Tittle : The Light of The White Princess
Cast : Ohno Satoshi as Naruse Ryoo, Kobayashi Ryoko as Sakita Shiori
A fanfiction based from Japanese Serial Drama aired in2008, Maou.
The Light of The White Princess
Kalau saja… kita hidup dalam posisi yang berbeda, di kehidupan yang berbeda. Jauh berbeda daripada saat ini…
Sakita Shiori. Gadis ini ada di hadapanku sekarang, tertidur. Cantik seperti Putri Tidur. Gadis yang memiliki indera keenam ini, jatuh kelelahan karena memaksa tubuhnya untuk melakukan ‘penglihatannya’. Ya, gadis ini bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa. Dia bisa melihat masa lalu suatu benda hanya dengan menyentuhnya saja. Dan itulah yang berusaha dilakukannya beberapa saat lalu.
Dia berusaha melihat masa lalu sebuah buku berjudul “La Divina Commedia Dante”. Buku bersampul merah itu adalah salah satu barang penting yang digunakan Amano Makoto untuk meninggalkan pesannya kepada Serizawa Naoto.
Ya. Akulah Amano Makoto itu. Serizawa Naoto adalah targetku. Akulah yang telah mempergunakan Putri Tidur yang tertidur di hadapanku ini untuk membalaskan dendam kepada pemuda itu. Akulah penjahat di sini.
Gadis ini, Sakita Shiori, begitu bersemangat mencari jalan untuk menemukanku, sama seperti pemuda polisi brengsek itu. Tetapi dengan alasan yang berbeda.
“Orang itu sama seperti kakak Imouto. Dia menginginkan seseorang menolongnya dari lorong gelap yang menyekapnya itu. Dia sedang menunggu seseorang datang menolongnya. Dia sebenarnya sedang kesepian, ketakutan. Dan aku ingin menolongnya.”
Begitu putih. Begitu bersih. Begitu suci, Sakita Shiori ini.
Dia tidak tahu bahwa orang yang dicarinya ada di hadapannya saat ini, menunggunya membuka mata dan berakting seperti tidak tahu apa-apa. Apa yang akan dilakukannya jika dia tahu orang yang sedang dicarinya adalah aku? Apa dia tetap ingin menolongku?
Aku telah jatuh begitu dalam di kegelapan. Siapapun tidak akan bisa menemukanku di lorong ini, meskipun dengan kesucian seorang Shiori. Cahayanya terlalu bersih untuk datang ke tempat kotor seperti hatiku. Aku tidak pantas mendapatkan secercah cahayanya sekalipun. Aku sangat hina.
Bola mataku perlahan menyapu wajahnya yang terlelap dan meneliti semua pahatan wajahnya. Hidungnya kecil, cocok dengan wajahnya yang mungil. Bibirnya tertutup rapat. Namun matanya membuatku khawatir. Bola matanya bergerak-gerak di bawah kelopak matanya yang cantik, seperti meminta untuk dibangunkan dari mimpi buruknya-entah-apa.
Tanganku perlahan terangkat, tanpa sadar mendekati wajahnya. Aku ingin meredakan mimpi buruknya itu. Aku ingin menjadi seseorang yang memberinya kedamaian dan menjanjikannya hidup tanpa mimpi buruk.
Kusingkirkan anak rambut yang menutupi matanya dan aku bisa melihat dengan jelas pergerakan bola matanya. Napasnya juga mulai tersengal. Sepertinya mimpinya buruk sekali karena aku bisa melihat keringat dinding menempeli dahi dan lehernya.
Lagi, tanpa kusadari, aku melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan. Kuusap pipinya, berusaha memberikan sentuhan rasa aman dan damai padanya. Tanganku terus mengusap pipinya, tanpa menyadari bahwa mungkin saja dia bangun karena perlakuanku ini.
Tetapi sesuatu yang baik terjadi. Pergerakan bola matanya berhenti dan napasnya berangur-angsur kembali normal. Aku menggerakkan tanganku ke rambutnya dan mengusap kepalanya penuh kelembutan. Ekspresi wajahnya telah kembali damai dan itu membuatku tersenyum lega, setidaknya aku bisa berguna untuknya.
Namun ada hal lain yang tidak kuperhitungkan sebelumnya. Wajahnya terlalu dekat. Dan dalam jarak sedekat ini, aku bisa mencium parfum yang bercampur dengan keringatnya. Letak kedua mata, hidung, dan bibirnya yang setengah terbuka tidak pernah kubayangkan akan kulihat dari jarak sedekat ini. Jantungku mulai berdetak cepat, seakan didetakkan tepat disamping telingaku.
Kugeser tanganku ke bagian bawah kepalanya, agar memudahkan aksesku padanya.
Aku ingin melakukan ini walau sekali saja seumur hidupku. Kucondongkan tubuhku padanya, berhati-hati agar tidak menimbulkan suara atau membuatnya bangun. Kutempelkan bibirku pada keningnya, kuberikan rasa aman dan… rasa sayangku lewat sentuhan itu. Rasanya aku ingin tetap mendekapnya seperti ini, dan tidak kembali ke kehidupan nyata. Aku ingin terus bermimpi bersamanya, Sakita Shiori.
Kalau saja… kita hidup dalam posisi yang berbeda, di kehidupan yang berbeda. Jauh berbeda daripada saat ini…
Tolong, kalau Tuhan mau mengabulkan hal itu, ijinkanlah aku untuk mendekapmu lebih lama lagi daripada saat ini.