كم مرة يجب أن نغفر لشخص ما؟
Berapa kali kita harus memaafkan seseorang?
عدد المرات التى تحب أن يغفر الله لك فيها
Sebanyak kamu ingin Allah memaafkanmu.

Origami Around

oozey mess

titsay
I'd rather be in outer space 🛸

JBB: An Artblog!
Sweet Seals For You, Always

Discoholic 🪩
No title available

pixel skylines

tannertan36
Monterey Bay Aquarium
styofa doing anything
No title available

Kaledo Art
Lint Roller? I Barely Know Her

shark vs the universe

❣ Chile in a Photography ❣
RMH

No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

seen from Argentina

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Italy
seen from Kazakhstan

seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Italy

seen from Morocco

seen from Netherlands
@nafisathohiro
كم مرة يجب أن نغفر لشخص ما؟
Berapa kali kita harus memaafkan seseorang?
عدد المرات التى تحب أن يغفر الله لك فيها
Sebanyak kamu ingin Allah memaafkanmu.
Beranjak dewasa ini aku belajar satu hal penting. Salah satu hal yang membuat kamu merasa tenang adalah penerimaan, termasuk penerimaan terhadap diri sendiri.
Menerima kondisi diri, keterbatasan kemampuan diri, bahkan segala kelemahan diri sebagai seorang manusia.
Tidak semua hal bisa berjalan sesuai dan secepat yang kamu inginkan. Allah menghadirkan kondisi-kondisi yang membuatmu belajar untuk "mengerem" sejenak disaat kamu inginnya lari terus.
Sebab nyatanya tidak semua yang cepat itu selalu yang terbaik. Bisa jadi Allah sedang melindungimu dari sesuatu yang kurang baik, yang kamu tidak tahu itu. Bisa jadi juga Allah ingin berikan yang lebih baik, dan menjadikanmu bersabar agar bisa menyiapkan diri menyambut kebaikan itu.
Allah tak pernah salah dalam menentukan ketetapan-Nya untukmu. Dan kamu, harus terus belajar mengasah kepekaan akan maksud baik Allah yang sedang Ia siapkan untukmu.
Let people be wrong about you. It makes you peaceful.
Because trying to convince people who are committed to misunderstanding you is a waste of breath and energy.
Tangki Cinta Anak Perempuan
Suatu hari, aku pernah menyeletuk bicara seperti ini ke salah satu temanku:
"Aku heran, kenapa ya ada cewek yang mau-mauan dideketin cowok yang cuma mau buat seneng-seneng sementara doang? Okelah dia mungkin pernah dijajanin atau dianter jemput sama si cowok itu. Tapi kan sebenernya si cowoknya juga gabisa tanggung jawab juga. Kalo dia sakit pun belum tentu cowoknya peduli. Kalo peduli pun, siapa yang menjamin kalo cowok itu bakal sayang sama dia selamanya.."
Tetapi jawaban temanku saat itu berhasil mengubah cara pandangku selama ini tentang 'orang yang pacaran'. Dia menjawab begini,
"Kamu mungkin bisa ngomong begitu karena kondisi kamu dan mereka beda, Naf. Kamu mungkin dapet cinta dan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tua kamu, orang-orang terdekat kamu. Tapi mereka yang seperti itu nggak seberuntung kamu bisa dapet tangki cinta yang cukup dari orang-orang terdekatnya."
Aku terdiam sejenak. Mencoba mencerna ulang apa yang disampaikan temanku tadi. Aku berpikir ada benarnya juga apa yang temanku tadi bilang.
Selama ini, yang aku ketahui adalah hanya sebatas "berhubungan antara dua orang laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya itu sesuatu yang jelek dan dilarang agama." Di pesantren dahulu, aku hanya dididik bahwa ber-'pacaran'—atau apapun istilahnya— itu perbuatan tercela, melanggar aturan; siapa yang ketahuan melakukannya akan dihukum oleh ustadz/ah, bahkan dikeluarkan dari pesantren. Pokoknya hanya bunyi-bunyi ketegasan dan ancaman agar para santri takut untuk melakukan hal tersebut.
Dalam banyak kasus lain, aku pun menemukan tidak sedikit teman-temanku yang selepas lulus dari pesantren justru malah berani melakukan hal tersebut. Apakah karena mereka tidak paham? Aku rasa tidak juga. Apa karena saat di pesantren dulu takut kalau-kalau kena hukum ustadzah, sementara setelah lulus siapa pula yang melarang, pun tidak ada norma sosial yang akan menghukum perbuatan tersebut.
Namun semenjak diskusi dengan temanku saat itu, aku memperhatikan dan menyadari, ada suatu akar masalah yang lebih besar dari fenomena "kenapa ada cewek yang mau-mauan dideketin cowok yang cuma mau seneng-seneng doang?"
Nyatanya, kemauan seorang perempuan didekati oleh laki-laki itu berkorelasi dengan kebutuhan psikologisnya untuk disayangi, dilindungi, diberikan curahan cinta dan kasih, pun diberikan perhatian yang cukup. Bagi perempuan yang sudah mendapatkan semua hal itu dari orang terdekatnya, tentu ia tidak akan haus dan tergiur untuk mencari-cari lagi kebutuhan itu ke luar. Atau bahasa mudahnya, tangki cintanya sudah penuh.
Namun, tidak semua perempuan bisa mendapatkan hal itu dari orang terdekatnya. Terlebih, dari kedua orang tuanya, terutama ayahnya. Maka sebab itu mereka mencari sosok lain di luar sana yang berharap bisa memenuhi tangki cintanya itu—meski sementara dan tidak terjamin tanggung jawabnya.
Melihat fenomena ini, cara berpikirku jadi berubah. Aku jadi lebih mengedepankan empatiku ketika melihat kondisi teman-temanku maupun perempuan di luar sana yang seperti itu. Di satu sisi, aku juga sedih, sebab aku punya amanah untuk mengingatkan mereka bahwa hal tersebut tidak baik dan tidak disukai oleh Allah. Namun sebagaimana indahnya ajaran agama Islam, aku tidak mau mengedepankan egoisme semata dalam menyampaikan kebenaran risalahnya.
Sebab tugasku hanya sampai mengingatkan semampu dan dengan cara yang aku bisa, tentunya juga untuk mengingatkan diri sendiri agar mensyukuri nikmat kasih sayang yang Allah limpahkan melalui orang-orang terdekat yang kucintai.
Tidak ada kisah cinta yang lebih indah dari jatuh cintanya hamba kepada RabbNya, karena ia baru tersadar bahwa dirinya telah lebih dulu dicintaiNya, dan itu akan terjadi sepanjang hidupnya. —Nasihat Teh Febrianti Almeera
Maka Ya Allah, bimbinglah diri ini agar mampu mencintaiMu dan RasulMu melebihi segala sesuatu yang aku cintai. Jadikanlah keridhoan-Mu sebagai muara dari setiap ikhtiarku, langkahku, dan keputusan-keputusan dalam hidupku.
Rezeki itu bernama Ilmu
Hari ini, Alhamdulillah, berkesempatan untuk menyimak dan menyerap untaian hikmah baru dari dua orang inspirasiku dalam satu panggung: Bu Dr. Sastia Putri dan Prof. Yassierli.
Bu Sasti sudah jadi salah satu inspirasiku, terutama sejak aku jadi mahasiswa Biologi. Apalagi ternyata spesialisasi riset Bu Sasti adalah bidang yang juga aku minati.
Sementara Prof. Yassierli, baru tahun lalu sepertinya aku mengenal nama beliau. Tapi kemudian melihat sosoknya yang bisa menyeimbangkan dengan adil atas segala amanahnya: amanah keluarga, kepentingan ummat, dan juga dakwah—menjadikan beliau salah satu orang yang kujadikan panutan. Termasuk salah satu panutan untuk mencari sosok suami yang sekompeten beliau *ehh? Gapapa, siapa tau bisa jadi isterinya menteri kan nanti. Hehehe.
Tapi ada yang tidak kalah menarik juga, sebab tadi bisa ikut menyimak cerita perjalanan seorang anak bangsa yang mengharumkan nama Indonesia dengan karya patennya—menemukan jaringan 4G, 5G, bahkan sudah ada 6G sekarang. Dr. Khoirul Anwar, namanya. Masih cukup muda, tapi cita-citanya sungguh besar. Beliau bilang ahli-ahli teknologi masa depan haruslah berasal dari orang Asia.
Tadi saat beliau melakukan pemaparan, aku perhatikan setiap slide-nya sangat menarik. Tapi sayang sekali waktu terbatas. Kalau ada kesempatan di lain waktu, ingin rasanya mengikuti kuliah materi-materi beliau yang sangat daging itu.
Satu lagi, seorang guru besar Arsitektur. Prof Ilya, yang juga Dekan di salah satu kampus swasta di Indonesia. Dulu sebenarnya aku ingin juga masuk jurusan arsitektur, sederhana karena aku suka berimajinasi dengan desain-desain interior bangunan. Sayang seribu sayang aku tidak pernah mencoba untuk mendaftar di jurusan itu. Tapi tak apa, setidaknya bisa ikut kuliah umum dari profesor arsitekturnya sekarang.
Rasanya sebentar sekali ya, kuliah umum yang setara 3×3 SKS itu ditelan dalam waktu yang singkat. Tapi kerennya tidak membosankan. Semoga aku bisa menyerap ilmu dan hikmah yang didapatkan tadi dan memanifestasikannya menjadi amalan karya besar di suatu hari nanti.
Mohon didoakan selalu, ya.
Bandung, 22 November 2025 | Simposium Ilmiah Masjid at Masjid Salman ITB
Allah doesn't put a dream into your heart without providing you the capabilities of accomplishing it.
So put your trust on Allah.
Allah selalu punya cara untuk mendidik hamba-hambaNya
Disadari atau tidak, setiap hal yang terjadi dalam hidup kita, sebenarnya ada maksud Allah mengapa hal tersebut terjadi. Tapi manusia seringkali tidak peka bahkan mengabaikan pesan Allah dibalik apa yang dialaminya.
Seperti halnya saat sakit flu sepekan lalu. Padahal kalau dipikir-pikir, aku sudah mengusahakan betul untuk menjaga asupan nutrisi, pola hidup, juga menghidari kehujanan di tengah cuaca yang tidak pasti ini. Rupanya Allah ingin aku mengambil jeda sejenak, dari segala kesibukan yang aku buat-buat sendiri.
Belakangan memang sedang banyak menyibukkan diri untuk persiapan pasca kampus. Tapi makin kesini, sepertinya terlalu banyak yang aku inginkan—sehingga jadi hampir hilang arah; terlalu banyak yang ingin dituju.
Kalau tidak diberi sakit, mungkin aku tidak akan punya waktu untuk menavigasi dan merefleksikan kembali apa yang sebenarnya ingin aku tuju dan apa yang sebenarnya hanya menjadi distraksi.
Jadilah selepas sakit kemarin, aku mulai berbenah kembali. Menyusun ulang prioritas dan menyortir keinginan-keinginan yang benar-benar dibutuhkan.
Sampai pada suatu kesadaran bahwa diantara banyaknya pilihan dan keinginanku tersebut, yang harus aku lakukan pertama adalah mengenal dan memahami diri sendiri lebih dalam lagi. Sebab semakin kita bertumbuh, ternyata ada bagian dalam jiwa diri kita yang juga berubah.
Berkenalan dengan diri sendiri sepertinya menjadi hal yang tidak pernah selesai sepanjang hayat.
Karena ada nasihat mengatakan, sesiapa yang tidak mengenal dirinya, ia tidak akan mengenal Tuhannya.
..aku berserah kepada-Mu Ya Allah, bukan berarti aku menyerah
sebab hanya Engkau Yang Maha Tahu dimana muara-muara terbaik dari doa-doaku akan sampai. dan sungguh aku tidak mau berputus asa dari rahmat-Mu, wahai Allah yang menguasai segala sesuatu.
Sesuatu yang baik akan datang di waktu dan tempat terbaiknya. Tak perlu tergesa-gesa apalagi berpayah-payah mengejarnya. Jika memang sudah takdirnya, ia akan mencari jalannya untuk menemukanmu.
Yaa Allah, karuniakanlah aku suami; imam hidupku dan keluargaku kelak—yang pantas dan layak aku cintai, taati, sayangi, dan muliakan.
Suami yang menjadi qurrota a'yun dan teladan yang baik bagi keluarga kami. Ia yang dengannya surga terasa lebih dekat bagiku, yang shalih juga mushlih, yang mampu membimbing kami masuk ke dalam surga-Mu.
Perasaan cukup adalah sebuah nikmat
Ketika kita merasa tidak perlu membagikan usaha maupun capaian hidup kita ke khalayak ramai di media sosial hanya untuk mendapat validasi bahwa kita sedang berproses.
Ketika kita merasa tidak butuh membagikan apa yang sedang kita rasakan: senang, sedih, bahagia, maupun kecewa—kepada orang lain hanya agar mereka memahami kondisi kita.
Bahkan, ketika kita merasa tidak harus menunjukkan siapa diri kita, apa pekerjaan kita, siapa support sistem kita, apa saja impian kita, apa yang sedang kita lakukan—kepada mereka yang sebenarnya tidak memikirkan hidup kita.
Membagikan suatu kebaikan, itu baik. Menunjukkan apa-apa yang menjadi capaian pribadi, itu juga boleh saja. Tapi bukan berarti apa yang tidak ditunjukan itu tidak ada, kan? Dan seringnya, apa yang ditunjukkan pun belum tentu sama dengan yang terjadi pada kenyataannya.
Bagaimana jika niat membagikan capaian juga kebaikan yang kita dapat itu untuk mengabarkan nikmat yang telah Allah berikan?
Bukankah sebaik-baik bentuk syukur ialah memanfaatkan segala nikmat yang telah Allah berikan untuk digunakan secara maksimal dalam amal-amal dan karya-karya terbaik? Maka biarlah amal dan karya terbaik kitalah yang menunjukkan dengan caranya; rasa syukur kita atas nikmat tersebut.
Di zaman yang segala halnya dianggap penting untuk ditunjukkan ini, menjadi lebih penting untuk menjaga segala kenikmatan dan kebaikan yang kita dapatkan dengan 'menyembunyikannya'. Seperti emas, sebab ia berharga, maka tidak mungkin kita menaruhnya di tempat yang banyak orang bisa melihatnya.
al-waajibāt aktsaru min al-awqaat
Kewajibanmu lebih banyak dibandingkan waktu yang tersedia.
Inilah yang kurasakan sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir seperti saat ini. Rasa-rasanya, banyak sekali yang harus aku kerjakan dan persiapkan di tengah keterbatasanku sebagai manusia.
Aku pernah membaca nasehat dari seorang kakak tingkat, ketika ia ditanya apa saja yang harus dilakukan sebelum memasuki kehidupan pasca kuliah:
"Lulus kuliah artinya harus siap dengan produktivitas baru sesegera mungkin. Mempersiapkan kemampuan diri untuk menjalani semua opsi aktivitas pasca kuliah secara bersamaan: Berkarir, lanjut S2, atau Menikah. Artinya, harus bisa mem-boosting diri sendiri lebih cepat agar tidak terjebak pada framework pribadi"
Maka berakhirlah awal semesterku lalu untuk menyusun strategi persiapan ketiganya itu. Memasukkan jadwal course, belajar pranikah, dan upgrade skill yang kesemuanya itu bisa dikerjakan dalam satu minggu agendaku—di tengah tanggung jawabku menyelesaikan penelitian tugas akhir.
Aku tahu ini tidaklah mudah. Mempersiapkan kesemuanya dalam waktu bersamaan membuatku memahami bahwa memilih berjalan sendiri-sendiri mungkin akan lebih cepat sampai, tapi berjalan bersama akan membawaku ke tempat tujuan yang lebih jauh.
Sebab keberuntungan adalah akumulasi dari bertemunya kesempatan dengan kesiapan; aku ingin agar setiap kesempatan yang datang nantinya tidak aku kecewakan sebab aku sudah mengusahakan mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya.
Dalam menjalaninya, lelah memang menjadi sebuah konsekuensi yang harus aku jalani. Tapi bukankah hidup memang isinya adalah belajar dan berjuang? Terus menerus sepanjang hidup, tak akan pernah selesai hingga kehidupan sendiri itulah yang akan mengakhiri.
Nak, semoga kamu selalu ingat.
Ketika kamu menolong orang lain, sejatinya kamu sedang menolong dirimu sendiri.
Sebab, saat kita memberikan lebih banyak untuk orang lain (masyarakat; ummat), hidup akan menemukan cara untuk memberi kembali kepada kita—bahkan lebih dari apa yang pernah kita berikan.
"Minta sama Allah, agar 'dinikahkan' dengan iman sebelum dinikahkan dengan ikhwan. Iman adalah teman sehidup semati yang paling baik."
- nasihat ustadzah Faiza sore ini
Menjadi Penumpang
Ada masanya ketika kamu perlu belajar menjadi penumpang yang baik: setelah sekian lama kamu memegang kemudi.
Ada masanya, tiba orang yang akan mengambil alih kemudi kendaraan, yang kemudian menempatkanmu di kursi penumpang.
Pelan-pelan kamu belajar.
Bagaimana kamu perlu mendiskusikan destinasi yang ingin kalian tuju. Jalan mana yang harus kalian tempuh. Berapa jumlah transit yang kalian perlukan. Bekal apa saja yang perlu kalian siapkan. Bahkan, suasana perjalanan seperti apa yang ingin kalian bangun.
Pelan-pelan kamu belajar.
Bagaimana kamu dapat duduk dengan tenang dan sabar di sisi sang pengemudi. Bagaimana kamu mempercayakan keselamatan perjalananmu pada keterampilan dan kewaspadaannya. Bagaimana kamu menjaga fokusnya: menanyakan senandung apa yang ingin ia dengar, mengajaknya berbincang saat ia tampak mengantuk, mengingatkannya untuk beristirahat saat kelelahan menggayuti matanya. Bagaimana kamu berbagi tugas untuk mengecek peta atau bertanya pada orang yang mengenal jalan agar kalian tidak tersasar.
Pelan-pelan kamu belajar: menjadi penumpang tidak selalu mudah. Maka, dalam proses belajar itu, jagalah hati dan akalmu. Dan bermohonlah kepada-Nya.
Agar kamu tidak hilang arah.
📝 Tulisan oleh: fifahfifah.wordpress.com
Nak, hausmu akan ilmu adalah nikmat.
Mungkin kau dapati dirimu dianggap aneh untuk berjauh-jauh mendatangi guru..
Mungkin kau dapati dirimu dianggap remeh karena limpahan harta kau habiskan untuk buku..
Maka jangan sekali-kali tinggi hati ya, Nak.
Sungguh. Ringannya langkahmu ke majelis ilmu, lekatnya pemahamanmu dari ratusan buku, perjumpaanmu dengan guru-guru ikhlas yang mendoakanmu..
Semata-mata adalah karunia dari Rabb-Mu..
Nak. Semoga kamu dijatuhcintakan pada ilmu dan mendatanginya dengan adab termuliamu.