Memang
Nampak gila. Seketika tersenyum, lalu tertawa. Seketika diam, lalu menangis. Ada yang lompat-lompat, berlarian, tiduran, tapi seringnya marah-marah. Tapi, semua kembali terlihat waras ketika baterai hp habis terkuras.

ellievsbear
art blog(derogatory)

oozey mess
Stranger Things
DEAR READER
YOU ARE THE REASON
Peter Solarz
No title available
Monterey Bay Aquarium

PR's Tumblrdome
noise dept.
almost home
d e v o n
Cosmic Funnies
Game of Thrones Daily

tannertan36
styofa doing anything
Jules of Nature

shark vs the universe
taylor price

seen from Serbia
seen from India
seen from Brazil
seen from Palestinian Territories

seen from Russia
seen from Costa Rica

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@mortuus3st
Memang
Nampak gila. Seketika tersenyum, lalu tertawa. Seketika diam, lalu menangis. Ada yang lompat-lompat, berlarian, tiduran, tapi seringnya marah-marah. Tapi, semua kembali terlihat waras ketika baterai hp habis terkuras.
Bisa, juga
Kelak, bisakah kita tetap bergandengan tangan dan menjaga keseimbangan ketika melewati sirotol mustaqim.
Rebahan
Beberapa pagi ini berjalan melewati nisan. Tak terhitung seberapa banyak memoar yang ikut ke dalam liang.
Eksekusi
Menjelang petang, beberapa angan mulai terbentang. Salah satunya duduk dibangku, menghadap latar dan menyeduh mimpi.
Deddo
Memasuki jam-jam rawan, angin berembus pelan menerobos sela-sela pintu dan pikiran. Seseorang menabuh tiang listrik setiap malam dengan tempo yang sangat pelan ketika kau menuntun ke gerbang masa depan sebelum akhirnya berhenti dan bertanya "bukankah masa depan itu kematian?".
Pemberi terang yang lekas padam
Meski terbakar kau tetap tenang
Teman, kau pendiam yang sebentar lagi hilang
(21:21 / 2016)
Sampai kapan?
Sampai gelap?
Sampai lelah?
Sampai bosan?
Atau sampai ibu berbisik lembut
Ayo pulang nak
(2016)
Tak usah mengira-ngira
Tak perlu menduga-duga
Sudah sana
Kemasi perasaanmu
Sebab cemasmu tak ada guna
Sudah sana
Pulanglah ke peraduanmu
Sebab pijar kan segera menyala saat gelap tiba
(18:03)
Tetap tenang agar seimbang. Semua akan baik-baik saja jika kau percaya. (2016)
Aku menatapmu, selalu. Tapi kau tak tahu karena aku diam-diam. (2014)
Aku di
Aku diantaramu
Menjadi angin yang menyentuh tebal rambutmu Aku diantaramu
Menjadi kenyang ketika lapar
Aku diantaramu
Menjadi riuh saat sepi menerpa
Aku diantaramu
Menjadi terang saat kau memejam mata
Aku diantaramu
Menjadi nyata saat kau pikirkan
Aku diantaramu
Menjadi diam dan menyaksikan
Dan aku diantaramu Menjelma menjadi apa yang dinamakan rindu
Bangun
Pagi ini masih terlalu dingin oleh sisa-sisa hujan semalam. Aku masih belum terpejam lagi sedari jam 2 lebih seperemat malam. Eh jam 2 lebih seperempat pagi ya? Aku terbangun bukan karena hujan, bukan karena mimpi buruk, bukan pula karena pengen pipis. Aku terbangun ya karena pengen bangun. Duduk bersila diatas kasur, menghela nafas, mengucek-ngucek mata dan menguap. Mencari-cari hape untuk sekedar melihat notif, siapa tau ada pesan darimu meski ternyata tidak. Ah kau kan sedang mimpi indah denganku pasti, sehingga tidurmu nyenyak. Pergilah aku ke kamar mandi bermain air sebentar lalu memakai sarung dan peci. Setelahnya mataku susah diajak merem lagi. Ya sudah sekalian sampe subuh saja tak ku lepas sarung dan peci. Sampai akhirnya subuh tiba dan berlalu. Duh hujan turun lagi, kasian bapak yang selepas subuh bergegas memacu motornya untuk melihat keadaan padi-padinya. Semoga tak hujan-hujanan dan pulang tepat waktu. Sebab istrinya atau yang biasa ku panggil ibu selepas subuh juga sudah bergegas pergi ke dapur dan mulai menyibukkan diri bergelut dengan peralatan dapur membuat sarapan untuk bapak agar tak lapar ketika bekerja. Lah sarapan untukku bu? Ah ibu tak mendengarkanku sebab sedang asyik memasak sambil mendengarkan lagu dihandphone nya. Sudah ah lumayan 1 jam kedepan mumpung hujan belum reda juga akan ku elus mataku agar terpejam dan memimpikanmu. Ahh tapi aku ingin bilang maaf terlebih dulu padamu semoga kau dengar meski sedang tidur “maaf, aku sudah rindu lagi”.
Tulisan MJA Nashir, di tabloid budaya Bhinneka Edisi 56, Juni 2016
“Di”
Di tepian aku terduduk menatap setiap detik yang berganti dipergelangan tangan
Di tepian Aku diam berulang-ulang menyaksikan gemuruh kendaraan yg berlalu-lalang
Di tepian Aku girang mendengar kembali suara pemberitahuan kereta dari arah timur segera datang
Di tepian Aku menengok Mataku mencari-cari kesetiap sudut pintu keluar
Di tepian Aku kembali diam Menatap setiap detik dipergelangan tangan Dengan bosan
Di tepian Aku tersadar Aku hanya berdiam Aku hanya menunggu Hanya mataku yang mencari-cari Bukan hati
Semarang, 2016
Jemuran
Sedari pagi terik sang surya sudah terasa hangat dan membuat kebanyakan ibu-ibu tersenyum senang. Hari ini berbeda, jika biasanya setiap pagi yang terasa hanya dingin karena turunnya hujan. Hal seperti itu yang kadang membuat muka ibu-ibu terlihat masam. Sambil memasak ada yang menggerutu, "hujan terus, jemuran seabrek masih basah semua...." Tapi tidak untuk hari ini, tak terlihat pula wajah masam dari ibu-ibu. Pagi-pagi setelah menyelesaikan rutinitas mereka sebagai seorang ibu, hal yang dilakukan selanjutnya ya mengeluarkan jemuran. Menjemur semua jemuran yang (mungkin) sejak 2 atau 3 hari yang lalu tak kunjung kering. Ada harapan yang sama dari mereka, "Semoga kering sebelum hujan di siang hari tiba." Jikalau tidak, kasihan anak-anak yang kehabisan stok celana dalamnya. 3 Maret 2016
Rindu? Tak melulu tentang seberapa jauh jarak yang terbentang, tentang siapa yang pantas untuk dirindukan juga iya.
2015