Kini, aku sedang berada diantara dua musim. Hujan yang sedang membawa genangan dan kemarau yang sebentar lagi membawa kabut juga banyak daun kering yang berguguran. Namun diantara segala perbedaan musim, ialah malam tetap hadir sebagai temaram dalam kepekatan dan siang tetap hadir sebagai terik dalam keriuhan.
Lalu diantara pergantian siang dan malam, kesepian tetaplah menjadi dirinya sendiri. Hening tanpa basa-basi dan selalu menyuguhkan lintasan memori lalu yang sejauh ini mampu menarik diri menuju dimensi berbeda dari masa kini ke masa abu-abu yang lampau, membisu dan masih dirasa pilu.
Kuberi tahu padamu tentang rumitnya ingatan seseorang dan kenyataan yang kadang bisa merenggut apa saja tentang harapan dari setiap impian. Bahwa tidak semua yang sedang terlihat baik-baik saja—benar-benar sedang dalam keadaan baik. Manusia memang selalu berusaha menutupi celah dalam hatinya, agar dihadapan manusia lain segala hal tampak tenang di permukaan. Tapi manusia takkan mampu menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan terhadap hatinya sendiri.
Jadi sudah sejauh apa kamu dan aku berlari? Jangan pernah berusaha memanipulasi ingatan karena ia selalu selangkah lebih lihai merobek luka yang telah dirasa sembuh untuk menganga lagi. Sebenarnya kita hanya perlu waktu lebih banyak dan tanpa batas penangguhan untuk jujur tanpa penyangkalan bahwa kita belum seutuhnya sembuh, kan?
Tapi berjanjilah untuk sembuh, sebab itu yang terpenting saat ini. Mau sampai kapan ingin membawa luka menganga itu dalam jiwa? Yang selalu mengikuti jejak langkah seperti hantu gentayangan dalam setiap menentukan arah dan mengambil keputusan. Mau sampai kapan berpura-pura kuat padahal sejujurnya kelelahan? Mau melangkah sejauh apa sembari terus menerus membiarkan darahnya menglir dan terus perih?
Sudah ku katakan berulang kali, tak apa. Segala hal butuh memang waktu dan segala hal juga perlu tekad untuk sembuh. Belajarlah lagi tanpa putus asa tentang keniscayaan-keniscayaan yang disuguhkan oleh hidup dan pahamilah diri sendiri dengan lebih peka, jujur dan penuh pengakuan. Jangan memaksa agar segala luka jiwa sembuh dengan seketika sebab ini bukan tentang keterpaksaan dan ketergesaan. Semua hanya tentang pengertian. Bahwa sesekali hal buruk akan menimpa orang baik. Agar kita mengerti bahwa segala hal tentang hidup bukan hanya tentang hitam, putih dan ketidaksempurnaan. Tapi juga tentang abu-abu dan keikhlasan menerima segala bentuk takdir baik dan buruk yang tak bisa ditangguhkan dengan jelas batas kerelaannya. Sebab kita cuma manusia; penuh cela, gudang keliru, rumit pikir dan seringkali terlalu perasa.
Perjalanan tentang penerimaan memang akan selalu panjang, menghabiskan banyak tenaga juga sesekali sesakkan dada. Ambilah waktumu, lebih tepatnya waktu kita. Pintaku tak banyak, semoga yang patah dalam hatimu lekas sembuh, luka laramu mereda tak berulang dan jangan pernah menyerah sebab di depan sana akan ada hal indah yang menantimu. :))
—Untuk Juli yang Rimbun dengan dedaunan.