Technology will kill you... #remang #renung #kontemplasi
Mike Driver

roma★

⁂
RMH
𓃗

Product Placement
🩵 avery cochrane 🩵
will byers stan first human second
art blog(derogatory)
almost home

@theartofmadeline
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Three Goblin Art

if i look back, i am lost
macklin celebrini has autism
noise dept.

#extradirty

ellievsbear
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

No title available
seen from Philippines

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Sweden

seen from Brazil
seen from Palestinian Territories
seen from Brazil
seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from Denmark
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@ndjol
Technology will kill you... #remang #renung #kontemplasi
@ndjol merdeka! (Photo taken and uploaded via MOLOME )
Aku dan Sepeda
(Buat: Peno, 7 September 2013)
Ibu baru membelikan aku sepeda
“Nak, bersepedalah dengan jiwa”.
Aku girang, lalu kujawab;
“Tidak bu, aku bersepeda dengan kaki”.
Belum jauh sepeda kukayuh,
Aku terjatuh.
Kata ibu, “Nak, sepeda sedang menaikimu dengan hati”.
Aku Ingin Mengajakmu Berciuman Di Mahameru
Ndjol, Mei 2013
Kau boleh berjanji dimanapun kita bertemu, tapi aku tinggal di Malang, kota yang tidak benar-benar malang. Mungkin ada beberapa sudut dari kotaku yang malang, orang miskin, anak-anak putus sekolah, polusi, atau macet saat orang sibuk berlalu lalang.
Kotaku boleh dikata memiliki jarak terdekat dan termudah menuju ke Mahameru. Kau boleh tinggal demi melupa ragu, kau boleh menikmati pilu yang tanggal disetiap kalender yang kau robek pada lembaran waktu. Di kotaku, sepimu yang rapuh akan jadi riuh.
Dari kotaku, kita berangkat ke Tumpang, sudut kecil kotaku di kaki Semeru. Kita belanja makanan ringan, beras, gula, sayur, minyak, lauk pauk dan beberapa bumbu. Dari sini, kita harus pandai mengatur waktu, meramu kisah yang mungkin telah terjebak di jarum tunggu.
Mungkin satu jam perjalanan naik jeep kita akan sampai di Ranupani, desa yang makmur, gemah ripah loh jinawi. Di Ranupani, kau boleh memilih tinggal atau melanjutkan perjalanan. Mahameru masih jauh, sejauh perjalanan tak tahu yang harus kita tempuh.
Baiklah, tinggallah sejenak. Esok kita lanjutkan perjalanan.
***
Di Ranupani yang terletak ± 2100 MDPL suhu bisa -4o – 25o Celcius, lebih dingin dari hatimu yang tak pernah kau buka, lebih dingin dari lenganmu yang tak pernah kau pakai untuk memeluk. Di tempat ini kita bisa membeli sarapan, sarapan terakhir yang bisa kau beli sebelum masuk ke hutan.
Isilah botol-botol kosongmu dengan air bersih, isilah ruang kosong dalam jiwamu dengan tekad dan doa tanpa kenal letih. Perjalanan akan kita mulai. Sibuklah melangkah dan kurangi mencari masalah dengan hal sederhana, jangan membuang sampah!
Beberapa meter pertama kau akan melihat tanah yang gembur dan ladang sayur yang subur. Kalau kau beruntung kau akan mendapat sapa ramah petani desa, atau mungkin anak gadisnya yang pandai melempar senyum manis. Seperti senyummu yang pekat dan tak pernah sedetikpun lupa kuingat.
Kira-kira 3 kilometer pertama setelah melewati ladang, semak dan pohon-pohon tinggi menjulang, kita akan memasuki pos pertama. Entah siapa yang memberi nama Landengan Dowo, kira-kira 2300 MDPL, jalan panjang yang sedikit miring, tidak terlalu miring tapi kita bisa mengintip puncak Mahameru yang kering.
Istirahatlah. Nikmati cuaca, hirup sedalamnya udara selagi kau bisa. Nanti, kita lanjutkan perjalanan kalau beban pundakmu sedikit lega, kalau kau sudah sedikit melupa air mata.
***
Tiga kilometer sekali lagi, kita akan sampai di Watu Rejeng. Tebing batu yang tinggi, tak perlu kita daki, kita cuma numpang lewat di kaki. Kadang seperti itulah mimpi, keras dan tinggi yang tiba-tiba kenyataannya hanya terbang lewat atau mungkin datang menghampiri.
Minumlah selagi kita merasa haus, berhenti dan renungilah manakala apa yang kita inginkan telah pupus. Perjalanan masih jauh, belum separuh. bulatkan tekadmu sekeras batu, pendam sedalamnya ragu.
Kita akan melewati tanjakan Bakri, entah mengapa tanjakan itu bernama. Tanjakan yang mungkin akan menghabiskan nafasmu untuk kali pertama. Tapi tanjakan atau rintangan bukan halangan untuk kita mendapatkan sesuatu yang memang layak diperjuangkan.
Dari Watu Rejeng kita harus berjalan lagi 4,5 kilometer untuk sampai ke Ranu Kumbolo. Jika alam berpihak kepadamu, alam akan mengirimkan burung penunjuk arah. Burung yang tak pernah kutahu dari jenis apa, ia akan terbang dan berjalan di tanah, menuntun langkahmu agar tidak kehilangan arah. Sekali waktu ia berjalan sambil mencari makan, sekali waktu terbang rendah diatas dahan.
- Ranu Kumbolo, photo by: @mzp3n -
Apakah air minummu habis? Apakah separuh dari jiwa dan semangatmu mulai kikis? Engkau akan melihat oase setelah melihat Ranu Kumbolo dari ketinggian. Saat inilah letihmu akan terbayarkan. Jerih dan perihmu akan terobati. Terus langkahkan kaki, kita mencari tempat untuk mendirikan tenda, menginap, memasak, dan menyeduh kopi. Sebaiknya kita dirikan tenda yang menghadap ke lengkung bukit, di mana matahari suka mengintip saat pagi.
Malam begini di Ranukumbolo bulan dan bintang berjarak sedekap pelukan, begitu dekat begitu cacat, sebab gapai cuma sekedar lambai. Aku ingin mengajakmu menyeduh kopi, ah, aku tak suka kopi. Aku memilih teh yang luruh bila kuseduh, seperti pucuk-pucuk rindu yang kupetik dan kusimpan di laci kamar. Kemudian kita sama-sama mendidihkan jumpa di bawah langit teduh, sekedar bertukar kabar atau menggamitkan sabar. Bahkan angkasa biru mengerti kesepian kita, dikirimkannya bulat bundar dan kerjap bintang bercahaya.
Baiklah, tidurlah. Engkau sendiri yang mengerti betapa letihnya ragamu, betapa perihnya hatimu. Esok kita lanjutkan perjalanan, kita akan melewati Tanjakan Cinta. Di sana, bagiku, kau boleh menoleh kebelakang, untuk sekedar pelajaran. Sebab cinta bukan soal ujian yang harus benar dikerjakan. Istirahatlah.
- Tanjakan Cinta, photo by: @mzp3n -
***
Pagi tidak pernah benar-benar pagi, tapi tak ada yang lain selain pagi. Pagi selalu setia menjemput matahari. Setelah sarapan kita harus lekas berbenah, Tanjakan Cinta menunggu untuk kita daki meski harus selangkah demi selangkah. Jika kita telah sampai di atas tanjakan ini, kita akan melihat hamparan padang savanah. Oro – Oro Ombo, padang rumput yang luas. Ketika musim berbunga tiba, padang ini indah berjuta warna. Kita akan mengerti, kenapa tanjakan tinggi ini dinamakan Tanjakan Cinta. Bukankah dalam cinta, ketika kita berhasil menaklukkan rintangan curam kita akan beroleh luasnya kelegaan dan senyum indah berbunga? Ini adalah salah satu alasan, kenapa aku ingin mengajakmu naik gunung, sebab alam adalah universitas abadi, guru yang setia mengabdi.
- Oro - Oro Ombo, photo by: @mzp3n -
Kita akan sampai di Cemoro Kandang, hutan cemara yang akan kita daki setelah berjalan 3 km dari Ranu Kumbolo dan melewati Oro – Oro Ombo. Hutan cemara ini berada di ketinggian ± 2500 MDPL dengan suhu minimal – 6o sampai dengan – 20o Celcius.
Di hutan ini kita bisa belajar kepada pohon cemara, yang senantiasa tak mengenal musim untuk selalu kokoh dan ceria. Sayang, di negeri kita, kita cuma mengenal dua musim, musim menebar janji dan musim melupa janji, negeri obral calon walikota. Bagi kami yang mencintai alam, alam telah mengajari kami kejujuran. Alam mengajari kami bagaimana perihnya kehilangan. Tak perlu berjanji kalau pada akhirnya harus diingkari, tak perlu memeluk kalau tahu pada akhirnya kau harus melambai.
- Cemoro Kandang, photo by : @mzp3n -
Dari Cemoro Kandang ke Jambangan kita harus berjalan ± 2 km. Letak Jambangan ± 2600 MDPL. Lebih dingin dari ingin, lebih sejuk dari peluk. Di Jambangan, jantungmu akan berdegub kencang, karena puncak Mahameru semakin sedap di mata dan eidelweiss bermekaran pada setiap pandang.
- Jambangan-
100 MDPL lagi, kita akan sampai di Kalimati. Di tempat ini jantung air mata Mahameru pernah jadi sungai. Kita berkemah ditempat ini, berbagi tempat dengan eidelweis dan dingin. Selagi ada waktu, kita harus mengisi botol-botol kosong kita di Sumber Mani, sumber air yang menghidupi mata air jiwamu. Istirahatlah sekali lagi, Mahameru tinggal berjarak Arcopodo, perbatasan Kelik, Cemoro Tunggal, tekad dan besarnya keinginanmu.
Jam sebelas malam nanti, kita akan melanjutkan perjalanan. Perjalanan antara sepi dan gaduh yang harus kau lewati. Mungkin istirahatmu belum cukup, mungkin perih lukamu belum genap kau obati, tapi kita harus tetap berjalan kaki.
Istirahatlah…
- Kalimati -
***
Malam begitu dingin, langit biru muda nganga dan bintang bertaburan kerlip cahaya. Angin bertiup kencang dan dingin berhasil menusuk tulang. Sudah hampir pukul sebelas malam, kita harus bersiap dan melanjutkan perjalanan. Bawa air minum semampu kita, bawa hasratmu dengan setangkup doa.
Di Kalimati kita berjalan ke Arcopodo menembus gelap dengan lampu di kepala. Lampu yang yang cuma mampu menerawang sepenggalah jalan. Jarak Kalimati ke Arcopodo cuma 1,2 km tapi terasa begitu jauh begitu menyesakkan dada. Mungkin kepalamu akan terasa pusing, pusing yang berputar bak gasing. Bibirmu perih dan pecah-pecah, hidungmu mengalir darah. Di Arcopodo kamu mungkin tidak akan pernah menemukan arca kembar, tapi kamu bisa menemukan kembara jiwamu. Jiwamu yang putus asa atau jiwamu yang mudah menyerah. Kita boleh memutuskan untuk berhenti atau kembali di tempat ini.
Saat kita memutuskan untuk tidak berhenti melangkah, kita akan sampai di perbatasan Kelik. Mungkin tidak semua tahu kenapa diberi nama Kelik. Kelik adalah pendaki yang hilang dan jasadnya tidak pernah ditemukan di perbatasan ini. Perbatasan vegetasi hutan dan lereng berpasir yang di kanan kirinya terdapat jurang berpasir, Blank 75. Kita akan melihat pohon cemara yang tegak berdiri sendirian, kami menyebutnya Cemoro Tunggal. Inilah gapura selamat datang di Mahameru.
Setiap kali kita melihat keatas kerlap kerlip lampu para pendaki jadi jejak di udara, jalan berpasir yang kau daki tidak akan pernah bersahabat dengan kaki. Satu langkah akan jadi setengah langkah membuat perjalanan jadi berat dan terjal. Sesekali kita teguk air untuk membasahi tenggorokan, sesekali kita berhenti untuk mendinginkan perasaan.
Sudah tinggal sedikit lagi, apakah engkau menyerah kepadaku? Perjalanan kian sulit, terjal dan berbatu. Apakah engkau masih ingin melanjutkan perjalanan denganku? Aku masih ingin, begitu ingin mengajakmu berciuman di Mahameru.
- 3676 MDPL -
***
Sudah pukul 06.10 WIB, kita sampai di puncak kata. Tak perlu kita hitung berapa lama perjalanan kita, berapa jauh letih dan pilu kita eram di dada.
Di sini, Mahameru, di puncak kata aku ingin mengajakmu berciuman dengan segenap jiwa. Aku cium keningmu, kening yang bermekaran kata. Aku cium bibirmu, bibir muasal segala kata. Aku cium pipimu, pipi di mana air mata jadi sungai kembar kata-kata.
Di sini, Mahameru, di puncak kata, aku cium kamu yang ada namun telah tiada.
Bagiku Puncak Kata dan orang menyebutnya Mahameru , 3676 MDPL
Dia
Buat : Wilda Triandariani, 11 April 2013
Langit siapakah yang terhampar biru di luas matamu?
Hujan siapakah yang menggenang pilu pada perih ragumu?
Masa kanak telah menjelma jadi terbang bebas burung di udara
Jadi luruh terbang angin daun-daun pohon akasia
Dan Wilda,
Ada gunung yang belum pernah kita daki
Belum pernah renungnya kita miliki
Gunung itu di kepala kita, kepala yang banyak menyimpan sepi
Hutan-hutan mimpi yang tumbuh subur dan kerap kita tiduri
Dia yang ada di kepala kita
Jadi bunga edelweis yang tumbuh di puncak kata
Kuncup mekar abadi dan indah
Tapi kita tak mampu membawanya pulang ke rumah
Sekedar bertukar resah
atau menikmati senja di mata yang kian basah
Gerimis dan Sepi
Ndjol, 9 Oktober 2012
Hari ini bulan oktober tanggal sembilan, sepi pernah tersesat disimpang jalan. Rumah-rumah kosong tak berpintu tak bertuan.
Gerimis riang bermain kejar-kejaran, sepi kuyup dibawah ranting dahan. Sementara malam berdiang, kunang kenang beterbangan diingatan-ingatan.
Gerimis itu kamu, hening danau, musim yang tak mengenal tajamnya kemarau.
Sepi itu aku, nyalang pisau, jerit dada yang tak henti meracau.
Gerimismu menetes di aku, sepiku meracuni waktumu. Kita bertukar cium bertukar dekap, siapa tahu mekar bunga harum di sunyi sesak dada yang pengap.
Mungkin bibir kita telah menterjemahkan ciuman yang salah, menterjemahkan peluk dada yang pongah. Bahwa tak selamanya ciuman adalah janji yang harus ditepati, tak selamanya pelukan adalah doa yang harus dikhidmati.
Hari ini bulan oktober tanggal sembilan.
Sementara gerimismu jadi pelangi, sepiku berlarian menuju ke rumah, pulang ke dada tabah. Dadaku, dadamu atau dada entah.
Aku ilalang di padang-padang teruka,
terbang bebas burung-burung di langit jingga.
Aku, denyut tak bernama,
mungkin di nadimu, mungkin di jantung siapa.
Bapak bilang, lelaki harus bangun pagi sebelum matahari menabur benih cahayanya sendiri.....
Nikah Perahu
Buat : Mega Fero Puspita & Nuri Anggono
Ndjol, 12 Oktober 2012
Apa yang kami eja sebagai cinta
Telah menjadi ilalang padang, belalang dan bunga-bunga
Apa yang kami sebut rindu
Telah jadi rindang pohon, anak-anak kijang dan kepak kupu
Cinta dan rindu telah berumah di taman dada kami
Ia telah jadi api, tempat berdiang jantung dan denyut nadi
Dibatas baru perjalanan ini, kami akan tabah
Sebab nyawa kami jadi satu desir alir darah
Kami akan bicara jika kata telah siap jadi kalimat
Kami akan hening jika riuh gaduh telah jadi tabiat debat
Perahu kami akan berlayar
Segala debar siap dikibar
Apa yang kami sebut doa adalah nafas
Dan mimpi adalah camar-camar yang lepas
Kami akan melempar sauh, kemanapun kami berlabuh
Kami akan saling menopang, jika seorang dari kami jatuh
Kami akan berperahu
Kami akan pergi dan pulang dari pintu yang satu
Sebab kami adalah cinta
Segala umpama yang telah nyata
PINTU
Buat : Wilda Triandariani
Ndjol, 11 Oktober 2012
Aku tak peduli, pintumu terbuat dari besi, bambu atau kayu. Sebab pintu tak pernah tahu kemana jalan yang pada akhirnya kau tempuh.
Engkau boleh sabar berdiri, mengetuk pintu dengan tanganmu sendiri. Jika kelak ada yang berderit, mungkin kau juga akan menjerit sakit.
Engkau boleh beranjak pergi, menerawang jalan dengan kakimu sendiri. Jika kelak apa yang kau ketuk adalah bisu semata, ada yang berumah diliang luka.
Pintumu, Wilda, adalah mula segala pergi dan akhir segala pulang. Kita tak pernah pandai menerka bahagia, tak pula jitu menebak ragu.
Seandainya pernah salah kau buka pintumu dan airmatamu tak tahu arah, kau boleh datang ke pintuku tanpa harus kau ketuk, dan kau boleh pergi tanpa harus kau tutup.
Layang-Layang
Ndjol, 10 Oktober 2012
Aku bambu, telah usang ditebang. Setibanya kamu, aku kau sayang, aku kau raut, aku kau timbang dan kau ikat dengan benang.
Kau meretas kertas, meramu warna jadi pantas. Mungkin apa yang kau ingin tak kau temu padaku, apa yang kau cari tak pernah kumiliki.
Ada yang menderu selain angin, ada yang gagap selain gigil dingin. Kau berlari sementara aku melayang, kau tersenyum girang sementara aku bimbang.
Aku terbang sayang, limbung diawang-awang selagi kita tak pernah jadi sepasang.
Aku berdoa buat kamu, kamu yang belum juga kutemu. Agar suatu waktu apa yang kau sebut denyut ada pada jantungku.
Ndjol, 25 September 2012
Aku dan Ayah
(Ndjol, 14 April 2012)
Di perjalanan pulang setelah menguburkan tetangga,
Aku dan ayah berjalan bersama
Ia bercerita tentang masa muda
Masa yang penuh citacita dan cinta
Dulu ayah pernah ingin jadi polisi
Atau pegawai kantor yang berdasi
Atau pekerja berseragam rapi
Ah, ayah memilih kuli karena katanya ia takut korupsi
Pernah ia terjatuh dan mobil tua menimpa tubuhnya
Ia tak sekuat Superman maka patahlah tulang rusuknya
Waktu itu, katanya, ia ingin cepat mati dan pergi ke sorga
Karena katanya lagi, di sorga tak ada luka atau air mata
Tapi ayah mengingat kami anak-anaknya
Ia tak ingin kami sendirian menanggung airmata
Ayah tak jadi mati
Di dadanya api
Mata ayah tiba-tiba kolam
Ia teringat perempuan yang dicintainya ditelan malam
Ia bukan ibu, ibu yang melahirkan aku
Tapi perempuan yang pernah ia cintai dulu
Aku ajak ayah menepi, ke kedai paling sepi
Aku lihat ikan-ikan berenangan di matanya
Aku tawari ia sebotol bir atau kopi
Tapi ayah memilih bir dan senyum kami senada
Dikucupnya bir digetarkannyalah bibir:
“Anakku, cinta bermula setelah sepasang mata saling bertikaman, kemudian mereka meniti jalan perih dari pelukan ke pelukan. Mereka bertaruh, siapa yang paling tangguh menampung hujan di mata, lalu berperahu dari kisah ke kisah, dan berlomba menuliskan sejarah di tempat-tempat di mana mereka pernah singgah”.
Mataku kolam
Ayah mengajakku pulang
Aku dan Ibu
(Ndjol, 18 April 2012)
Sepagi tadi, sebelum ayam berkokok memanggil matahari, ibu sudah menampi beras dan biji padi. Hari masih gelap, segala buta, riuh gemersiknya membuat aku terjaga.
Kata ibu lelaki harus bangun sebelum remang pagi, agar rejeki tak lari dicuri. Lelaki harus rajin memungut benih mentari, kemudian menabur dan merawatnya setiap hari.
Tiba-tiba ibu merintih perih diperutnya, perut dimana aku pernah berumah. Aku gendong ibu rebah diatas bilah bambu yang dibelah ayah. Tubuhnya melingkar sumur, mungkin merihnya sekujur.
Tubuh ibu menggigil, tangan dan kakinya dingin. Dipanggilnya aku, ia ingin sejenak melupa nyeri dengan mendekap erat tubuhku. Dibisikkannya padaku rindu, rindu kakak perempuanku yang meninggal lima belas tahun lalu.
Serentak mata kami beriak, denyut detak di dada kami bertalu-talu. Sementara ada yang menggugu di pelupuk mata ibu, ada pula rinai yang bekejaran diwajahku. Tatapan kami saling membaca, ada yang tenggelam dan ada yang terapung di kolam mata.
Kita takluk di jantung waktu dan sabar adalah sepasang topeng yang menyamar, rindu menyerbu ingatan-ingatan yang kian samar.
Rindu teruntuk orang-orang yang pernah kita temui, pernah kita jabati, teruntuk orang-orang yang di bibirnya bibir kita pernah menyalakan unggun api.