Gue mau cerita.Ini hal yang belum pernah gue ceritain pada siapapun teman gue.
Pada masa kelas 5 SD, gue menonton satu film animasi yang mengubah hidup. Bukan, itu bukan Toy Story. Atau Finding Nemo. Bukan juga si Lebah Hachi yang mencari mama-nya.
Film itu adalah The Barbie Dairies.
Gua udah lupa plotnya, tapi satu hal yang masih gue inget banget adalah buku diari milik Barbie itu cuma bisa dibuka pake gelang ajaib. Jadi pada suatu hari ketika Tya kecil diajak jalan-jalan ke pasar dan menemukan sebuah buku diary bergambar Disney Princess yang punya gembok lucu, dia jatuh hati. Emang bukan diary ajaib yang bisa dibuka pake gelang, tapi konsep buku rahasia yang cuma bisa dibuka oleh seorang kayak Si Barbie, sudah cukup membuat Tya kecil merengek dan meminta dibelikan diary itu.
Dan akhirnya, Tya kecil menjadi salah satu penulis terajin sejagat. Enggadeng, se-rumah. Pokoknya, hukum nulis diari itu fardhu áin, kalau ga dilakuin dapet dosa!
Kalau dipikir-pikir, konten diary gue cukup memalukan. Misalnya, gue menyimpan bekas tiket menonton Laskar Pelangi karena gue terharu banget sama filmnya, atau ketika gue menulis entri ‘’edisi khusus High School Musical’ dua halaman (normalnya entri diary gue cuma satu halaman) yang isinya bukan soal pengalaman harian gue, tapi resensi film tersebut.
Atau gimana gue selalu menyelipkan ‘pesan moral’ bermerk The Message (kadang sering typo juga jadi The Massage) di tiap dua baris terakhir halaman gue. Di situ gue berusaha sok bijak dan mencoba mengulik hikmah dari tiap kejadian sehari-hari gue. Kadang, wejangan dari bocah umur 8 tahun ini ada benarnya, dan bahkan sampai sekarang ke-shahih-annya masih dipegang teguh 11 tahun kemudian. Kayak misalnya ketika guru IPS kelas 5 gue sangat kocak dan membuat pertemuan pertama kita jadi sangat menyenangkan, Tya-umur-8-tahun menyimpulkan bahwa guru yang asik akan mendorong anak-anaknya untuk mencintai pelajarannya. Benerr kaan? Sejak saat itu gue jatuh hati sama yang namanya pelajaran IPS, bahkan sampai rela nyebrang jurusan pas SBMPTN, dan sekarang gue lagi menempuh kuliah di salah satu jurusan sosial humaniora. Semuanya gara-gara Pak Guru IPS kelas 5 gue.
Lanjut. Disamping konten memalukan gue, Tya kecil juga belom belajar bahasa indonesia yang baik dan benar. Artinya, dia masih berbahasa alay (contoh: menggantikan kata "aku" dengan huruf ‘’q’’) dan masih gatau mana bagian yang krusial dalam plot, serta mana yang enggak penting (Deaar diary, hari ini q bosan sekali. Enggaada yang terjadi. Tapi tadi hujan gede, terus q keujanan).
Tetap saja, Tya kecil cukup bangga dengan hasil karyanya. Diari Tya itu bagaikan legenda di rumah; selalu dibawa, selalu dipamerkan, tapi gak boleh ada yang membacanya. Kemasyhuran benda itu bahkan membuat beberapa tangan-tangan jahil—aka tangan adek gue--berusaha menguak misterinya, but that’s another story.
Lantas, apa relevansinya cerita gue yang sangat tidak penting ini dengan… entri pertama blog gue?
Gue berharap, pada akhirnya, blog personal ini sama aja dengan the digitalized version of my princess diary. Yes, this will be a mess, full of unbeta’d text and weird, clumped paragraphs of ..me. Mungkin ada hari dimana gue dengan percaya dirinya nulis kolom opini tentang panggung politik yang panasnya kayak siksaan api neraka meskipun bukan pro, lalu besoknya gue ngeposting puisi galau entah untuk siapa alamatnya. Tapi seengaknya gue bisa bangga dengan karya ini. Gue bisa bangga dengan hidup gue yang aneh, tulisan gue yang ganyambung gado-gado, opini gue yang gajelas (dan mungkin bakal men-trigger beberapa orang, I’m sorry for that in advance) humor gue yang membuat Spongebob merasa harus mendonorkan kotak tertawanya, masa alay gue, typo gue, dan banyak banget keburukan lainnya dalam penulisan gue.
Tapi at least gue bisa bilang ke orang lain, “iya, gue pernah nulis.”
At least these are my words carved in this forever thing called the internet.
At least, this is a start.
(And hopefully, some of my beloved readers will also laugh, cry, and inspired by this humble blog)
Alhamdulillah setelah berbulanbulan yang lalu akun kedua tumblr ini selesai, akhirnya hari ini bisa nulis mukaddimahnya buat my second tumblr ehehe.
Tumblr kedua ini saya kasih nama “Walk the Talk” alasannya simpel aja karena saya ingin jadi orang yang sejalan antara ucapan dengan tindakan. Pun disini, saya ingin apa yang saya tuliskan atau dibagi emang sejalan dengan perbuatan saya seharihari. Sekaligus juga ini akan selalu menjadi reminder buat saya.
Terus juga dikasih site: duasatuapril.tumblr.com ini karena 21 April adalah tanggal kelahiran saya sehingga buat menghormati angka kelahiran diri saya sendiri saya mau abadikan dalam sebuah alamat tumblr *tsaah. fyi, 21 merupakan angka favorit saya selain angka 7 dan 9.
Terus foto profil di tumblr #2 ini adalah hasil jepretan seorang teman baru yang dikenal lewat acara Voluntrip DDV Sumsel Desember 2015 lalu. sore itu kami berempat mainmain ala anak SD tahun 2000an. eh ternyata di fotoin sama Mutia ketika kami lagi kayak gitu. karena foto ini sangat berkesan dan penuh arti maka saa jadikan sbg foto profil di tumblr.
akun ini merupakan tumblr kedua. di tumblr #2 ini tidak ada follow-menfollow (biarin itu terjadi di tumblr pertama aja). tumblr #2 ini saya spesialin untuk berbagi tulisan-kontemplasi-ibroh ke publik, yang coba saya buat berdasarkan real life. tulisan yang ada di tumblr #2 ini akan dapat dijumpai di tumblr #1 juga tapi saya ngak mau bagi ke publik untuk tumblr #1.
the last, semoga my second tumblr ini selalu istiqomah dalam berbagi untuk kebaikan. semoga pesannya dapat sampai kepada pembaca. semoga bisa menjadi tulisan yang bermanfaat walaupun sedikit. karena 1 ayat pun harus selalu disampaikan, kata Rasulullah shallahu `alaihi wassalam.
Pemikir kulit hitam Amerika Cornel West pernah berhujah tentang tiga hadiah yang dikurniakan oleh golongan kulit hitam di Amerika dan seluruh umat manusia dalam pencarian kebebasan dan keperibadian. Diilhamkan oleh karya W.E.B Du Bois The Gift of Black Folk, hadiah-hadiah ini ternyatalah amat berharga, terutama di zaman terorisme pasca-11 September, di mana warga Amerika berasa terancam dan dibenci hanya disebabkan identiti mereka sebagai warga Amerika. Di sini, saya hanya ingin menumpukan pada hadiah yang pertama, dikenali sebagai “philosophic Socratic questioning and interrogation”. Inspirasi hadiah ini diraih dari ahli falsafah terulung Socrates yang amat dikenali dengan kekata hikmahnya bahawa “the unexamined life is not worth living”. Ini juga pernah disahuti oleh Malcolm X yang mengatakan bahawa kehidupan yang diperiksa itu sememangnya menyakitkan (the examined life is painful).
Nah, di sinilah terletak peri pentingnya fikiran yang kritis, yang langsung memerlukan keberanian untuk mempersoalkan aspek-aspek asas dalam kehidupan. Menurut West, dalam pencarian kebebasan dan keperibadian, keberanian untuk berfikiran secara kritis tentang diri, masyarakat dan dunia ini, walau hebat bagaimanapun cabarannya, semestinya diutamakan.
Keupayaan untuk berfikiran kritis memerlukan keberanian kerana ia memaksa kita untuk sentiasa berdepan dengan kemanusiaan dan mortalitas kita. Dan ternyatalah ini amat menyakitkan. Menurutnya lagi, keberanian sebegini berakar dari nilai kemanusiaan dan sikap merendah diri. Perkataan “human” yang berasal dari perkataan “humus”, iaitu salah satu bahan penting untuk menyuburkan tanah. Dari perkataan ini, beliau menjelaskan bahawa untuk menjadi human atau manusia adalah juga untuk merendahkan diri kepada bumi, di mana juga kita akan kembali. Justeru keberanian ini sememangnya berpunca dari sikap merendahkan diri, sikap yang memanusiakan kita, dan yang semakin mendekatkan kita kepada tempat asal dan tujuan akhir kita.
Justeru dalam edisi kali ini, kami ingin menekankan kepentingan budaya pemikiran kritis, yang bertujuan untuk melawan rasa takut terhadap persoalan dan kekeliruan. Dan ini ternyatalah tujuan karangan-karangan kami di sini, iaitu untuk mempersoalkan sesetengah isu yang dihadapi masyarakat. Ini pada dasarnya ditimbulkan oleh keinginan untuk mempersoalkan rasa takut akan persoalan. Masalah rasa takut terhadap idea-idea yang baru telah dilanjutkan lagi dalam artikel yang pertama dalam edisi ini, Mentakuti Ketakutan. Sesungguhnya rasa takut pada pembaharuan dan perbezaan idea berpunca dari ketidakamanan atau kegelisahan tentang persoalan-persoalan eksistensi – misalnya posisi agama dalam arus kehidupan yang pesat berubah. Ternyatalah ini disuarakan oleh golongan yang berteriak bahawa agama mempunyai penyelesaian buat segala masalah kehidupan moden, atau bahawa kritikan terhadap masyarakat atau agama seharusnya ditolak kerana ia teramat sensitif dan mampu “mengelirukan” umat.
Rangkaian karya yang seterusnya mempersoalkan konstruksi ilmu dan gagasan dalam masyarakat. Semangat kritis sebegini jelas terpapar dalam karya-karya tersebut yang semuanya dikarang dalam bahasa Inggeris. Dalam dua buah karya yang berkaitan dengan isu sejarah dan sastera, kedua-dua Syafiqah J dan Saksi Mata mengangkat peranan penting sastera sebagai rakaman,
renungan dan juga sanggahan terhadap sejarah-sejarah rasmi. Sastera berupa ruang alternatif untuk menyampaikan suara-suara yang dibisukan oleh pengarang karya rasmi. Sastera juga mampu mengisi kekosongan dalam penyampaian sejarah kepada masyarakat dan mempersoalkan cara pemikiran kita terhadap status dan peranan sejarah itu sendiri.
Seterusnya, ideologi-ideologi dalam masyarakat berkenaan dengan hal-hal kekeluargaan dan keagamaan dipersoalkan oleh Cempaka serta Sakinah dan Zhi Wei. Karangan Preserving the Normal, Policing the Dysfunctional mengkritik konstruksi “keluarga pincang” yang seringkali dipaparkan dalam media Melayu sebenarnya menggambarkan ideologi kekeluargaan yang lebih meluas di Singapura. Penaklukan minda oleh ideologi sedemikian bukan hanya membutakan mata dan hati kita dari cabaran-cabaran dalam kehidupan kekeluargaan, tetapi juga mendorong kita untuk menghukumi mereka yang tidak sealiran. Ini malah membebankan mereka yang tidak berupaya untuk keluar dari linkungan “kepincangan” itu dan justeru tidak memulihkan keadaan mereka. Selagi keluarga-keluarga sedemikian dianggap sebagai masalah yang harus diselesaikan, selagi itulah masalah-masalah mereka akan berlarutan.
Sehubungan dengan artikel dalam edisi pertama tentang kepentingan berdialog, karangan Conversion and Inversion: A Dialogue berupa sejenis dialog antara Sakinah, seorang gadis beragama Islam dan teman lelakinya Zhi Wei, yang baru memeluk agama Islam. Luahan dan persoalan mereka tentang isu-isu yang berkaitan dengan penerimaan, pendidikan dan penghidupan agama dalam masyarakat amat penting bagi renungan kita bersama. Ini seringkali dilupakan oleh umat Islam yang berlonjak gembira sewaktu menerima “saudara baru”, tetapi tanpa mengirakan kesukaran-kesukaran mereka, serta tuntutan-tuntutan dan tekanan dari masyarakat di keliling mereka. Dialog dan persoalan mereka antara satu sama lain juga berupa ajakan terhadap dialog dengan masyarakat Muslim secara umum. Budaya dialog memerlukan pemikiran kritis; ketiadaan fikiran kritis dan terbuka hanya akan mengakibatkan perdebatan yang berhasratkan kemenangan.
Juga seiringan dengan edisi pertama yang mengangkat idealisme dan semangat kritis golongan muda, saya teringat akan puisi Usman Awang yang mengajak kita kepada sikap kurang ajar. Menurutnya,
“…Lihat petani-petani yang kurang ajar
Memiliki tanah dengan caranya
Sebelumnya mereka tak punya apa
Kerana ajaran malu dari bangsanya.
Suatu bangsa tidak menjadi besar
Tanpa memiliki sifat kurang ajar.”
Di sini, apa yang dimaksudnya sebagai “kurang ajar” bukanlah sikap biadab semata-mata. Tetapi, sikap “kurang ajar” menunjukkan keberanian untuk melawan arus yang menyekat, mengongkong dan memperlekehkan suara-suara individu.
Pada masa yang sama, suara yang kritis tidak semestinya bernada kasar atau mungkin tersembunyi di sebalik wacana akademik. Kekasaran semangat kritis juga dapat diperhalusi oleh nilai-nilai estetis, seperti karya-karya berunsur kesusasteraan oleh Syafiqah dan Elyna Kenisa. Pada dasarnya, karya-karya mereka menonjolkan keberanian untuk berdepan dengan perkara-perkara yang membelenggu jiwa dan perasaan, malah meluahkan mereka di khalayak awam. Keberanian juga dilihat pada penyuaraan sesuatu yang sudah ada dalam fikiran orang ramai, namun yang kurang diketengahkan. Puisi Di Tepi Katil Tuhan menyanggah keras golongan yang menggunakan agama untuk mengangkat agenda-agenda kekuasaan, sehinggakan Tuhan yang mereka kononnya sembah itu “dibunuh” oleh kegilaan kuasa mereka sendiri. Agama itu digunakan untuk mentuhani diri dan bukan untuk pemihakan dengan mereka yang lemah dan tertindas, yang sememangnya menjadi tanggungjawab manusia sebagai khalifah di bumi Tuhan.
Karya Sketsa Cinta membayangkan keberanian untuk bercinta serta merenung dan meluahkannya, meskipun ia mampu mendorong kita ke arah kedinginan dan keperitan. Kesungguhan dalam bercinta mengapikan keberanian untuk terus hidup dengan kesedihan, malah merangkulznya sebagai sumber nilai-nilai manusiawi seperti ketulusan dan kasih sayang. Penderitaan menjadi keindahan kerana dari itulah lahirnya cinta yang luhur, seperti lahirnya karya-karya bernas dalam saat-saat kesempitan dan putus asa. Malah cinta itu sendiri mengilhamkan kebernasan tersebut. Keperitan dalam percintaan juga mencerminkan keberanian untuk hidup dan mati. Ini sesungguhnya memperkukuhkan kemanusiaan kita. Cinta yang luhur bukan mematikan, tetapi semakin menghidupkan dan membebaskan kita. Namun pada masa yang sama, sekiranya dalam kematian itu kita temui keabadian dan kebebasan, cinta yang luhur itu bukan hanya buat seumur hidup, tetapi sememangnya menemani kita ke mati. Justeru keinginan untuk mati bukanlah tanda menyerah kalah, tetapi hanya keinginan untuk mengabadikan cinta tersebut.
Tema-tema yang berkenaan dengan keberanian, daya untuk mempersoal dan mengekspresi diri untuk melawan unsur-unsur dehumanisasi dalam masyarakat lantas menjadi tumpuan kami kali ini. Mungkin apa yang mendasari ini semua berupa cinta yang merangkumi setiap aspek kehidupan.
Ungkapan kata oleh pemikir revolusi Iran, Ali Shariati, akan menutupi edisi kali ini sebagai bahan renungan yang sesuai:
"After a logical stage, the fourth stage is to sacrifice oneself. At this point man enters the stage of “Ithar”; (where) man chooses someone else over himself; namely, a man sacrifices himself for others. It is obvious that from among the two deaths – another person’s and his own – he has chosen his own death… It is a love which, beyond rationality and logic, invites us to negate and rebel against ourselves in order to work towards a goal or for the sake of others. It is in this stage that a free man is born, and this is the most exalting level of becoming an Ensan.”