Kau tau, begitu menyenangkan menjadi orang yang bisa selalu menunjukkan senyum, yang selalu bisa memberikan senyuman untuk orang lain dan memberikan kebahagiaan untuk orang-orang disekitarnya. Memang, terkadang, kebahagiaan datang bukan karena engkau mendapatkan apa yang kau inginkan. Saat kau bisa melihat orang disekitarmu bahagia, itu adalah sebuah kebahagiaan besar untuknya. Mungkin, tanpa kau sadari, begitu banyak kebahagiaan yang ia ciptakan dan ia tebarkan di setiap sudut tempat yang ia pijaki. Ia tak pernah datang dengan kegundahan dan tak pernah pergi tanpa meninggalkan gelak tawa. Walau kadang ia tak sengaja meninggalkan benci.
Tapi apa kau tau, melihat senyum dan tawa mereka seakan dapat menghilangkan bebannya, walau sesungguhnya ia sadar bahwa tidak begitu. Ia selalu menunjukan senyum dan tawanya padamu, pada kalian. Setiap senyum dan tawa yang mereka hasilkan ternyata hanya mengantarkannya pada perasaan bahagia sesaat dan menorehkan senyum sekejap pada wajahnya. Seseorang yang selalu berusaha tersenyum dan membagi senyumannya kepadamu, begitu abu-abu, cendrung gelap. Tidak, bukan abu-abu itu yang ku maksud. Bukan abu-abu yang kebanyakan remaja alami, labil. Bukan, bukan itu. Dia yang kau lihat sekuat baja, sesemangat pemeran sirkus di pagelaran-pagelaran professional dan setenang permukaan air kopi yang kau seduh tiap pagi, sedang terluka hebat. Namun, dapatkah kau melihat luka itu? Luka yang terpancar di setiap tatapan matanya? Ya, memang. Sudah ku duga, kau tak akan menyadarinya. Ia bahkan terlalu cerdas membungkus luka-luka itu. Ia tak ingin membuat awan gelap yang sedang menyelimutinya, menyelimuti orang-orang disekitarnya juga.
Apa kau tau, bahwa terlihat begitu banyak orang disekitarnya yang mengelilingi dirinya? Ya, jelas. Dia tampak seperti mahkluk tak-ada-waktu-tanpa-mereka. Saat kau melihatnya, yakinlah bahwa kau akan tampak melihat sayap-sayap pelindungnya. Sayap-sayap yang begitu dekat dengannya dan hampir setiap langkah kakinya diikuti langkah kaki mereka. Ia tampak tak pernah sendiri. Sayang, tampak yang sering kau lihat hanya fatamorgana. Tipuan mata yang ia ciptakan untuk menutupi lukanya. Sesunguhnya ia tak pernah merasa benar-benar memiliki sayap itu. Sayap-sayap yang kau lihat ternyata begitu semu, akan hilang seiring berjalannya waktu dan kepentingan masing-masing. Sayap-sayap itu bahkan tak berani bertanya kepadanya perihal apa yang sedang terjadi padanya. Jangankan bertanya, berspekulasi pun mereka tak kuasa. Mungkin mereka ingin memberikan ruang untuk dirinya. Ya, mungkin. Hanya itu sugesti yang bisa ia pertahankan.
Ia memang memiliki sayap-sayap lain yang begitu kokoh. Sepasang sayap yang siap membantunya terbang, melesat lebih tinggi. Sepasang sayap yang selalu ada untuknya, selalu memandanginya dalam diam dan membimbingnya dalam siratan. Mungkin kau tak akan pernah melihat sepasang sayap itu saat kau melihat dirinya, tak seperti sayap-sayap semunya. Sepasang sayap kokoh ini hanya bisa menjaganya dalam diam karena jarak yang sengaja dibuatnya. Tapi ia tau, sayap itu akan selalu di sisinya. Tapi tanpa ia duga, sekarang, sepasang sayap kokoh itu sedang rapuh. Jauh lebih rapuh darinya. Bahkan satu sayap kokohnya sedang terkurung dalam kerangkeng besi tak bercelah. Entah sehancur apa sepasang sayap kokoh itu, ia tak bisa melihat itu. Ia tak diizinkan melihat itu. Ia hanya diperintahkan untuk tetap kokoh bahkan melesat lebih tinggi dan diyakinkan bahwa sepasang sayap itu akan tetap kokoh. Percaya? Kau pikir ia akan percaya? Tidak. Ia memang mahkluk yang mempercayai instingnya, yang sebenarnya belum tentu tepat. Terdengar egois memang, tapi itu lah dia.
Satu hal yang harus kau tau, ia benci menunjukan kelemahannya pada orang lain. Air mata, simbol yang menurutnya kelemahan. Entah pendapat bodoh macam apa yang percokol di kepalanya. Bagi sebagian orang, air mata adalah tanda peluapan emosi untuk merenggangkan dada yang sesak. Mungkin memang benar, namun tetap saja. Ia benci menunjukan itu pada orang lain. Bahkan kepada sayap-sayap semunya. Saat kau melihat simbol kelemahannya itu, yakinlah bahwa kau beruntung. Kesempatan itu tak kan ia bagi ke sembarang orang. Namun, apa kau sadar, saat ini, ia sedang lelah. Lelah membawa senyum yang selalu ia tampakkan di wajahnya namun sedang tak bersamanya. Lelah memikul kebahagiaan yang selalu ia bagi namun sedang tak dirasanya. Atau ia hanya lelah tersenyum dalam tangisnya. Percayalah padaku,
Jika kau menemui orang sepertinya, ia telah menulis dalam diam dan tanpa senyuman apalagi kebahagiaan. Bahkan tanpa semangat. Hanya keheningan malam dan bulir bening dipipinya, simbol kelemahannya, yang sedang bersamanya. Tanpa sanggahan, tanpa elakan. Sekedar kepasrahan.