22 Juli 2026
Mbahti sudah boleh pulang.
Perawatan di rumah sakit sudah selesai, dilanjut dengan obat-obatan di rumah saja. Alhamdulillah. Meski nafasnya masih terlihat sulit, saat ditanya perawat ada keluhan apa, dijawab tidak ada olehnya. Biar cepat pulang, mau tidur di kasur rumah, katanya.
Ah, di rumah tidak ada tabung oksigen. Punya ipar ada di Lumajang, perlu waktu paling cepat dua hari kalau dikirim ke Gresik.
Sambil menyetir arah pulang, ponakanku yang duduk di kursi penumpang aku minta telfon ke apotek langganan. Beli tabung oksigen dan oxymeter, lalu minta mas ipar ambil ke lokasi agar sesampainya kami di rumah, semua sudah siap terpasang.
Mbahti masuk rumah, dipapah. Kasurnya ditata, tabung oksigen ditaruh di sebelahnya.
Istirahat dulu.
Sudah mulai malam, saudara yang lain sudah pulang.
Posisi tidur Mbahti setengah duduk, karena masih terasa lebih sesak jika tidur terlentang.
Sudah lewat tengah malam, tiba-tiba Mbahti bangun, lalu bilang, "Han, oksigennya kok habis?"
Allahu akbar. Kurangnya riset, tabung oksigen putih kecil yang kami beli itu ternyata memang hanya bertahan empat jam!











