Ibu-ibu yang makan sendirian itu, adalah aku.
Jangan dikasihani, karena saat itu aku sedang menikmati hadiah ulang tahunku.
Hari itu aku pesan satu porsi kwetiau untukku sendiri. Aku tambahkan chilli oil di pinggirnya. Setelah dipandang agak lama, aku aduk sampai tercampur rata dan pedasnya terasa.
Hal sederhana yang aku jadikan istimewa sebagai kado ulang tahun. Makan satu porsi sendiri tanpa diganggu siapa-siapa.
Pesan satu porsi utuh menu kesukaanku tanpa harus mengalah pesan menu kesukaan anak yang sudah pasti tidak habis karena porsi dewasa.
Tanpa harus dijeda karena bergantian menyuapi anak pertama dan kedua.
Tanpa harus segan memberi cabai pada makanan jaga-jaga kalau anak-anak minta.
Tanpa harus terburu-buru mau pulang karena semua sudah selesai makan.
Makan selagi masih hangat karena tidak terhenti mendengar cerita anak pertama dan menjawab celotehan anak kedua yang belum jelas bicaranya.
Di antara bising meja kanan kiri di malam minggu itu, aku menikmati hening dalam kepalaku.
Waktuku hanya 30 menit agar tidak terlalu lama meninggalkan anak-anak di rumah bersama mbahnya.
Ah, kwetiau di Ah Pek memang lebih terasa bumbunya dari pada kwetiau Solaria yang dominan rasa kecapnya. Oh iya, beberapa tahun lalu, kwetiau Solaria jadi kado ulang tahunku.
Eh, kenapa kwetiau ya? Oooh... kayaknya karena kwetiau itu mengingatkanku saat diajak Bapak sarapan di Sinar Duri hari Minggu pagi. Sejenis kopitiam di jalan Hang Tuah di Duri sana, tempat tinggalku dulu. Minggu pagi yang mataharinya sudah mulai terik, bercampur debu jalan karena di sana memang daerahnya kering kerontang.
Kami sarapan kwetiau dan minum kopi susu di cangkir keramik kecil khas kopi tiam. Oh, dulu Bapak sukanya pesan kopi gingseng.
Rupanya aku sedang menjelajah masa lalu. Mengeruk kenangan di mana aku merasa senang dan tenang.









