Suatu hari saya melihat kutipan apik tentang cinta diam-diam, diam-diam cinta atau cinta dalam diam. Entah namanya/istilahnya apa yang jelas rasanya sakit-sakit gemana gitu. Ibarat sedang nonton film India atau Korea, kita sudah dibuatnya menangis tapi tetap saja ditonton.
‘Sesungguhnya mereka yang mencintai secara diam-diam itu sedang berjihad menentang kehendak diri. Menundukkan nafsu hati. Seandainya Kau catatkan dia milikku. Satukanlah hatinya dengan hatiku’.
Menurut saya kutipan diatas adalah kutipan yang ideal banget. Karena pada kenyataannya, kejadian cinta diam-diam itu lebih kepada apa–apa yang realistis. Contohnya saya sendiri. Tepuk tangan dulu dong!
Saya pernah mengalami jatuh cinta diam-diam, dan selama empat bulan gebetin dia, saat sadar ternyata selama itu pula saya cuma jadi sopirnya dia. Antar jemput makan, antar jemput ke mall, ke kampus, bahkan antar jemput laundry si dia juga saya jadi sopir.
Ada juga kejadian yang paling sering nyakitin hati, gara-garanya, tentu cinta diam-diam. Biasanya kalau kita lagi jalan berdua sama gebetan, terus ditengah jalan kita bertemu teman-temannya si dia. Pertanyaan mereka pasti ga jauh-jauh, paling sering ‘ciiee ama pacar nih?’ awalnya itu nyenengin banget, rasanya ada angin segar. Tapi tiba-tiba badai membahana gara-gara jawaban gebetan ‘ahh bukan, teman biasa kok!’ terus temannya nanya lagi (menambah kepedihan), ‘teman apa temen niih?!’ gebetan jawab santai ‘iih apa sih, teman biasa kok, bukan siapa-siapa!’ ….tiba-tiba malaikat Izroil datang.
Mengalami jatuh cinta diam-diam selama PDKT itu gengsi kita jadi tinggi loh. Saking tingginya, kalau misalnya kita lagi sms-an, bbm-an, pasti ada suatu waktu kita bakal ga mau balas sms-nya dia. Alasannya enteng, ‘biar dia penasaran dulu! toh dia ga bakal mati kalau sms-nya ga dibales’ ….tiba-tiba malaikat Izroil datang. Padahal, dalam sanubari, kita masih pengen sms-an. Banget.
Ini terjadi bukan karena salah gebetan, bukan karena salah jatuh cinta, bukan salah kamu punya kendaraan, apalagi nyalahin tukang laundry. Bukan! Tapi itu salah kamu kelamaan nyatain cinta! Dan sejak saat itu, saya berhenti jadi sopirnya dia, berhenti kenal dia lebih jauh dan kembali konsentrasi jomblo. Saking fokusnya jadi jomblo, akhirnya saya kekurangan darah. Kata dokter ‘anda terlalu sering mimisan’.
Lebih kasihan lagi, teman saya, sebut saja Reno. Dia pernah mengalami sendiri serunya (baca: pedihnya) PDKT. Setelah merasa cukup lama PDKT, Reno akhirnya secara jantan dan berani nyatain cinta ke gebetannya. Namanya Nita. Ini bedanya Reno dan saya.
Singkat cerita, akhirnya Reno nembak si Nita, eh, ternyata ujung-ujungnya mereka malah jadi saudara. Kata si Reno, ada kesalahan teknis selama PDKT. Soalnya selama PDKT mereka saling manggil adek-kakak. Alasannya simpel, usia Reno memang lebih tua dua tahun dari Nita. Kira-kira ini jadi kisah ironi apa tragedi ya? Hm. Saya ga bisa bayangin seperti apa jadinya, bila mereka ngikutin gaya anak SMP/SMA yang kalau pacaran saling manggil bunda-ayah, mama-papa atau suamiku-istriku.
Kadang kita menganggap seseorang itu pacar kita, tapi ternyata orang yang kita anggap itu belum tentu menganggap kita pacarnya. Mungkin, karena mereka (masih) belum ngerasa setelah di-rasani. Dan untuk dia yang entah merasa…
“Kalau memang cinta itu anugerah-Mu, maka biarkan aku mencintainya. Tak mengapa walau hanya sebatas dalam diam dan tak terbalas, selama itu adalah ibadah di-sisi-Mu”.