Balada Sebuah Gombal
diambil dari sini nih -> www.electrigirl.tumblr.com
------------------------------------------------------------- Kejadian ini saya lupa kapan terjadinya, yang jelas ini pas masih awal-awal jadi maba. Dan yang jelas ini terjadi di hari Senin, soalnya waktu itu kita selesai kuis teknik digital. Waktu itu saya merasa cukup mudah dalam mengerjakan kuis teknik digital untuk kedua kalinya. Padahal di awal-awal dulu saya ngerasa pengen nangis deh kalau ketemu soal teknik digital hahahaha. Alhamdulillahnya kuis yang kedua itu saya ngerasa bisa. Baiklah, saya waktu itu mendapatkan posisi duduk di depan sendiri, di kanan saya ada Nifty yang selalu setia dan di kiri saya ada seseorang bernama Rico (nama samaran banget, haha, di JTETI ga ada yang namanya Rico). Selesai ngerjain kuis tekdig, saya menyerahkan pekerjaan saya ke Nifty untuk nitip dikumpul ke depan. Hahaha, saya males jalan ke depan. Begitu juga Rico, dia juga nitip ke temennya untuk dikumpul ke depan. Di mata saya, Rico adalah seseorang yang sangat gokil sekali :D Dia terkenal dengan suara ketawa yang aneh dan candaan yang gokil gilak deh pokoknya! Sudah bukan rahasia lagi bahwa saya adalah tukang gombal hahaha. Asik banget nih nemu orang yang lagi nganggur dan sepertinya asik sekali kalau beliau saya gombalin dengan suatu gombalan baru saya. Saya harap dengan gombal itu bisa semakin mengakrabkan diri (*waktu itu masih jamannya FDK kan ya, jadi masih semangat-semangtanya untuk kenalan dan mengakrabkan diri dengan yang lain). Baiklah, tarik nafas, gunakan hati, dan jangan grogi. “Woy, Ric, elo udah ngerjain tugas belom sih?” tanya saya dengan muka tegas dan serius. “Hah? Tugas apaan? Emang ini ada tugas ya?” tanya dia dengan muka sangat bingung. Bisa bayangin kan orang yang sehari-harinya suka ketawa gokil tiba-tiba bingung banget dengan sebuah pertanyaan saya. Mungkin juga ditambah dengan panik karena nggak yakin kalau ada tugas. *hening selama beberapa detik untuk mendramatisir* “Tugas …. membalas cintaku” Dalam pikiran saya, saya yakin banget kalau dia bakal ketawa ngakak dan menganggap bahwa ini adalah hal yang sangat seru. Dan awalnya saya yakin banget kalau dia bakal bersyukur mendapat suatu referensi sebuah kalimat gombal untuk bisa mengakrabkan diri dengan temen-temen FKG, ternyata eh ternyata …. Dugaan saya meleset sepenuhnya. Saya bingung, kenapa dia cuma diam, tersenyum tipis keliatan giginya dan menatap saya dengan lemas, seperti tatapan tidak percaya. Dia sangat speechless sekali saudara-saudara. Oh tidak. Saya takut mengira dia bakal berpikiran macam-macam. Saya juga takut kalau dia berpikiran saya hendak menggoda dia. Baiklah, dalam keheningan itu saya hanya bisa tertawa aneh dan agak sedikit memaksakan hati berharap agar dia juga ikutan tertawa. Ternyata, dia menatap saya dengan lemas dan tidak percaya. Bahkan saya bisa mendengar suara naik-turun nafasnya yang agak tidak karuan. Beberapa menit pelajaran tekdig berjalan, saya semakin khawatir karena suara naik-turun nafasnya semakin menjadi-jadi. “Hahaha, santai aja lah bro. Gue kan cuma gombal ha-ha-ha-ha” saya mencoba menghibur dia. “Ah elu ah, sialan lu!” dia masih dengan nafas naik-turunnya. Dlaam hati sebenernya saya panik luar biasa. Kenapa hampir setengah jam berlangsung dia belum biasa tenang juga. “Kenape sih bro, santai dooong!” “Ah elu, nih liat nih gue keringetan begini” Dan, benar sekali dia berkeringat, padahal kita duduk di bawah AC yang sedang segar-segarnya berhembus. Dia kembali menenangkan diri dengan minum air dari botol yang dia bawa. “Nih tangan gue nih, keringetan. Sialan ah lo” “…..” Oh tidak. Sepertinya saya harus menyingkir dari sebelah dia. Kemudian saya melihat-lihat ke belakang untuk mencari tempat duduk kosong. “Iya iya sori bro. Oke-oke, gue ga akan deket2 elo lagi -___-“ Lalu beberapa saat kemudian dia berkata, “gue ke kamar mandi dulu”. Kemudian dia minta izin dengan dosen Tekdig, lalu ke kamar mandi. Momen itu saya gunakan untuk pindah tempat duduk di belakang. Saat saya berpindah ke belakang, semua mata tertuju pada saya. Hahaha, saya dikira mu males-malesan coba. Di belakang saya milih tempat duduk selisih 1 kursi kosong dengan Bambang. Sepertinya waktu itu saya melihat Bambang agak kebingungan dengan sikap saya mengapa saya pindah ke belakang. Karena dia penasaran dengan muka saya yang panik, dia bertanya ke saya. “Kenapa kok pindah?” Saya pikir Bambang adalah orang yang asik sekali, jadi mengalirlah cerita dari saya yang menggombali Rico. Saya pikir dia bakal bereaksi normal, ternyata -____-, dia hanya menanggapinya dengan datar-datar saja. Ah dasar Bambang, dari awal ketemu juga udah berasa pengen matahin badanmu jadi lima bagian hahahah. “Kamu kalau digombalin gitu biasa aja kan? ya kan? Apanya sih yang salah? Kenapa dia bisa sampai kayak gitu..” “Ehmmm, gimana ya, aku sih biasa aja. Soalnya biasanya aku digombalinnya lebih mantep,” kata Bambang dengan sombong dan menyebalkan sekali (*PEACE, Bangs :P) Baiklah, kali itu saya menenangkan diri dengan mencoba mengulang pelajaran matematika teknik yang tadi diajarkan oleh Pak Mulyana. Asik sekali. Di situlah passion saya. Jam pelajaran teknik digital hampir selesai. Rico sudah dari tadi kembali dari kamar mandi. Oh tidak, dia sepertinya dia bercerita tentang apa yang tadi terjadi kepada Nifty. Sepertinya Nifty menapap dengan tidak tega lalu kemudian menatap ke arah saya dengan tatapan aneh. Setelah itu saya melihat Rahma berbisik dari jauh kepada saya: “kamu tau? Rico punya penyakit darah rendah!” kata Rahma dengan tatapan seperti berkata: “sukurin deh lo!” Kuliah sore itu akhirnya berakhir juga. Saya masih ga percaya dengan kegagalan saya dalam membuat gokil suasanya. Saat keluar kelas, Rico melihat saya dan dengan muka ketawa-ketawa ga kelas dia berkata kepada saya “KAMU GILA”. Oh Ya Allah. Saya kapok menggombal. Saya nggak mengira bahwa hiburan kali itu gagal total. Baiklah, saya tidak akan menggombali lagi cowok manapun. Malamnya saya sms Nifty bahwa besok ga akan duduk di depan lagi mengingat Rico akhir-akhir ini sering memilih tempat di depan. Entah kenapa saya baru sadar kalau NIfty adalah orang yang sangat bijaksana di malam itu. Dia menyarankan kepada saya untuk tetap santai dan jangan laridari masalah. bahkan malam itu juga Nifty menawarkan diri untuk berbicara langsung kepada Rico untuk sekedar klarifikasi bahwa “itu cuma gombal broooo!”.
Semalaman saya kepikiran tentang kabar Rico. Saya berharap dia baik-baik saja. Paginya, hari Selasa, kelas A masuk jam 10. Pelajran dimulai saya belum melihat Rico. Jedueeeeeeeer. Gimana dooongs. Lalu Nifty mencoba sms Rico, dan haislnya nihil, Rico ga bales. Baiklah, saya tetap postif thinking bahwa Rico adalah seorang pemalas yang bangunnya kesiangan. **** Ternyata eh ternyata, setelah hampir satu jam was-was dan cemas akhirnya Rico datang juga bersama teman-teman yang ternyata mereka baru selesai praktikum. Aseeeeek! Setelah pelajaran Fisika Elektro berakhir saya mendapat kabar bahwa Rico adalah salah seorang cowok yang memang agak kurang dekat dengan cewek-cewek. Malamnya ternyata NIfty sms Rico untuk sekedar klarifikasi. Akhirnya semuanya jelas sudah. Rico sudah santai, saya juga sudah santai walaupun tidak menghilangkan trauma saya. Sekian cerita saya. Saya senang kalau teman-teman saya merasa terhibur. Semoga tidak terulang kembali :-) “Jangan lupa mengerjakan tugas untuk membalas cinta saya!” :D~














