2 - Things That Make Me Happy
Membaca judul ini, aku teringat pada lagu âMy Favorite Thingsâ dari film The Sound of Music.
Raindrops on roses and whiskers on kittens
Bright copper kettles and warm woolen mittens
Brown paper packages tied up with strings
These are a few of my favorite things
Sekilas kamu baca liriknya, hal-hal sederhana bisa menjadi favorit, kan? Hal-hal yang membuatku bahagia juga demikian. Baiknya aku tulis dalam butir atau paragraf, ya?
1. Buku. Aku senang membaca buku, khususnya novel sastra dan anak. Andai saja tidak ada pandemi, aku bisa kamu temukan di atas bus, kereta, atau trotoar sedang membaca. Buku masih menjadi kado favoritku, baik kondisi baru maupun bekas. Akhir-akhir ini aku suka, lho, berburu buku bekas di internet khususnya untuk koleksi langka. Murah dan ada jejak kesayangan dari pembaca sebelumnya. Keren nggak, sih, menduga-duga sudah berapa pasang tangan yang menyentuh buku itu? Berapa orang diceriakan harinya dan terinspirasi darinya?
2. Pembicaraan dari hati ke hati alias deep talk. Oh my God, I always crave for this one! Pemikiranku kadang nyeleneh dan aku butuh orang lain untuk bertukar pikiran. Salah satu percakapanku dengan seorang sahabat di malam hari, âKalau saja tidak ada norma sosial maupun agama di dunia ini, hal nakal apa yang selama ini kamu tahan dan ingin lakukan?â Tidak selalu hal abstrak, sih, bisa juga mengobrol tentang kepribadian, keinginan, dan segala macamnya. Rasanya setiap kali aku menelepon sahabat tidak pernah kurang dari setengah jam saking banyaknya hal yang bisa dibincangkan bersama. Aku sangat mengapresiasi orang-orang yang berusaha membuat obrolan berjalan, tidak mati kaku pada respons, âIya setuju, jangan begitu,â atau âHm, aku lebih senang mendengar kamu bercerita.â Ya ampuuuuun!
3. Untaian kalimat manis yang didedikasikan untukku seorang. Alih-alih kamu menghujaniku dengan barang, aku lebih suka kalau kamu memberikanku sepucuk surat atau menuliskan hal-hal tentangku di media sosial. Rasanya spesial dan personal. Oh, aku tidak peduli bahasamu baik atau tidak, yang jelas akan kuapresiasi usahamu menulis untukku.
4. Pelukan. Hal ini tidak akan kusebutkan ketika remaja. Tanya saja teman-teman dan keluarga, aku tidak pernah suka digamit dan dirangkul. Hiiih, geli rasanya! Akan tetapi, sekarang malah sangat bahagia kalau dipeluk (sejauh ini oleh sahabat perempuan saja). Nyaman, hangat, dan merasa dicintai. Well, tampaknya aku benar-benar krisis kontak fisik di masa muda jadi sekarang malah haus. Hahaha, apa-apaan.
5. JJS, jalan-jalan sendirian. Main ke museum, nonton pertunjukan, berkunjung ke pameran lukisan, nongkrong di candi, kulineran, berbelanja... I sound too introvert, donât I? Jangan salah paham dulu, aku juga senang kok pergi bersama-sama, tetapi rasanya berbeda. Ada keinginan kecil untuk terus mengeksplor lingkungan baru sendirian. Bisa lebih fokus menyerap sensasinya, tidak harus menyesuaikan diri dengan orang lain. Bebas saja semauku, kapan harus istirahat, kapan harus makan, kapan aku hanya mau diam memperhatikan sekeliling. Pemantik favoritku untuk terus ber-JJS adalah orang-orang yang menghampiriku. Mereka bertanya, âSendirian saja, Mbak?â lalu mengajakku berbasa-basi. Ah, senang sekali, lho! Tidak jarang aku menambah teman baru dari sini, meskipun banyak yang komunikasinya tidak berlanjut. Thereâs a thing about stranger I couldnât explain, but Iâd like to know them better. Setiap manusia punya cerita. Aku punya, mereka punya. Tidak ada yang lebih menarik dari dua orang asing yang bertemu, membangun obrolan, lalu menemukan keserasian. Ah, gemas!
Lima hal saja cukup, ya? Banyak, kok, hal sederhana yang bisa membuatku gembira, tetapi nanti tulisan ini jadi panjang sekali. Sekarang kamu sudah tahu, jadi pahamlah, ya, cara untuk menyenangkan hatiku?
Luv,
Nadia Almira Sagitta