“مشقة الطاعة تذهب ويبقى ثوابها، و لذة المعاصي تذهب ويبقى عقابها.The discomfort of obedience to Allah will leave and its rewards will remain, and the pleasure of disobeying Allah leaves and its punishment remains.”
— Ibn al-Jawzi

⁂

★
d e v o n
Today's Document
Alisa U Zemlji Chuda
Cosimo Galluzzi

❣ Chile in a Photography ❣

祝日 / Permanent Vacation
he wasn't even looking at me and he found me
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

ellievsbear
I'd rather be in outer space 🛸
Peter Solarz
Monterey Bay Aquarium
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Discoholic 🪩

JBB: An Artblog!
No title available
Stranger Things
Xuebing Du
seen from Venezuela
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Singapore

seen from United States
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Sweden

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Spain

seen from United States
“مشقة الطاعة تذهب ويبقى ثوابها، و لذة المعاصي تذهب ويبقى عقابها.The discomfort of obedience to Allah will leave and its rewards will remain, and the pleasure of disobeying Allah leaves and its punishment remains.”
— Ibn al-Jawzi
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Menelusuri hasil-hasil riset yang diungkap oleh Andrew Robinson dalam bukunya bertajuk “Sudden Genius?”, kita terhenyak bahwa pemahaman tentang bakat tak banyak berperan mengantarkan anak menjadi manusia-manusia brilian. Sebaliknya, kita mendapati betapa banyak orang-orang sukses yang justru lahir dari ibu-ibu lugu. Carl Frederich Gauss yang berjuluk “The Princes of Mathematics” lahir dari orangtua tak berpendidikan. Ibunya bahkan buta huruf. Begitu pula sejumlah jenius lain.
Apakah Imam Syafi’i rahimahuLlah menjadi sosok yang sangat fenomenal dengan kepakaran yang nyaris tak tertandingi hingga hari ini, lahir dari ibu yang mendalami bakat anak? Tidak. Tes bakat bahkan belum ada saat itu. Apakah Imam Ahmad rahimahuLlah yang hafal dan paham puluhan ribu hadist lahir dari ibu yang telah belajar tentang teknik mengingat instant? Tidak. Tetapi mereka memiliki ketulusan, penerimaan tanpa syarat, cita-cita besar, dan kesediaan untuk berpayah-payah mendampingi anaknya. Mereka tak letih memberi usapan sayang dan sentuhan penuh perhatian kepada buah hatinya. Mereka tak putus-putus mendoakan anaknya. Yang mereka bangun bukan percaya diri anak, tetapi keyakinan yang kuat kepada Allah ‘Azza wa Jalla semenjak hari-hari awal kehidupan anak.
Pertanyaan, masihkah engkau mengusap anakmu ketika mereka sedang gelisah? Masih adakah ketulusan itu di hatimu? Adakah kerelaan untuk berpayah-payah mengasuh dan mendampingi mereka? Ataukah kita cukup mempercayakan pendidikan mereka kepada sekolah saja? Padahal kelak kitalah yang akan ditanya atas iman anak-anak kita. Ataukah untuk menyiapkan anak-anak agar menjadi pribadi yang cerdas dan cemerlang, kita cukup mengandalkan lembaga bimbingan belajar atau bisnis kecerdasan ajaib yang tak pernah melahirkan manusia jenius?
Menerima secara tulus berarti ridha atas apa yang dikaruniakan kepada kita melalui anak-anak kita. Maka kita bersungguh-sungguh mengasuh mereka, menyayangi mereka, memberi dukungan tatkala mereka menghadapi kesulitan dan bukannya mengambil alih kesulitan tersebut. Semoga dengan demikian anak-anak itu kelak memiliki kesanggupan menghadapi tugas-tugas berat demi memperjuangkan agamanya.
Semoga kelak mata kita disejukkan oleh hadirnya anak-anak yang merelakan keringatnya, hartanya dan letih-lelahnya untuk menolong agama Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka berpenat-penat karena amat sangat mengingini akhirat. Bukan karena terpukau gemerlap dunia.
“العبادة خضوع ينشأ عن استشعار القلب بعظمة المعبودThe state of Ibadah (true worship of God) is a feeling of smallness that develops through making the heart appreciate the greatness of the One Who is worshiped.”
— Sheikh Ahmad Mustafa al-Maraghi
“ما عبد العابدون بشيء أفضل من ترك ما نهاهم الله عنه. ـWorshipers never performed an act of worship better than staying away from that which Allah forbade them.”
— al-Hasan bin Ali (Grandson of the Prophet ﷺ)
Ibrahim, Ayah Teladan
Bukan, bukan. Bukan mau nyeritain suami hehe. Tar kegeeran lagi. Kemarin2 aja dengan pede bilang, ibrahim kan artinya bapak yg penuh kasih sayang. Iya deh, iya. Jadi do'a yaa insyaAllah. Dikaruniakan hati lembut yang penuh kasih sayang. Tapi dibanding saya, empati papanya sara memang lebih tinggi. Prinsip mengutamakan keluarga itu yg utama. Pantes hasil tes stiffin nya feeling eaaa malah kemana2 bahasannya.
Kali ini dari tulisan Ust. Bendri mumpung suasana menjelang idul Adha.
1| Dalam suasana Idul Qurban kali ini, kita akan coba bahas tokoh keluarga hebat dan utama yg disebut dlm Alquran. Beliau adalah Ibrahim. Ayahanda para nabi
2| Kesibukannya dalam bekerja dan dakwah tak mengurangi nilai kepeduliannya terhadap keluarga. Beliau contoh dalam ‘work life balance’
3| Kesetiaan terhadap istri tak perlu diragukan. Meski belum beroleh keturunan, tak sembarang cari lagi pasangan hingga Allah memerintahkan
4| Pilihan menikah lagi dengan siti hajar adalah untuk kebaikan generasi depan. Bukan sekedar pilihan syahwat. Sebab siti sarah tak kunjung beroleh anak
5| Kerinduan terhadap anak seiring dengan upaya memilih ibu yg tepat baginya. Menikahi siti hajar diniatkan bukan sekedar mencari istri untuknya tapi ibu untuk anaknya
6| Hak anak ditunaikan sedari awal. Sejarah membuktikan pilihan terhadap hajar adalah tepat. Pengorbanan dalam bukit safa marwa sebagai teladan
7| Siti hajar dinikahi untuk siap menjadi pengasuh. Rela berlapar-lapar kesepian demi menjalankan tugas pengasuhan yang nilai dasarnya dicanangkan Ibrahim
Ayah yang hebat bermula dari ketepatan dalam memilih pasangan hidup. Bukan sekedar untuknya, namun juga bagi anak-anaknya nanti
9| Pun, saat harus berpisah dan meninggalkan anak istri demi tugas. Kelayakan tempat tinggal jadi prioritas demi memudahkan pengasuhan
10| Beliau lebih memilih negri aman terasing yg jauh dan tandus demi dekat dengan rumah Allah dibandingkan dekat dengan pasar
11| Pilihan aneh namun menunjukkan visi seorang ayah. Agar anak lebih cinta dan dekat dengan Allah dibandingkan memuaskan perutnya
12| Biarlah anakku dicukupkan rezkinya jika ia lebih dekat dengan rumah Tuhannya. Demikian kira-kira visi beliau dalam memilih rumah
13| Visi ini bersambung kepada satu cita-cita besar. Yakni mencetak generasi penegak sholat. Sebab dari sholatlah bermula semua kebaikan anak
14| Bukan sekedar menjalankan sholat, tapi menegakkannya. Dan ini bermula dari kedekatan anak kepada rumah Allah yakni masjid
15| Jika urusan ibadah dan aqidah sudah ditegakkan (QS 14 : 35-37), maka tak kalah penting adalah mengajarkan anak bersikap simpatik
16| Dalam doa beliau berharap keturunannya disukai oleh banyak manusia karena dihiasi akhlak yg indah. Ayah peduli terhadap urusan sosial anak
17| Mengajarkan perilaku simpatik dengan cara simpatik. Tak ada bentakan kasar dari beliau kepada anaknya meski dalam urusan ibadah
18| Saat perintah Allah turun untuk penyembelihan. Meski atas nama Allah, maka beliau tetap penuhi hak anak yaitu : berdialog
19| Ismail kecil saat itu merasa nyaman, mendapatkan perintah Allah melalui ayah yang menghargai hak-haknya. Tak memberi doktrin apalagi ancaman
20| Dimulai dengan mengajak anak bermain, meluncurlah kalimat tentang apa yang dialami sang ayah ‘ayah mimpi menyembelihmu atas titah Allah’
21| Ismail kecil jadi memahami perasaan seorang ayah yang dapat perintah Allah dan tak kuasa menolak. Kasih sayang yang dibatasi oleh aqidah
22| Makin terpesonalah ismail kecil begitu meluncur kalimat dari sang ayah ‘bagaimana pendapatmu nak atas mimpi ayah?’ (QS. 37 : 102)
23| Kalimat yg menunjukkan bahwa seorang anak punya hak untuk ditanyai pendapatnya tanpa perlu diancam atau diiming-imingi
24| Sehingga meluncurlah jawaban dari anak yang dihargai haknya oleh sang ayah ‘lakukan perintah Allah yah. Mudah-mudahan aku menjadi orang sabar’
25| Jawaban yang menunjukkan rasa takut yang berhasil dilawan karena didukung oleh Ayah yg menghargai hak-haknya. Inilah cara tepat memotivasi anak
26| Pertemuan yg berkesan antara ayah dan anak meski jarang sekali bersama. Sang ayah memaknai setiap interaksi dengan anak secara berkualitas
27| Saat tak bersama dengan anak pun tak putus doa disampaikan ke langit. Mengasuh dari jarak jauh dalam kawalan doa pada Sang Kuasa
28| Kesibukan tak halangi sang ayah untuk pikirkan generasi tangguh masa depan. Dan tekad dalam doanya Allah kabulkan
29| Ishaq, Ismail, Yaqub, Yusuf hingga kanjeng nabi Muhammad merupakan keturunan langsung ayah hebat ini
30| Gelar nabi diwariskan ke anak cucunya bukan semata-mata warisan namun buah dari kesungguhan beliau sebagai ayah yang peduli pengasuhan
31| Semoga banyak ayah yg bisa mengambil teladan dari sosok Ibrahim : ayah hebat sepanjang zaman. Sekian.
==================
Ibrahim, Ayah Teladan
Oleh:
Ustadz Bendri Jaisyurrahman
"Know that if people are impressed with you, in reality they are impressed with the beauty of Allāh's covering of your sins"
Ibn Al Jawzī (Rahimahullah)
“ You can see people’s sins, but not their repentance. ”
رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي
My Lord, I have wronged myself, so forgive me.
Source: clean-blog, via IslamicArtDB
“Ada naungan pada hari kiamat ketika tidak ada naungan kecuali naungan Allah untuk tujuh orang,” ujar Ustadz Salim A Fillah dalam kajiannya, “salah satunya adalah orang yang saling cinta karena Allah, bahkan kelak ada mimbar-mimbar dari cahaya yang diperuntukkan kepada orang-orang yang saling mencintai karena keagungan Allah.” Cinta ini merupakan karunia yang besar, yang mampu membuat para nabi dan syuhada cemburu karenanya. Ustadz Salim menambahkan, ”Sebab kita yakin dengan cinta yang tersambung oleh iman yang karena Allah SWT, kita meraih manisnya iman. Cinta yang menghubungkan kita semua ini sebagai muslim, membuat kita menggapai satu kedudukan di sisi Allah yang tidak dicapai hanya dengan mengandalkan amalan-amalan pribadi kita.” Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/07/10/81317/mencintai-karena-allah/#ixzz5vsOdYz2S Leaves picture by freepik.com
#ntms 😭
Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatiimushalihat ❤
MasyaAllah, nak... Engkau karunia Allah yg tak disangka-sangka... Sebab syukur ibu dan ayah atas kebaikan-kebaikan yg Allah karuniakan kepada kami belumlah seperti syukurnya Nabi Muhammad kepadaNya... Rasanya menyesak nak, ibu haru dan bahagia... Bertubi-tubi kebaikan-kebaikan itu datang kepada kami... Sungguh Maha baiknya Allah... Astaghfirullahaladzim, maafkan kami atas rasa syukur yg luput yaa Rabbi...
Kala mendoakanmu nak, ibu selalu terbayang Nabi Muhammad kecil... Entah kamu laki-laki atau perempuan, semoga Allah karuniakan akhlak yg melekat pada pribadimu seperti akhlak Nabi Muhammad, yg pandai bersyukur, bersabar, bertawakal hanya kepada Allah rabbul'alamin...
Nak... It's 8 month journey ahead. You will grow stronger and faithful insyaAllah...
Abi & Umi love you ❤
The Quran, verse 53:43
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
And it is He who causes laughter and tears.
Source: 293khfa, via IslamicArtDB
Attaining Allah's love
“Verily Allah (Glorified may he be) has said: ‘Whosoever shows enmity to a wali (friend) of Mine, then I have declared war against him. And My servant does not draw near to Me with anything more beloved to Me than the religious duties I have obligated upon him. And My servant continues to draw near to me with nafil (supererogatory) deeds until I Love him. When I Love him, I become his hearing with which he hears, and his sight with which he sees, and his hand with which he strikes, and his foot with which he walks. Were he to ask [something] of Me, I would surely give it to him; and were he to seek refuge with Me, I would surely grant him refuge.’ ”
The Quran, verse 10:86
وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ
And save us by Your mercy
Source: victoryasun, via IslamicArtDB
Yaa Rabbi 😭
Yaa 'abd ittaqillah!
🌺🌺🌺
Ramadhan 1440 H
Ya Rabb... I can't describe this feeling. Everything you've done for me just make me speechless... Why me? I can't describe in any word except Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar...
Aku tergugu, sadar ini barulah di dunia...
Lalu bagaimana nanti saat Kau takdirkan kami menatap wajahMu Ya Rabbi...