"Mari sembuhkan diri. Agar kita tak lagi memandang segala hal dari kacamata luka dan trauma kita."
No title available
official daine visual archive
No title available
YOU ARE THE REASON
Lint Roller? I Barely Know Her
cherry valley forever
todays bird

oozey mess
EXPECTATIONS
Mike Driver
Game of Thrones Daily

roma★
Color Me Curious

ellievsbear
RMH

Game Changer & Make Some Noise
macklin celebrini has autism
ojovivo
The Stonewall Inn
NASA

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Mexico
seen from Malaysia

seen from India

seen from Germany

seen from United States
seen from Paraguay
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Australia
seen from United States

seen from India
seen from United States
@milaalkhansah
"Mari sembuhkan diri. Agar kita tak lagi memandang segala hal dari kacamata luka dan trauma kita."
Kalau kita masih mengkhawatirkan apa yang tidak menjadi otoritas kita, berarti urusan iman kita kepada takdir belum selesai.
Pernah baca tulisan seseorang di sini:
"Kenapa iman kepada qada dan qadar diletakkan terakhir? Ya karena itu hal yang paling susah untuk dilakuin. Salah satu hal yang paling susah dilakuin manusia adalah menerima dan terus khusnusan sama Allah."
Kita ini cuman hamba. Jangan mengurusi hal-hal yang bukan tugas kita. 🥲
intensi
belakangan ini, Allah banyak banget nunjukkin aku bagaimana tiap orang memahami sebuah intensi orang lain: cara orang lain memandang apa yang kita lakukan dan bicarakan berasal dari tingkat pemahaman dia kepada kita serta kacamata pengalaman yang dia gunakan.
dalam arti sederhana, tak peduli intensi kita selalu baik, atau tak pernah bermaksud untuk menyakiti, kita akan selalu saja mudah disalahpahami orang lain. karena mereka melihat dari sisi yang berbeda dari diri kita yang sebenarnya. segala tindak tanduk kita akan sangat mungkin untuk mendapatkan multitafsir. membuat orang lain selalu sepaham sama kita itu mustahil. selain cuman bikin capek, juga buang-buang energi.
kapan hari dapat hate comment, yang jujur nyelekit banget. aku marah, kesel, dan pengen banget menjelaskan. tapi sebelum itu, tarik nafas dan pikirin lagi ... is this person deserve my energy? is this thing deserve my attention?
lagian, mau seberbusa apa pun aku menjelaskan, orang lain seringnya tetap gak peduli. atau malah bisa jadi digiring lagi ke opini lain. sehingga gak smua orang butuh penjelasan karena seringnya manusia tuh hanya mau mendengar apa yang bersedia mereka percayai.
pada akhirnya, orang yang benar-benar peduli dengan kita akan memilih mengerti bahkan tanpa penjelasan sekalipun. dan makin bertambahnya usia, kita mesti melatih diri untuk merasa biasa-biasa saja dengan kesalahpahaman orang lain yang tak ada peran atau kepentingannya dengan hidup kita.
selama bukan mereka yang ngasih kita makan, atau bayar keperluan kehidupan kita, kesalahpahaman mereka tidak begitu penting untuk dihiraukan.
kalau kita mau sejenak keluar dari bubble media sosial, banyak kok kita akan dapati keluarga-keluarga yang harmonis dan pasangan yang baik-baik saja. permasalahan dan konflik tentu saja ada. tapi mereka memilih menyembunyikannya rapat-rapat, tidak merasa perlu berkoar-koar di internet agar semua orang tahu.
mereka fokus dengan kehidupannya masing-masing. merasa tidak butuh untuk membuka segala kehidupan privasi mereka di internet. terus belajar dengan segala kekurangan dan rintangannya agar bisa memaksimalkan peran dan tanggungjawab yang mereka miliki. baik sebagai orang tua maupun pasangan.
sayangnya, hidup sekarang apa-apa standar sosmed. hidup dimaknai dari apa yang viral di internet. alhasil, manusia zaman sekarang cenderung menyamakan semua kehidupan. dan semua nasib akan seragam.
pasangan yang berselingkuh, toxic, keluarga yang disfungsional dsb. medsos cenderung hanya punya dua tipikal konten: memperlihatkan sisi kehidupan yang paling buruk, dan paling sempurna.
padahal yang namanya hidup yang sesungguhnya ya hidup yang berada di tengah-tengah. ia tidak mungkin tanpa permasalahan dan ujian. dan ia juga tidak akan selalu sesempurna itu. hidup punya naik turunnya. gak akan selamanya di atas dan sebaliknya.
di medsos, semua diekspos secara berlebihan. ditambahi bumbu-bumbu dan drama pelengkap supaya lebih menarik. banyak sisi diedit, dikasih filter, dan dikasih soundtrack. alhasil, pemikiran kita cenderung bias. menciptakan berbagai asumsi yang kita percayai sebagai fakta.
sementara apa yang bisa kita harapkan dari medsos? dari internet? di saat informasi yang kita dapatkan di sana hanyalah apa-apa yang orang lain bersedia bagikan dan ingin kita tau. bukan apa yang sebenarnya terjadi.
percayalah, bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan yang dijalani. bukan kehidupan yang diposting.
maka saat ini, literasi bukanlah hanyalah soal membaca dan menulis, tetapi juga bersikap kritis dalam menerima informasi.
bila semuanya dipermudah, dari mana kita belajar sabar.
bila semuanya diijabah, dari mana kita belajar memohon.
bila semuanya diperindah, dari mana kita belajar merawat.
bila semuanya diberi, dari mana kita belajar meminta.
bila semuanya dikasih, dari mana kita belajar bersyukur.
@milaalkhansah
kapan hari nge-WA bestie:
"Aku gak usah nikah, ya. Bentar lagi juga kan kiamat." "Aku jadi tante rich-nya Ahmad Ibrahim aja." "Boleh juga," responsnya. Dia kemudian menyambung, "Doanya ganti aja, 'kalau ada jodoh alhamdulilah, kalau gak ada juga ya tetap alhamdulilah'."
lagi di fase "apa gak usah nikah, ya?" mikirin diri sendiri aja udah bikin capek, apalagi harus mikirin orang lain.
Tersisih
banyak orang yang sering bercerita tentang betapa sakitnya patah hati akibat orang yang dicintai. tapi masih jarang yang cerita betapa sakitnya patah hati karena persahabatan.
persahabatan yang merenggang dengan sendirinya bukan karena ada masalah atau konflik. melainkan karena prioritas hidup yang mulai berubah. kita gak bisa lagi seleluasa dan sebebas dulu buat minta ditemanin dan didengerin sama sahabat kita. terutama bila ia sudah berkeluarga. sudah bertambah peran. dan mau gak mau, sebagai seseorang yang hanya teman, ya kita harus mengalah.
di usiaku yang sekarang, jujur aku masih kesulitan untuk menerima dan merasa baik-baik saja dengan hal ini. merasa baik-baik saja dengan peran dan posisiku di hidup orang lain yang akan begitu cepat berubah dan tergantikan. merasa baik-baik saja akan kenyataan bahwa hidup seseorang tidak berporos ke diriku saja.
dan yang menjengkelkannya adalah, meski aku sangat sedih dan patah hati, aku paham, bahwa gak ada yang bisa aku salahkan di sini. apalagi sahabatku sendiri. siapalah aku yang bisa memaksa dia untuk memilih prioritas?
suka gak suka ya hidup akan terus membuat tiap orang mengedepankan yang lebih penting. dan aku tidak akan selamanya menjadi penting di hidup orang lain.
pada akhirnya ya aku cuman punya diriku sendiri.
dan barangkali aku mesti berusaha lebih keras lagi untuk merasa cukup dengan itu.
yang sebenarnya cinta
konon, puncak tertinggi dari mencintai sesuatu adalah dengan mengikhlaskan. dulu aku tidak begitu percaya dengan kalimat ini. karena bukannya saat kita mencintai sesuatu kita pasti ingin memiliki, mengenggam, juga terus bersama apa yang kita cintai itu? jadi mengapa kita memilih untuk melepaskan? rasanya, kalimat itu menjadi pembuktian bahwa kita tidak benar-benar menginginkan seseorang.
hingga akhirnya karena suatu kejadian, aku perlahan dapat memahami kalimat itu. mengikhlaskan perasaan adalah suatu upaya untuk mengalahkan ego sendiri. keadaan di mana kita tidak lagi mementingkan apa yang kita rasakan, melainkan kebaikan bersama. kita belajar bahwa terkadang cinta saja tidak pernah cukup. kita memilih untuk mengedepankan kewarasan kita alih-alih mengikuti kata hati yang hanya akan berakhir mencelakakan kita dan orang yang kita cintai.
melepaskan seseorang merupakan salah satu bukti ketulusan perasaan. bukan hanya kepada seseorang karena kita menghindarkannya dari keburukan diri kita, tetapi juga kepada Si Pemberi perasaan cinta itu. kita tidak mau apa yang kita rasakan malah menjauhkan kita dari-Nya.
karena yang sebenarnya cinta ialah yang makin mendekatkan kita dengan-Nya. yang menjadikan kita manusia yang lebih baik. bukan sebaliknya.
seperti yang dituliskan oleh kak @prawitamutia dalam sebuah unggahannya:
jadi apa bukti cinta yang paling tinggi, dalam dan paling besar itu? jawabannya adalah menjaga. termasuk menjaganya dari diri kita sendiri. saat kita sangat mencintai seseorang, kita tidak takut kehilangan. alih-alih, kita tidak mau seseorang itu tersakiti apalagi karena diri kita sendiri. lepaskanlah kepemilikanmu atasnya. bukan hanya karena kamu sungguh mencintainya. melainkan juga karena kamu sadar dan beriman.
karena kamu sadar dan beriman.
Sesederhana kita memahami bahwa apa yang menjadi rejeki kita akan menemui kita tanpa perlu bersusah payah, sesederhana itu pula kita belajar hidup tenang
apa yang telah tertakar tidak akan pernah tertukar.
kemarin ngeshare salah satu tulisan di Tumblr ke grup Whatsapp promosi karya. terus ada yang komen:
"Gak nyangka masih ada yang pakai Tumblr di 2026."
aku cuman ngerespons pake emot 😂 sambil ngebatin, "iyah mbak, saya nulis dari zaman dinosaurus, sih."
ok hm yg terakhir itu gak lucu.
perihal waktu
ada banyak hal yang baru bisa kita pahami seiring berjalannya waktu. atas maksud dari setiap kejadian, atas pembelajaran dari setiap pengalaman, atas hikmah dari setiap peristiwa, dan atas tabir dibalik sifat seseorang.
berbagai pertanyaan dan kekhawatiran yang dulu pernah hadir kini menemukan jawaban dan penawarnya satu per satu. beragam luka dan kesakitan kini pun mereda dengan sendirinya. memang tak sembuh dan hilang sepenuhnya, tapi setidaknya ia tidak lagi berpengaruh sehebat dulu. hidup menempa kita menjadi lebih besar di banding apa yang dulu pernah mengendalikan kita.
agaknya memang benar bahwa waktu adalah pengobat terbaik. atau barangkali tidak? bisa jadi kitalah yang memilih untuk berkawan karib dengan kesabaran, dan berdamai dengan keadaan hingga pada akhirnya, perihal waktu menjadi satu-satunya kepastian yang kita nantikan.
@milaalkhansah
pil pahit yang kutelan di usia 20an
kita gak sepenting dan sespesial itu di hidup orang lain. dulu, saat remaja, aku sering kali berpikir bahwa hidup ini berporos ke diriku seorang. semua orang menaruh perhatian dan memikirkanku setiap waktu. lambat laun, aku baru sadar bahwa itu hanya kegeeranku semata. gak ada orang yang lebih penting dalam hidup seseorang kecuali dirinya sendiri. kita mungkin penting oleh keluarga dan orang-orang terdekat kita. tapi di hidup orang lain? kita hanya orang asing yang bukan siapa-siapa. kita adalah pemeran utama dalam hidup kita tapi hanya seorang figuran dalam hidup orang lain. kesadaran ini menjadikanku lebih mudah melepaskan keterikatan dan lebih cuek atas penilaian orang lain.
setiap orang bertanggungjawab atas hidupnya masing-masing. gak ada orang lain yang bertanggungjawab membuat sebuah keputusan, mengambil pilihan, dan menjalani setiap konsekuensi dan risiko selain diri kita sendiri. semua orang punya prioritas dalam hidupnya masing-masing. bukan tugas mereka untuk mengurusi hidup kita. kitalah yang bertugas mengurusi hidup kita sendiri. orang lain gak akan selalu siap sedia membantu dan menerangkan sesuatu kepada kita. maka dari itu amat penting bagi kita untuk berlatih bermandiri dalam berkeputusan yang sekiranya mampu kita pertanggungjawabkan.
kritik itu memang pahit seperti obat. dan selayaknya obat, kita perlu menelannya supaya jadi lebih baik dan gak sakit lagi. belajarlah memisahkan kritik dan bagaimana perasaan kita menerimanya. karena kritik atau saran perbaikan apa pun tidak pernah menyenangkan untuk didengar apalagi diterima selama ego masih kita prioritaskan. di usia 20an kita memang cenderung merasa selalu benar. bebal dengan nasihat. maka dari itu lembutkan dan lapangan lah hati kita menerima masukan terutama dari orang-orang yang sudah lebih lama hidupnya dibanding kita.
dunia ini adil, karena tidak adil untuk semua orang. setiap orang punya kesulitan dan perjuangan hidupnya masing-masing. jadi berhentilah mengeluh, membandingkan, dan terus merasa menjadi korban. tau kan kenapa nabi adam diturunkan di bumi oleh Allah? karena sebagai hukuman. bukan buat senang-senang. jadi salah tempat kalau nyari kebahagiaan yang sempurna di sini.
hanya orang-orang tertentu yang terlahir sebagai pewaris. sisanya kebanyakan harus merintis dari bawah. maka sudah pasti miskin di awal karir. jangan mudah termakan dengan konten-konten sosmed ✨ umur sekian sudah punya uang sekian. ✨. hidup gak semudah konten-konten sosmed dek. percayalah apa yang didapatkan dengan cepat, akan cepat juga hilangnya.
hidup ini selayaknya anak tangga. ada fase-fasenya. jadi jangan nekad buru-buru pengen loncat ke tangga kesepuluh padahal kaki baru napak di tangga kesatu. setiap usia ada masanya dan bentuk perjuangannya. kesimpulannya apa? ya sabar. gak usah kepikiran pakai jalan pintas kalau maunya selamat sampai ke atas.
skill kampus ≠ skill kerja. segala nilai dan gelar yang kerap kita banggakan semasa sekolah itu hanya menyumbang 31% dari skill yang dibutuhkan di dunia kerja. saat sekolah kita banyak dihadapkan oleh teori, tapi saat sudah masuk ke dunia kerja, kita tidak lagi ditanya apa yang kita tahu. tapi apa yang kita bisa dan mampu? maka jangan terlalu bergantung dari nilai dan gelar yang kita dapatkan. penuhi diri dengan berbagai macam keahlian, serta bentuk kepribadian yang banyak dibutuhkan sebagai persyaratan kerja.
kesalahan dan kekeliruan itu dibutuhkan. tidak ada orang yang bersih dari berbuat salah. jangan terlalu berlarut-larut dalam penyesalan dan menyalahkan diri sendiri. maafkan diri, segera evaluasi, perbaiki dan bertanggungjawab, ambil pelajarannya, kemudian move on. it easier said than done indeed. tapi mau sampai kapan kita terjebak dalam masa lalu, takut mengambil keputusan, dan terus dibayangi kesalahan? apa gak capek?
ada yang mau nambahin? ^^
perubahan
kita tuh sering kali gak mau menerima atau siap dengan perubahan seseorang. padahal kalau ada salah satu hal yang pasti dari hidup ini ya itu perubahan.
dan menurutku ya, salah satu tanda bentuk kedewasaan kita adalah dengan membiarkan seseorang berubah. selama perubahan itu gak mengarah ke yang negatif semisal menyakiti fisik orang lain, ya udah. biarkan orang lain bertumbuh ke arah di mana seharusnya mereka bertumbuh.
kita kerap melihat orang lain sebagaimana mereka yang dulu kita kenal. mungkin pas awal kita bertemu mereka. mungkin pas ketika kita masih satu sekolah dengan mereka. mungkin pas kita masih akrab dan dekat dengan mereka. sehingga tak sadar mengaitkan dan menghakimi perilaku dan pilihan hidup mereka kini berdasarkan hal-hal yang dulu kita tau tentang mereka.
sedangkan orang kan terus berubah ya. kalau kata dokter tirta, setiap 10 tahun orang itu pasti berubah. tapi menurutku, jangankan nunggu 10 tahun, orang yang kita temui minggu lalu, atau bahkan kemarin saja mungkin bukan lagi orang yang sama yang kita temui hari ini. sebab allah itu maha membolak balikkan hati manusia. dan kita gak pernah tau, kejadian, pengalaman, atau bentuk kesadaran apa yang didapatkan tiap orang hingga membuatnya berganti pola pikir, keputusan, maupun kepribadian.
"kok kamu jadi gitu, padahal kemarin gini?"
atau "kok kamu gak kayak dulu lagi?"
ya kan karena segalanya pasti berubah. termasuk orang-orang. termasuk kita.
gak ada yang permanen.
@milaalkhansah
masa menanam
selain mereka yang pewaris, kayaknya jarang kita temukan orang yang stabil dalam segala sisi di usia 20-an. baik itu stabil dalam kemapanan maupun emosi. kebanyakan di usia segitu, semuanya masih pada berjuang. masih pada membangun. masih pada mencari. kebingungan masih jadi teman yang akrab pada semua lini kehidupan.
berangkat dari kesadaran itu, aku kini menjadi lebih ringan dan tenang menjalani fase 20-anku ini. tidak lagi mudah membandingkan diri dengan kehidupan dan pencapaian orang lain, karena aku sadar semua orang punya arena perjuangannya masing-masing. utamanya tidak membandingkan diri dengan orang yang hanya bisa kuintip sekilas kehidupannya di medsos yang tentu tidak pernah cukup menggambarkan kehidupan dia yang sesungguhnya.
semua orang memang berangkat dari nol. tapi definisi"nol" setiap orang tentu beda-beda.
aku kini tidak lagi menjadi terlalu ngoyo. lebih mudah untuk legowo. berusaha terus mengingatkan diri dengan kapasitas dan keadaan hidupku saat ini, apa yang sudah kuusahakan itu sudah cukup layak aku apresiasi. aku telah mengusahakan sebaik mungkin apa yang kumampu. tidak perlu sampai menjadikan "masuk rumah sakit" sebagai pembuktian bahwa aku telah cukup bekerja keras wkwkwkw. aku tidak perlu menerapkan standar "cukup" versi orang lain.
terkadang memang aku masih kurang sabar dalam berproses. merasa hidupku stuck, monoton, dan tidak punya perkembangan berarti dalam hidup. saat berada di dalam momen itu, aku berusaha menasihatkan diri bahwa di usiaku saat ini, aku sedang dalam tahap menanam. bukan memanen.
semua hal baik yang diperjuangkan, butuh waktu untuk dipetik. setiap kesabaran, perjuangan, dan ketekunanku butuh waktu untuk berbuah. yang perlu kulakukan hanyalah terus giat menyebar benih. menanam segala macam bibit-bibit baik. menyemai dan menyiraminya dengan rajin kemudian bersabar dengan kesabaran yang baik.
"aku sedang menanam, aku sedang menanam, aku sedang menanam,"
akan terus jadi mantraku di usia ini.
semoga kelak di masa depan nanti yang barangkali tak lama lagi, semua tanaman itu bisa kunikmati.
selamat menanam
@milaalkhansah
Saat sebuah lemari terasa sempit, sesak, dan penuh, yang harus dilakukan bukanlah menambah lemari baru. Melainkan mengosongkan lebih banyak ruang dari hal-hal yang tidak lagi penting di dalamnya.
tapi ini tak hanya tentang lemari.
Jangan pernah merasa memiliki apa pun bila tak ingin merasa kehilangan sesuatu. Bagaimana mungkin kita menanamkan kepemilikan kepada suatu hal di saat bahkan nafas dan badan yang kita hinggapi saat ini merupakan pinjaman?
@milaalkhansah
apa kabar?
Sungguh, ditanya apa kabar itu melegakan. Meski pertanyaannya berasal dari seseorang yang tidak terlalu dekat sekali pun, meski terlihat seperti sekedar basa-basi semata, meski keadaan kita baik-baik saja, atau tidak baik-baik saja. Namun, sungguh, bagiku, ditanya apa kabar itu sesuatu yang sangat menghangatkan.
Padahal kita tidak bercerita apa-apa, tapi katanya hanya ingin tahu kabar. Padahal semua baik-baik saja, tapi sungguh, pertanyaan apa kabar, apa kabar, ini membuat aku memahami sesuatu : Bahwa bagi sebagian orang kita teringat. Bahwa bagi sebagian orang, kita berharga.
Ah, betapa seringnya kita melewatkan hal-hal kecil yang sederhana hanya karena hal tersebut seakan sudah sangat umum untuk dilakukan—seakan hal tersebut sudah sangat sering kita dapatkan. Padahal jika ditelisik lebih jauh, seringnya hal-hal sederhana nan kecil ini hanya mau dilakukan oleh sebagian orang. Sebagian orang yang kerap menginginkan dan mengusahakan yang terbaik dalam hidup kita, walau tanpa kita sadari.
Sungguh, ditanya apa kabar itu melegakan. Sebab dengannya, kita mampu menyadari bahwa ternyata kita berharga, bahwa ternyata kita masih diusahakan diketahui kabarnya—dalam keadaan prioritas dalam hidupnya yang begitu banyak. Dalam keadaan kita menyadari, bahwa bukan hanya ada kita di dalam hidupnya. Menyadari bahwa dari sekian banyak orang, kita yang terpilih untuk selalu diingat keberadaannya.
Begitu banyaknya hal sederhana dalam hidup yang ternyata harus kita syukuri keberadaannya. Sebab sering kalinya kita kerap merindukan sesuatu yang dulu kita sepelekan keberadaannya. Karena sering kalinya, kehilangan itu baru terasa saat kita baru menyadari kehadirannya.