Hari ini aku memutuskan untuk mengunduh tumblr. Aku perlu menulis dan menuangkan isi hati sebagai caraku untuk menorehkan segala hal yang ada di hati dan pikiranku. Biasanya, aku menulis untuk berbagi, di wordpress. Tapi... kali ini aku hanya ingin menulis saja tanpa membagikannya. Entah kapan tepatnya, suatu saat nanti aku akan membagikan tulisan ini kepada seseorang yang sudah telanjur mengisi relung hati.
Aku kecewa. Bukan karena apa-apa. Mungkin memang karena diriku, telanjur keliru berekspektasi. Hari ini tanggal 27 Januari. Hari setelah satu minggu yang lalu aku berjanji tidak akan menghubungimu. Bukankah seharusnya hari ini aku boleh menghubungimu? Sebelum dua pekan berikutnya kita kembali tidak diizinkan saling menghubungi?
Kupikir, hari ini aku bisa memulai bertanya bagaimana kabarmu. Ternyata aku keliru. Aku berekspektasi bahwa setidaknya kamu akan merespons baik pertanyaanku. Kemudian, memaklumi bahwa aku memang rindu. Kamu tahu? Aku perempuan biasa, yang ketika telanjur menaruh hati tidak akan mudah melupakannya. Perempuan yang tidak dapat lama menahan rindunya. Pun, kamu juga perlu tahu bahwa aku bukanlah perempuan yang tidak menepati janji.
Tidak ada maksud apa pun ketika aku memulai mengirim pesan padamu, tepat pukul 15.29 waktu di teleponku. Pikirku, untuk hari ini saja aku bisa menyapamu, melalui whattsap tentu.
Akhirnya, kuputuskan sore tadi untuk mulai menyapami. Aku mengirimkan selembar fotomu yang kutemukan lewat sebuah folder di drive, mengetikkan sebaris kata "You may like this". Sepuluh menit berselang ada pesan darimu, "Why chat? Do you really miss me?" Tidak terjeda lama, aku membalas dan menyatakan tidak ada apa pun. Sekadar ingin tahu kabarmu, yang sejauh pengetahuanku tengah sakit beberapa waktu lalu. Kusertakan pula pertanyaan "Don't you feel the same?" untuk membalas pertanyaanmu terkait dengan kerinduanku.
Kembali ada balasan darimu. Lima pesan. Singkat, di pesan pertama kamu menyatakan telah lebih baik. Empat pesan lainnya tidak pernah kuduga sebelumnya. Beruntutan kamu menyampaikan kepadaku untuk tidak mencari alasan karena aku tetap bisa menyapamu lewat Spoon sekitar jam 10 malam. Seharusnya aku baru bisa menghubungimu tanggal 10 Februari nanti. Dua chat terakhir kamu bertanya, "You can't keep your promise?" "You know? I hate person who cant keep a promise 😇"
Cukup kaget aku membacanya. Yah, dan seketika aku sadar bahwa niatku untuk sekadar menanyai kabarmu ternyata kamu maknai dengan berbeda. Entah, apakah memang kamu menganggapku tidak bisa menepati janji untuk tidak menghubungimu sebelum tanggal 10. Entah memang kamu tidak ingin menerima pesanku. Entah kamu memang tidak merindukanku. Atau entah yang lain aku pun tidak tahu.
Tidak ingin membantah dan dengan tetap berbaik sangka aku meminta maaf kepadamu. Juga menyatakan tidak akan kembali menghubungimu, minimal hingga tanggal 10 Februari nanti. Namun ...
Singkat, kamu hanya membalas "idc". Tak berselang lama foto profilmu hilang dan pesan yang kukirimkan tinggal centang separuh dari dua.
Aku tahu. Kali ini kamu memblokir nomor whatt'sapku. Tanpa aku perlu tahu dengan pasti apa sesungguhnya alasanmu, yang kutahu dengan pasti adalah aku merasa sakit hati. 😭😭😭
Yahhh ... aku memang kecewa. Tapi aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Hanya ekspektasiku yang keliru. Itu saja.
Aku menulis ini dengan air mata yang terjatuh. Rupanya perasaanku memang sedang sesakit ini. Maghrib tadi hingga saat ini air mataku terus mengalir. Bahkan, selama salat pun air mataku tetap tumpah. Hatiku sedih, bahkan perih.
Yah, ternyata sakit hati begini ngilu rasanya. Seandainya boleh meminta, seharusnya aku meminta agar dapat berpikir jutaan kali sebelum akhirnya dapat saling mencinta.
Kamu perlu tahu, aku tetap sayang padamu 💕