Say hi to misscuriosityinme! 😍 welcome back darl, nice to see you again ~
almost home
cherry valley forever
NASA
🩵 avery cochrane 🩵
untitled
d e v o n
hello vonnie
TVSTRANGERTHINGS
𓃗
I'd rather be in outer space 🛸

oozey mess

No title available

PR's Tumblrdome

⁂
Xuebing Du
h
ojovivo

@theartofmadeline
trying on a metaphor
Cosimo Galluzzi

seen from Czechia

seen from Australia
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from Bangladesh
seen from Bangladesh

seen from Venezuela

seen from Spain
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Mexico
@misscuriosityinme
Say hi to misscuriosityinme! 😍 welcome back darl, nice to see you again ~
Cerita Dua Garis
So happy to announce that...yes, we’re expecting! Alhamdulillah :)
Pertama kali tau langsung disaranin ke dokter SPOG, and she told me that it’s been 4 weeks. Sempet bingung dan khawatir soalnya hari itu juga saya ada tugas di luar kota sampai 5 hari kedepan. Bojo ask me am i good enough for work but i’m sure i’m totally fine. Jadi berangkatlah kami berdua setelah makan siang.
Ohya, kenapa Bojo bisa ikut penugasan?
Jawabannya jelas: karena dia bisa diandalkan setiap ada tugas per-event-an :D
Punya status bumil ternyata seru juga, karena bisa dibilang ini semacam challenge untuk menguji seberapa jauh kita bisa menjadi orang dengan versi lebih baik. Menurut saya sih. Memasuki usia 6 weeks, beberapa prinsip yang saya ambil (dan semoga konsisten sampai akhir) dari hasil konsultasi dokter, browsing dan saran orang sekitar adalah:
1. You are What You Eat
Buat saya yang doyan makan, definisi hamil itu kurang lebih sama kaya puasa 9 bulan. Banyak banget pantangannya: hindari makanan micin dan instan seperti indomie, minuman teh dan kopi yang berkafein, makanan pedas bersantan yang memicu kontraksi, makanan yang dibakar seperti sate (beberapa bilang boleh asal matang, tapi sebaiknya dihindari), makanan setengah matang dan olahan dengan pengawet serta keju & susu yang tidak dipasteurisasi. Quite challenging, right?
Karena masih trimester pertama, penting untuk kita makan makanan yang mendukung pertumbuhan otak dan saraf tulang belakang janin seperti sayuran hijau, buah-buahan selain nanas durian dan anggur, makanan rendah karbo dan glukosa seperti gandum serta kacang-kacangan seperti kacang hijau. Unfortunately kenyataannya ngga semudah itu. Buat saya, mengkonsumsi sayuran hijau saat hamil itu rasanya seperti makan logam karatan :3
Sejauh ini berat badan saya udah naik 3 kilo, padahal dokter bilang tambahan berat badan yang disarankan ibu hamil sampai melahirkan maksimal hanya 12 kilo. Itu artinya, pola makan saya masih harus dimanage dan diimbangi dengan beberapa olahraga ringan tapi rutin seperti renang dan jalan kaki.
2. Push your Ego
Challenge terberat kedua setelah makanan adalah mengendalikan ego. Mungkin ngga semua orang sama seperti saya, tapi kalau boleh diakui, menerima kenyataan bahwa saya hamil butuh waktu dan sedikit kontemplasi. Bukan berarti ngga happy, tentu semua ibu pengen bisa punya keturunan yang sehat dan normal. Tapi bahwa saya harus hamil sendiri, di luar kota yang jauh dari suami dan keluarga, dengan kondisi kerja yang sering dilakukan di luar kantor, bikin saya mikir: bisa nggak ya?
Awalnya saya pikir: oke, saya pasti bisa. Tapi saya nggak mau kalau alasan hamil ini bikin saya nggak bisa total di kerjaan.
Sebagai PIC di event 3 hari itu, saya memang susah untuk nggak mondar mandir. Backstage - booth - press conference - holding room yang lokasinya cukup jauh memaksa saya harus sedikit lari supaya nggak ada yang missed. Unexpectedly, di akhir event, setelah kami pulang jam setengah 12 malam, saya flek. Cukup banyak.
Panik tapi mencoba tenang, saya browsing. Ternyata flek saat hamil wajar, tapi kalau banyak dan terus menerus itu pertanda nggak baik. Saya ikutin saran ‘dokter google’, istirahat dan minum air putih yang cukup. Jangan beraktivitas. Jadilah satu hari pasca event itu saya jadi puteri tidur seharian, hahaha.
Lesson learned: sekarang ngga ada yang namanya kerja sendiri, kalau mau aktivitas lumayan berat harus ‘ijin’ dulu sama si doi.
3. Watch your Mind and Attitude
Percaya atau engga, pikiran dan sikap yang kita punya ataupun terima selama hamil itu sedikit banyak berpengaruh ke kondisi janin. Saya pernah dapet cerita dari beberapa orang sekitar, even otak dan telinga janin belum terbentuk, dia bisa ngerasain apa yang dirasakan oleh kita sebagai ibunya. Stress berlebih, perkataan dan sikap yang kurang baik dari kita ataupun lingkungan sekitar akan memunculkan negative vibes yang bisa diterima si janin. That’s why penting bagi kita untuk bisa jaga mood, karena susah juga kan memilih lingkungan yang bebas aura negatif :)
Salah satu cara yang saya yakini bikin good mood adalah dengan reciting Quran, terutama surat yang menceritakan tentang kehidupan surga atau kisah Nabi selama masih anak-anak. Beberapa surat yang direkomendasikan untuk dibaca selama kehamilan adalah Q.S. Luqman (34 ayat), Q.S. Yusuf (111 ayat), dan Q.S. Maryam (98 ayat). Tapi bukan berarti surat yang lain nggak bermanfaat juga ya, kembali lagi ke preferensi masing-masing kita.
But i can’t deny i’m listening to the music too. Somehow pas lagi suntuk atau ngantuk di kantor saya tetep dengerin lagu via headset. Tapi dengan kondisi seperti ini, saya mulai selektif dan nggak sembarangan dengerin lagu yang mellow dan galau apalagi yang liriknya kacau. Gimanapun caranya, naikin moodbooster supaya emosi stabil itu penting banget selama masa hamil.
4. Be Happy & Healthy
To be honest, waktu bikin tulisan ini kondisi badan lagi ngga fit ((thats why jadi punya waktu luang juga buat posting :)) tapiii sayangnya trimester pertama ini nggak memungkinkan untuk mengkonsumsi obat sama sekali. Dokter di klinik kantor kasih obat rhinos & paracetamol, tapi berdasar review di google dan saran orang-orang sekitar, sebisa mungkin ibu hamil nggak mengkonsumsi obat sama sekali. Pening juga kan pala udah cenut cenut, idung meler ga karuan, batuk mulai berdahak. Obatnya cuma bisa bedrest, banyakin minum air putih sama madu.
Ada yang bilang juga banyakin makan buah terutama yang banyak mengandung vit C, tapi ntah kenapa 2 hari ini saya makan buah mangga manis dan hasilnya malah flek (lagi) - mungkin ini akibat ke-sotoy-an menganalisa review google dan nggak mem-filter saran orang? Atau malah sebetulnya nggak nyambung? Apapun itu, alhamdulillah sampai sekarang saya nggak ada ngalamin yang namanya morning sickness atau mual-mual. Kalau kata si bos, apapun kondisinya, we have to be happy and healthy ~
At the end, saya sharing bukan berarti pilihan saya yang paling bener ya. Siapa tau ada yang punya pengalaman lain boleh dishare di mari. Last, let’s begin our new chapter life, preggo mommy!
3rd Monthversary
Belum ngerasa ada yang berubah antara before - after married life. Semua sama aja: bangun pagi, berangkat ke kantor, kerja, pulang dari kantor, tidur. Sendiri. Apalagi ramadhan ini, yang seharusnya bangun pagi siapin sahur atau pulang kantor siapin buka. Yang ada sahur cuma sama kurma, buka cuma sama temen kerja atau bahkan; sama komputer kantor. Satu kali saya pernah ngeluh ke dia, tengah malem sebelum sahur. Saya udah ngga kuat di kerjaan yang baru ini, dari pagi sampe malem entah weekdays entah weekend, kerjaan nggak pernah ada habisnya. Bukannya ngademin, dia malah bilang, "Kamu termasuk orang yang nggak bersyukur." Bukannya ngebelain saya, dia malah bilang: "Kamu tau, banyak orang di luar sana juga sama kaya kamu. Kerja dari pagi sampe malem, cari nafkah yang mungkin bahkan belum tentu bisa penuhin kebutuhan dia. Kamu nggak peka? Kamu dibayar negara dengan pendapatan yang berkali lipat dari mereka itu karna kamu memang seharusnya kerja berkali lipat dari kebanyakan orang itu." Yah, mungkin bener juga yang dia bilang. Saya coba lebih peka sekaligus ngebuktiin yang dia bilang. Indeed, he's true. Ngga usah jauh-jauh dari circle saya: driver gojek/grab/uber yang tiap hari anterin saya pulang pergi kantor, ibu-ibu penyapu jalan di sekitaran istana, bapak-bapak penarik gerobak sampah dengan anak kecilnya. Mungkin karena rutinitas, saya jadi nggak peka sama mereka. Saya nggak pernah notice kalo mungkin mereka juga sama aja kaya saya: pergi pagi pulang malam. Bahkan pernah waktu itu karna konsumsi rapat kami berlebih, saya coba ajak tim untuk bagi-bagi makanan ke orang-orang yang membutuhkan. Ternyata ngga butuh waktu lama nemuin mereka di jalanan, yang dengan kondisi kelihatan kelaparan itu, mereka ada sekitaran kantor sendiri :" Dia benar, saya memang termasuk orang yang nggak bersyukur. Nah mungkin ini, satu satunya, yang membedakan before - after married life: saya sekarang punya imam, yang bukan phisically imamin solat saya, tapi ngingetin saya kalo salah, ngesupport kerjaan saya sebisa dia lakukan, termasuk ikhlas dan ridho kalo saya harus kerja jauh dari dia. Happy 3rd Monthversary Bojo. Semoga kita semakin didekatkan secara lahir & batin ❤ PS: tapi doi juga pernah ngambek gara-gara nggak dihubungi selama 2 hari 😂😝 maaf ya Bojo. I love you.
Thanks God i found him 😁 #blessed
I thought we were friends, but i guess i was wrong
They called it Bridal Shower
My supportsystems, yang gampang banget bikin saya bisa ketawa karena kekonyolan mereka, yang phisically ketemu mereka cuma 5 days a week tapi grup messenger ngga pernah berhenti selama 24/7, secara sengaja bikin drama buat ngejebak saya ikutan mandi pengantin a.k.a bridal shower after office hour sekitar satu minggu sebelum saya menikah. Sebut saja si tuti (tukang tipu) 1, dia cerita mau ada meeting seharian di daerah cikini sampe malem dan butuh temen nginep disana. Saya tolak tawaran dia dengan alasan urusan bagi-bagi undangan belum kelar (seriously) (h-10 belom kelar) (kapan lagi gue ngurus kalo ngga before/after office hours) mungkin karena ngerasa gagal, muncullah tuti 2 yang bilang kalo dia mau nemenin nginep tuti 1, tapi butuh temen buat ngegym bareng selama tuti 1 meeting. Saya masih dengan kekeuh nya bilang engga, dengan pertimbangan: kan masih ada si tuti 3? Akhirnya si tuti 3 pun beraksi, dengan sok sibuknya dia minta saya buat nemenin tuti 2 karna dia mau mulai kerjain tesis. Awalnya saya masih agak ragu sampe dia bilang kerjaan dia harus kelar malem itu juga, which means mau lembur di kantor.
Okelah, saya pikir ngga ada salahnya ngeskip satu hari ngga urusin weddingprep buat temen ini.
Pas mampir kosan buat ambil keperluan nginep, tiba-tiba hujan. Lumayan deres dan lama. As we all know kalo hujan bawaannya apa kan? MAGER to the max. Saya bilang ke tuti 2, kalo mau ngegym duluan boleh ya, gue nyusul.
*ternyata di balik kemageran saya, ada 3 anak kelaparan yang udah mulai panik kalo saya ngga jadi berangkat kesana* 😝
Sampe di lobby saya dijemput tuti 1, kebetulan dia pas lagi break meeting. Dianterlah ke kamar buat jemput tuti 2 berangkat ngegym. Surprisingly begitu pintu kamar dibuka kelihatan si tuti 2 lompat dari kursi. Lompat dari kursi, i mean, si tuti 2 beneran LOMPAT dari kursi. Sampe jatuh ke balik kasur! Hahahahaa saya sampe ketawa liat tingkah dia di balik kasur, tapi ketawa itu berubah jadi terharu biru liat kelakuan mereka kaya gini:“)
They might be crazy as a fool, but i love them. Gimana ngga, tuti 1 sudah mendedikasikan hidupnya sebagai advisor saya untuk semua urusan mulai dari fashion sampai living consultant 😁 ngga tau kenapa cuma dia yang bisa ngerti maunya saya apa meskipun saya ngga banyak ngomong, cuma dia yang mau boncengin saya pake motor seharian (dari kering, basah kehujanan sampe kering lagi!) hunting kos/residence di jakarta buat tempat tinggal saya after married. Mungkin karena karakter keluarga kami yang hampir sama yang bikin pertemanan kami awet meskipun ga pake pengawet. Nyaw.
Tuti 2, anak alay berbakat yang galak namun berhati malaikat. Meskipun kami beda keyakinan, dia adalah tuti yang paling concern soal jadwal solat kami (meskipun juga kadang pertanyaannya suka ngeselin 😆 cuma dia yang suka ngelontarin pertanyaan "ih mba kenapa ga puasa ya, ini kan senin” atau “ih mba, laa ta'kul qayyiman (seriously she said this, yg artinya jangan makan sambil berdiri)” hahahaa. Lucky me having her who always remind me in a good way.
Terakhir ini tuti 3, yang menjuluki dirinya “my ex-sibling” karena saya dirotasi ke bagian lain. Tuti 3 termasuk tetangga kubikal yang selalu ingat saya kalo dia punya makanan (tapi saya ngga pernah bisa sebaliknya 😊 ). Mungkin dia ngga pernah tau kalo selama ini saya selalu terinspirasi dari dia mulai dari menu makanan, model kacamata sampai model outfit kantor (karena phisically kami lumayan mirip jadi bisa lah ya nyontek dikit).
Untuk urusan acting, mereka jagoannya. Karena rencana busuk mereka ngga pernah kecium sama sekali. H-4 sebelum saya married rupanya mereka bikin ulah lagi. Bukan drama, tapi permainan ibu peri.
Tuti 123 bilang sih mereka ga sengaja bikin rencana ini, cuma gara-gara saya mau diajakin buka puasa di daerah kuningan, akhirnya mereka ambil kesempatan ngerjain saya lagi pake kostum ibu peri keliling mall 1 ke mall yang lain. Totally crazy & dunno why i was just laughed all the way! Orang-orang ngira saya dikerjain karena ulang tahun ala bocah kekinian. Padahal kami ber-empat bukan lagi anak sekolahan :p
After all, meskipun diet saya menjelang nikah gagal, salah satu nikmat Tuhan yang ngga bisa saya dustakan adalah mereka. They are more than just a best friend! Mungkin ngga selamanya kita bisa sama-sama, kaya tuti 4 yang akhirnya pergi nun jauh di surabaya sana. But remember sis, you already have a special place here.
In the deepest of my heart <3
Talk about the Invitation
Restu menikah itu jadi kado terbaik ulang tahun saya di umur 25. It’s more than enough. Jadi saya ngga punya permintaan macam-macam untuk acara pernikahan. Konsep acara semuanya ibu yang mengatur. Termasuk juga soal jumlah tamu undangan.
Later on after married, saya baru tau ternyata ini bisa jadi hal yang sensitif untuk dibahas. Seandainya sanggup, kami tentu punya keinginan untuk mengundang semua orang. Tapi kita punya keterbatasan kan? Termasuk keterbatasan waktu, tenaga dan dana.
Beberapa hari setelah kami menikah, banyak pertanyaan yang muncul di messenger & sosmed kami: loh udah nikah? Kok nggak ada kabar? Kok ngga ada undangan?
Percayalah, sesungguhnya pertanyaan semacam itu sangat menyakitkan 😁
Jauh jauh hari sebelum acara, kami sudah membuat list tamu undangan. Namun karena satu dan lain hal, list tamu undangan harus kami split karena dari keluarga pasangan berinisiatif mengadakan acara unduh mantu. Unexpectedly, beberapa bulan sebelum acara, kantor punya kebijakan merotasi pegawai dan saya termasuk salah satu pegawai yang dipindah ke bagian dengan load kerja lebih banyak. Kondisi saya yang harus beradaptasi dengan pekerjaan baru memaksa saya harus fokus, apalagi sering lembur menjelang cuti. Ditambah lagi dengan posisi saya yang jauh dari rumah, menghabiskan waktu dan tenaga pulang pergi jakarta-surabaya.
Menjelang hari H, saya mulai kalut. Banyak undangan belum tersebar. Saya terpaksa meminta bantuan beberapa teman. Tapi mungkin karena kesibukan mereka juga dan waktu yang relatif sudah sangat dekat, banyak undangan yang akhirnya ngga bisa tersebar. Secara fisik maupun online.
Nah, kalau saja orang-orang mengucapkan selamat dan memberi doa tanpa menanyakan undangan, bukannya bikin kami jadi happy? Tanpa menambah beban pikiran dan perasaan bersalah. Of course we would, but obviously we can’t.
Pikiran ini yang terus mengganggu saya sampai akhirnya saya merasa perlu untuk membuat catatan ini. Menurut saya ini bisa jadi pelajaran buat kita semua, khususnya saya sendiri juga, untuk tidak berpikir tentang KITA tapi MEREKA, yang seharusnya di hari bahagianya itu perlu kita doakan bersama meski tanpa keberadaan kita.
Dan mulai sekarang, saya juga mau coba untuk lebih menghargai undangan. It might be a cheap, tiny single paper but means everything. Once you’re invited, you should come or at least, give them your best pray. Because you’re special.
So guys, kami minta maaf atas keterbatasan kami ya, ngga bisa kasih kabar maupun undangannya satu-satu. But trust me, tidak ada undangan bukan berarti kami enggan bersilaturahim kok. So, let’s be friends forever! :)
.Tie the Knot.
It’s been two weeks since i marry my bestfriend! So it’s really true when someone told us bisa jadi, orang yang ada di sekelilingmu adalah jodohmu sendiri.
Kami kenal 1 september 2012, satu hari setelah saya ulang tahun. Kami baru pertama kenal, tapi hari itu juga dia ajak saya jalan. Saya inget jaman itu lagi hits film perahu kertas. Karena saya suka novelnya, akhirnya berangkatlah kami berdua ke tunjungan plaza. Dengan motor kami sendiri sendiri.
Waktu itu saya ngga ada pikiran mau in relationship sama orang. Tahun pertama sampai ke - III saya di kampus habis untuk belajar, bermain dan berorganisasi :)) karena tahun ke IV udah tinggal skripsi, rasanya kurang seru aja kalo ngga mencoba tantangan baru. Akhirnya setelah menolak berbagai tawaran untuk join organisasi sana sini, pilihan saya jatuh pada Kementerian Riset Bisnis dan Akademik BEM Universitas Airlangga.
Dengan bergabungnya saya di sana, otomatis hubungan saya dan dia hanya sebatas teman baik dan profesional kerja, dalam artian dia sebagai Wakil Presiden BEM waktu itu jadi supervisor saya selama sisa waktu kepengurusan.
Tapi di bulan berikutnya, dia kenalin saya ke ibunya di acara kampus pada suatu malam. Saya udah agak keki aja, bisa bisanya ini orang baru nonton sekali udah kepedean anggep saya gebetannya. Ternyata saya yang kepedean: dengan logat suroboyan-nya yang kental, dia bilang ke ibunya “Mak, iki lho mak koncoku sing tak ceritani wingi. Ayu yo?”. Hahahaa, dasar kelakuan. Saya cuma bisa ketawa dalem ati.
Besoknya dia ajak saya naik rooftop gedung rektorat lewat pintu tersembunyi. Dari atas sana saya bisa liat danau kampus yang mantulin cahaya lampu-lampu kota surabaya. Kalo dibayangin kayanya indah banget ya, padahal rooftop rektorat itu sendiri cuma sisa bangunan yang belum terpakai. Kayu, pasir, batu-batuan masih berserakan di sana. Tapi saya suka. Haha. Saya suka dia dari sana :>
Maybe it sounds weird, tapi saya bisa suka sama orang dari hal-hal sesimpel itu.
Dari sana akhirnya kami saling kenal satu sama lain. Saya suka ngobrol sama dia. Setiap event yang saya handle, dia selalu ada bantuin saya di sana. Sebelum pulang kampus kami selalu makan malam sama sama. Sampai akhirnya kami beneran jalan. Tapi kami selalu ngebantah kalo orang-orang bilang kami pacaran. Sampai konflik demi konflik di internal kampus bermunculan. Sampai saya lulus duluan. Sampai kami harus menjalani LDR an. Sampai akhirnya orangtua juga belum bisa kasih restu saya sama dia buat lanjut ke satu hubungan, yang jauh lebih serius dari sekarang.
Memang jadi hal yang wajar kalau orangtua punya keinginan anaknya yang sudah dibesarkan dan dididik dengan susah payah ini, menikah sama orang yang sudah mapan, dengan latar belakang keluarga yang selevel, dan masa depan yang cerah. Tapi saya punya pertimbangan lain soal ini. Bukan bermaksud men-deny anjuran agama dalam memilih pasangan. Tapi yang saya yakini benar akan tetap saya perjuangkan.
Dia lahir dari keluarga sederhana. Pernah dia cerita jaman sekolah dulu, dia bantu ibunya cari uang karena ayahnya sakit sakitan. Mulai dari juru parkir, jual makanan penyetan sampai ngeronce jilbab. Berlanjut sampai kuliah dia jualan keripik aneka rasa yang dijual ke temen temennya. Pernah juga waktu itu saya temani dia anter orderan keripik ke rumah dosen siang-siang, di tengah jalan ban motor dia bocor. Kami harus cari tambal ban terdekat sambil jalan kaki, dia nuntun motor dan saya yang bawa barang dagangannya, di tengah terik matahari surabaya yang udah ga ketulungan panasnya. Tapi kita cuma bisa ketawa-ketawa, saling ngeledekin muka kami yang sama-sama gosong saking teriknya.
Karena perjuangannya menghidupi keluarganya itu, sampai beberapa tahun saya selesai kuliah, dia masih belum juga lulus. Orangtua mulai sangsi sama masa depannya. Dia dinilai ngga bertanggungjawab, menyia-nyiakan studinya sementara banyak orang di luar sana yang pengen kuliah. Saya coba ngeyakinin orangtua, kalo penilaian mereka salah. Apalagi sejak bapaknya meninggal, satu tahun setelah kami mulai LDR-an, dia mulai banting setir dari usaha serabutan ke usaha konveksi. Bagaimanapun, menurut saya itu bentuk tanggungjawab dia ke keluarganya.
Mengenai latar belakang keluarga, beruntunglah orang-orang yang memang sudah ditakdirkan berangkat dari keluarga berada. Saya pun bersyukur punya orangtua yang keras didikannya dan kakak adik yang selalu support keputusan saya. Bukan berarti karena dia tidak berangkat dari keluarga berada, dia tidak ‘selevel’ dengan kita. Remember that we don’t have any choice to choose what kind of family that we want.
Meskipun sudah 4 tahun berjalan, hubungan kami sampai saat itu masih belum ada kepastian. Setiap hari saya berdoa, mohon diberi petunjuk dan diberi sama Allah yang terbaik dalam setiap keputusan yang saya ambil. Maret tahun 2016, saat saya cukup berhasil ‘mengantarkan’ dia wisuda, saya berpikir mungkin sudah saatnya ini harus diakhiri. Tidak baik untuk meneruskan hubungan ini lama-lama, yang dikhawatirkan justru akan mengecewakan banyak pihak. Terutama diri saya sendiri :’) jadi saya pikir dengan mengantarkan dia wisuda ini, saya sudah cukup membalas kebaikannya dan keluarganya atas apa yang sudah pernah mereka lakukan ke saya.
But as we know, Rabb never sleep.
Berawal dari kelulusannya itulah, orangtua akhirnya meminta saya shalat istikharah. Bukan karena saya dihadapkan pada 2 pilihan, tapi untuk meyakinkan diri bahwa pilihan saya sudah tepat. Hasil istikharah saya akhirnya mengantarkan orangtua untuk bilang iya, saat keluarganya datang ke rumah melamar saya, beberapa hari sebelum saya tepat berusia 25 tahun. Tanpa acara spesial, tanpa mengundang teman-teman. Tanpa dokumentasi dan perayaan.
So which one of the favours of your Lord will you deny?
And here it is, a glimpse of our wedding. We called it The Magical of 170317
she said, “ I believe love will find the way”.
you’ve found the way :).
Barakallahulaka wabaraka ‘ailaika wajma’a bainakuma fi khoir
@misscuriosityinme
Thank you sissy, i believe you’ll find him soon :)) <3
For the first, and the last 💜
About CA ~ a journey
Being a Change Agent is not only becoming a role model to bring a better culture for those who work in our office. Lebih dari itu, menjadi CA berarti berani untuk mengubah diri kami sendiri.
~
It's almost a year! Saya dan teman-teman antar direktorat di bawah departemen yang sama bergabung di dalam tim CA DPM2. Kami bergabung bukan karena keinginan, tapi melalui penunjukan dari atasan. Tugas kami adalah mensupport change partner, yaitu pimpinan yang bertanggungjawab sebagai role model perubahan untuk budaya kerja yang lebih baik di lingkungan departemen selama satu tahun berjalan. Budaya kerja itu sendiri punya tujuan agar pegawai seperti kami nggak cuma jago urusan kerjaan, tapi juga mampu mewujudkan work-life balance for fulfilling the needs of our mind, body and soul as a human.
At first kami nggak terbiasa dengan peran kami sebagai CA. Di samping load kerja yang nggak sedikit, kami harus menyusun program, scheduling, self assesment untuk menilai performance pegawai dll. It even took a lot of time much more than our job itself! Jadi wajar aja kalo kami jarang sekali bisa full in charge di satu kegiatan yang melibatkan semua CA karena kesibukan kami masing-masing. Apalagi kami harus cari ide gimana caranya program budaya kami ini sukses tanpa ada paksaan, mengingat organisasi kami yang baru berumur 5 tahun ini bentukan dari 2 organisasi yang berbeda. Kebayang kan, selama ini mereka masih kebawa ego, pride & culture bawaan kantor lama 😏
As time goes by, kami sadar satu hal. Selama menjadi CA, yang paling sulit di antara semua proses perubahan budaya itu adalah mengubah diri sendiri. Baik dalam hal pikiran, attitude maupun karakter. Pernah kan denger pepatah,
"Before you can change the world around you, you must learn to change the world within you."
It's definitelly true! To be honest, saya pernah punya semacam perasaan "kenapa jadi gue terus yang in charge disini" atau "kok jadi lo semua sih yang atur". Pernah juga saya ngerasa minder "hmm gue ga punya skill apa apa nih buat bikin sukses program" atau "gila nih, gue udah bantu konsep eh malah dirombak lagi." Intinya, kadang saya ngerasa perfeksionis dan nggak butuh bantuan orang lain, tapi di sisi lain saya merasa semua program dibebankan ke saya tanpa ada bantuan dari orang lain. Untungnya yaa, untungnya. Cuma ada 1 drama queen yang model begini! Hahaha... kalo beneran ada, mungkin hasilnya nggak akan seperti ini
Big thanks to pak Jamal yang sudah jadi the best change partner ever! Dan mba Elsa sebagai inisiator yang membuat kita berjaya jadi pemenang Ide Terbaik Media Kampanye Culture Fair OJK 2016. Last but not least, thank you to all CA DPM2 who gave me a lotta love & lesson also chance for making me the better person throughout this year :'))
DPM2 Always Happy!
Well, this is definitely true. Everything's gonna be okay as long as we always put trust in Him. Insha Allah 🙏
Let me introduce you too...this. A #superbbestfriendgirl , yang ngga pernah bisa lihat temennya sedih (kaya gue hari ini) padahal gue tau dia tadi ngambek bin bete karna orang-orang pada telat dan ngga fokus rapat (including me 😂 ) Alhamdulillahnyaaaa sampe sekarang saya dikelilingi sama orang baik. But if i have to mention it, dua hari ini yang baik banget sama gue, yang prioritasin gue ketika gue susah, yang mau nemenin gue lembur kerja di waktu weekend, yang mau pesenin gue gojek di saat sinyal hp ngga bisa diandelin, yang mau dengerin curhatan gue even if it out of her circles... is Elleriz Aisha Khasandy 😁🎉 Thank you for all your kindness sis. Percayalah ini sebuah random post yang hampir ngga akan gue posting di sosmed manapun, but as i told you before, you're always be my best. Ever. 📸: skrinsut snapgram mellsih ✌
I really can't take my eyes off her! She's the bravest woman i ever know. Videonya bahkan saya puter berkali kali cuma buat ngeyakinin diri kalo ternyata kita masih punya figur diplomat muda yang membanggakan seperti dia 😍 Well, maybe it sounds weird since i'm not a diplomat like her, but today, i was facing such condition where i myself have to clarify any policies regarding on my duties to the industries i met in a forum. Inilah pekerjaan regulator: balancing supply needs and demand wants. Dan ternyata ini bukan pekerjaan gampang. Sebenernya forum ini lebih tepat dikemas dalam bentuk focus group discussion, dimana pada forum ini stakeholder dari sisi supply dan demand dipertemukan dan hal-hal yang menjadi kendala mereka selama ini akan dicari solusinya melalui kebijakan yang dirumuskan oleh regulator. Sayangnya, forum ini dikemas dalam bentuk workshop dimana mereka hadir secara terpisah, dan satu satunya regulator yang hadir di sana adalah saya (yang merangkap juga jadi peserta workshop). Secara materi ini menarik banget. Cuma saya mikir: "gue disini kan cuma jadi peserta? Apa gue mesti kasih statement yg bisa nge-clear-kan problemnya? Tapi by position gue juga belum punya wewenang apapun, gue khawatir apa yang gue katakan nanti justru menimbulkan blunder di belakangnya." Karna yang hadir di forum ini bukan selevel saya, tapi level pimpinan, akhirnya saya pikir saya cari aman aja lah. Saya nyimak semua diskusinya, dan memposisikan diri hanya sebagai peserta workshop. Ngga lebih. Kelar acara, muncullah video ini. To be honest, at first saya MALU 😂 she was there, a diplomat, the one and only indonesian, spoke loudly remonstrate against the statement of 6 PRIME MINISTER (cmiiw) who strike out her nation ALL BY HERSELF! Dalam sidang majelis PBB, dihadiri banyak negara dari berbagai bangsa, dilihat oleh jutaan pasang mata, ngebahas isu dunia terkait Hak Asasi Manusia. There she was! Whoooaa, where did she gather such confident and brilliant statement? I really tip my hat to her. Note to my self (and maybe the other) is, siapapun kamu, as long as kamu punya wewenang untuk itu, don't be afraid of clarify something that you really know and capable of. When it comes to the difficult question, don't be shy to explain that you're not the person who has authority to answer it. Maybe it just a simple little thing for some people, but for me, it gave me a big lesson to be a good policy maker. Thank you Nara Masista Rakhmatia for inspiring us. Proud!
Rabb, I belong to You.
I like being fool. I don't know; I just like it.
"I'm pretty sure no one could deny that being smart is cool. So do I. But, whenever I think I'm a fool, I feel alive."
It was start from the decision I made so sudden yesterday. Left the office on time, bermacet macet ria naik kopaja instead of gojek/grabbike as usual, demi nonton film yang kata orang worth to watch: The Big Short. Well, at first I think it's a kinda movie yang ceritanya all about investing - things, like The Wolf of Wall Street or Wall Street: Money Never Sleeps, but I'm totally wrong. Ini ceritanya lebih advance, lebih kompleks, dan ga cuma ceritain securitization - things yang menyangkut hajat hidup dunia pasar modal aja tapi juga include di dalamnya dunia perbankan. Jadi buat yang pengen tau kenapa amrik bisa ambruk di tahun 2008 kemarin, you guys have to watch this movie.
What makes this movie interesting is not only about the story but also the main actor. Siapa yang nyangka film semacam ini juga nampilin Selena Gomez selain aktor kece seperti Ryan Gosling, Brad Pitt dan Christian Bale! Yang bikin film ini beda, ada beberapa cameo seperti si Selena ini nongol bukan buat nyanyi lagu macem 'Love You Like a Love Song' kaya di channel-channel TV :B but to explain the terms like CDS (Credit Default Swap), CDO (Collaterallized Debt Obligation) or any other difficult term. Well, mereka tau lah ya yang nonton ngga mesti paham sama istilah-istilah asing ini. Hahahaa. That's why film ini dikemas dengan gaya yang santai tapi tetep berbobot.
Nah, what makes me feel like a fool after watching this movie is, I never know exactly kronologi *halah* dari krisis amrik sedetail ini. Paling cuma tau bubble akibat mortgage di amrik yang nggak kebayar, that's all. Fortunately, film ini ternyata disadur dari buku The Big Short: Inside the Doomsday Machine karya Michael Lewis. Jadi, kalo masih pengen tau lebih dalem ceritanya pasca nonton film ini (dan masih ngerasa bego seperti saya), buku ini boleh banget dibaca. Sayangnya, setelah browsing kesana kemari, buku ini ternyata belum ada di Indonesia :3
Ah, I missed one thing.
Actually, it's been 6 month since i was robbed in kopaja and i never ever want to use that "smokey green bus" again. So i don't know where this brave actually come from. Hanya demi nonton film ini di Setiabudi, dengan jarak tempuh satu jam dari kantor, dan SENDIRIAN *tambah muka bantal*
AND OF COURSE IT’S WORTH IT! Yeay!