
izzy's playlists!
sheepfilms

titsay

shark vs the universe
Peter Solarz
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
No title available

No title available

roma★
🪼
Cosimo Galluzzi

⁂
Lint Roller? I Barely Know Her
taylor price
One Nice Bug Per Day

tannertan36
cherry valley forever
YOU ARE THE REASON
Sweet Seals For You, Always
Keni

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from Poland

seen from Malaysia

seen from Canada
seen from United States
seen from Netherlands

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from Poland

seen from United States

seen from Germany

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
@mipanzuzuu
C. Penyambungan Kabel Fiber Optik
C. Penyambungan Fiber Optik
Audio
Penyambungan kabel fiber optik merupakan proses penyambungan pada kabel fiber optik yang mengalami kondisi putus sehingga diperlukan perbaikan agar dapat digunakan kembali dengan baik. Berikut beberapa hal yang disiapkan dalam penyambungan fiber optik.
Alat dan Bahan Penyambung Kabel Fiber Optik
Terdapat beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan ketika melakukan penyambungan serta pemasangan jaringan fiber optik.
a. Core atau inti Core atau inti adalah bahan yang terbuat dari silica. Core berfungsi sebagai tempat merambatnya cahaya.
b. Cladding Cladding merupakan lapisan yang terdapat pada lapisan kedua setelah bagian core. Cladding berfungsi sebagai pelindung interferensi dari kondisi luar. Cladding adalah batas reflektif atau batas pantulan sinar. Cladding ini terbuat dari bahan dengan kualitas baik sehingga cahaya yang memantul akan tetap terjaga. Cladding umumnya terbuat dari bahan acrylat. Cladding dan core telah menyatu dan tidak dapat dipisahkan.
c. Jacket Bahan yang dibutuhkan untuk penyambungan atau pemasangan fiber optik yakni jacket. Jacket merupakan pelindung core secara fisik dari gangguan kondisi lingkungan luar.
d. Loose tube cable Loose tube cable merupakan kabel yang dirancang untuk kondisi lingkungan yang tidak baik. Misalnya, loose tube cable dipasang di jala-jala dan dibentangkan di tiang-tiang. Loose tube cable memiliki lumuran gel. Lapisan gel ini berfungsi sebagai pelindung serat optik dari kelembapan ketika terdapat air dan terjadi pengembunan. Penggunaan gel ini berfungsi membuat konstruksi loose tube cable sangat baik untuk kondisi lingkungan yang lembap.
e. Tight buffered cable Tight buffered cable merupakan kabel untuk keadaan dalam ruangan. Hal tersebut karena tight buffered cable tidak memiliki lapisan pelindung seperti loose tube cable. Tight buffered cable memiliki connectability dan flexibility.
f. Ribbon Ribbon merupakan alat selanjutnya untuk menyambung dan memasang fiber optik. Ribbon merupakan benda yang memiliki beberapa lapisan, seperti jacket, strength member, binder, buffer, dan optical fiber.
g. Patch cord Patch cord merupakan perangkat telekomunikasi untuk port dengan koneksi optik menggunakan plugable port SFP. Patch cord dapat dilihat pada Gambar 4.12.
h. Single mode Single mode merupakan kabel optik yang dapat membawa traffic dengan kapasitas bandwidth lebih besar dan memiliki jarak lebih jauh. Tipe single mode ini memiliki kualitas pertahanan pulsa cahaya dengan baik.
i. Multi mode Multi mode merupakan kabel yang berfungsi menyabarkan sinar melalui serat optik secara bersamaan. Multi mode ini dapat dilihat pada gambar berikut.
j. Optical Connector Optical Connector merupakan kabel yang memiliki ujung di kabel fiber optik. Optical connector ini memiliki beberagam jenis tipe perangkat yang terkoneksi.
k. Pigtail Pigtail merupakan kabel yang memiliki satu buah konektor pada bagian ujung. Pitgail akan disambungkan pada kabel fiber optik yang belum memiliki konektor. Pitgail dapat diinstal di OTB dan disambung pada tarikan kabel optik yang baik.
l. Patch Core Patch core merupakan kabel optiik yang memiliki bagian dua sisi konektor. Patch Core untuk menghubungkan perangkat menggunakan bantuan optic jumper.
m. Small-From Plugable (SFP) SFP merupakan hot pluggable tranceiver berupa device yang mengirim dan menerima sinyal informasi pada media fober optik. SFP dapat dipasang pada bagian port modul di perangkat komunikasi data.
n. Wall mount Wall mount merupakan terminasi pada jaringan fiber optik yang dapat menempel di dinding. Wall mount ini dapat dilihat pada gambar 4.19.
Konfigurasi IP Address, Subnetting dengan VLSM, dan Subnetting Mask
C. Tugas Praktik
Konfigurasi IP Address, Subnetting dengan VLSM, dan Subnet Mask
1. Tujuan
a. Peserta didik diharapkan mampu melakukan konfigurasi IP address di komputer jaringan.
b. Peserta didik diharapkan mampu memahami konsep teknik subnetting dengan metode VLSM. c. Peserta didik diharapkan dapat memahami teknik penggunaan subnet mask.
2. Landasan teori
a. Variable Length Subnet Mask (VLSM)
VLSM adalah cara melakukan implementasi pengalokasian blok IP. Hal tersebut dilakukan oleh pemilik network (network administrator) dari blok IP yang telah digunakan (bersifat lokal dan tidak dikenal di internet). Terdapat beberapa keuntungan dari subnetting VLSM. Keuntungan-keuntungan tersebut dipaparkan dalam poin-poin berikut.
1) Umumnya, dapat mengurangi lalu lintas jaringan atau reduced network traffic.
2) Dapat dijadikan sarana mengoptimalkan cara kerja jaringan atau optimized network performance.
3) Menyederhanakan pengelolaan yang umumnya disebut simplified management.
4) Untuk alternatif pengembangan jaringan yang jarak geografisnya jauh (facilitated spanning of large geographical distance).
5) Dapat menghemat ruang alamat.
Bentuk lain dari teknik subnetting yakni berupa VLSM. Pada umumnya, subnetting yang digunakan tidak berdasarkan jumlah banyaknya IP dalam satu subnet atau class. Namun, hanya ingin membuat banyak host sehingga jaringan yang banyak dapat dipisah pada subnet ataupun class.
b. Skenario
Pada suatu perkantoran, jaringannya menggunakan IP address class C dengan alamat network satu sembilan dua titik, satu enam delapan titik, nol titik, nol titik. Jaringan dibagi menjadi lima buah subnet per divisi. Masing-masing divisi tidak dapat saling terhubung atau berkomunikasi melalui jaringan lokal. Rincian host per divisi diuraikan sebagai berikut.
1) Subnet #1 (Divisi Keuangan) memiliki jumlah 50 host.
2) Subnet #2 (Divisi Tata Usaha) memiliki jumlah 50 host.
3) Subnet #3 (Divisi R&D) memiliki jumlah 50 host.
4) Subnet #4 (Divisi HRD) memiliki jumlah 30 host.
5) Subnet #5 (Divisi Pelayanan) memiliki jumlah 30 host.
Rincian di atas tidak akan tercapai jika menggunakan statik subnetting. Oleh karena itu, jika menggunakan subnetting dengan nilai dua lima lima titik, dua lima lima titik, dua lima lima titik, satu sembilan dua. hanya akan mendapat 4 subnet dengan setiap subnet memiliki 64 host. Namun, untuk kasus ini dibutuhkan 5 subnet. Apabila telah menggunakan subnet dengan nilai 255.255.255.224, kemungkinan dapat dibuat sebanyak 8 subnet. Namun, setiap subnetnya hanya memiliki jumlah host maksimal 32 host, padahal membutuhan 50 host untuk 3 subnet dan 30 host untuk 2 subnet.
c. Perhitungan menggunakan VLSM
1) Diketahui alamat network dengan nilai satu sembilan dua titik, satu enam delapan titik, nol titik, nol. Alamat tersebut masuk ke kelompok IP kelas C sehingga subnet mask default-nya yaitu dua lima lima titik, dua lima lima titik, dua lima lima titik, nol.
2) Pertama, tentukan netmask untuk tiga divisi yang jumlah client maksimumnya adalah 50 client atau 50 host. Apabila telah menggunakan teknik subnetting CIDR, dapat menggunakan netmask dengan nilai dua lima lima titik, dua lima lima titik, dua lima lima titik, satu sembilan dua, dengan maksimal host yaitu 62 yang memiliki rincian berikut.
a) Jumlah subnetnya sebagai berikut.
n = 2x
n=2²
n=4
b) Menentukan jumlah host setiap subnet.
Host=2-2
Host=26-2
Host = 62 host