#DrunkOnCoffee: Friendship
WARNING: THIS COULD BE THAT ONE VERY EMOTIONAL AND SUSPICIOUSLY DIRECTED TO A SPECIFIC SOMEONE KIND OF POST.
PROCEEDS AT ALL COSTS.
-------
I should drink coffee more.
Karena kopi membuat gua bertindak seperti orang mabuk. Bukan karena gue tahu apa rasanya mabuk ya. Maksudnya; meracau kemana-mana, jujur tentang sebuah perasaan yang aslinya gabisa gua ekspresikan. Dan malam ini, efek kopi gua sedang kicks in. Which means gua bisa nulis sesuatu.
This is what i truly want to talk about:
----
Friends can break your heart too.
Dan kadang, putusnya sebuah pertemanan itu lebih berbahaya daripada putusnya dua sejoli. Karena kebanyakan pertemanan itu tidak putus karena pertengkaran hebat, tapi karena merenggang-pelan-pelan. Tumbuh besar dan dewasa tapi tidak bersama. Perlahan tanpa ada peringatan. Tidak ada keluhan: ''kamu berubah:'' layaknya pasangan yang mengeluh hubungannya tak lagi seindah masa PDKT.
Awalnya, karena kesibukan. Awalnya, karena berbeda jarak atau kegiatan. Lantas, yang tiap hari bercanda di ruang kelas atau ruang maya, menjadi tiap minggu. Kemudian menjadi bulan. Kemudian menjadi tahun.
Tahap pertama: Segala chat spam antara kalian hilang. Tidak ada lagi perang stiker atau sedekah meme dalam grup kecil itu
Tahap kedua: Frekuensi cerita-cerita kecil tentang keseharian kalian berkurang. Tidak ada lagi yang berkabar tentang doi baru mereka, kelas pengganti mendadak, atau partner organisasi yang nyebelin
Tahap ketiga: Kini, bahkan mereka tidak lagi mencurahkan hati padamu. Entah karena menemukan teman-teman baru, ataukah karena masalah mereka sudahlah sangat asing dalam hidupmu.
Tahap keempat: SELAMAT! Kini grup untuk menyiarkan posting-an OA kepanitiaanmu bertambah!
(Rasanya aneh. Kamu berkedip, dan kemudian mereka menjadi orang berbeda.)
Tahu-tahu, kamu tidak lagi menyapanya di lorong kampus, karena kamu tidak yakin apakah itu dia, yang kini memakai pensil alis. Tahu-tahu, kamu tidak bisa menggoda kisah cintanya, karena dia sudah memiliki kekasih baru yang tidak pernah kamu kenal. Tahu-tahu, kamu takut mengirimkan meme bodoh yang hanya kalian berdua mengerti, karena kamu tahu hanya dibalas 'hahaha'.
Kemudian, ini salah siapa?
Yang salah cuma para ilmuwan yang belum bisa membuat mesin waktu. Atau setidaknya, mesin yang bisa membekukan waktu.
Because growing apart is inevitable.
Pada akhirnya, kamu bakal dikubur di liang lahat sendiri-sendiri kok. Saling tunjuk hanya mengakibatkan tali yang makin renggang itu putus lebih cepat. (is that makes sense?)
Ah, tapi lihat sisi baiknya! Masih ada memori dan beberapa foto yang bisa kamu pegang erat-erat. Masih ada agenda reuni saat liburan dan wacana bukber yang tidak pernah terlaksana. Pada akhirnya, masih ada momen dimana kamu serasa dibawa lari ke masa lalu, ketika akhirnya bersua kembali dengan mereka. Akhir kata,
Friends can break your heart. But most of the time, they just leave yours.
(Beda cerita jika kemudian kamu menyimpan rasa pada temanmu, yang jelas-jelas tidak terbalas.
Tapi, itu cerita untuk segelas moccachino lain.)








