dirt enthusiast
Today's Document
h
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
hello vonnie
cherry valley forever

ellievsbear

#extradirty
One Nice Bug Per Day
Show & Tell

JVL
Keni
almost home
sheepfilms

if i look back, i am lost
Three Goblin Art
Stranger Things

祝日 / Permanent Vacation
styofa doing anything
i don't do bad sauce passes

seen from Vietnam

seen from France
seen from United States

seen from United States

seen from New Zealand
seen from United States

seen from Ireland
seen from United States
seen from Israel
seen from Romania

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore

seen from Germany

seen from United States

seen from United States

seen from Italy

seen from United States
seen from France
@mystupidtheory
July Wrap-Up
Tbh, draft ini udah dibuat sejak Juli, tapi, karena satu dan dua hal lainnya baru bisa dipublish akhir tahun ini hahahaha. I know it's wayy too late, but better late than never, they said.
TMI:
HANYA kurang 5 buku untuk menyelesaikan projek 1 day 1 book. I'll blame my period buat ini, but STILL I'll call this as my prime era :)
Kalo ada orang yang care enough (?) buat nanya gimana rasanya baca 1 buku/hari, jawabannya ya bisa aja, bisa gila. Cuma pasti ada waktu yang dikorbankan. I (biasanya) spare my 2 hrs/day buat baca, dan itu cuma cukup buat baca 200 halaman.
Rekor baca paling cepat: +/- 10 menit (Tingka).
Rekor baca paling lama: 22 jam (Salvation of A Saint) untuk buku yang dibaca dalam satu periode waktu. Buku >300 halaman lainnya dibaca berhari-hari dalam periode waktu berbeda.
Karena udah gak masuk akal, bulan selanjutnya aku ubah jadi 1 day 1 book page. Target 1 hari 1 buku yang awalnya bertujuan untuk challenging myself kayaknya udah bergeser maknanya jadi obsesi numerikal yang negatif, yang bikin this whole reading journey cuma performative.
Lupa nyebutin di wrap-up sebelumnya, jadi aku tambahkan di sini; Buku dengan TW di list bawah ini tidak seharusnya dibaca oleh kalian yang underage. Please baca semua hal yang indah dan inspiratif saja.
Semua bukunya digital. Link ditautkan di tiap nomor, kalo gak ada berarti baca di e-library Indonesia yang gak ada fitur sharingnya :( blame to pemerintah.
Ini bukan review, cuma yapping dan memang tidak jelas, jangan dijadikan acuan buat baca/tidak.
So, here goes:
[1] ☆3.5/5 DallerGut Dream Department Store - Lee Mi-ye
Latarnya oke banget karena ngangkat tema yang gak biasa, si tokoh utama hidup di dunia di mana mimpi bisa dijual or something like "pernak-pernik dunia tidur". Sayangnya gak ada plotnya, so it's not my preference. Isinya cuma kayak cerita si tokoh utama yang daftar kerja di toko yang namanya sama kayak judul buku ini, diterima dan yaudah kerja gitu. Day 1 kerja di DallerGut, day 2 kerja di DallerGut, day 3....., dst. What a waste, mana si tokoh utama diterima kerja karena pas di interview si Daller Gut (pemilik toko) karena alesan sentimentil; cerita dongeng, bukan karena skills. Cuma kalo di dunia nyata begini, how easy to get a job.
[2] ☆4/5 The Tea Dragon Society [3] ☆4.5/5 The Tea Dragon Festival [4] ☆4/5 The Tea Dragon Tapestry - Kay O'Neill
TW. Baca ini karena ada naganya, ternyata ada label LGBTQnya juga. Tapi selama baca gak notice sama sekali unsur ini, entah karena too subtle to notice atau aku yang gak teliti. Ini graphic novel, I love the 2nd book more karena grafik dan ceritanya heart-warming. Sesuai judulnya, ceritanya tentang sekumpulan mahluk (Idk how to call them, kayak hewan tapi punya sifat manusia?) yang memelihara naga teh, intinya si naga ini punya bagian tubuh yang bisa menumbuhkan beragam jenis teh, dan karena tehnya menyimpan memori, si peminum bisa melihat bagaimana memori yang dilalui dalam perjalanan hidup si naga.
The Tea Dragon Festival
[5] ☆5/5 Before We Say Goodbye [6] ☆ 3.5/5 Before We Forget Kindness - Toshikazu Kawaguchi
Akhirnya menamatkan pentalogi ini. Buku ke-4; Before We Say Goodbye had me bawling all night sementara buku terakhir biasa aja. I found the formula for this series, 4 cerita repetitif dari orang-orang berbeda yang mau balik ke masa lalu, atau pergi ke masa depan. Hampir semua cerita berakhir dengan kepergian tokoh, entah sementara atau selamanya. Hal yang aku sayangkan adalah bagaimana tokoh utama, keluarga pemilik cafe, tidak diceritakan lebih banyak. Terutama Kazu, she's deserve her own POV. Dan hantu wanita yang duduk di kursi itu, cmon I need her background story kenapa dia bisa end up di situ! Tapi si penulis tetap konsisten menceritakan kisah para pengunjung cafe, bahkan di buku terakhir di tutup dengan kisah yang, absurd (?) Cerita excerpt yang ada di setiap akhir buku dan bikin penasaran itu ternyata ada di buku terakhir. What a trick (positive).
[7] ☆5/5 The Little Prince - Antoine de Saint-Exupéry
Baca versi bahasa Inggrisnya karena sebelumnya cuma baca versi bahasa Indonesia. No comment, just 5 stars.
[8] ☆5/5 Terusir - Hamka
Wah wah wah, an unexpectedly fun story dari buya Hamka alias H. Abdul Malik Karim Amrullah, penulis yang sama untuk Tafsir Al-Azhar dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (belum baca). Ketika banyak sekali penulis laki-laki yang cenderung male-gazed dan patriarki, Hamka tampak condong sekali memihak pihak wanita, dan mengkritisi bagaimana adat di kampung halamannya dalam memperlakukan seorang perempuan di keluarga yang posisinya seringkali dirugikan:
Diberinya gelaran yang buruk kepada perempuan itu, dinamainya "sampah masyarakat", dinamainya "bunga mengandung racun", "kupu-kupu malam" dan lain-lain nama yang hina dan yang buruk. Padahal ia sendiri yang menyuruh mereka sesat ke dalam lembah itu. Dikutuk perempuan itu, ditimpakan segala macam kesalahan kepadanya, dikatakan ia wakil iblis, perdayaan setan, padahal laki-laki itu yang lebih iblis. -p. 31
Berkisah tentang seorang istri yang diusir dari rumah oleh suaminya akibat fitnah sang ibu mertua (sinet bgt), meninggalkan anak satu-satunya tanpa pamit, berpisah puluhan tahun tanpa bertemu namun memilih bertahan hidup dalam bayang-bayang kenangan bersama anaknya, hingga membuat dia membuat banyak keputusan gila yang salah satunya mengantarkan dia ke meja hijau untuk bertemu lagi dengan anaknya yang ternyata menjadi kuasa hukumnya. Yah gurls, sayang anak dimulai dari sayang diri sendiri dengan tidak mengambil risiko menikahi bajingan.
[9] ☆3.5/5 Perjamuan Khong Guan - Joko Pinurbo
Mari kita buka apa isi kaleng Khong Guan ini: biskuit, peyek, keripik ampiang atau rengginang? Simsalabim. Buka! Isinya ternyata ponsel, kartu ATM, tiket, voucer, obat, jimat dan kepingan-kepingan rindu yang sudah membatu. (Blurb)
Mungkin ini yang dinamakan puisi modern, isinya absurd dan gak terikat aturan rima atau bait. Let me drop this:
WAWANCARA KERJA Nah, jika Anda diterima di instansi ini, apa pekerjaan yang cocok untuk Anda dan Anda minta gaji berapa? Saya ingin bekerja sebagai nomor rekening yang bertugas menampung kelebihan gaji pimpinan dan pegawai yang sebenarnya tidak layak mereka terima. Saya tidak perlu digaji. Oke. Terima kasih. Anda memang asyu -p. 23
[10] ☆5/5 A Good Girl's Guide to Murder - Holly Jackson
Baguuss, cuma katanya penulisnya zionist (kerjasama sama publisher zio). Males kan gue ceritanya. I read this book (dan buku kedua) long way before I aware of zionism. Gak bakal lanjutin buku ketiga sampe dia clear her stance abt this matter.
[11] ☆4.5/5 CADL: Sebuah Novel Tanpa Huruf E - Henny Triskaidekaman
Oke memang terdengar tak masuk akal, tapi buku ini benar-benar gak punya huruf E satupun. Di suatu negeri yang dipimpin oleh pemimpin bernama Zaliman Yang Mulia, penggunaan huruf E dilarang dengan alasan yang misterius sehingga semua rakyatnya harus mengubah nama dan tata bahasa, aturan bicara dibatasi, buku-buku mulai disortir, dan kamus harus diganti. More like Zaliman Yang Zalim sih, apalagi dia tidak segan-segan menghilangkan paksa rakyatnya (feels familiar?) yang tidak mematuhi aturan yang dibuatnya. Isinya lebih ke satire distopia terhadap pemerintah yang jujurly sangat menghibur.
Setelah baca karya beliau yang lain: Cara Berbahagia Tanpa Kepala, gw yakin emang penulisnya agak lain (in a good way). Gimana coba bikin buku yang gak punya huruf E sama sekali kalo dia gak punya pembendaharaan kata yang luas (dan cerdas)? Contohnya di buku ini, penulis menggunakan istilah "maktab" atau "tabula" untuk pengganti kata "sekolah" dan "meja" secara berturut-turut atau dalam penggantian hari "Senin" dan "Selasa" menjadi "Soma" dan "Anggara" hanya demi menghindari huruf E. Bahkan aku baru tau kata-kata itu dari buku ini.
[12] ☆2.5/5 Serangkai - Valerie Patkar
Not my style. Pas baca, aku ngerasa ini buku romance tipikal cerita-cerita wattpad gitu (DAN MEMANG TERNYATA JEBOLAN WATTPAD). Gak ada yang salah sih sama cerita Wattpad but, premisnya itu loh yang yaa, kayak khas wattpad. Si cewek lulusan kedokteran luar negeri, pas abis lulus dan sumpah dokter langsung dapet kerjaan dan langsung kerja di Indo. Emang itu rumah sakit punya nenek moyang lu? Mana pas kerja dia punya hak istimewa dimana pada jam tertentu dia ngunci diri di ruangan dan tidak mau diganggu, cuma buat rebahan di lantai dan dengerin satu lagu yang itu-itu saja. Ada gitu dokter kek bgtu, kalo ada pasien gimana? Maaf saya lagi me time gabisa diganggu. Deym. Yahh emang alesannya dia punya trauma sih, ketemu cowok mantan pebalap yang dia kecelakaan waktu balapan, dokternya si cewek itu. Banyak hal yang adalah kebetulan. Kebetulan mantan si cowok yang bikin dia gamon nikah sama sepupu si cewek, kebetulan pas mereka di luar negeri pernah ketemu, dll, yang saking klisenya gw yakin itu cuma akal-akalan author.
The romance is not romancing, alias dimana romancenya saat tokoh udah ciuman sementara nomor hp satu sama lain aja kagak punya? deym. Terlalu banyak sudut pandang, setiap ganti chapter, sudut pandangnya berubah. Ada POV tokoh utama cewek, tokoh utama cowok, kakak si cewek, emak si cewek, bapak si cewek. Udah 5 itu. Gak sekalian tukang cilok di kolong jembatan yang sering mereka temuin? I mean, can't the story be more subtle dan bikin pembaca bikin penafsiran sendiri? I think it's better buat beberapa cerita biar gak usah terlalu dijelasin, jatuhnya kayak over-explaining, where's the fun? Ini loh si tokoh utama trauma karena begini-begini dari banyak sudut pandang, such a waste. Just opinion.
[13] ☆4.5/5 Catatan Harian Sang Pembunuh - Kim Young-ha
Gak bisa berhenti ngakak saat baca buku ini. Ceritanya soal mantan pembunuh berantai yang udah pikun, dan suatu hari memutuskan untuk melakukan pembunuhan untuk terakhir kalinya karena dia merasa bahwa pacar anak peremuannya adalah orang yang juga sepertinya: pembunuh berantai. Merasa nyawa anaknya mungkin terancam, dia melakukan beragam cara dan rencana pembunuhan sebagaimana ia lakukan dengan sempurna di masa lalu, Nahasnya karena usia tuanya, memorinya melemah dan tercampur aduk. Bahkan saat suatu hari berpapasan dengan targetnya, dia justru lupa wajah targetnya. Banyak sekali plot twist, sampe aku ngerasa, ini yang pikun sebenernya dia apa aku.
[14] ☆4.5/5 Imaginary City - Rain Chudori
Graphic novel yang art-nya monotone. Tiap chapter dihadirkan dengan panel satu warna. Gak terlalu fokus ke ceritanya, cuma art-nya nge-artsy banget. Adalah pokoknya.
[15] ☆3/5 Kadang Rumah Tak Memberimu Pulang - Theoresia Rumthe
Aku berdoa semoga kak Theoresia Rumthe mengalami banyak hal indah dan menyenangkan dalam hidupnya, supaya dia gak usah nulis hal-hal yang sedih kayak gini lagi :(
[16] ☆4/5 Pasta Kacang Merah - Durian Sukegawa
(Salfok banget nama penulisnya Durian, dia suka durian kah? atau itu emang hasil translasi nama Dorian jadi Durian?)
Buku ini mengangkat isu tentang stigma sosial terhadap pasien lepra yang selama hidupnya terisolir di sanatorium bersama banyak pasien lainnya. Saat kondisinya membaik dan opini publik mulai berubah berkat kemajuan medis, si pasien yang sudah di umur yang tidak muda lagi akhirnya bisa menghirup kebebasan. Ia bekerja di toko dorayaki yang hampir bangkrut dan mewariskan resep pasta kacang merah kepada tokoh utama yang kehilangan harapan untuk bertahan hidup.
[17] ☆ 3.5/5 Tingka #1 [18] ☆4/5 Tingka #2 [19] ☆4.5/5 Tingka #3 - Nicco Machi
Berlatar di pulau Tingka, pulau fiksi yang katanya berada di sebelah timur pulau Madura. Pulau yang indah dengan populasi penduduk yang sedikit dan semuanya menganut kepercayaan lokal yang disebut Midaya. Kepercayaan ini cukup unik karena semua pemuka agamanya adalah perempuan. Ada satu mercusuar di pinggir laut di pulau Tingka yang konon katanya berhantu. Semua misteri di pulau ini terpecahkan saat Joe, mahasiswa Kimia dari Jakarta yang datang kesana untuk melakukan penelitian Antropologi, penelitian mantan pacarnya yang belum selesai.
Ada banyak hal yang unik di buku ini, terutama mengenai perjuangan masyarakat minoritas agar kepercayaannya diakui, juga bagaimana kepercayaan Midaya hadir (dan diciptakan) karena pengalaman buruk dan kemalangan perempuan-perempuan di masa lalu akibat laki-laki. Banyak kematian di buku ini, dan salah satu yang aku (dan my reading buddy) soroti dari buku ini adalah bagaimana kisah cinta semua tokoh laki-laki yang... menyedihkan, ada yang ditinggal mati, beda agama, terhalang adat, tak sampai, ya intinya menyedihkan.
[20] ☆4.5/5 Perempuan di Titik Nol - Nawal El Saadawi
The OG women rage. Berkisah tentang perempuan, Firdaus, seorang tahanan yang menunggu hukum mati namun memilih bungkam dan menerima putusan hakim tanpa pembelaan karena membunuh laki-laki.
Ya gimana lagi, semua tokoh laki-laki di buku ini memang bajingan.
Saya mengatakan bahwa kamu semua adalah penjahat, kamu semua: para ayah, paman, suami, germo, pengacara, dokter, wartawan, dan semua lelaki dari semua profesi.
Seumur hidup si Firdaus isinya cuma suffering akibat laki-laki, dari kecil jadi korban ayah patriarki, paman yang grooming dan SA, dinikahkan sama tua bangka, tanpa bisa berbuat apapun karena kungkungan patriarti, sampe berakhir jadi pelacur yang kaya raya dan punya segalanya. Better for her I guess.
Sudah beberapa buku Timur Tengah (3 doang si) yang aku baca, isinya adalah penderitaan perempuan akibat laki-laki yang, adakah kata yang lebih buruk dari bajingan? Agak bingung kenapa banyak orang yang pake argumen bahwa penghuni neraka kebanyakan adalah perempuan sementara di dunia aja perempuan hidup di neraka in daily basis hm.
Buku ini seolah nunjukkin bahwa dalam masyarakat patriarki, semua hubungan itu pada dasarnya transaksional; pernikahan, kerjaan, dan pelacuran itu cuma versi lain dari transaksi yang sama, yang merugikan perempuan. Kemudian Titik Nol mungkin saja menggambarkan kondisi Firdaus yang benar-benar bebas karena setelah apa yang dialaminya selama hidupnya, dia tidak lagi takut pada apapun, bahkan kematian.
It's a brutal and heartbreaking story, apalagi buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata. God, I really hope all women can find their own freedom and peace.
[21] ☆5/5 Good Girl, Bad Blood - Holly Jackson
My stance on this book is clear, just as the previous.
[22] ☆4/5 Life Ceremony - Sayaka Murata
TW. Bacaan tiap bulan belum lengkap kalau belum baca buku gila. Ya inilah salah satunya. Kayaknya aku pernah bilang tahun kemarin kalo Sayaka Murata punya cara yang radikal dalam mengkritisi masalah sosial, dan meski masalah sosial di buku ini terkesan utopis (?) tetep aja ini buku isinya radikal. Berisi kumpulan cerpen, cerita-cerita awal masih agak sedikit waras, tentang bagaimana organ manusia yang sudah mati dimanfaatkan menjadi bahan baku beragam hal; jaket dari rambut manusia, perabotan rumah dari tulang manusia, veil dari kulit manusia, semua dengan argumen sustainability, bahwa semua bagian tubuh manusia harusnya tetap berguna meski si pemilik tubuh sudah mati. Tapi cerita dengan judul Life Ceremony isinya yang paling gila, bagaimana kematian seseorang dirayakan sebagai awal kehidupan bagi yang lain dengan perayaan bernama Life Ceremony. Mana aku baca pas lagi makan, what the heaven.
Biarkan content warning berbicara:
[23] ☆4/5 The Shark Caller - Zillah Bethell
Pertama kali baca buku berlatar Papua Nugini! Dari buku ini kebayang gimana suasana laut tropis di sana, (dan banyak nyamuk, dan panas). Ceritanya bagus, udah gitu aja. Pesannya biar kita lebih fokus ke orang-orang di sekitar kita yang masih hidup, dan mengurangi grieving ke orang yang udah meninggal. Plot twistnya bikin aku bengong. Entah kayaknya aku yang dari awal udah ke-distract sama hiu-hiu di sana, atau emang bego, tapi temenku si Repi berhasil notice dari awal. "Ini sih gw yang tru long-long", kataku padanya saat selesai menamatkan buku ini sambil bengong.
[24] ☆5/5 The Labyrinth House Murders - Yukito Ayatsuji
Misteri Jepang emang gak ada habisnya. Buku ini adalah bagian dari series the Bizzare House Mysteries, di mana pembunuhan-pembunuhan terjadi di rumah-rumah yang desainnya tidak biasa. Kali ini di rumah labirin, yang mapnya lebih mirip kayak maze saat main pacman:
Seperti konglomerat-konglomerat uzur di dunia fiksi lainnya, yang gak punya pewaris harta kekayaanya, cerita novel ini punya premis itu: si kakek yang adalah seorang penulis misteri kenamaan di Jepang, mengundang beberapa kenalannya ke rumah labirin miliknya untuk sebuah tantangan yang hadiahnya adalah seluruh harta kekayaannya. Tantangannya sederhana: buat cerita misteri dalam waktu satu malam di rumahnya yang terkunci dari akses luar, semua penghuni yang sudah di dalam tidak bisa keluar. Hasilnya akan dinilai oleh dia sendiri dengan bantuan krikitus sastra dan editornya. Jadilah hari pertemuan ditentukan. Nah setelah semua orang berkumpul, si kakek malah ngide pura-pura mati. Ide yang membawa dia akhirnya mati beneran (awkwkwkwk), dan diikuti oleh pembunuhan berantai yang terjadi dalam satu malam. Serunya, pembunuhan terjadi persis seperti cerita yang ditulis oleh para korban, menciptakan efek allusions, membuat tamu undangan yang tersisa berusaha memecahkan kasus pembunuhan saat mereka benar-benar terisolasi dari dunia luar. Saat semua orang tersisa keluar dari rumah itu, kasus belum terpecahkan dengan benar, menyisakan pelaku yang masih berkeliaran bebas tanpa bisa diadili.
[25] ☆5/5 Salvation of A Saint - Keigo Higashino
Kalo ada cerita Keigo yang isinya kasus pembunuhan yang sempurna, maka inilah bukunya. Saking sempurnanya rencana dan eksekusi pembunuhan si pembunuh, detektif Kusanagi yang dibantu prof. Yukawa juga kesulitan memecahkan kasus ini. Seperti beberapa buku Keigo yang lain, buku ini bukan dimaksudnya untuk mecari siapa pelaku pembunuhannya, kayaknya bahkan orang buta sekalipun bisa tahu saipa pelakunya. Tapi yang mereka butuhkan adalah bagaimana cara membuktikan bahwa si tersangka melakukan pembunuhan, sementara pada hari kejadian, si tersangka berada ratusan kilometer jauhnya dari TKP.
Spoiler: pelaku pembunuhan seorang suami yang ditemukan mati di kediamannya di Tokyo setelah meneguk kopi buatannya sendiri adalah istrinya sendiri, yang pada saat itu mengunjungi orang tuanya di Sopporo. Dengan alibi yang sempurna, sang istri, Ayane berhasil membuat kejahatan yang sempurna, membuat kecurigaan beralih pada tersangka kedua, Hiromi, muridnya sendiri yang ternyata selingkuhan suaminya. HAHAHAHA, I was so so soooo much satisfied with the plot. Hukuman yang pantas didapatkan oleh pasangan yang berselingkuh adalah kematian.
Plot semakin menarik karena, detektif Kusanagi yang kaku itu, ternyata jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Ayane. Yah, tentu saja ini menyebabkan penyelidikannya bias. "Gak mungkin deh Ayane jadi pelakunya". Hahaha he was so blindly in love dan was in his butterfly era sampe dia narik kasusnya ke arah yang, well terlalu jauh dari tersangka utama. Tapi ya akhirnya, berkat kegeniusan prof. Manabu Yukawa (as per usual), kasusnya terpecahkan.
"Dia bukan cewek yang kayak gitu!" "Terus dia emang cewek yang kayak gmn? Emang seberapa kenal lu sama dia?" <Kusanagi langsung kicep>
Kata gue mah, yang deserve jadi tokoh utama di buku kali ini itu Utsumi, salah satu anak buahnya Kusanagi. Saat Kusanagi lagi bucin sama tersangka, dan prof. Yukawa yang emang kagak ngerti jalan pikiran perempuan, si Utsumi sebagai sesama perempuan bikin jalan penyelidikan tetap on track. Meski kesel dikit soalnya at some point dia nunjukkin simpati ke Hiromi yang, eww pick me.
P.S.: Bentuk-bentuk kebucinan Kusanagi: antar jemput Ayane, bela-belain bantu nyiramin bunga-bunganya Ayane ditengah kerjaan, bikinin alat penyiram buat bunga-bunganya Ayane, bantuin Ayane pindahan, bantuin Ayane beresin rumah barunya, jagain kunci rumah Ayane.
HAHAHA puas bgt ngetawain si Kusanagi Kusanagi itu.
Alright, selesai. Selamat tahun baru, semuanya!
Emily Dickinson
"What's with the clouds, is it a cotton candy or what"
Let's play a game. You don't know me, right? But can you explain my shortcomings? Explain them based on the person who first came to your mind when you read this.
Your shortcoming?
You send cryptic Tumblr anons instead of just texting me, clearly having too much time and not enough courage. Just like a certain someone who popped into my mind.
Have you watched the drama "You and Everything Else"? If not, go ahead and watch it. Which character made you sympathize and relate?
Are you trying to traumatize me? Do you want me to cry myself to sleep or what????
Tertarik baca novel Sabtu Bersama Bapak, engak?
Udah baca beberapa part preview bukunya di google books, I reckon:
Gak ada plotnya, ya mungkin karena temanya slice of life jadi cuma sekitar kehidupan. Agak tricky soalnya bisa jadi bagus, bisa jadi membosankan. Menurutku ini membosankan.
Amanatnya tersurat, kayak yaudah ditulisin begitu aja lewat video si Bapak yang lebih banyak ceritain pengalaman dia. I prefer something subtle, tersirat dan bisa pembaca maknai sendiri. Kalo nonton nih, buku ini bikin aku berasa diceramahin. Menurutku mending baca buku PKN, atau pembukaan undang-undang, atau buku khutbah, isinya amanat semua tuh.
Narasinya gak cocok di aku. Kayak gini?
Ada plot hole, salah satunya soal jenis handphone di tahun tertentu yang belum rilis, ini penulisnya lupa riset dulu kah?
Intinya; tidak tertarik. Semua orang punya preferensi pribadi, dan buku ini bukan salah satu preferensiku. Makasih udah ngenalin judul ini!
More Days at the Morisaki Bookshop - Satoshi Yagisawa
찬열 ♡
To exist is to resist
And this whole album;
The Decagon House Murders (Yukito Ayatsuji) manga series ver. Illustrator: Hiro Kiyohara
K. University Mystery Club Members
Each member of the club is nicknamed after a famous mystery writer.
Nicknamed after Ellery Queen
Nicknamed after Gaston Leroux.
Nicknamed after John Dickson Carr
Nicknamed after Agatha Christie
Nicknamed after Baroness Orczy
Nicknamed after Edgar Allan Poe & S. S. Van Dine
The Decagon House Floor Plan
Kepada—,
Saya tidak bisa lagi memanggil namamu. Itu, dan bahwa kau tidak akan pernah mengirim balasan surat ini, akan selalu menjadi sumber kesedihan bagi saya, sampai bertahun-tahun yang akan datang. Dan meskipun ia adalah alasan yang bagus untuk merasa bahagia, sebab bila kau tinggal bersama saya akan menjadi hal lain yang menimbulkan derita.
Saya tidak pernah berhenti mengharapkan dunia ini, dan khususnya kota yang kejam ini, akan menemukan, dalam hatinya, kemampuan untuk menyayangimu, untuk berbaik hati padamu, dan untuk memperlakukanmu dengan kelembutan dan kasih sayang sebesar-besarnya. Kalau saja saya lah duniamu—kalau saja saya-lah yang bisa mendapat kehormatan untuk itu— saya tidak akan pernah membuatmu mempertanyakan apakah saya sungguh menyayangimu.
Namun saya berterima kasih pada dunia ini, karena ia telah begitu baik, meskipun juga begitu kejam kepada saya. Meskipun ia telah membuat saya tidak akan pernah menjadi duniamu, ia membuatmu menjadi dunia saya. Dan kau telah menjadi begitu mirip dengan dunia itu sendiri; karena keberadaanmu begitu baik, sementara ketidakpedulianmu begitu kejam. Namun, saya memilih untuk menerima apa yang diberikan dunia ini kepada saya; yaitu kau, dan kemampuanmu menghancurkan hati saya—sedikit demi sedikit dan setiap waktu.
Andaikan saja anda bersedia mengenali saya, satu kali lagi, sebagaimana anda mengenali saya dahulu—dengan rasa sayang dan rindu. Saya akan berdoa setiap hari agar waktu berputar kembali ke masa di mana kita hanyalah dua bocah yang saling berdampingan sambil memperhatikan kanal Molenvliet perlahan menyusut di bawah ruas jalan. Atau agar waktu berhenti, hingga matamu berhenti memandang saya dengan begitu asing, seolah saya tidak pernah menjadi yang begitu menyayangimu selama bertahun-tahun, dari waktu ke waktu, tanpa pernah berhenti.
- B.A.R.
The Decagon House Murders - Yukito Ayatsuji
Ibu pinter bahasa inggris juga cara ibu belajar sampai bisa gimana? Dan kasih tipsnya juga boleh engak Bu?
Hii, makasih banget ya nak (karena dipanggil ibu, pasti kamu salah satu anak ibu).
Makasih tapi nggak juga. Sebenernya bahasa Inggrisnya juga gak perfect. Masih banyak yang salah kalo diamatin banget, apalagi buat tulisan akademik. Tapi ya setelah dapet pelajarannya sejak SD kelas dua sampe kuliah tahun ke-dua, masa iya gak nyangkut sama sekali, parah banget, kan kasihan banget gurunya.
Agak TMI dan ngeluh dikit, cuma untuk bisa berbahasa Inggris itu bukan bukan buat jadi sok edgy atau kebarat-baratan. Tapi terpaksa. Merasa harus bisa bahasa Inggris itu respon paling manusiawi terhadap ketimpangan akses dan pengetahuan. Realita paling brutal, mau disangkal sekali pun, semua akses ke ilmu terbaru, masih berpusat di bahasa Inggris. Pas kuliah dulu, hampir semua rujukan penelitian/referensi/artikel/jurnal/resources terbaru itu asalnya dari Barat/berbahasa Inggris (sadly), atau pas mau beli textbook mata kuliah kalo yang versi bahasa Indonesia itu cuma dapet versi lama dan harganya kayak bisa buat bayar kost 2 bulan, jadi mending pake e-book versi terbaru meski gak legal dan terpaksa harus bahasa Inggris (kalo nunggu terjemahannya harus nunggu bisa 2-5 tahun kemudian, itu pun kalo apa penerbit yang mau terjemahin, kadang kualitas terjemahannya juga… yaa you know, juga belum tentu nyampein konteks akademiknya secara utuh. Intinya bisa keburu lulus baru itu buku edisi terbaru diterjemahin, dan di versi bahasa Inggrisnya udah keluar lagi edisi paling baru. Iya si Campbell-Campbell itu salah satunya). Sekarang, buat sekedar baca sebagai hobi juga begitu. Akses ke buku di Indonesia itu kayak segmented, pokoknya kalo kamu bisa baca buku tuh udah kayak yang previleged banget (harusnya gak begitu, dasar negara dunia ketiga). Beli buku fisik; mahal, mau buku sastra luar negeri ya harus nunggu terjemahannya, atau beli yang bahasa asingnya tapi jauhhhh lebih mahal. Baca online; platform buat membaca di Indo gak memadai, aplikasi payah, sistem antrean jelek, stok buku sedikit, buku luar ya harus tunggu penerbit terjemahin (kalo ada). Jadi ya terpaksa (lagi) pake platform membaca internasional yang pasti berbahasa Inggris. Oke cukup yappingnya.
Belajar bahasa Inggris, dan bahasa apapun di dunia, kayaknya bisa dimaksimalin di input, baru outputnya bisa diamati.
INPUT: reading, listening (atau gabungan keduanya kayak nonton). Buat membaca, bisa dimulai dari buku read-aloud yang banyak ilustrasinya, atau buat intermediate baca J-Lit/sastra Jepang berbahasa Inggris. Itu bahasa Inggrisnya tergolong gampang soalnya hasil alih bahasa juga. Jangan mulai dari English-Classic soalnya berat. Buat listening, mulai eksplor lagu-lagu berbahasa Inggris dan hapalin liriknya. Siapa aja boleh, in my case it was Taylor Swift (pas SMP dulu lirik-lirik dia masih kayak daily-relatable). Buat nonton, apa aja boleh soalnya bisa dibantu subtitle. Rekomendasi: Anne with an E.
OUTPUT: writing, speaking. Ini bisa dilihat sebagai hasil dari belajar tapi juga harus dipelajari. Mulai aja, meski spelling/grammar salah, aksen jelek, just do it. Buat writing, coba chatting sama AI apapun pake bahasa Inggris and let them correcting you. Buat speaking, bisa pake Elsa Speak.
All the points you explained were excellent. I'm proud of you. But there's one thing that I'm curious about in the third book, Heaven. Based on the review you wrote — if you were in that situation, would you relate more to the main character or to Kojima, and why?
Hi there, such a good question.
I’ve never experienced bullying like that, but I'd probably choose the MC. Kojima’s way of thinking and mindset is something I can’t fully grasp.
Heaven - Mieko Kawakami
I remember how Kojima got really mad when the MC said he wanted to fix his lazy eye (which is such a normal human thing to want). She needed him to stay broken so her pain would feel valid. I don’t relate to that.
"Even when they’re broken… desks and vases probably don’t get hurt.” .... "If we keep doing this... think maybe we’ll become things, too?” (Something's off with her mindset)
I don’t romanticize suffering. If something’s broken in me, I’ll try to fix it.
Kamu nonton SORE: Istri dari Masa Depan gak In di bioskop? Kalau nonton review bisa lah ya
Nggak nonton jadi gabisa review. Living in this little big kabupaten with an airport but no movie theater, harus ke kota sebelah buat nonton jadi aku males.
Inget dulu sekitar 2020-ish nonton seriesnya di youtube buat iklan produk pemanis (meski female leadnya beda pemeran). It was okay, I loved the cinematography, buat sekelas campaign youtube bagus banget tonenya. Dari segi cerita ya begitu aja. The concept of time traveling to save a man’s life is wild (I admire the dedication, Sore). But personally, I would've mourned for a week and moved on with better skincare. If he died, he died.