Stasiun Pasar Senen Jakarta by hamnet deui Via Flickr: Pasar Senen Station, Jakarta, February 2026
seen from Türkiye
seen from Yemen

seen from United States
seen from Spain
seen from Italy
seen from Germany
seen from United States
seen from Yemen
seen from United States

seen from Germany

seen from Greece
seen from United States

seen from Canada
seen from Russia
seen from United Kingdom
seen from Kenya
seen from Russia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Türkiye
Stasiun Pasar Senen Jakarta by hamnet deui Via Flickr: Pasar Senen Station, Jakarta, February 2026
Stasiun Terakhir
Denganmu aku ingin melakukan sebuah perjalan sepi nan panjang. Perjalanan menembus batas untuk pertama kalinya kita lampui diri kita sendiri.
Dengan jarak yang tak dapat di ukur oleh satuan apapun. Menjadi seutas cerita panjang yang membeku dalam sebuah kenangan yang abadi.
Hidup akan kita menangkan, saat hidup kita pertaruhkan. Bersamamu aku ingin bertaruh membawa dirimu pada tempat yang tak pernah kita kunjungi.
Secepat cahaya bintang kita melaju menyaksikan hal yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Melintasi lorong waktu kudapati wajahmu berseri dibalut sedikit pijar dibalik temaram..
Karena aku ingin melakukannya semua bersamamu bukan hanya menjadi stasiun terakhir untuk sekedar mampir ataupun beristirahat.
kemanapun engkau pergi hati dah fikiranku akan selalu bersamamu. Jiwaku sudah terkunci dalam sebuah rel yang harusnya kita tapaki bersama menuju tujuan akhir dari perjalanan panjang kita selama ini.
Bukan stasiun yang menjadi perantara untuk berpindah dari suatu kota. Bukan terminal tempat pemberhentian sementara. Bukan bandara tempat mendaratkan segala harapan. Bukan pula dermaga tempat menambatkan mimpi masa depan. Kita, sepasang rel kereta yang selalu berjalan berdampingan tapi tak pernah punya kesempatan untuk bergandengan
Bekasi;230223
Stasiun
Kaulah stasiun, tempat perhentian tubuhku yang kereta tak kenal waktu melaju mengangkut rindu-rindu, tapi tak pernah memiliki keberanian meminta tinggal lebih lama di sisimu.
—23022023 Mukomuko
Tuan, dari sekian banyak yang kereta sudah berselang tak satu pun kita berpapasan. Bukankah seharusnya sekarang kita sudah sama-sama duduk berdampingan di dalam sesak gerbong yang menuju tujuan akhir dari penantian? Bahkan untuk sekedar bertegur sapa pun tak ada sedikit kebetulan.
-Apakah semesta berusaha mencurangi kita sekali lagi?
Siapa bilang kalau peron itu adalah tempat menanti ketidakpastian? Faktanya adalah di peron itu aku sering menanti datangnya kereta untuk mengantarkan aku ke tujuan berikutnya. Oh, maafkan aku yang lagi dalam kondisi tidak kacau. Mungkin bila hatiku lagi kacau, maka aku akan berpikir bahwa peron itu adalah tempat menanti ketidakpastian. Ya, mungkin itu ada benarnya juga. Betulkah begitu?
Nona. Kapan kiranya gerbong kereta membawamu kembali? Tuan itu masih disini. Menantimu hingga ujung waktu. Duduk di antara beribu manusia lalu lalang silih berganti. Sudah larut. Sampai bapak dan ibu toko enggan melayaninya membeli sebotol air.
Sepertinya ia sudah mulai remuk. Air matanya mulai terlihat di pelupuk. Ia lihat lagi lorong gelap stasiun. Namun sama, masih lengang dan bisu.
Nona, kini tuan tersebut sudah beranjak. Bukan karena ia bosan. Ia hanya sudah suntuk. Pertahanannya sudah runtuh. Dan saat kau "benar" kembali, ia tak ingin kau melihatnya.
Pertemuan Tidak Sengaja
Aku suka menggunakan transportasi umum.
Pertemuan tidak sengaja, mengobrol apa adanya, meski sehabis itu berpisah.
Seru, bagiku itu seru.
Mendengar cerita orang², belajar bersama dr cerita² itu. Dikepoin dan gantian berbagi ceritaku.
Seru..
Pernah ngobrol bareng mba² yg saat itu lagi pusing skripsian. Betapa nyambungnya kita saat itu.
Ngobrol bareng ibu² dr Sulawesi sendirian yg mau jenguk anaknya yg sakit di Ngawi, luar biasa kisahnya.
Ngobrol bareng bapak² yg kerja di Jakarta hrs ninggalin keluarganya jauh, keren rasa tanggung jawabnya.
Ngobrol bareng adek² mahasiswa baru yg udh overthinking skripsi nanti gimana, lucu juga.
Ngobrol bareng mba² yg akhirnya berhasil keluar dr toxic relationship jg pernah.
Banyak..
Itulah kenapa aku suka perjalanan. Walaupun ada lelahnya mgkn jg ada ujiannya, tapi banyak belajarnya juga.
Di setiap perjalanan, ada pelajaran.
23/2/2023
21.06 wib