Para penyendiri menerjang hari-hari yang semakin samar, bergulat dengan kehidupan yang semu. Tanpa ada harapan yang pasti, mereka semakin kalut. Bercumbu bersama sunyi adalah kenikmatan yang hakiki.
Dekadensi kepercayaan tampak semakin nyata, dimulai dari tak lagi lirihnya lantunan doa yang dipanjatkan pada setiap malam. Altar pemujaan itu, kini tampak menghitam, ditinggalkan para penyindiri yang kalut karena harapannya sirna.
Mereka sadar kalau mereka bukanlah masakois, memeluk erat kekecewaan bak bersandar pada kaktus di tengah gurun pasir. Hal yang kemudian membuat sinisme lambat laun menyingkap, mosi tidak percaya pada penguasa bumi dan langit samar-samar mulai disuarakan.
Ajaran moral sesat kemudian dijadikan patronasi untuk mencapai kebahagiaan temporer. Para pasukan Tuhan tersudut di tengah pesta pora koloni Lucifer.