Kalau bicara soal makan dan makanan, bagi sebagian orang itu hanyalah mekanisme untuk bertahan hidup. Bagi balita, makan dan makanan adalah nutrisi untuk tumbuh kembangnya.
Sejak aku kecil, aku tidak pernah tahu apa esensi makan. Bagiku, makan hanyalah sebuah ritual agar tidak lapar, agar aku tidak kurus kering lalu jadi bahan pembanding berat badan dengan saudara atau kawanku. Karena itu yang orang-orang ceritakan padaku.
Tapi aku tidak tahu, kenapa aku harus makan?
Aku bahkan enggan menyentuh sayur-mayur. Hingga SMA, seingatku, aku hanya memilih sayur sop dan kangkung. Selebihnya aku memilih protein-protein hewani, saat kecil pun aku hanya menyukai ayam goreng, apalagi ayam goreng warung makan. Aku tidak ingat, mungkin sejak SMA aku mulai makan ikan goreng, seafood, gemar makan daging. Mungkin karena ibuku memberikan exposure terus menerus terhadap sumber-sumber protein hewani.
Hingga aku berkuliah dan jadi anak rantau. Keadaan ekonomi sebagai mahasiswa membuatku harus selektif memilih makanan yang terjangkau. Tahu tidak? Justru saat aku tidak punya pilihan yang banyak, aku mulai bisa makan sayur mayur. Aku bahkan tidak pernah menyangka aku bisa makan terong! Ternyata enak! Lebih jauh lagi, aku jadi suka memasak!
Aku tidak tahu kenapa pastinya, apakah karena kondisi yang sulit atau karena indera pengecapku saat dewasa sudah berkembang sempurna -sehingga lebih toleran terhadap rasa pahit dedaunan- atau karena aku bisa memilih makananku sendiri tanpa ditentukan menu Ibu hari itu atau karena aku mulai menemukan koneksi antara makan dengan makanan.
Ya! Aku mulai menemukan koneksi itu. Bahwa makan berkaitan erat dengan apa yang masuk ke perut kita. Ternyata memilih makanan yang enak dan sehat membuatmu lebih mindfull saat makan. Membuatmu lebih bahagia dan bahkan sehat.
Aku tidak pernah menduga, bahwa saat dewasa aku akan jadi pemburu makanan enak bersama pasanganku dan teman-temanku. Lalu aku akan menggoyangkan kepala tanda kegirangan kalau rasanya betulan lezat. Tidak jarang, aku menduga-duga bumbu apa yang dipakai, membuka memori indra perasaku untuk menerka rasa makanan yang ku makan menyerupai makanan yang lain.
Perjalananku dengan makanan sudah sejauh itu, jika ku ingat aku pernah jadi anak kurus kering yang menolak makan dan memilih bermain atau minum susu.
Dan aku ingin, anakku nanti menemukan koneksinya sendiri dengan makanan. Melihatnya lahap mengunyah wortel dan buncis rebus membuatku bahagia. Melihatnya tidak sering melepeh daging ayam, hati ayam, berbagai jenis ikan tawar maupun laut, hingga otak sapi membuatku juga sedikit tenang. Barangkali checklist seratus makanan yang ingin ku kenalkan kepadanya sebelum satu tahun belum terpenuhi semua. Mungkin dia tidak akan selalu menghabiskan makanannya. Mungkin juga dia akan lebih memilih kentang dan ubi ketimbang nasi, tetapi tidak apa-apa.
Aku hanya ingin dia tahu bahwa sepiring di hadapannya bukan sekadar nutrisi yang penting, melainkan prosesnya belajar makan dan mengenal makanan. Lebih jauh lagi, ingin kuberi tahu, sepiring di hadapannya adalah kasih sayang dari-Nya, melalui hasil panen petani gigih, bangun paginya penjual sayur, dan tangan ibunya yang mencoba belajar dan berusaha memberi masakan terlezat untuknya.