Ibadah yang dikerjakan, bukan semata memohon kemudahan urusan dunia. Lebih dari itu, karena segala bentuk penghambaan adalah kewajiban syukur seorang hamba pada Penciptanya.

No title available
Misplaced Lens Cap

oozey mess
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

ellievsbear

No title available
Cosimo Galluzzi

blake kathryn

izzy's playlists!

roma★
Monterey Bay Aquarium
Cosmic Funnies
TVSTRANGERTHINGS

Love Begins
untitled
Xuebing Du
$LAYYYTER
cherry valley forever
RMH
KIROKAZE

seen from Singapore
seen from United States
seen from Spain
seen from Russia

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from India
seen from Spain
seen from Australia

seen from Australia

seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from Peru

seen from Uzbekistan
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Australia
seen from France
@mutiasajaa
Ibadah yang dikerjakan, bukan semata memohon kemudahan urusan dunia. Lebih dari itu, karena segala bentuk penghambaan adalah kewajiban syukur seorang hamba pada Penciptanya.
Semoga Allah hujani keluarga ini dengan rahmat juga lindunganNya, Allah kekalkan ikatan cinta ini sampai surgaNya, Allah tanamkan sabar juga syukur dalam setiap episodenya.
Sejatinya menikah seperti titik tolak mengarungi sebagian kehidupan yang belum pernah terbayangkan. Maka dengan berpegang pada tali Allah, akan selalu ada jalan disetiap sudut kepayahan kita sebagai manusia. Hiasi yang katanya "ibadah seumur hidup" ini dengan sebaik dan sebenar ibadah kepadaNya. Karena pesona ruhiy dalam diri takkan pernah mengelabuhi.
Selamat menanam, menuai juga menjaga ladang kebaikan ini💓💞
Ramadhan 1447H
Pernah merasakan puasa Ramadhan full sebab tak berhalangan karena masih asi ekslusif kala itu. Allah menguatkan, Allah memudahkan.
Kali ini justru kebalikannya, tak sama sekali ada hari di mana aku berpuasa di bulan Ramadhan sebab baru saja melahirkan di bulan Sya'ban. Tarawih tak melaksanakannya, tilawah pun juga sama. Sedih, tentu ada.
Ramadhan tetap Ramadhan. Madrasah untuk melatih diri berperang melawan (godaan) dunia di 11 bulan lainnya. Disiapkan secara jiwa dan raga agar tak silau dengan gemerlap dunia.
Ibadah yang lebih banyak variannya dari biasanya, perut yang terbiasa tak berisi, waktu salat seakan berarti tiap waktunya.
Ramadhan. Indah semua moment dengannya. Ramai orang berbagi kebaikan, menyiarkan kebaikan, mengajak kebaikan dan menjadi pelaku kebaikan itu sendiri.
Namun, Ramadhan kali ini tak seperti biasanya. Bangun malamku bersama tangisan bayi. Tak jarang melewati terbit mentari, sebab lelah menguasai diri usai mengasihi semalaman. Melewati momen puasa, tarawih dan itikaf sebagai ikon ibadah di bulan Ramadhan, rasanya campur aduk untuk pertama kali dihidupku sebulan penuh tanpa mereka sama sekali.
Tepat di Hari Raya ini terbesit rasa, pantaskah aku ikut juga merayakan ini? Yang bahkan ikut sekolahnya pun tidak, tapi wisudanya yang paling bahagia.
Meski merah rapotku dalam ibadah Ramadhan (puasa, tarawih, itikaf), tapi semoga tercatat ibadah lainnya yang berbeda serta mendapatkan ampunan yang termaafkan dari Sang Pemaaf.
Semoga Ramadhan esok bisa menghampiriku dengan kondisi diri yang lebih baik, hati yang lebih siap, raga yang lebih sehat.
Sampai jumpa Ramadhan, sampai jumpa bulan mulia.
.....
Taqabalallah minna wa minkum shaalihal a'maal🤲🏻
Rasanya semakin haru dengan percepatan waktu ini. Kini dengan banyaknya perjalanan, pertambahan peran juga amanah, rasanya seperti tak mungkin bisa di sini tanpa kekuatan dan kemampuan yang Engkau berikan.
Terimakasih yaa Allah untuk setiap kebaikan, nikmat, juga rasa-rasa yang pernah hadir dalam hidupku. Segala bentuk emosi yang kian beragam aku rasa, membuatku lebih empati kepada orang lain. Beragam kebaikan orang lain yang dilimpahkan kepadaku, membuatku ingin menjadi lebih baik. Bait-bait tulisan yang ku baca membuat pikiranku lebih terbuka.
Dari setiap kesulitan, kekecewaan, kemarahan, kecemasan yang kurasa, aku meyakini ada kekhilafan, kelalaian juga ke-alpa-an diri dalam menghadapMu. Mungkin ada ketidakseriusanku dalam beramal atau bisa jadi ada hak orang lain yang aku abaikan. Namun dari apa yang kudapati bukan ancaman bahkan teguran keras. Kurasakan dekapan kebaikanMu yang menuntunku untuk kembali.
Masihkah aku akan mengecewakan Rabbku yang begitu Lembut?
Berapa kali aku mengecewakan Rabbku?
Rasanya bahkan baru saja aku mengecewakanNya.
Tak terbayangkan olehku bila teguran atas kesalahanku langsung dibalas langsung dengan kemurkaanNya. Apakah aku siap? Apakah aku akan bertaubat ataukah semakin menjauh?
Tetapi dengan kelembutanNya, apakah akhirnya aku mau berbenah diri dengan sendirinya? Ataukah malah menganggap ringan kesalahan?
YaaAllah lembutkanlah hatiku dalam menerima nasihat. Sadarkanlah hatiku agar terbangun alarm tanda kelalaian. Bangunkanlah aku supaya mudah bersyukur hingga tak terbesit keluh kesah dari banyaknya nikmat yang berserakan. Lapangkanlah dadaku atas setiap takdir yang ditetapkan untukku kini dan nanti. Ampuni dosaku yaa Allah.. Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni🤲
[Ada Masanya]
Ada masanya merasa tenang dan tak ada badai. Namun sepi dari pengalaman jg pencapaian.
Ada masanya merasa sibuk dan dikejar deadline. Namun hampa jg menyisakan lelah.
Semua ada masanya. Senang pun sedih ada saatnya. Nikmatilah.
Saat senang lagi tenang. Nikmatilah.
Saat sibuk lagi kacau. Bersabarlah.
Apapun kondisinya, hadirkan jiwa dan raga agar merasakan sebenar-benar perasaan yg dirasa. Refleksikan diri dengan kepasrahan dan penghambaan hanya kepadaNya.
Bahwa yang senang akan usai. Dan kesedihan akan sirna.
{ مَاۤ أَصَابَ مِن مُّصِیبَةࣲ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِیۤ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِی كِتَـٰبࣲ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَاۤۚ إِنَّ ذَ ٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ یَسِیرࣱ (22) لِّكَیۡلَا تَأۡسَوۡا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُوا۟ بِمَاۤ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا یُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالࣲ فَخُورٍ (23) }
Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauḥ Maḥfuẓ) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. [Surat Al-Hadid: 22-23]
Terkadang aku merasakan hidupku begitu stuck. Tidak ada pencapaian apa-apa, menjalani hari-hari di rumah saja, hanya melakukan rutinitas yang itu-itu saja. Kemana aku yang dulu? Seperti tak berbekas rasanya. Hampa.
Sampai akhirnya aku termenung, mengingat kembali dasar-dasar kita diciptakan sbg manusia. Siapakah mrk yang membuat standar-standar hidup yang begini-begitu? Bahwa sukses adalah mereka yang menghasilkan banyak uang, tampil di sana dan di sini, memiliki ini dan itu.
Rasanya ngga adil kan, buat mereka yg terbatas biaya dan waktu? Ngga ada uang untuk melanjutkan pendidikan misalnya, atau terhimpit waktu untuk mengasah skill lain karena pekerjaannya yang sekarang terkebut untuk kebutuhan hariannya.
Siapa mereka yang mengubah standar utama tujuan hidup terlaksana dengan baik? Seakan yang menaklukkan dunia, adalah pemenang.
Ternyata kata Allah, kita dicipta hanya untuk beribadah kepada-Nya. Mengabdi, menyembah dan berserah hanya pada-Nya. Taat.
Namun kita tau, kalau "taat" bukan sekadar "hanya". Bahwa dari kata taat-lah kita tak banyak tanya perihal kewajiban salat yang 5, puasa ramadhan yg sebulan, dan kewajiban lainnya. Bahwa dari kata taat-lah kita dengan senang hati tidak memilih mendekati zina, menyelipkan harta haram dalam kantong-kantong baju, dan maksiat lainnya.
Maka dengan taat padaNya, kita telah menggambarkan arti dari kata menyembah.
Ia yang sudah berusaha taat, bukan sekadar hanya. Ia yang sudah berusaha taat, bukan sekadar shalih.
Taat ialah pucuknya. Pucuk dari gerakan-gerakan shalat kita, pucuk dari menahan lapar puasa..
Yaa Allah karuniakanlah kemudahan untuk kami agar bisa berlapang hati, atas setiap takdir yang kami jalani. Agar kiranya bukan kecewa yang kami dapati, karena persoalan dunia yang menjadi ingin terbesar kami dalam episode kehidupan ini.
Yaa Allah karuniakanlah kami hati yang teguh atas agama ini, sehingga istiqomah untuk menggapai ridhoMu adalah tujuan hidup kami. Agar kiranya Engkau perkenankan husnul khitam menjadi penutup episode kehidupan kami..
Kutulis di hari-hari terakhir Ramadhan yang sungguh aku takut tak bertemu lagi di Ramadhan selanjutnya.. Taqabbal minna Yaa Rabb🤲
Belajar mencinta adalah suatu usaha untuk merencanakan setia pada seseorang. Belajar mencinta adalah proses menerima seluruh baik dan buruknya. Belajar mencinta adalah bersiap menghadapi dunia bersama; baik suka maupun duka.
Atas nama cinta, aku meminta agar kiranya tak salah objek tuk setia. Bahwa belajar mencinta adalah usaha yg mendatangkan timbal balik meskipun bukan dengan bentuk yang persis sama. Berangkulan mengarungi dunia bersama tuk mengais bekal agar pantas dibersamakan di surga.
Akan kau temui aku yg tak sesuai ekspektasimu dulu. Akan ku temui kurangnya dirimu yg blm kutahu. Takkan kecewa sayang, bila harapmu hanya pada Sang Penyayang. Masih ada cinta utama yg harus kita perjuangkan bersama; cintanya Sang Maha Segala. Maka menjadi indah bila kita pikat satu sama lain dengan pesona ruhiy dalam diri. Bahwa pertanggung jawaban diri adalah ianya yg mengerjakan. Bahwa tugas kita adalah saling menjaga satu sama lain dari panasnya neraka yang takkan bisa diterka.
Meminta agar dilapangkan hati, diluaskan syukur, dibimbing dalam bingkai taat. Agar menikah bukan hanya sekedar ambisi pribadi untuk meraih cita sendiri. Tetapi berupaya agar menikah membawa berkah, berlapis ambisi dakwah dan bertabur tujuan jannah.
Asma..
Terimakasih atas kehadiranmu di satu tahun pertama ini. Sungguh banyak pelajaran serta hikmah yang hadir saat membersamaimu, yang semua itu tak kami dapatkan di bangku kelas. Saat usia pernikahan kami belum genap satu tahun, saat masa transisi multi peran dihadapi, saat itulah waktu yang menurut Allah tepat untuk kamu lahir ke dunia.
Alhamdulillah
"Biniyyatikum turzaqun", begitu kata Dukturah Aida usai proses persalinan.
Akhir jadwal kontrol, yang ditutup dengan pertimbangan lahir caesar. Biiznillah, Allah mudahkan segala prosesnya hingga pertemuan dengan Dukturah sebelum jadwal yang ditentukan. MasyaAllaah
Asma..
Jadilah layaknya Asma binti Yazid, dengan julukannya "Juru bicara perempuan". Berani berpendapat, juga berlapang hati menerima kebenaran.
Jadilah layaknya Asma binti Abu Bakr, dengan umur panjangnya tak membuat lemah fisik juga iman. Gigi-gigi yang masih kuat, otak yang masih sehat, serta ketakwaan yang teguh menjadikannya tak seperti orang-orang biasanya.
____________________________
Satu tahun, genap sudah usiamu nak. Mengingatkan kami akan tugas tarbiyah untukmu, juga untuk kami.
Asma..
Namamu indah, harapanmu tinggi. Doa kami mengiringi langkahmu nak. Semoga Allah selalu membimbingmu dalam jalan kebaikan juga kebenaran.
Untuk 18 tahun pertama Muti di dunia, Abi sdh menemani banyak moment berharga.
Hampir setiap pembagian raport, Abi yang selalu hadir.
Hampir setiap makan dimeja makan, selalu ada Abi.
Hampir setiap puasa sunnah, buka puasa bareng Abi.
Hampir setiap dianterin ke pesantren, selalu sama Abi.
======================
Rasanya haru. Mengingat semua ttg Abi dengan segala keteladanan, menjadi berkaca diri atas segala atsar baik Abi yang masih membekas pada diri ini.
Dengan segala hormatku, meski tak banyak bicaramu menyuruh kami ini itu, mengajari kami begini begitu, tapi tetap kebersamaan denganmu memiliki banyak arti.
اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه
Ummiku sayang🤍
Dalam dekapan rahmat-Nya bagi setiap muslim, Muti harap Ummi adalah manusia yang paling merasakannya. Bertubi-tubi nikmat-Nya yang tiada dua, Muti harap Ummi adalah sosok yang senantiasa mendapatkannya. Al Hafidz; penjagaan-Nya yang tak bisa ditembus usaha makhluk lain sekalipun, Muti harap Ummi adalah ciptaan-Nya yang tak dibiarkan sedetikpun.
Desember kali ini mungkin berbeda, pemaknaan hari ibu untuk Muti kian bertambah. Merenungi setiap detik yang telah Muti lalui, menambah perenungan pribadi atas segala yang Ummi korbankan untuk anak-anak Ummi. Berbagai rasa, upaya, dan doa menjadi hal yang dilalui dan diusahakan berujung harapan agar kiranya tak menyia-nyiakan karunia-Nya yang telah dititipkan.
Ummiku sayang, meski kasih dan cintamu tak dapat terbalaskan, ada Allah yang tidak pernah dzolim atas setiap perbuatan dan perilaku manusia, Allah yang Maha Adil atas setiap biji-biji kebaikan dan keburukan. Maka tiada balasan yang paling bijak kecuali balasan dari-Nya.
Apa kabar Mi? Apakah hari-hari Ummi menyenangkan? Apa doa terbaik Ummi hari ini? Apa yang membuat Ummi tersenyum hari ini?
Muti harap terselip momen kebahagiaan Ummi dan Muti yang membuat Ummi bahagia menjalankan hari-hari Ummi.
Sudah lama ya Mi.. Sudah lama rasanya jarak jauh ini kita alami. Rasanya hanya 12 tahun pertama Muti di dunia, 24 jam-nya bisa bersama Ummi. Tak jarang Muti merasakan masakan Ummi, nasihat dari Ummi, dan segala hal tentang Ummi.
Tiba dimasa lulus SD, kita memulai jarak jauh ini. Rindu yg kian membuncah, berharap temu sebagai obat. Namun nyatanya hati ini semakin sulit diatur kala perpisahan itu tiba. Begitu seterusnya, sampai akhirnya kemarin setelah Muti menikah. Rasa itu amat berbeda. Jarak kali ini terasa sekali perenungan atas peran Ummi selama ini. Urusan rumah, suami, studi.. ternyata repot sekali menjalani peran Ummi dengan segala multi peran yang dijalani. Menjadikan rasa syukur ini terus terlantunkan dalam bentuk doa untuk Ummi.
Terimakasih Mi, meski berat tapi Ummi menjalankannya dengan hebat. Meski sulit tapi Ummi tak mengungkit. Meski tanpa tepuk tangan tapi Ummi tetap menjalankan.
Allah yubaarik fiik Ummi..
Semoga Allah perkenankan pertemuan untuk kita dalam sebaik-baik keadaan. Muti sayang Ummi karena Allah🤍
Jangan meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas,
Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripada tidak beramal sama sekali.
Jangan meninggalkan dzikir karena ketidakhadiran hati,
Kelalaian kita dari dzikir lebih buruk daripada kelalaian kita saat berdzikir.
Jangan meninggalkan medan juang karena takut terluka,
Kematianmu di medan juang jauh lebih baik daripada hidup dalam keterlenaan.
Jangan meninggalkan kesantunan karena lingkungan kasar,
Santun kita saat dikasari hanya akan mengundang kemuliaan dan mengundang simpati-Nya.
—note to my self || salin-tempel ||
"Bila seluruh hidupmu engkau anggap sebagai bulan Ramadhan, maka kelak engkau akan mendapati akhiratmu sebagai hari raya."
So deep:"
Pengakuan
Salah satu syarat taubat adalah merasa menyesal karena telah melakukan kemaksiatan. Tentunya takkan bisa menyesal bila tidak mengakui bahwa dirinya telah melakukan tindakan yg membuat Allah murka. Indahnya Islam, mengajarkan manusia untuk tidak berlaku sombong. Bagaimana mungkin akan menyesali perbuatannya bila kesombongan merasuki jiwa?
Mengingat kembali kisah Nabi Yunus as yg sempat ditelan paus. Tak ada jalan kecuali muhasabah diri hingga permintaan taubat terlontarkan. Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang dzalim, begitu rintih Nabi Yunus as mengakui keadaan dirinya. Allah terima taubatnya, dan ia kembali berjuang menegakkan kalimatullah.
Lain cerita pada kisah Firaun. Tatkala air laut mulai menghimpit, ia baru mengakatan, Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim. Tidaklah taubatnya diterima tersebab waktu ajal telah menghimpit dan tak ada pengakuan pengingkarannya kpd Allah.
Mari kita intropeksi bersama, betapa lincahnya lidah ini meminta bahkan menuntut-Nya, seakan permohonan harus segera terwujud saat itu juga. Namun betapa kelunya lidah ini mengakui bahkan menyesali keburukan yg telah diperbuat.
Haruskah menunggu tanda kematian itu tiba, baru teringat akan maksiat yg diperbuat?
Tidaklah diterima taubat seseorang bila nyawa sdh berada di tenggorakan dan matahari terbit dari barat.
Sekadarnya Saja
Begitulah nasihat yg biasa kami terima. Memaknai kembali apa-apa yg telah digariskan-Nya. Jika itu nikmat, tentu syukur menjadi tombak utama untuk mengembalikan segalanya pada Sang Pemberi. Menelaah bahwa segala sesuatu hanyalah milik Allah. Maka segala bentuk gemerlap dunia bukan menjadi sebab kebahagiaan. Karena hakikat bahagia bukan tersebab dari nikmat dunia, melainkan keterikatan hati dg Sang Pemilik Segala.
Pun saat ditimpa keterpurukan, tetap bersabar dan meyakini bahwa segala sesuatu adalah atas kehendak-Nya adalah kunci ketenangan hati.
Setiap bencana yg menimpa di bumi dan yg menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yg demikian itu mudah bagi Allah agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yg luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yg diberikan-Nya kepadamu. (QS. Al-Hadid: 22-23)
Maka, sekadarnya saja. Tidak melulu merasa bahagia atau sedih berkepanjangan. Menerima dg hati yg lapang dan bersandar hanya pada-Nya.
Kamu adalah pribadi yg baik. Tetap begitu, jangan sampai perilaku buruk orang lain merubahmu mnjd picik.
Seringkali terlupa, bahwa jarak bukan penghalang untuk menyampaikan rindu. Karena doa senantiasa tersampaikan tanpa menunggu temu. 🌹
Bisa jd maksiat kita yg mengahalangi untuk menikmati karuniaNya. Bisa jd maksiat kita yg membatasi untuk meresapi hikmah yg tercecer ditiap inci kehidupan:"
Hayya nastaghfir