Tidak ada waktu untuk menjadi orang idealis
Tatkala kita berbicara mengenai hidup, terlalu sering kita dihadapkan dengan kosakata yang terasa enggan untuk disampaikan.
Aku menginginkan sesuatu yang paripurna
6, atau 7 tahun dalam dekapan ruang homogen cukup membuat pikiran ini terbelenggu dengan kekhawatiran akan sulitnya bergabung dengan ruang yang baru, yang lebih cair, dan semua dengan mudahnya, terlarut.
Ada sebuah kekuatan asketik yang menahan diri ini untuk bereksplorasi, namun terpatahkan dengan menghadirkan kesadaran akan adanya batas-batas tertentu.
Beranjak paham, petualangan dimulai. Satu persatu jalan dilewati. Mencoba mengambil jalan yang sedikit diambil, namun sayang,
pisau ini belum cukup tajam, untuk membelah belukar masa.
Rehat sejenak, sambil mencoba melampas pisau ini. Lalu berpikir
Apakah jalan ini, akan ada yang menggunakan, nantinya?
Sekelibat dalih muncul, lalu memantik syaraf ini untuk menahan diri, mari cari rute terbaik.
Tapi bagaimana? Tak ada bekal disini.
Ah tenang, sungai disana, banyak ikannya.
Ah tenang, mangga akan tumbuh pada waktunya.
Ah tenang, akan ada sarang yang jatuh nantinya.
Dan saya tetap menahan diri, dalam putaran masa tak hingga, dalam ketidakmampuan.
Dan betapa saya menyadari sejauh apapun saya menghindari ketidakmampuan tersebut, saya akan kembali menemuinya, menghampirinya, dan jatuh padanya.
This paradoxical game is so strong I can’t even stand myself.
Banyaknya kontemplasi membawa saya semakin jauh dari sikap pragmatis. Bahkan tidak dengan judul ini. Beberapa vokal seharusnya mampu melengkapi pernyataan nomina ini. Namun sedikit kontemplasi cukup membuat saya berpikir ulang mengenai kenyataan bahwa kenyataan ini, masih jauh dari adjektif tersebut.
Lantas, bagaimana dengan hal yang lain? 20 tahun nampaknya belum cukup untuk membuat saya mau menjawab, atau bahkan menerima getirnya pesan dari dunia ini.
Akan tetapi sebuah titah cukup merangkum jawaban atas masalah tersebut:
“Wahai orang yang berkemul; bangunlah, lalu berilah peringatan!”
Ya, terjembab merupakan sebuah keniscayaan, dan mengangkat tubuh untuk bergerak melawan beban gravitasi membutuhkan sebuah dayakarsa yang lebih daripada mengangkat tubuh sesaat setelah rangkaian emosi transitoris kita terhenti, secara involunter.
Bangun merupakan sebuah terma perintah, dan perihalnya: bagaimana kekuatan tubuh ini mampu terkoordinasi secara holistik untuk menyebarkan segala upaya yang setidaknya,
orang merasa baik saat melakukannya.
Terlepas dari segala kesempurnaan.
Terima kasih kepada siapapun yang mampu memberikan inset dunia ini, dengan skala dan koordinat yang berbeda;
biarkan saya menjadi manusia yang dapat hidup dalam hangatnya pagi, sepinya petang, dan lelapnya malam, dengan rasa untuk kembali pada jalan yang seharusnya ditapaki.
Pena terangkat, dan ya lembaran telah kering.
Bandung, bersama halimun, (masih) dalam hangatnya berkemul dan bayang bayang Pengantar Data Spasial.