Pernahkah Engkau merenungkan: MENGAPA ALLAH MEMILIHMU MENDAPAT HIDAYAH, SEMENTARA YANG LAIN DIBIARKAN LALAI?
Oleh Syaikh Faraj Al Marji hafidzahullahu
๐ญ. ๐ฅ๐ฒ๐ป๐๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐๐ฎ๐ ๐ก๐ถ๐ธ๐บ๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ๐ต
Jika seseorang mau berpikir sejenak, bagaimana Allah Azza wa Jalla telah memberimu petunjuk menuju cahaya ini? Padahal, sesungguhnya tidak ada perantara apa pun antara engkau dengan Allah; tidak ada keutamaan (sebelumnya), tidak ada hak tuntutan, ataupun yang lainnya.
Demi Allah, wahai Saudaraku, terkadang seseorang duduk merenung sendiri dan berkata:
"Maha Suci Allah Yang Agung, bagaimana bisa orang-orang itu tersesat, namun Allah justru memilihku dan memberiku hidayah? Apa yang membedakan aku dengan mereka?"
Padahal boleh jadi, mereka jauh lebih baik daripadaku; mereka memiliki harta, memiliki kecerdasan, dan memiliki kekuatan.
๐ฎ. ๐๐ถ๐๐ฎ๐ต ๐ข๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ธ๐ถ๐ฟ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ฟ๐๐ป๐ถ๐ฎ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต
Akan tetapi, Allah Azza wa Jalla memilih siapa yang Dia kehendaki dengan karunia-Nya. Hal ini terlihat ketika Nabi shallallahu โalaihi wa sallam mengajari orang-orang fakir yang datang kepada beliau untuk meminta tambahan amalan.
Mereka mengadu karena saudara-saudara mereka dari kalangan orang-orang kaya (Ahlu Dutsur) mampu beramal lebih; mereka bisa pergi haji dan bersedekah disebabkan kelebihan harta yang mereka miliki.
Maka, Nabi menunjukkan kepada mereka sebuah amalan:
"Hendaklah kalian bertasbih kepada Allah di setiap akhir salat sebanyak 33 kali, memuji Allah (tahmid) 33 kali, dan membesarkan Allah (takbir) 33 kali. Sesungguhnya (dengan itu) kalian akan menyusul orang-orang yang mendahului kalian, dan tidak akan ada orang setelah kalian yang mampu mengejar kalian."
Setelah beberapa waktu, orang-orang kaya mengetahui hal tersebut, sehingga mereka pun mulai mengamalkan apa yang diamalkan oleh orang-orang fakir itu. Maka orang-orang fakir kembali datang kepada Nabi shallallahu โalaihi wa sallam dan berkata:
"Wahai Rasulullah, saudara-saudara kami yang kaya telah mengetahui apa yang kami kerjakan, lalu mereka pun mengerjakan hal yang sama."
Maka Nabi shallallahu โalaihi wa sallam bersabda:
"๐๐ฉ๐ช๐ก๐๐ ๐ ๐๐ง๐ช๐ฃ๐๐ ๐ผ๐ก๐ก๐๐ (๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐๐๐๐๐ง๐๐ ๐๐ฃ ๐ ๐๐ฅ๐๐๐ ๐จ๐๐๐ฅ๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ฟ๐๐ ๐ ๐๐๐๐ฃ๐๐๐ ๐)."" (HR. Muslim: 595, 2/97)
๐ฏ. ๐ ๐ฒ๐ป๐๐๐๐ธ๐๐ฟ๐ถ ๐ฃ๐ถ๐น๐ถ๐ต๐ฎ๐ป ๐๐น๐น๐ฎ๐ต
Sekarang sampailah kita pada suatu titik di mana ini bukan lagi soal hitungan matematika, melainkan ini adalah ketetapan Allah. Jika Nabi shallallahu โalaihi wa sallam saja berkata demikian, maka sudah sepantasnya bagi manusia untuk bersegera menyambut hal ini ketika ada kehendak (taufik) seperti ini.
Bagi seorang mukmin yang telah Allah Azza wa Jalla berikan nikmat berupa dijauhkan dari hukuman-hukuman ini (kesesatan), hendaklah ia memperbanyak pujian kepada Allah.
Oleh sebab itulah, penduduk Surga ketika mereka memasukinya, mereka berkata:
"Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk." (QS. Al Aโraf: 43)
Maka, hidayah ini adalah murni karunia Allah Azza wa Jalla. Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla sebagian dari karunia-Nya, dan semoga Allah menambahkan petunjuk, karena Dialah yang menambahkan petunjuk kepada hamba-Nya di atas petunjuk-Nya.