"Dia juga mau ke Bali. Sana ketemuan aja."
Sudah hampir setahun kami belum bertemu. Seingatku, terakhir dia mengajakku pergi waktu di Jogja.
"Ayo ngobrol. Udah lama kita gak brainstorming bareng. Kayak dulu."
Waktu itu jelas kutolak. Waktu itu aku masih marah. Bukan. Bukan karena aku masih ada rasa sama dia. Tapi lebih kepada fakta bahwa sahabat baikku sendiri tidak cerita apapun ke aku kalau sekarang mereka sudah bersama. Padahal, sahabatku adalah yang paling tahu ceritaku dulu. Fakta itu menyakitkan buatku karena hanya aku yang belum tahu antara kami berempat. Bahkan bisa dibilang aku yang terakhir kali tahu. Aku mengerti jika ada rasa tidak enak. Tapi itu sudah dulu sekali. Sakit rasanya tidak dipercaya sebagai teman cerita..secanggung apapun itu, aku tetap sahabatnya ya kan?
Singkat cerita, kami sepakat bertemu, di tempat yang cukup aneh. Bali. Kami sama-sama dalam kondisi berlibur. Dia sendiri aku bersama mamaku.
"Yasudah ayo kita ketemu. Jam berapa?"
"Belum tahu. Nanti aku tanya Mama dulu, dia yang pegang tiket."
"Iya lah. Kalau pulangnya sore nanti aku resched jadi malam deh."
"Hmm. Kalau Mama pulang jam berapa?"
"Yaaa kan belum kutanya. Kenapa sii?"
Hari pertemuan tiba. Aku selalu senang bertemu sahabat lama. Kujabat erat tangannya.
"Oh my God! It's been a long time!"
"Wow! Hahaha iya. Sebentar aku lagi telpon Ibu."
Samar kudengar pembicaraan mereka
"Aku lagi ketemu temenku Bu yang dari Surabaya."
"Eh iya Bu bener. Kok Ibu bisa tau? Bisa kenal? Haha. Bu sinyalnya putus-putus"
"Ke bandara duluan. Kenapa? Mau ketemu?"
"Haha. Kukira tadi barengan sama kamu. Yuk jalan.
"Yuk. Cari tempat dingin dong. Salah si aku ni ketemuan di Beachwalk, panas."
"Chul, Maumere lebih panas. Ini sejuk."
"Gila. Ini neraka bocor!!"
"Ih kamu mah. Mana sii biasa aja ini."
"Setahun aku kerja dalam kantor full AC. Keok aku sama panas-panas gini."
Akhirnya kami memilih makan ayam saus setelah berputar-putar mall yang membingungkan. Kami mengobrol banyak sekali. Tentang mimpiku, mimpinya. Wejangannya untukku dan penyrmangat dariku untuknya. Jelas kami saling rindu bercerita selepas dan selama ini. Tanpa canggung dan tanpa rasa marah. Kami hanya membahas kami. Membahas aku dan hariku juga dia dan harinya. Tidak ada nama lain terselip dalam percakapan panjang kami sekalipun teman-teman kampus kami.
Tiba waktu berpisah. Kusampaikan hadiahku untuknya. Balasan dari hadiah yang pernah dia belikan waktu ku mau ke Thailand.
"Selamat datang di dunia konservasi"
Dia melepasku seusai menjabat erat tanganku. Ada perasaan aneh yang hanya aku mungkin yang bisa tahu. Seperti ada banyak hal yang belum selesai..
"Iya makasih yaa! Sampai ketemu lagi!"
"Iya. Hati-hati pulang ke Surabaya."
Beberapa hari kemudian kembali ada obrolan dan berakhir dengan kembali hal yang mungkin hanya aku yang tahu.
"Belum lah. Ke Semarang dong kan masih liburan."
"Asyikkk. Puas-puasin deh sana habiskan uang. Hahah."
"Hmm, atau mungkin aku pergi ke Surabaya ya? Gimana? Haha"
Aku tidak tahu maksudnya, bercanda? Serius? Dia seperti itu, masih seperti itu. Ketika kubilang dia yang paling tahu mimpi gilaku, segala kenekatanku, namun masih bisa mencekokiku dengan kerasionalan yang dia ramu dengan begitu sopan sehingga mudah diterima oleh jiwa pemberontakku.
Dia masih seperti itu, penuh dengan tanya, tanya untuk dirinya sendiri dan untukku.
Kamu masih seperti itu, namun lebih baik.
Kami kembali tenggelam dalam candaan konyol diselipi konsultasi serius urusan pekerjaan. Dan lagi, tak ada nama lain terselip di sana. Hanya aku dan keseharianku juga dia dengan kesehariannya