sekarang tiap ketemu orang yang benar-benar senggol bacok: (baca: kasar, defensif, pokoknya toxic abis lah kalau kata anak zaman sekarang)—yang selalu muncul di pikiranku: who hurt you bro???
yang akhirnya bikin gak lagi mudah marah dan jadi lebih cepat lupain tiap ketemu orang-orang problematik kek gitu. karena jatohnya malah kasian. kasian karena berpikir mereka belum nemuin cara buat release luka mereka dalam cara yang tak merugikan siapa pun—sehingga mereka tak perlu menjadikan orang lain sebagai samsak dan pelampiasan atas segala sakit hati yang mereka rasakan. yah hurt people hurt people.
meskipun di satu sisi sedih dan merasa gak adil juga. karena kek ...hidup gue sendiri juga gak baik-baik aja kok, tapi gue gak menjadikan itu semua sebagai alasan untuk menyakiti orang lain. Kok lu gak bisa gitu juga?
tapiii memang ada banyak hal dalam hidup yang gak perlu kita pertanyain. alasan di balik setiap perlakuan orang lain salah satunya. selain karena bikin makan ati aja, juga karena menemukan jawabannya pun bisa jadi gak bikin kita jadi lebih tenang, malah berpotensi bikin kita makin sakit. karena kadang juga ya, gak ada alasan yg gimana-gimana orang melakukan sesuatu selain karena ya .... ✨pengen aja ✨. zaman sekarang makin banyak manusia sakit guys.
apesnya, ini terjadi pada kaka pertamaku sendiri. menjadi anak pertama perempuan yg sekaligus anak pertama yang dititipkan ibuku ke saudara karena kondisi ekonomi kami saat bapak sakit kacau balau pasti tak mudah. aku sendiri pun menjadi anak kedua yang dititipkan ke keluarga ibuku untuk disekolahkan. Dan akhirnya saat ini aku bisa hidup sendiri, dengan jujur aku bilang aku lebih memilih hidup menderita sendirian daripada harus tinggal dengan orang lain. meskipun orang lain ini notabenenya adalah keluargaku sendiri.
ada banyak pengertian dan pemahaman yang akhirnya mampu kita berikan kepada seseorang saat akhirnya kita menjalani sendiri kondisi yang pernah dia alami.
sekitar tahun 2023, kami berdua pernah ribut besar. ribut yang sampe bikin aku maksa balik ke kota di hari lebaran, padahal paginya aku baru sampe di kampung. selama ini sebagai adik, aku dituntut untuk selalu mengalah, selain itu juga karena aku paling malas bertengkar. sialnya saat itu, kondisi mentalku sedang tidak baik-baik saja. aku sedang tidak bisa berpikir jernih, dan sedang tidak mau utk bersikap lebih dewasa. kami sama-sama meledak.
tahun-tahun baru pun berlalu. hubungan kami yang sempat mendingin akhirnya mulai membaik. membaik bukan dalam artian kami menjadi lebih dekat. melainkan kami akhirnya bisa berada dalam satu ruangan tanpa saling berteriak. tidak pernah ada kata maaf yang terucap. tapi adanya ikatan saudara secara tak sadar mungkin membuat kami berdua tak terbiasa memperpanjang konflik.
namun, bertambahnya tahun yang terlewati pun tak serta merta membuat seseorang bisa berubah ke arah yang lebih baik. dan di sinilah yang bikin sakit: saat kita merasa diri kita sendiri sudah berubah lebih banyak, mengubah perilaku yg kita rasa tak pantas, dan berusaha utk menunjukkan diri kita yg tak lagi sama—tapi di saat yg bersamaan, orang-orang yang kita harapkan bisa berubah juga ternyata terus stuck di kepribadian mereka yang dulu. perubahan itu mungkin ada, tapi bukan ke arah yang lebih baik, namun sebaliknya.
rasanya sedih sekali. seperti ada jurang lebar yang berusaha kita persempit, tapi kelakuan mereka sendiri pun terlihat ingin terus mempertahankan jarak tersebut.
pelajaran baru pun kudapatkan: PR kita adalah memperbaiki diri kita sendiri. mengubah apa yang bisa kita bisa. bukan mengubah & berusaha memperbaiki orang lain—yang akhirnya menjadi salah satu sumber terbesar ketidakbahagiaan kita selama ini:kita merasa bahwa segala perbuatan orang terdekat merupakan tanggung jawab kita untuk membuatnya menjadi lebih baik.
tanpa sadar kita merasa lebih hebat dari Rosulullah, yang bahkan dengan segala perangai luar biasa, dan kepiawaian beliau dalam berdakwah, masih tidak mampu membuat paman beliau, Abu Thalib, berpindah keyakinan atau masuk ke dalam Islam.
lalu siapalah diri kita ini dibanding beliau?
ini seharusnya membuat kita menyadari, bahwa ikhtiar yang bisa kita lakukan hanyalah dengan menunjukkan bahwa kita sudah berubah. kita bukan lagi seseorang yang setahun,atau bertahun-tahun lampau mereka kenal.
adapun persoalan apakah mereka bisa ikutan berubah atau tidak, itu semua sudah bukan tugas kita lagi. mengubah seseorang adalah tugas Allah. hidayah berada di tangan-Nya. Dia yang memilih untuk kepada siapa saja diberikan-Nya. tidak peduli seberapa besar keinginan kita agar mereka berubah menjadi lebih baik, ada hal yang telah berada di luar dari kuasa kita, yaitu, takdir.