemis penyakit demam berdarah dengue menggunakan sistem informasi geografis (GIS) diperlukan untuk mengoptimalkan sistem surveilans di tingkat kabupaten, khusususnya di Kabupaten Karawang ini.
Metode pengasapan yang masih sering dilakukan saat ini hanya membunuh nyamuk dewasa. Program pencegahan demam berdarah dengue memerlukan peran serta masyarakat dan harus mengutamakan wilayah publik seperti sekolah dan kantor, mengingat banyaknya kasus DBD pada penduduk usia produktif. GIS mampu menghasilkan peta faktor risiko dan peta persebaran kasus yang dapat digunakan di dalam proses perencanaan dan evaluasi program pemberantasan DBD berbasis wilayah. GIS sangat berguna untuk surveilans penyakit berbasis lingkungan, intervensi kesehatan, dan strategi pencegahan penyakit.
Esensi : Setelah membaca jurnal ini pengetahuan saya menjadi bertambah. Sekarang saya tahu bahwa angka penderita DBD di beberapa wilayah Indonesia tidak teratasi dengan baik, sehingga dengan adanya sistem GIS diharapkan dapat memetakan wilayah penyebaran DBD dengan lebih akurat sehingga akan menurunkan jumlah penderita DBD di wilayah endemik tersebut. Dengan diberikannya tugas review jurnal ini saya dapat mengetahui bagaimana cara mengakses jurnal secara online. Harapan saya, dalam menjalani perkuliahan nantinya saya tidak kebingungan lagi dalam mencari bahan referensi karena ternyata ada banyak sekali situs online penyedia jurnal ilmiah yang dapat diakses secara gratis.
Daftar Pustaka :
Eryando, Tris, dkk.”Dengue Hemorrhagic Fever Mapping: Study Case in Karawang District, West Java Indonesia”.http://journal.ui.ac.id/index.php/health/article/view/3032 (2 Sept.2014)
Analisis Video Keilmuan : Indonesia's Infant Smoking Epidemic
Indonesia’s Infant Smoking Epidemic
Dewasa ini, banyaknya perokok di kalangan anak muda telah menjadi sebuah tren baru di Indonesia. Sangat miris ketika mengetahui bahwa tidak ada pihak yang mampu menghentikan hal tersebut. Sebagian besar dari anak-anak perokok beranggapan bahwa dengan merokok akan membuat citra ‘keren’ di mata teman-temannya. Komisi Perlindungan Anak menyatakan bahwa jumlah perokok usia dini dari tahun 2001-2007 mencapai peningkatan lebih dari 400%. Sungguh angka yang sangat mencengangkan bukan?
Sebenarnya peningkatan tren perokok usia dini ini disebabkan oleh maraknya iklan dan promosi rokok, baik itu di media elektronik maupun di ruang publik. Perusahaan rokok boleh saja berkelit dengan mengatakan bahwa target promosi mereka ditujukan hanya untuk orang dewasa dan sama sekali bukan untuk anak kecil. Namun pada kenyataan yang terjadi menunjukkan bahwa iklan-iklan rokok tersebut dipasang di pinggir-pinggir jalan dengan ukuran yang cukup besar di mana semua orang, baik itu sudah dewasa ataupun belum dapat melihatnya dengan jelas. Kita juga dapat melihat bahwa industri-industri rokok seringkali menjadi sponsor untuk konser musik maupun acara-acara lain yang stakeholdernya adalah para remaja.
Di Pulau Sumatera, tepatnya di Musi Banyuasin Sumatera Selatan ada bocah unik bernama Ardi Rizal. Ia adalah seorang balita yang kecanduan rokok. Sejak usia 2 tahun ia bahkan biasa menghabiskan 40 batang rokok per hari. Balita ini sempat mengundang keprihatinan masyarakat dunia. Tentu saja hal ini membuat malu bangsa kita. Setelah diselidiki ternyata alasan yang membuat Ardi kecanduan rokok adalah lingkungan sekitar dan kekosongan aktivitas. Ternyata saat hamil Ardi, ibunya sempat merokok dan mengidam rokok. Ayahnya pun juga seorang perokok. Tidak heran jika Ardi mengikuti orang tua yang menjadi panutannya.
Dengan adanya kasus menyedihkan tersebut, pemerintah masih belum menyadari betapa pentingnya menandatangani perjanjian internasional mengenai regulasi rokok yaitu FCTC.Beberapa pihak juga telah mencoba mendesak pemerintah untuk mengendalikan bahkan melarang iklan rokok, namun pemerintah tidak bergeming karena tingginya posisi industri rokok bagi pemerintah.
Satu hal yang membuat kita menjadi sangat miris yaitu ketika bangsa kita mau dibodohi oleh perusahaan rokok. Mereka berkata bahwa rokok kretek lebih sehat dari rokok biasa, karena mengandung cengkeh yang bermanfaat sebagai desinfektan. Benar-benar alasan yang omong kosong karena kita tahu bahwa semua rokok tetap mengandung bahan-bahan berbahaya seperti tar dan nikotin. Industri-industri rokok tersebut bertumpu pada alasan bahwa mereka lah yang memberi kehidupan bagi ribuan orang buruh rokok dan mereka juga lah yang berperan sebagai penyumbang cukai terbesar di Indonesia. Saat kita melihat bahwa sang direktur perusahaan rokok memilih untuk tidak merokok karena alasan rokok tidak baik untuk kesehatan, maka bangsa ini sangat layak dikatakan sebagai bangsa yang bodoh.
Seharusnya pemerintah tegas dalam membuat aturan mengenai rokok. Pemerintah harus segera sadar bahwa generasi muda Indonesia tengah mengalami ancaman besar akan rokok. Bagaimana mungkin Indonesia maju dan sejahtera bila generasi mudanya mati karena rokok?
Esensi : Dengan melihat video keilmuan mengenai maraknya perokok usia dini di Indonesia, saya menjadi lebih mengetahui gambaran masyarakat Indonesia saat ini yang telah benar-benar teracuni oleh rokok. Saya menjadi lebih termotivasi untuk memberikan penyuluhan kepada para perokok usia dini yang telah kecanduan rokok akibat lingkungan atau didikan orang tuanya yang salah.
OKKFKM-FCTC untuk Indonesia Sehat
FCTC untuk Indonesia Sehat
Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau telah dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berlaku sebagai instrumen hukum internasional sejak tanggal 27 Februari 2005. FCTC ini terbentuk atas dasar respons terhadap epidemis tembakau dunia yang telah menjadi masalah global. Sedangkan tujuan dari FCTC yakni untuk melindungi generasi saat ini dan masa depan dari kehancuran kesehatan akibat paparan asap tembakau.
Sebagai mahasiswi jurusan kesehatan masyarakat tentu saya sangat mendukung penyegeraan ratifikasi FCTC demi mengkondisikan masyarakat Indonesia, terutama generasi muda yang sehat dan bebas asap rokok. Berdasarkan data yang diterbitkan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Southeast Asia Tobacco Control Alliance, dan Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia setelah China dan India. Pada 2012, diperkirakan terdapat 62,3 juta perokok di Indonesia, naik dari tahun sebelumnya 61,4 juta perokok. Tragisnya, 30,7 juta penduduk Indonesia adalah perokok usia anak-anak. Jumlah mereka naik sekitar 17% per tahun. Dengan angka perokok yang sangat besar ini sungguh ironis jika Indonesia menjadi salah satu dari 9 negara yang belum meratifikasi dan mengaksesi FCTC. Dapat dibayangkan betapa buruknya kondisi kesehatan masyarakat Indonesia yang menjadi perokok aktif maupun pasif.
Banyak pihak berpendapat bahwa ratifikasi FCTC belum diperlukan karena Indonesia telah memiliki PP 109 tahun 2012 tentang regulasi tembakau yang sebagian besar mengadopsi ketentuan pada FCTC. Namun kita dapat sama-sama mengakui bahwa implementasi dari peraturan tersebut sama sekali belum maksimal, bahkan pemerintah terkesan tidak serius dan masih banyak berkompromi terhadap ancaman bahaya rokok. Hingga saat ini pemerintah tidak berani mengambil tindakan tegas untuk segera meratifikasi FCTC. Kementerian Perindustrian bahkan menolak ratifikasi FCTC karena dikhawatirkan akan merugikan petani tembakau sekaligus menurunkan pendapatan negara yang selama ini mengucur deras dari industri rokok. Padahal alasan yang menyebutkan bahwa ratifikasi FCTC mengakibatkan kerugian petani tembakau tidaklah benar. Data yang dilansir dari badan pangan dunia (FAO) menyebutkan bahwa produksi tembakau di negara-negara yang telah meratifikasi FCTC seperti Cina dan Brasil tidak mengalami penurunan, bahkan cenderung mengalami peningkatan meskipun tidak begitu signifikan. FCTC juga memberikan solusi dengan melakukan diversivikasi pemanfaatan tembakau.
Menurut Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, tembakau memiliki banyak manfaat lain. Apabila pemerintah serius mengembangkan diversivikasi tembakau untuk industri nonrokok, maka dapat dihasilkan pemasukan negara yang cuup besar pula . Tembakau apabila dimodifikasi dapat diproduksi menjadi obat diabetes dan antibodi, obat HIV/AIDS, obat luka, dan biofuel. Bahkan saat ini telah diketahui bahwa tembakau dapat diolah menjadi produk biopestisida yang memiliki pasar ekspor sangat besar. Dengan adanya alternatif pemanfaatan tembakau, maka masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari bertani tembakau tidak perlu lagi khawatir dengan ratifikasi FCTC.
Industri rokok di Indonesia mengklaim telah memberikan kontribusi positif bagi negara. Cukai yang dihasilkan dari indusri rokok memang cukup besar, namun kenyataannya perhitungan dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa cukai tersebut tidak seberapa dibandingkan dengan kerugian makro yang harus ditanggung oleh negara akibat rokok. Pengeluaran negara untuk menutup kerugian makro ini antara lain untuk menanggung biaya perawatan medis bagi para perokok yang sebagian besar adalah masyarakat miskin. Kerugian negara yang lain yaitu kehilangan produktivitas akibat kematian prematur dan morbiditas maupun disabilitas.
Masifnya iklan dan promosi rokok merupakan pemicu meningkatnya jumlah perokok. Seperti yang dikatakan oleh Komnas Pengendalian Tembakau, Dr. Prijo Sidipratomo, iklan rokok sangat mempengaruhi ketertarikan remaja dan anak-anak untuk merokok karena sebagian besar iklan tersebut cenderung kreatif serta menampilkan nilai kebersamaan dan kepahlawanan.
Dengan jumlah perokok remaja dan anak-anak yang setiap tahun semakin bertambah, bagaimana mungkin Indonesia dapat mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera? Sudah saatnya kita sebagai mahasiswa turut mendorong pemerintah untuk segera meratifikasi FCTC demi masyarakat Indonesia yang lebih baik. Sebelum lebih banyak generasi muda kita yang dirusak oleh sebatang rokok.
Sumber : http://www.tcsc-indonesia.org
http://www.who.int/fctc
http://www.kemenperin.go.id
http://www.cybex.deptan.go.id/penyuluhan/manfaat-tembakau-0
Esensi :
Esai bertemakan Indonesia dan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) ini saya tulis bukan hanya sekedar memenuhi tugas OKK FKM UI, namun sekaligus untuk mendorong masyarakat Indonesia untuk menyadari pentingnya segera meratifikasi FCTC. Apabila pemerintah menyetujui ratifikasi FCTC, maka Indonesia akan memiliki sumber hukum yang kuat dalam pengendalian tembakau. Dengan adanya sumber hukum yang kuat, maka terciptalah masyarakat Indonesia yang sehat dan sejahtera bebas dari bahaya rokok.
OKKFKM-Andil Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dalam Memajukan Kesehatan Bangsa
Andil Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dalam Memajukan Kesehatan Bangsa
Menyandang gelar mahasiswa menjadi sebuah kebanggaan sekaligus tantangan bagi seseorang. Bagaimana tidak, seorang mahasiswa harus mengemban ekspektasi dan tanggung jawab yang besar. Mahasiswa merupakan golongan terpelajar yang sangat disegani oleh masyarakat karena berperan serta besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat mengharapkan agar mahasiswa dapat ikut memberikan solusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada sesuai dengan bidang pendidikan yang ditekuni.
Sebagai sebuah negara berkembang, Indonesia tentu memiliki berbagai persoalan dalam bidang kesehatan. Angka kemiskinan yang masih cukup tinggi di Indonesia menimbulkan banyak masalah kesehatan. Kemiskinan berkaitan erat dengan kemampuan mengakses pelayanan kesehatan serta pemenuhan kebutuhan gizi dan kalori. Dengan demikian penyakit masyarakat umumnya berkaitan dengan penyakit menular, seperti diare, penyakit liver, dan TBC. Selain itu, masyarakat juga menderita penyakit kekurangan gizi termasuk busung lapar, anemia terutama pada bayi, anak-anak, dan ibu hamil. Kematian bayi adalah konsekuensi dari penyakit yang ditimbulkan karena kemiskinan ini (kekurangan gizi menyebabkan bayi rentan terhadap infeksi). Berdasarkan Riskesdas tahun 2013 prevalensi kurang gizi di Indonesia menunjukan peningkatan dari 17,9% tahun 2010 menjadi 19,6% pada tahun 2013. Sungguh fakta yang ironis, karena di kota-kota besar masalah obesitas dan penyakit gaya hidup seperti kanker, diabetes, dan serangan jantung semakin mengalami peningkatan pesat. Bahkan, Indonesia masuk ke dalam 10 besar negara dengan tingkat obesitas yang tinggi.
Dengan besarnya tuntutan dari berbagai perkara kesehatan tersebut, maka saya selaku mahasiswa yang menempuh pendidikan dalam bidang kesehatan masyarakat berharap dapat turut berkontribusi dalam meningkatkan derajat kesejahteraan bangsa. Karena salah satu tolak ukur dari kemajuan sebuah negara adalah tingkat kesehatan masyarakatnya. Hal ini lah yang menjadi dasar pendirian Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia, yaitu menyediakan tenaga-tenaga ahli kesehatan masyarakat untuk menangani masalah-masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Fakultas Kesehatan Masyarakat melalui usahanya yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, serta yang menempatkan peran masyarakat sebagai hal utama, merupakan salah satu sarana dan wahana yang dapat meningkatkan mutu kehidupan bangsa.
Mahasiswa kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengamalkan bidang keilmuan yang dipelajarinya kepada masyarakat luas. Kontribusi paling awal yang dapat diberikan oleh mahasiswa kesehatan masyarakat yakni mencontohkan perilaku hidup sehat dimulai dari diri sendiri sehingga akan berefek pada lingkungan sekitar. Mahasiswa dapat pula mengikuti kegiatan-kegiatan kampus seperti BEM dan UKM yang biasanya memiliki program kerja untuk terjun langsung mengabdi pada masyarakat. Dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, mahasiswa kesehatan masyarakat dapat mengadakan seminar dan penyuluhan mengenai pola hidup sehat atau langkah-langkah preventif pencegahan suatu penyakit untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan pada masyarakat. Seminar dan penyuluhan ini sangat penting dalam memberikan edukasi, terutama terhadap masyarakat miskin yang selama ini cenderung memiliki pengetahuan minim akan masalah kesehatan.
Selain seminar dan penyuluhan, para mahasiswa juga dapat melakukan kampanye kesehatan. Misalnya, kampanye antirokok yang tahun lalu dilancarkan oleh para mahasiswa FKM UI. Kampanye ini dilaksanakan di Bundaran HI dan bertujuan untuk menyosialisasikan peraturan pencantuman peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok di Indonesia. Mahasiswa kesehatan masyarakat dapat pula mengadakan kegiatan seperti senam bersama bagi ibu hamil atau lansia. Kampanye dan kegiatan semacam ini diharapkan dapat mengajak masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat. Aksi konkret lain yang dapat dilakukan oleh mahasiswa yaitu dengan menyelenggarakan bakti sosial di daerah-daerah tertinggal atau daerah yang sedang dilanda bencana. Mahasiswa dapat memberikan bantuan dengan menjadi sukarelawan. Hal itu menunjukkan kuatnya tekad mahasiswa kesehatan masyarakat untuk mengabdi kepada masyarakat.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual diharapkan dapat berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Penelitian-penelitian baru dan bermutu berkaitan dengan dunia kesehatan sangat dinantikan dari pemikiran para mahasiswa kesehatan masyarakat. Karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa permasalahan kesehatan dewasa ini semakin kompleks dan membutuhkan solusi pemecahan yang lebih baik.
Hal-hal di atas hanyalah sebagian kecil contoh peran kontributif yang dapat dilakukan oleh mahasiswa kesehatan masyarakat. Seberapa besar andil mahasiswa dalam masyarakat kembali pada kemauan dan tekad mahasiswa itu sendiri untuk menjadi bermanfaat bagi masyarakat. Berbagai peran serta mahasiswa, baik itu berupa hal kecil maupun besar akan sangat berpengaruh pada kemajuan bangsa nantinya. Karena keberhasilan dalam peningkatan kesehatan masyarakat ada pada tangan mahasiswa, yang kelak akan menyandang gelar sarjana kesehatan masyarakat atau ahli gizi yang tentunya berkualitas.
Sumber : http://www.depkes.go.id
http://www.jpnn.com/read/2014/05/30/237416/Indonesia-Masuk-10-Negara-dengan-Masalah-Obesitas-
http://old.ui.ac.id/id/academic/page/fkm
http://news.detik.com/read/2013/04/07/103849/2213442/10/kampanye-anti-rokok-40-mahasiswa-ui-harlem-shake-di-bundaran-hi?nd771104bcj
Esensi :
Penulisan esai bertemakan “Peranan mahasiswa kesehatan masyarakat untuk Indonesia” ini memberikan esensi bahwa sebagai mahasiswa dalam bidang kesehatan harus turut berperan serta dalam meningkatkan derajat kesehatan bangsa Indonesia. Hal ini menyadarkan diri saya sendiri akan pentingnya memberikan kontribusi dengan cara mengamalkan dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang saya miliki demi kepentingan masyarakat untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju.
OKKFKM-Ilmu dan Iman yang Berjalan Berdampingan
Ilmu dan Iman yang Berjalan Berdampingan
Menuntut ilmu adalah hal yang sangat penting karena dengan mempelajari suatu ilmu, sebuah bangsa akan menjadi bangsa yang kokoh dan berdaulat. Dalam islam pun diwajibkan bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu. Seperti dalam hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Ibnu Majjah, Rasulullah SAW bersabda, “Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim (baik muslimin maupun muslimah).” Untuk itu, kita sebagai mahasiswa patut bersyukur karena dapat mengenyam pendidikan tinggi yang tidak semua orang dapat mengecapnya.
Allah SWT telah berfirman dalam surat Al Mujaadilah ayat 11 : “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Allah SWT juga berfirman pada surat Yunus ayat 101 : Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.”
Ayat-ayat Al Quran di atas menegaskan kewajiban seorang manusia, dalam hal ini adalah mahasiswa, untuk terus menuntut ilmu dan mempelajari iptek agar mereka tidak salah dan tersesat, dengan memberikan bingkai sumber pengetahuan berdasarkan kebenaran.
Kehidupan sebagai mahasiswa di dalam kampus sangat jauh berbeda dengan kehidupan masa sekolah. Seorang mahasiswa sudah dianggap dewasa sehingga mengetahui mana yang hak dan mana yang batil. Kampus dapat dikatakan sebagai miniatur sebuah negara karena di dalam kampus ini terdapat berbagai mahasiswa yang berlatar belakang daerah, suku, ras, dan agama yang berbeda-beda. Mahasiswa dituntut untuk dapat berpikir luas dan terbuka, sehingga banyak sekali ancaman pemikiran luar yang dapat merusak akidah maupun akhlak mahasiswa tersebut.
Sebagai kaum intelektual, mahasiswa harus memiliki ilmu pengetahuan dan keimanan yang seimbang karena iman yang tidak disertai ilmu akan mudah ditipu, demikian sebaliknya, ilmu tanpa iman akan menjadi penipu. Maka sudah seharusnya lah ilmu dan iman berjalan beriringan. Selain belajar, mahasiswa harus tetap berpegang teguh pada agama yang dianutnya karena agama berperan sebagai pedoman, prinsip, dan pandangan hidup bagi seseorang. Agama juga lah yang mengatur cara bertingkah laku, bertutur kata, bersosialisasi, serta membentuk akhlak.
Saat ini banyak mahasiswa yang ‘pinter keblinger’, mereka diperbudak oleh ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri. Banyak pula mahasiswa yang menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya, tidak peduli apakah cara yang ditempuh tersebut halal atau haram. Mahasiswa-mahasiswa seperti ini lah yang kemudian hari akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang tidak berakhlak dan bermoral. Hal-hal tersebut sangat mungkin terjadi apabila seorang mahasiswa memiliki iman yang lemah.
Tanpa landasan keimanan yang kuat, seorang mahasiswa akan mudah terombang-ambing dalam menentukan arah. Banyaknya mahasiswa lain dengan latar belakang agama dan keyakinan yang berbeda, dapat mengakibatkan seseorang terpengaruh dan kebingungan dalam mempertahankan keyakinannya. Lantas bukan berarti mahasiswa harus menutup pergaulan dengan mahasiswa lain yang berbeda keyakinan. Kehidupan di kampus hanyalah sebagai latihan dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya kelak, dimana akan ditemui masyarakat yang lebih heterogen latar belakangnya. Oleh karena itu diperlukan kemampuan sosial yaitu toleransi atau tenggang rasa terhadap umat agama lain. Seperti yang terkandung dalam ayat-ayat pada surat Al Kafirun ayat 1 sampai 6 bahwa kita harus saling bertoleransi antar umat beragama, namun toleransi tersebut memiliki batasan, terutama yang berhubungan dengan akidah dan ibadah. Batasan tersebut jelas tercantum dalam surat Al Kafirun ayat 6, yang artinya : “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.”
Jadi peran agama sangat penting dalam kehidupan kampus maupun bermasyarakat. Dengan adanya dasar agama yang kuat dalam diri setiap mahasiswa, maka akan dihasilkan pemimpin-pemimpin bangsa yang tidak hanya pintar dalam hal iptek, namun juga cerdas dalam hal imtaq. Seseorang dengan landasan imtaq yang baik pasti akan memiliki akhlak dan moral yang baik pula.
Sumber : Q.S Yunus ayat 101
Q.S Mujaadilah ayat 11
Q.S Al Kafirun ayat 1-6
Esensi :
Setelah menulis esai yang bertemakan “Pentingnya agama dalam kehidupan kampus” ini, pikiran saya menjadi lebih terbuka bahwa ternyata peranan agama begitu besar dalam membentuk kepribadian dan akhlak seorang mahasiswa yang kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa. Hal ini yang membuat saya menjadi lebih sadar untuk selalu menanamkan nilai-nilai agama dalam kehidupan kampus nantinya.