Tentang Gelar Magister Istri
Dari cerita beberapa teman, konon katanya, banyak suami yang melarang istrinya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2, apalagi jika ke luar negeri. Menurut saya ini adalah hal yang aneh. Kenapa? Karena menurut saya jenjang S2, selain sebagai bentuk aktualisasi diri, juga dapat menjadi gerbang menuju penghidupan yang lebih baik.
Dengan titel magister, apalagi dari universitas luar negeri, seseorang bisa mendapatkan gaji yang lebih besar daripada gelar sarjana sehingga istri bisa membantu rumah tangga lebih besar secara finansial. Tapi bukan hanya itu poinnya.
Dengan gaji yang lebih besar, istri dapat lebih mandiri secara finansial sehingga keuangan keluarga tidak hanya bertumpu pada suami. Hal ini menurut saya berdampak banyak pada hubungan suami-istri. Pertama, secara finansial, kehidupan berkeluarga lebih aman karena masing-masing bisa saling menyokong bila terjadi sesuatu terhadap satu lainnya. Sehingga apabila terjadi kecelakaan atau kematian, rumah tangga bisa berjalan sebagaimana mestinya - tagihan bisa dibayar, anak bisa disekolahkan, cicilan bisa dilunaskan, dan lain-lain.
Kedua, kemandirian finansial seorang istri akan berujung pada kesetaraan hubungan dalam berumah tangga. Poin ini penting karena saya sangat mendukung konsep kesetaraan gender. Namun tentunya kesetaraan tidak dapat bisa tercapai jika ada ketergantungan antara satu pihak kepada pihak lain. Sehingga apabila ada yang berjuang untuk kesetaraan, yang terlebih dulu harus diperjuangkan adalah kemandirian. Dan di zaman modern ini, akar dari semua kemandirian adalah kemandirian finansial. Tanpa kemandirian finansial, seorang istri dapat lebih diperlakukan semena-mena oleh suaminya karena dia kehidupan dia dan anaknya bergantung pada sang suami. Sehingga dia tidak memiliki posisi tawar dan harus menerima apapun keputusan suaminya. Apabila seorang istri memiliki kemandirian finansial, dia memiliki posisi tawar yang setara dengan suaminya sehingga tidak perlu menerima semua perlakuan suaminya. Bahkan ekstrimnya, sang istri dapat dengan mudah menceraikan sang suami tanpa takut akan keberlangsungan hidupnya dan anaknya karena dia sudah bisa menyokong kehidupan dia dan anaknya.
Jadi, dengan dua alasan singkat di atas, saya sangat mendukung istri saya untuk mendapatkan gelar magister, jika bisa dari universitas luar negeri. Lagipula, istri saya ingin menjadi peneliti sehingga gelar magister merupakan kebutuhan mendasar dari karirnya dan itu harus saya dukung.