Rasanya aneh. Saat yang biasa ditinggal, waktu meninggalkan pun tiba. Hari-hari yang disibukkan untuk mengerjakan pekerjaan kantor, berkutat dengan programming- berubah seketika saat hari jumat malam itu tiba.
Aku berjalan menuju mesin atm di dekat tempatku bekerja. Berjalan seperti biasa, melakukan rutinitas jalan sore- mengembalikan fikiran yang sudah penuh 5 hari terakhir.
Satu pesan ku terima. Mengatakan bahwa apa yang kami tunggu, akhirnya punya jawaban- hal yang kemudian membuat bulan agustusku sangat cepat berlalu. Sukses membuatku wara-wiri, urus sana urus sini, untuk mengakhiri perjalanan (hampir) 6 tahun di negara orang.
Berhari-hari, energiku terkuras habis- physically. Sampai tidak ada ruang untuk memikirkan- apa kabar diriku (mentally)?
Tidak ada aku yang menangis berhari-hari. Hanya ada aku yang sibuk dengan banyak administrasi- bahkan untuk berpamitan saja tidak sempat. Aku kira, aku akan kembali ke negara dimana aku dilahirkan dengan biasa saja. Tidak ada yang mengantar, tidak ada tangis, atau tidak ada doa-doa baik.
Setelah berhasil untuk memundurkan jadwal penerbangan, aku punya 13 hari untuk menyelesaikan semuanya. Termasuk mempersiapkan hatiku, meski nyatanya aku tidak pernah siap.
Hari itu tiba. Aku yang kurang tidur. Keluarga besarku yang siapkan banyak- dari makanan, bantuan, tenaga, pikiran- (bahkan setelah aku pergi)- juga semua hal yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu. Banyak orang hadir untuk melepas aku pergi, bahkan orang-orang baru dihidupku. Terima kasih.
Hingga aku akan beranjak, aku tidak bisa menangis. Sampai pada akhirnya untuk terakhir kali, setidaknya di bulan Agustus ini, aku pergi dari tempat yang aku sebut rumah selama 6 tahun terakhir- aku menangis.
Aku sangat paham, bahwa aku bisa kapan saja kembali. Aku bisa kembali ke rumah dan ke orang-orang di sana, yang punya tempat tersendiri di hati aku. Tapi untuk sekarang, Allah bilang lain.
Semua proses yang padat, menguras banyak energi, tapi buat aku cukup tenang menghadapinya- sudah menungguku untuk kembali. Rumah yang baru menantiku untuk hadir.
Setelah sampai di rumah baru, hatiku terasa berbeda. Aku rindu rumahku yang dulu, tapi aku punya banyak hal baru yang bisa ku lakukan. Lagi-lagi, physically, energiku sudah habis. Tidak ada waktu untuk menangis.
Hari ini, tepat tujuh hari setelah aku kembali. Rasanya seperti sudah lama sekali. Aku rindu. Sekali.
Semalam, pun aku baru menemukan sebuah alasan mengapa, "kalau saja kamu tidak sendiri, Ibu akan lebih ikhlas, lebih legowo, untuk kamu tinggal di sana".
"Kalau sendiri, Ibu tidak tega", tambah beliau.
Hatiku, masih jauh di sana. Tertinggal bersama orang-orang baik di sana. Bukan, bukan berarti tidak banyak orang baik di sini. Tapi aku punya banyak sekali hal baik di sana.
Semoga bisa kembali. Segera.