Hi! I move my blog to a wordpress site. Please click here . Thanks and enjoy my blog!

Discoholic 🪩
Today's Document

shark vs the universe
No title available
No title available

Origami Around
will byers stan first human second
Misplaced Lens Cap
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Andulka
Noah Kahan
occasionally subtle
TVSTRANGERTHINGS
KIROKAZE
tumblr dot com
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Janaina Medeiros
Cosimo Galluzzi
Game of Thrones Daily
he wasn't even looking at me and he found me

seen from Singapore

seen from Canada
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from T1
seen from United Kingdom
seen from Russia
seen from Malaysia
seen from Syria
seen from Nepal
seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Nigeria
seen from Kenya
seen from Brazil

seen from Saudi Arabia
@myoms
Hi! I move my blog to a wordpress site. Please click here . Thanks and enjoy my blog!
kak ditunggu tulisan2 selanjutnya yaa.. makasih ispirasi2nya yg bikin semangat survive dijerman ini :)
terima kasih udah mau baca blognya yaa, insyaallah minggu ini ada post baru lagi :)
kak mau tanya , biasanya pulang ke indo itu berapa bulan sekali ya?
Hallo! Dulu ngga tentu, pernah dua tahun sekali. Tetapi setelahnya setahun sekali karena kangen Indonesia hehe
Hai kak Mega, salam kenal, namaku rara, saat ini aku semester 1 W Studienkolleg Köthen. Aku terinspirasi sama tulisan2 kakak, aku jd dpt info2 berguna, pengen banget punya kontak kakak :) Ditunggu tulisan2 selanjutnya yaa kak
Hai Rara maaf baru balas. Terima kasih ya udah mau baca tulisanku, rencananya mau ambil jurusan apa nanti? Rara bisa add facebook aku facebook.com/mgrhyu. Keep in touch ya ^^
The Transition (9)
Tidak terasa liburanku di Indonesia selesai. Saatnya aku harus berpisah dengan Ibu dan adikku, dan kembali menghadapi kenyataan, yaitu menyelesaikan sisa ujianku. Aku memiliki sisa satu ujian. Tidak kusangka aku dapat bertahan sejauh ini. Mata kuliah yang menurutku kedua tersulit selain Statistik, yaitu Volkswirtschaftslehre (VWL atau politik ekonomi). Ada banyak topik yang diajarkan, tetapi yang menurutku rumit adalah membaca analisa grafik. Pada ujian tahun lalu aku tidak lulus VWL, maka dari itu aku harus mengikuti mata kuliah tersebut di semester ini. Kali ini aku tidak boleh gagal!
Dosen VWL kami sangat tegas dan tidak suka basa-basi. Sebenarnya saat aku mengetahui bahwa aku tidak lulus ujian VWL, aku mengirim email kepadanya agar aku diluluskan, agar aku dapat lulus tepat waktu. Aku menjelaskan di email tersebut bahwa Ayahku baru meninggal dan Ibuku memerlukanku di Indonesia. Aku ceritakan kondisi keluargaku. Sejujurnya, aku tahu bahwa tidak pantas menceritakan hal ini dan mencari-cari alasan agar aku diluluskan. Ini menandakan bahwa aku tidak niat dan hanya mencari jalan pintas untuk mencapai hasil yang aku mau.
Selang beberapa hari, aku mendapat jawaban email dari beliau dan beliau mengatakan bahwa keputusannya mutlak dan aku harus mengulang ujian tahun depan. Setelah membaca e-mail tersebut, aku sedih dan malu. Malu karena aku nekat mengirimkan e-mail tersebut kepadanya. Saat mengirim e-mail, aku memang tidak berpikir panjang. Selain itu, aku malu karena sebagai mahasiswa Indonesia, aku merasa hal ini tidak pantas. Menjilat dengan cara seperti itu agar lulus ujian. Memalukan.
Saat itu, Gilang satu-satunya mahasiswa Indonesia yang sudah memulai skripsi. Aku dan lainnya masih berkutat dengan ujian. Salah satu hal yang membuatku tersenyum mengingatnya adalah aku selalu tidak mau kalah dengan Gilang. Tidak mau kalah dalam konteks positif. Kami bersaing sehat, walaupun aku tahu kalau aku tidak bisa menyainginya, hehe. Dia selalu mendorongku untuk melakukan hal-hal yang aku rasa tidak mungkin aku bisa lakukan. Sering aku tersinggung dengan caranya mendorongku, tetapi maksud dia adalah agar aku semangat dan pantang menyerah. Caranya terbukti ampuh untuk memotivasiku. Aku harus bisa seperti Gilang!
Selain aku mengikuti mata kuliah VWL, aku sibuk menulis report magang. Kami harus menulis report minimal 30 halaman. Aku membuka kembali catatan yang aku kumpulkan saat magang. Aku mengingat-ingat kembali apa yang sudah aku kerjakan. Sebenarnya, aku dapat menyambi menulis report sambil magang. Tetapi, aku tidak tahu apa yang ada di benakku saat itu. Aku berpikir bahwa deadline report masih lama, jadi aku bisa bersantai dahulu. Aku selalu mengulur waktu untuk melakukan tugas-tugas penting. Imbasnya, aku sering mengerjakan paper atau tugas penting lainnya last minute. Aku merasa setiap orang dapat mengeluarkan kemampuan optimal saat kepepet deadline. Ya, the power of last minute. Tetapi cara ini tidak selalu berhasil dan tentu saja tidak baik untuk diikuti.
Aku sempat jatuh sakit beberapa kali dan pergi ke beberapa dokter untuk melakukan check up, bahkan aku ditransfer ke dokter spesialis penyakit dalam. Badanku lemas, ulu hati sakit dan pusing. Aku kira maagku kambuh tetapi anehnya pola makanku teratur. Aku juga mengalami panic attack. Jika kambuh, aku gelisah dan nafasku tidak karuan.”Sakit apa aku sebenarnya?”, tanyaku dalam hati. Serangan panik ini sering terjadi jika aku sedang sendirian, namun beberapa kali panic attack terjadi saat aku sedang di keramaian. Hingga suatu hari, saat duduk di kereta menuju kampus, serangan panik itu kambuh. Aku berjalan ke lorong dan rasanya seperti mau pingsan. Orang-orang melihatku dengan tatapan aneh. Setelah beberapa menit berlalu, panik itu hilang. Â
Entah sudah berapa kali sampel darahku diambil dan dicek, tetapi mereka tidak menemukan ada yang salah dengan tubuhku. Tidak puas dengan jawaban mereka, akhirnya aku mencoba ke dokter spesialis penyakit dalam lain dan aku ceritakan keluhanku. Aku ditemani oleh dua orang temanku, Diman dan Sella.
Dokter tersebut memintaku untuk menjalani endoskopi lambung, yaitu pemeriksaan ke dalam saluran pencernaan melalui suatu alat (endoskop). Dokter menyarankanku dibius total agar prosesnya lebih mudah, karena alatnya dimasukkan lewat mulut. Setelah dibius, aku mulai mengantuk dan proses endoskopi dimulai.
Beberapa saat kemudian, aku terbangun dan aku mendapati daerah sekitar mulutku kering dan rasa haus luar biasa. Dokter berkata hal tersebut normal setelah endoskopi. Setelah itu, dokter mengajakku berbicara. Diman menemaniku ke ruang dokter. Aku penasaran dengan hasil endoskopinya. Dokter menjelaskan bahwa lambungku baik-baik saja walaupun ada infeksi sedikit, tetapi bukan sesuatu yang serius. Kemudian, dokter bertanya apa aku stress. Aku jawab tidak. Beliau bertanya apakah aku memiliki masalah dengan kuliah atau keluarga. Tiba-tiba air mataku jatuh, padahal aku tidak ingin menangis. Aku menceritakan tentang Ayahku. Seperti tidak sadar, tangisanku semakin menjadi. Diman yang duduk di sebelahku memberikanku tissue.Â
Dokter mengatakan bahwa yang aku rasakan selama ini adalah dampak dari stress. Dari luar aku terlihat sehat, tetapi sebenarnya aku menyimpan kesedihan yang luar biasa, yang menyebabkan aku stress dan paranoid. Aku mengalami gangguan psikosomatis, yaitu keluhan fisik yang berasal dari gangguan psikis. Dokter menganjurkanku untuk ke psikolog dan melakukan kegiatan yang membuatku bahagia. Sejak itu aku putuskan untuk menulis, karena dengan menulis, bebanku berkurang dan aku merasa bahagia. Aku tidak pergi ke psikolog karena menurutku menulis lebih dari cukup.
Suatu pagi di bulan November, aku sedang membaca newsfeed di Twitter dan tidak sengaja aku membaca namaku menjadi penerima beasiswa Absolventa. Selama ini aku memang mengikuti twitter Absolventa untuk mengikuti update dari program beasiswa yang mereka adakan. Setelah membaca tweet tersebut, aku langsung memberitahu Gilang. Aku masih tidak percaya bahwa aku mendapat beasiswa. “Ah, mungkin aku salah”, kataku dalam hati. Aku menunggu e-mail masuk dari Absolventa dengan harap-harap cemas. Beberapa jam kemudian, e-mail yang aku harapkan datang. Alhamdulillah, ternyata memang benar bahwa aku mendapat beasiswa dari Absolventa. Aku percaya rencana Allah memang lebih indah. Aku dapat melanjutkan S2 di Jerman. Sekarang yang aku inginkan adalah lulus S1 dengan baik. Ayo, tinggal selangkah lagi Mega!
Bersambung..
The Transition (8)
Aku mulai menulis motivasi mengapa aku tertarik untuk melamar beasiswa di organisasi tersebut. Aku tahu bahwa motivasiku tidak jauh berbeda dengan motivasi pelamar lainnya. At least, aku sudah mencoba dan tidak menyerah dengan mimpiku. Setelah aku meng-upload motivasiku lewat website mereka, aku tidak terlalu berharap. Jika memang aku mendapatkan beasiswa tersebut, aku sangat bersyukur dan mungkin ini memang rencana Allah agar aku dapat melanjutkan S2 di Jerman. Dan jika tidak, aku ikhlas. Mungkin aku harus bekerja dahulu kemudian membiayai S2 dengan penghasilanku.
Bulan puasa tiba. Aku lebih menyukai puasa di Indonesia, bukan hanya karena banyak penjaja makanan yang bertebaran saat sore hari, tetapi juga berbuka puasa dengan keluarga memiliki kegembiraan tersendiri. Bulan puasa tahun ini terasa kurang karena Ayah tidak lagi bersama kami. Meskipun demikian, kami tegar dan menjalani hari seperti sebelumnya.
Aku memikirkan rencanaku setelah lulus kuliah. Memiliki beberapa rencana lebih baik daripada memiliki satu rencana. Jika rencana A tidak berjalan dengan baik, maka kita masih mempunyai rencana B. Aku mulai memikirkan untuk berbisnis di Indonesia setelah lulus kuliah. Berbicara tentang bisnis, Ayahku dulu seorang pebisnis dalam bidang cargo. Saat aku masih kecil, Aku sering diajak Ayah menemui partner bisnisnya. Seiring bertambahnya usiaku, aku tidak tertarik dengan bisnis. Aku dulu menganggap bahwa bisnis adalah sesuatu hal yang setiap orang bisa melakukannya. Aku menginginkan sesuatu yang lebih kompleks. Terdengar menyepelekan ya? Begitulah sifat burukku, yang sering menyulitkanku dalam banyak hal.
Lambat laun, bisnis Ayah mulai meredup. Kami harus menjual barang agar kami bertahan hidup. Aku menyesal mengapa Ayah tidak mengajariku bisnis. Atau agar terdengar tidak menyalahkan, mengapa aku tidak berinisiatif untuk belajar bisnis dari Beliau. Ah, sudahlah. Menyesal tidak membuatku maju. Aku harus berjuang dari awal. Saat itu, tekadku untuk pulang ke Indonesia dan berbisnis sangat besar. Alasan utamaku sebenarnya adalah agar dekat dengan Ibu.
Ibu mengajakku dan adik untuk ziarah ke makam Ayah di Bogor, kampung halaman Beliau. Selama di perjalanan, aku membayangkan Ayah. Rasa rindu yang dalam membuatku hampir menitikkan air mata. Aku tidak ingin Ibuku memergokiku menangis. Di perjalanan, kami tidak berbicara sepatah katapun. Perjalanan ke Bogor terasa sangat jauh dan akhirnya kami sampai juga.
Keluarga Ayah menyambut kami dengan hangat. Beberapa dari mereka berkata bahwa wajahku sangat mirip dengan Ayah. Aku sudah mendengar hal ini beratus-ratus kali tetapi aku tetap tersenyum mendengarnya. Aku bangga dikatakan mirip dengan Ayah. Setelah kami mengobrol beberapa lama, Ibuku mengajakku dan adik ke makam Ayah. Aku tidak sabar untuk melihat makam Beliau.
Makam Ayah ditumbuhi pepohonan kecil. Nisan beliau memudar. Kami pun mendoakan Ayah. Tak sadar aku mengucurkan air mata. Aku berbicara dalam hatiku “Ayah, apa kabar? Aku rindu. Maaf jika Aku baru sempat ke sini. Aku punya banyak sekali cerita, Sebentar lagi aku lulus kuliah. Perjuanganku kuliah di negeri orang sangat sulit, Ayah. Tetapi aku akan membuatmu bangga, aku janji”. Aku melihat Ibu dan adik juga menangis. Suasana saat itu sangat haru.
Setelah mengunjungi makam Ayah, aku merasa lega. Aku bertekad akan membahagiakan Ibu dan adik. Prioritasku adalah lulus kuliah. Aku tahu orang tuaku sangat berharap banyak dariku, Aku salut oleh pengorbanan mereka untuk membiayaiku dan adikku kuliah. Mereka ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.
Saat itu, semua teman-teman seangkatanku di Indonesia sudah lulus kuliah dan banyak yang sudah bekerja. Beberapa dari mereka menanyakan kapan aku lulus. Pertanyaan seperti ini sebenarnya sangat wajar, mengingat di Indonesia waktu kuliah adalah empat tahun. Aku menjelaskan kepada mereka bahwa sistem kuliah di Jerman sangat berbeda. Orang asing yang ingin kuliah di Jerman harus mengikuti Studienkolleg atau preparatory course atau kelas persiapan. Hal ini dimaksudkan untuk menyetarakan pendidikan orang asing yang berasal dari negara lain selain Jerman, karena di Jerman lama waktu pendidikan dasar sampai menengah atas adalah 13 tahun. Setelah aku jelaskan, mereka pun mengerti.
Aku tidak malu karena lulus kuliah lebih lama dari teman-temanku di sini, Aku mendapat banyak pelajaran berharga di Jerman, dan pelajaran tersebut membuka mata dan pikiranku. Bukan berarti aku mengatakan di Indonesia tidak bagus. Menurutku, kuliah di mana-mana sama saja, tergantung bagaimana kita menjalaninya. Banyak anggapan kalau orang kuliah di luar negeri karena gengsi. Mungkin bagi beberapa orang itu benar, tetapi tidak untuk kami yang kuliah di Jerman. Kami berjuang keras. Beberapa dari kami bahkan ada yang harus bekerja sehingga kuliahnya terbengkalai.
Beberapa hari sebelum Idul Fitri, aku jatuh sakit. Badanku demam dan ulu hatiku sakit. Aku takut gejala typhus seperti yang pernah aku alami beberapa tahun lalu. Ibu membawaku ke dokter dan aku menjalani tes darah. Trombositku rendah, Dokter mengatakan aku terkena demam berdarah. dan aku disarankan untuk dirawat inap.
Walaupun aku sakit, tetapi nafsu makanku sangat besar. Ibuku geleng-geleng kepala ketika aku mengatakan masih lapar, padahal aku baru menghabiskan makan siangku. Aku ingin sembuh dan cepat keluar dari rumah sakit. Sehari sebelum Idul Fitri darahku dicek lagi dan hasilnya bagus. Dokter membolehkanku pulang. Aku senang karena tidak harus berada di rumah sakit saat Idul Fitri.
Keesokan harinya, Ibu, aku dan adik mengunjungi rumah Emak (panggilan untuk nenek). Beliau berumur 83 tahun saat itu. Mata sebelah kanan Beliau sudah tidak dapat melihat karena katarak. Walaupun sudah berumur, Emakku masih sehat dan Beliau sering jalan mengunjungi anak dan cucunya. Waktu aku masih bayi, Ibu dan Ayah harus bekerja dan mereka menitipkanku kepada Emak, maka dari itu hubungan kami sangat dekat. Tak disangka, Idul Fitri tersebut adalah saat terakhir aku melihat Beliau.
Bersambung..
Makin penasaran sama cerita kakak. Memberi motivasi banget kak ceritanya! Terima kasih sudah berbagi
Hallo, terima kasih juga sudah mau membaca :)
The Transition (7)
Salah satu ujian dari semester empat, Management and Organization, yang merupakan kesempatan terakhirku, berhasil aku lewati dengan nilai yang cukup baik. Ujian tersebut dilangsungkan ketika aku magang. Aku cuti sehari untuk mengikuti ujian ini. Ujiannya berupa ujian lisan. Jika kamu membaca blog ini dari awal, kamu pasti tahu dengan pengalamanku saat sedang melakukan ujian lisan yang ditertawakan oleh dosen karena jawabanku yang lucu. Iya, dosen mata kuliah ini merupakan dosen yang sama saat ujian lisan dahulu. Aku dapat membuktikan kepadanya bahwa aku tidak menyerah dan aku belajar sungguh-sungguh untuk lulus.
Setelah tiga bulan aku magang di tempat yang baru, akhirnya hari terakhir magangku tiba juga. Lega rasanya menyelesaikan dua tahap terakhir sebelum lulus kuliah. Pengawasku, Joern, sangat baik sekali. Dia menawarkanku untuk memperpanjang kontrak magangku. Tetapi aku tidak bisa memperpanjang kontrak karena aku harus ke Indonesia. Aku ingin mengunjungi keluargaku. Dia pun memakluminya.
Upah magang yang aku dapat selama tiga bulan cukup untuk aku belikan tiket pesawat ke Indonesia. Ada perasaan bangga yang muncul ketika membeli sesuatu dari jerih payah sendiri. Aku mengerti bagaimana orang-orang bekerja keras demi keluarganya. Aku dihadapkan dengan kenyataan bahwa aku harus menjadi tulang punggung keluargaku, tetapi aku masih belum memiliki pekerjaan tetap. Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga dan tidak memiliki penghasilan, sedangkan adikku butuh biaya besar untuk masuk kuliah tahun ini. Belum lagi sisa hutangku ke bank yang belum dilunasi. Kalimat “andai saja” terbesit di pikiranku, seperti, “Andai saja dulu aku tidak kuliah di Jerman, mungkin..” atau “Andai saja dulu aku tabung uang hasil kerjaku dan tidak membuang-buang uang, mungkin..”.Â
Aku menyadari bahwa tidak ada gunanya menyesali hal yang sudah terjadi. Penyesalan tidak akan merubah situasi. Yang dapat aku lakukan sekarang adalah berdoa dan berusaha. Mungkin yang aku butuhkan saat ini adalah bertemu dengan Ibu dan adikku, bersantai sejenak dari hal-hal yang menyita pikiranku.
Di pesawat dalam perjalanan ke Indonesia, aku mulai memikirkan perkataan Ayah di telepon setahun yang lalu. Ayahku bertanya apa yang aku lakukan setelah lulus kuliah. Aku menjawab dengan penuh keyakinan bahwa aku ingin sekali melanjutkan S2 di Jerman. Mendengar hal tersebut, Ayahku menjanjikanku akan membiayai pendidikan S2 setelah aku lulus kuliah. Aku senang bukan main saat itu.
Namun, hal itu hanyalah mimpi. Lulus Bachelor saja aku sangat bersyukur, mengingat keadaan ekonomi keluarga kami yang kurang bagus beberapa tahun belakangan ini. Aku berpikir untuk pulang dan bekerja di Indonesia setelah lulus kuliah.Â
Akhirnya setelah 16 jam perjalanan, pesawat mendarat di bandara Soekarno Hatta. Jakartaku cerah siang itu. Aku tak sabar bertemu dengan Ibuku. Dua tahun tidak bertemu dengan keluargaku sangatlah berat. Terakhir aku ke Indonesia yaitu tahun 2008. Dua tahun itu pula aku banyak mendapat banyak pelajaran berharga.
Di baggage claim, aku dan penumpang lain menunggu koper kami keluar dari conveyor belt. Sambil menunggu, aku lihat ekspresi orang-orang yang sedang menunggu koper mereka. Ada yang khawatir karena mereka belum mendapati koper mereka. Ada juga yang tersenyum sambil memegang handphone. Ada juga yang terlihat lelah dan meminta jasa porter. Tapi aku tahu yang kami inginkan sama, yaitu cepat-cepat bertemu dengan keluarga kami. Beberapa belas menit kemudian, aku melihat koperku keluar dari conveyor belt.
Aku berjalan menuju pintu keluar sambil mendorong koper. Kurasakan suasana flashback saat aku berjalan menuju pintu keluar gate dua tahun yang lalu. Ibu dan Ayahku menungguku di batas besi tempat orang-orang menunggu. Perasaan terharu dan senang meilhat mereka setelah tidak bertemu dua tahun lamanya. Setelah berhenti membayangkan hal itu, aku menahan diri untuk tidak menangis di depan Ibu. Aku tidak ingin melihat Beliau menangis. Aku melihat sekeliling dan kudapati Ibu dan Uwa (kakak Ibu) menungguku.
Aku menghampiri mereka dan Ibu menangis memelukku. Aku tak kuasa menahan air mata ini. Aku peluk Ibuku kembali. Aku memperhatikan ada yang berbeda dari Ibuku. Beliau tampak kurus dan menua. Aku memeluk Beliau erat. Kami menangis. Aku tak peduli dengan orang-orang yang melihat kami. Setelah itu kami memanggil taksi dan pulang ke rumah.
Sesampai di rumah, aku merasakan suasana rumahku yang sepi. Sangat berbeda ketika Ayahku masih ada. Adikku sudah masuk kuliah di ITB dan setiap sebulan sekali dia pulang. Aku hanya berdua dengan Ibu. Ibu menceritakan kepadaku apa yang terjadi kepada almarhum Ayahku. Sebenarnya Ayah sudah dua kali pingsan sebelum akhirnya Beliau menghembuskan nafas terakhir. Penyebabnya juga sama seperti pingsan waktu pertama kali, yaitu sedang bermain badminton. Entah sudah beberapa kali Ibu sudah memperingatkan Ayah untuk berhenti berolahraga berat, tetapi Ayah tidak mau mendengarnya. Beliau sangat menggemari badminton.
Ibu sengaja tidak mau menceritakan kepadaku karena takut kalau aku khawatir sampai mengganggu kuliah. Pada kenyataannya aku memang sangat khawatir dengan keadaan Ayah sejak aku mendengar Beliau pingsan yang pertama kali. Dan sulit untuk fokus belajar karena memikirkan kesehatan Beliau.Â
Aku melihat barang-barang Ayah yang masih ada di rumah. Melihat suatu barang tertentu memang dapat membawa ingatan kita pada memori tertentu. Aku melihat sepatu olahraga Ayah yang aku belikan sebagai oleh-oleh dua tahun lalu saat sedang summer sale. Ternyata Ayahku selalu memakainya ketika pergi berolahraga. Sepeda yang sering Beliau gunakan, sajadah, bahkan handuk kecil yang sering Ayah bawa mengingatkanku akan Beliau.
Suatu siang, aku sedang membaca artikel di internet, kemudian terbesit dalam pikiranku untuk mencari beasiswa. Aku mulai mencari info-info beasiswa untuk melanjutkan S2. Saat itu ada beberapa foundation yang menawarkan beasiswa, tetapi pendaftaran sudah tutup dan dibuka lagi semester depan. Aku tidak menyerah, aku mencari informasi lain yang dapat membantuku mewujudkan mimpiku.
Akhirnya aku menemukan satu website organisasi profit di Jerman yang membuka pendaftaran beasiswa. Menariknya, konsep mereka berbeda dari penyelenggara beasiswa kebanyakan. Mereka memakai konsep voting. Kita tidak perlu memiliki nilai yang sangat bagus untuk mengikuti program beasiswa ini. Yang kita butuhkan hanya motivasi mengapa kita berhak mendapat beasiswa. Tentu saja dalam bentuk apapun, baik tulisan, video, presentasi, musik, dll. Organisasi ini terbilang baru saat itu karena mereka baru menyediakan beasiswa tahun lalu. Sumber dana mereka berasal dari sponsor, yaitu perusahaan-perusahaan besar di Jerman.
Tak menunggu lama, aku segera mendaftarkan diriku di website tersebut. Aku tahu mimpiku belum berakhir di situ, aku percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin dengan izin Allah. Ayahku mungkin belum bisa menepati janjinya untuk membiayaiku melanjutkan S2, tetapi Allah mempunyai rencana lain yang lebih indah.
Bersambung..
The Transition (6)
Kami berbicara di luar ruangan. Betreuer atau pengawasku, sebut saja Anne, juga ikut dalam pembicaraan ini. Tatapannya kepadaku seperti tatapan tidak tega. Perasaanku mulai tidak enak. Entah apa lagi yang akan terjadi. Kemudian atasanku, Philip, memulai pembicaraan.
Philip: “Mega, kamu sudah bekerja disini hampir dua bulan dan kita sudah menilai pekerjaanmu. Sepertinya kamu tidak cocok untuk pekerjaan ini karena pekerjaan ini butuh seseorang yang bisa berbahasa Jerman dengan lancar. Setiap hari kita berhubungan dengan supplier dan customer. Dengan kemampuan bahasa Jerman kamu yang seperti ini, kita tidak yakin kamu dapat melanjutkan magang di sini. Dan itu artinya kita harus memberhentikan kamu”.
Aku bisa merasakan wajahku memanas menahan air mata.
Aku: “Oh begitu ya. Maaf jika pekerjaan saya kurang bagus. Kalau boleh tahu, sampai kapan saya bisa magang di sini?”
Philip: “Sampai hari ini. Jangan khawatir, kamu tetap mendapat upah magang full bulan ini sambil mencari tempat magang lain. Kamu bisa meminta referensi ke HR (Human Resource). Terima kasih sudah magang dengan kita ya”.
Singkat, jelas dan tanpa basa basi. Aku tidak percaya apa yang baru saja Philip katakan. Hari ini aku masuk kerja hanya untuk dipecat setelah itu aku pulang menjadi pengangguran. Mimpi apa aku tadi malam.
Sambil berusaha untuk tersenyum, kami masuk kembali ke dalam ruangan. Philip kembali ke ruangannya. Anne tidak berkata apa-apa dan ia kembali ke mejanya. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku tidak pernah mendapat teguran dan sepertinya pekerjaanku baik-baik saja.
Aku menemukan sebuah surat di atas mejaku. Dan benar saja, surat itu adalah surat pemberhentian kerja. Ini adalah kali pertama aku dipecat secara resmi di Jerman. Aku melihat ke sekelilingku dan orang-orang berpura-pura tidak melihatku.
Aku bisa mendengar sayup-sayup suara seseorang membicarakanku. Walaupun aku tidak bisa berbahasa Jerman dengan fasih, aku mengerti apa yang orang katakan. Suara itu adalah suara Jan, team leader divisi kami yang bertanya kepada Anne mengapa aku diberhentikan. “Sepertinya dia kerjanya tidak ada masalah. Kenapa sih?”, tanya Jan dengan pelan agar suaranya tidak terdengar olehku. Tetapi Anne tidak menjawab apa-apa. Mungkin dia mau menjawab setelah aku keluar dari tempat itu.
Kemudian aku mulai membereskan mejaku, mematikan komputer dan bersiap-siap untuk keluar dari sana. Suasana di kantor tiba-tiba terasa asing dan tidak bersahabat. Sebelum aku keluar ruangan, aku mengucapkan terima kasih kepada Anne. Dia memelukku. Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca. Setelah itu aku keluar dengan ekspresi wajah kecewa dan sedih. Aku tidak dapat membohongi diriku sendiri kalau aku sangat terpukul. Ingin rasanya aku teriak “KENAPA HARUS AKU?!”. Aku merasa ini tidak adil.
Setelah sampai di rumah, aku lanjut menangis. Kemudian aku memberitahu Gilang tentang ini. Dia mencoba menghiburku dan menyemangatiku. Dia mendorongku untuk tidak terus-terusan sedih dan coba melamar di tempat lain. Aku bersyukur dikelilingi dengan orang-orang yang aku sayang dan dapat membuatku menjadi pribadi yang lebih baik. Aku mulai termotivasi kembali.Â
Dua minggu kemudian, aku mendapat panggilan interview. Interviewnya berlangsung cukup singkat dan aku sudah tak sabar memulai magang di tempat ini. Suasana kerja yang internasional membuatku yakin peluang diterima magang di tempat itu lebih besar. Selain karena banyak orang asing yang bekerja di tempat tersebut, bahasa Inggris juga merupakan bahasa yang digunakan sehari-hari.
Sekitar dua hari setelah interview, aku mendapat jawaban positif dari mereka. Alhamdulillah, tidak sampai sebulan aku bisa magang lagi di tempat baru. Tentu saja hal tentang aku dipecat tidak aku ceritakan kepada Ibuku. Aku tidak mau Beliau khawatir dengan keadaanku di sini.Â
Di tempat magang yang baru ini aku bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan, terlebih lagi kami berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Lucunya, aku bertemu dengan teman satu Studienkolleg dan satu kampus, Camila. Ia berasal dari Brazil dan orangnya sangat ramah. Dan ternyata, Camila sudah mulai magang di tempat ini sejak dua bulan yang lalu.Â
Camila bercerita bahwa dia sedang menunggu hasil sidang dekan karena ada satu ujian yang tidak lulus di percobaan terakhir. Oleh karena itu, dia tidak bisa mengerjakan skripsinya sampai hasil sidang turun, namun dia diperbolehkan magang dan mengikuti ujian lainnya. Memang cukup membingungkan. Aku membayangkan diriku di posisinya. Jelas aku akan kecewa karena perjuanganku untuk dapat kuliah di Jerman sangat sulit. Menunggu hasil sidang dekan berbulan-bulan pasti juga akan membuatku tidak semangat untuk melakukan kegiatan apapun. Di satu sisi, Camila tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi di sisi lain dia tetap semangat bekerja dan menyembunyikan rasa sedihnya dengan candanya. Aku salut kepadanya. Seiring berjalannya waktu, kami menjadi sahabat.
Namun, setelah sebulan aku magang, kontrak magang Camila selesai. Aku sedih karena aku akan merindukan Camila. Aku berharap hasil sidang dekan tidak mengecewakan. Setelah itu aku mengetahui Camilla pindah kampus dan mengulang kembali dari awal. Kami tidak berhubungan sama sekali sejak saat itu. Kami hanya beberapa kali bertegur sapa di Facebook.
Setelah Camila keluar, aku menemukan dua teman baru yang kemudian menjadi teman baikku, yaitu Agnieszka yang biasa dipanggil Agnes dan Roxane. Agnes berasal dari Polandia dan Roxane berasal dari Perancis. Kami seperti adik kakak karena selisih umur kami bertiga hanya terpaut tiga tahun. Agnes yang tertua dan Roxane yang termuda. Roxane dan aku lahir di tanggal dan bulan yang sama. Selain itu sifat kami bisa dibilang mirip. Agnes sedang melanjutkan S2 di Berlin dan Roxane juga sedang kuliah S1 sama denganku. Dia bercerita bahwa di kampusnya, semua mahasiswa wajib magang di luar negeri minimal dua bulan.Â
Roxane dan aku menjadi sangat akrab, bahkan kami sering jalan-jalan atau nonton di bioskop saat weekend. Roxane suka sekali dengan budaya Korea, mulai dari K-Pop, drama korea sampai nama artis korea semua dia hafal. Bahkan, dia bermimpi untuk tinggal di Korea. Aku hanya bisa menggeleng kepala jika Roxane mulai bergosip tentang artis Korea yang aku sama sekali tidak tahu, hehe.
Singkat cerita, Roxane harus kembali ke Perancis karena waktu magang sudah selesai. Akupun merasa berat harus kehilangan teman baikku. Aku ingin memberikannya kenang-kenangan sebelum dia balik ke Perancis. Aku ingat kalau Roxane selalu menyimpan uang di plastik tempat makan atau di tas. Setiap ditanya mengapa dia tidak membeli dompet, Roxane berkata dia tidak memerlukannya. Tetapi aku tahu dia sangat membutuhkannya. Maka dari itu aku membelikannya dompet agar dia selalu memakainya.
Sehari sebelum Roxane kembali ke negaranya, kami jalan-jalan mengitari Berlin Hauptbahnhof, kemudian ke Reichstag. Sungguh cepat sekali waktu berjalan membuatku tersadar bahwa waktu magangku juga akan segera berakhir di bulan Juli. Senyum bahagia terlihat jelas di wajah kami setelah kami bercerita tentang mimpi masing-masing.
Sebelum kami berpisah, aku memberikan dompet itu kepadanya. Roxane sangat senang sekali dan dia berjanji untuk memakai dompet tersebut. Kami berjanji akan menghubungi satu sama lain walaupun nantinya kami sama-sama sibuk. Seperti ungkapan dalam bahasa Jerman; Man sieht sich immer zweimal im Leben. Kamu akan bertemu dengan orang yang sama dua kali dalam hidupmu. Aku percaya bahwa kami akan bertemu kembali, entah itu setahun atau sepuluh tahun lagi.
Bersambung..
The Transition (5)
Aku mencoba menghubungi rumah tetapi tidak ada yang mengangkat. Ibuku dan adikku tidak mengaktifkan handphone mereka. Aku merasa tidak ada yang peduli denganku karena tidak ada yang menghubungiku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Ingin aku segera membeli tiket pesawat tetapi aku tidak memiliki cukup uang. Aku menunggu telepon dari Ibu sambil membayangkan kembali memori masa kecilku dengan Ayah.
Tak lama kemudian, Ibu meneleponku. Aku dapat mendengar suara Ibuku yang sangat amat sedih di ujung telepon. Aku tak dapat membendung air mataku. Aku menangis lagi. Ibuku menceritakan kronologisnya. Seperti biasa di pagi hari Ayahku pamit untuk bermain badminton di stadion dekat rumah. Setelah sampai di luar rumah, Beliau masuk kembali. Ibuku pikir ada yang tertinggal. Tetapi ternyata, Ayahku menghampiri Ibu dan mengecup dahinya sambil tersenyum. Kemudian Beliau pamit. Tidak biasanya Ayahku mengecup dahi Ibu sebelum Beliau bepergian.
Sekitar jam 10 pagi, Ibuku mendapat kabar dari seorang teman Ayah yang mengatakan Ayah tidak sadarkan diri saat lari pagi di stadion dan mereka sedang menunggu ambulans datang. Ibu kaget mendengarnya. Ternyata setelah Ayah bermain badminton, Beliau lanjut lari pagi. Hal ini yang membuat Beliau terserang penyakit jantung.
Ibu kemudian bergegas menuju rumah sakit tempat Ayah dibawa. Sesampai di rumah sakit, dokter berkata bahwa mereka sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan Ayah, namun takdir berkendak lain. Ayahku dipanggil yang Maha Kuasa.
Ibu masih belum percaya apa yang dikatakan dokter tersebut karena beberapa jam lalu Ayah masih sehat, bahkan bercanda dengan Ibu. Setelah itu, Ibu memberitahukan adikku dan keluargaku yang lain tentang kabar duka ini. Adikku saat itu masih duduk di kelas 12. Masih terbilang muda untuk kehilangan figur seorang Ayah. Sementara aku, di sini hanya bisa menangis. Aku merasa durhaka kepada Ayah karena sering membuat Beliau kesal. Aku belum bisa membahagiakan orang tuaku.
Setelah Ibu menceritakan kejadian tersebut, aku meminta uang untuk membeli tiket pesawat ke Indonesia untuk melihat Ayah. Ibuku mengatakan bahwa saat ini keadaan keuangan keluarga kami sedang tidak bagus dan lebih baik aku mendoakan Ayahku dari jauh sambil menyelesaikan kuliahku. Bisa dibayangkan betapa sedihnya aku tidak dapat melihat Ayah untuk terakhir kalinya. Aku selalu mendoakan Ayahku dan supaya aku tidak terlarut dalam kesedihan. Selain itu, aku melampiaskan semua dalam tulisan. Aku merasa bahwa menulis adalah pelampiasanku yang terbaik.
Ujian semester lima di bulan Januari telah dimulai. Aku masih belum bisa fokus, tetapi aku terbayang wajah Ayah yang telah berkorban banyak agar aku dapat kuliah di Jerman. Aku mulai bangkit kembali. Aku mengikuti 8 ujian saat itu, Dua ujian dari semester lalu merupakan kesempatan ketiga dan juga merupakan kesempatan terakhir. Jika aku tidak lulus, maka aku akan dikeluarkan dari kampus. Aku berusaha belajar walaupun masih belum bisa konsentrasi sepenuhnya. Kata gagal tidak ada dalam kamusku. Aku ingin membuat bangga orang tua dan Adikku.
Setelah melewati masa ujian, akhirnya hasil ujian diumumkan. Aku tidak lulus dua mata kuliah dari semester lima. Tetapi kabar baiknya adalah aku lulus dua ujian yang merupakan kesempatan terakhirku. Alhamdulillah aku sangat bersyukur. Walaupun nilaiku tidak luar biasa, tetapi aku bangga pada diriku dan yakin bahwa jika kita menginginkan sesuatu, dengan doa dan kerja keras niscaya kita dapat meraihnya.
Liburan winter semester tiba. Aku mulai melamar untuk magang. Kebanyakan Universitas mewajibkan mahasiswa untuk magang sebelum menulis Bachelorarbeit atau skripsi. Biasanya magang berlangsung minimal tiga bulan dan maksimal enam bulan. Setelah magang selesai, kita harus menulis report apa saja yang kita kerjakan selama magang. Report tersebut harus dikumpulkan agar mahasiswa mendapatkan Schein atau tiket untuk dapat melanjutkan Bachelorarbeit.
Setelah mengirim lamaran ke beberapa perusahaan, akhirnya aku mendapat panggilan interview. Sebetulnya, aku sangat grogi karena bahasa Jermanku belum fasih. Tetapi, aku harus yakin pada diriku-sendiri bahwa aku bisa melakukannya. Singkat cerita, aku diterima magang di sebuah Start-Up yang menggeluti sektor retail. Kontrak magang berlangsung selama 6 bulan dengan masa percobaan 3 bulan. Suatu hal yang normal. Upah magangku 250 Euro per bulan. Rata-rata Start Up di Berlin memberikan upah setiap Praktikant atau orang yang magang 250 sampai 400 Euro setiap bulan saat itu.
Setiap Praktikant juga memiliki Betreuer atau pengawas, yaitu seseorang yang bertanggung jawab untuk membimbing mereka. Praktikant juga harus membuat laporan ke Betreuer mereka setiap hari. Bulan Februari 2010 aku mulai magang. Betreuer dan semua kolegaku sangat baik dan siap membantu kapanpun aku ada kesulitan. Aku mulai terbiasa dengan tugas yang diberikan. Terkadang, Betreuerku memintaku untuk mengerjakan tugas baru yang menurutku challenging. Apapun pekerjaannya aku lakukan kecuali berbicara dengan supplier atau customer di telepon. Hingga suatu hari..aku dipanggil oleh atasanku.
Bersambung..
The Transition (4)
Semester tiga telah dimulai. Flashback liburan di Indonesia masih belum hilang dari benakku. Tetapi kali ini motivasiku kembali karena sudah bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi di Indonesia. Namun, ada hal lain yang menggangguku yaitu hutangku ke bank. Ya, aku membuat rekening giro di sebuah bank dengan limit pengambilan 1000 Euro. Sampai saat ini, aku tidak mengerti apa yang telah aku habiskan dengan uang sebanyak itu. Lagi-lagi sifat impulsif yang mendorong aku untuk membeli barang-barang yang tidak penting.Â
Ibuku sudah tahu tentang ini dan Beliau memintaku untuk segera melunasinya karena bunganya cukup tinggi. Dan memang benar, cicilan yang aku setorkan ke bank hanya menutupi bunga bank. Pihak bank akan menghubungiku jika aku tidak menyetor cicilan dalam sebulan. Setiap mengangkat telepon, jantungku berdegup keras. Aku takut diminta untuk melunasi semuanya saat itu juga. “Butuh berapa lama sampai aku dapat melunasi hutang-hutangku ini? Apakah ada cara lain selain bekerja untuk melunasinya dengan cepat?” batinku.
Dari mengikuti undian berhadiah di website, lotere, sampai iklan pop-up yang mengiming-imingi hadiah iPhone. Semua tidak membuahkan hasil. Dan khayalanku untuk mendapatkan uang dengan cara cepat buyar sudah. There’s no such a thing as a free lunch. Aku mencari kerja tetapi belum mendapatkan panggilan. Akhirnya aku menjual laptopku untuk membayar sebagian hutangku. Laptopku terjual dengan harga 400 Euro, hampir 1/2 dari harga yang aku beli.
Di satu sisi, aku sedikit merasa lega karena sudah mencicil hutang sedikit demi sedikit. Tetapi di sisi lain, aku tidak memiliki laptop. Artinya aku tidak dapat mengerjakan tugas dan tetek bengek lainnya. Beberapa lama kemudian, Gilang, pacarku saat itu berbaik hati membelikanku laptop. Walaupun bekas tetapi masih berfungsi dengan baik dan aku sangat berterimakasih padanya karena dia selalu menolongku di saat aku susah.
Aku mendengar kabar dari Ibu kalau Ayah pingsan ketika bermain badminton. Ayahku memiliki diabetes dan saat itu gula darahnya tinggi. Ibuku berkata bahwa dokter menyuruhnya untuk tidak bermain badminton dan menyarankan untuk berenang. Berenang dapat memperkuat jantung dan dapat mengontrol gula darah. Tetapi Ayahku keras kepala. Ibuku melarangku untuk bercerita kepada Ayah tentang masalah ini. Setelah mendengar kabar itu, aku menangis. Aku takut kehilangan Ayah.
Setahun berlalu, liburan summer tiba. Sungguh cepat waktu berjalan. Sepertinya aku baru saja dari Indonesia kemarin. Aku menelepon Ibu untuk meminta tiket ke Indonesia. Tetapi Ibu tidak setuju dan Ayahku menjelaskan kepadaku bahwa mereka sudah banyak sekali mengeluarkan uang untukku setiap bulan. Biasanya setelah dinasehati aku akan berkata balik. Tetapi saat itu, aku menuruti kata-kata Ayah. Tidak ada rasa kesal sama sekali karena keinginanku tidak terpenuhi.
Bulan desember tiba. Bulan kelahiranku. Saat itu, aku sedang smsan dengan Ayah. Seperti biasa setiap awal bulan Ayahku mengirimkan uang bulanan. Tetapi, saat itu Beliau mengirimkan uang lebih agar aku membeli laptop baru. Sebelumnya aku menceritakan kepada Beliau bahwa laptopku rusak.
Tidak biasanya Ayahku mesra denganku, Beliau berkata kalau laptop itu hadiah ulang tahunku darinya. Aku sangat senang sekali dan aku membalas sms Ayahku “Makasih ya Pah. I love you”. Kalimat yang jarang aku utarakan kepada Ayah. Ayah membalas “Papah juga sayang Mega”. Senyum terukir di wajahku. Aku berharap hubungan kami akan selalu seperti ini. Aku pun khawatir pada kondisi kesehatan Ayah dan menyarankan Beliau untuk mulai berenang dan tidak bermain badminton. Ayahku hanya berkata iya.
Jumat pagi, 25 Desember 2009.Â
Temanku Weni sedang menginap di flat. Telepon Weni berdering. Aku bangun sambil mengantuk, membangunkannya. Weni pun mengangkat telepon itu. Suaranya berubah. Aneh. Firasatku mengatakan ada yang tidak beres. Pandangan Weni tertuju kepadaku. Aku terbangun. Setelah menutup teleponnya, aku bertanya kepada Weni siapa yang meneleponnya dan ada apa. Dia tidak berkata apa-apa dan merangkulku. Aku bingung.
Tidak lama setelah itu, teleponku berdering. Nama Gilang muncul di layar telepon. Ada rasa takut untuk mengangkat telepon itu.
“Hallo?..” sapaku.
“Kamu yang tabah ya..Aku dapat kabar kalau Papamu meninggal pagi tadi di Indonesia..” suara Gilang terdengar parau.
Jantungku berdetak sangat keras. Tubuhku lemas. Aku nangis terisak. Aku tidak percaya. Bagaimana bisa? Dua minggu lalu kami saling membalas sms dan hubungan kami berdua sedang sangat baik.
Gilang terdiam di telepon. Aku masih menangis dan menutup teleponnya. Aku tidak dapat berpikir jernih. Aku hanya ingin ke Indonesia dan melihat Ayah. Aku ingin mengatakan bahwa aku sayang Beliau dan aku ingin meminta maaf kepada Beliau. Weni memelukku. Sella, roommateku masuk ke kamar dan bertanya-tanya apa yang terjadi karena dia mendengar aku menangis dengan kencang. Setelah mendapat isyarat dari Weni, Sella pun berusaha menenangkanku. Untungnya saat itu aku tidak sendirian.
Aku hanya ingin mendengar suara Ayah dan Ibuku. Aku hanya ingin pulang ke Indonesia saat itu juga. “Ini semua hanya mimpi. Ini tidak nyata” batinku.
Bersambung..
hallo kak mega! keep posting ya kak, aku selalu nunggu cerita2 yang menginspirasi dari kakak. sukses terus ya kak!
Hallo, makasih yah udah mau baca. New post will be uploaded soon :)
Hi! I saw you are attending the Stidienkolleg, may I ask how did you apply?
Hi there! I applied through Uni Assist. You can read the information here. Hope it helps :)
ka informatik di wirtschaft pelajarin tentang apa? bisa gk klo kita gk ambil mata pelajaran itu?
Hallo! Mata kuliah Informatik di Wirtschaft belajar tentang OOP (Object Oriented Programming). Yang saya tahu kita harus mengambil mata pelajaran tersebut karena itu termasuk dalam kurikulum W.Informatik. Semoga membantu.
mau nanya kuliah di jerman ya ? kalau gak ada absensi ? bisa gak sih bolak balik jakarta jerman , datang cuma waktu praktikum ?
Hallo! Iya memang kuliah kebanyakan tidak ada absensi, tetapi menurut saya agak sulit untuk langsung praktikum karena banyak perusahaan meminta kita melampirkan nilai ujian sementara. Selain itu jika kita hanya ikut ujian tanpa mengikuti mata pelajarannya kecil kemungkinan untuk lulus. Kecuali kita sudah paham isi mata kuliah tersebut. Semoga membantu.
Hai ka megaaa! Dulu sblm aku ke jerman aku suka nanya2 kakak di twitter & skrg aku udah di jerman bahkan udh kuliah smt 2 senenggg. Sukses terus ya kaaak!
Haallloo! Wahhh I’m happy to hear that! Terima kasih ya, kamu juga terus berusaha dan sukses selalu!
Hallo ka, aku suka deh baca cerita-cerita tentang kuliah&studkol disana yg kaka laluin dengan perjuangan. aku salut bgt! soalnya tahun ini aku baru mau berangkat k jerman dan sbntr lagi perjuanganku juga dimulai hehe. ka, boleh kasih tips ga apa yg harus aku persiapin atau gimana kiat sukses selama studkol/FH?
Hallo! Terima kasih ya sudah membaca :) Â Kalau tips dari aku kamu ga boleh nyerah. Misalnya gagal dalam satu atau beberapa ujian, kamu minta bantuan teman yang mengerti mata kuliah tsb. Work hard play hard. Boleh kita seru-seruan sama teman tapi jangan lupa kita juga punya kewajiban. Kalau kamu lagi ga semangat, kamu inget alasan pertama kamu ke Jerman kenapa dan ingat orang tua. Insyaallah berhasil. Sukses ya studinya dan aku tunggu cerita perjuangan kamu! :)