Fase-fase kehidupan semakin terlihat.
Kawan-kawan yang semakin gencar memperlihatkan fase demi fase pencapaian baik di media sosial maupun gosip dalam setiap pertemuan. Tanpa sadar aku kian lama tenggelam, story di WA hanya dikhususkan 5-15 pemirsa (kawan yang sudah terlanjur sedikit tahu kisahku) saja.
Aku memang enggan menjelaskan rinci bagaimana hidupku. Toh memang aku menganggap hidup biasa saja, nothing special. Aku memang tak suka orang lain tahu kehidupan ku, sebagaimana aku tak paham hidupku sendiri.
Aku selalu mengganti topeng dimana tempat ku berpijak. Dan semua orang aku yakin mereka tak pernah tau mana asliku, karena keseringanku menunjukkan hal sebaliknya. Itu terjadi begitu saja, namun penuh kesadaran.
Cengengesan, kaku, tegas, galak, eca-eco, humor, pandangan liar, tawa, canda, egois, humanis, kadang terlihat agamis tapi kadang seperti atheis.
Entah bagaimana mereka bisa melayangkan pandangan yang begitu rancu berlawanan pada satu sosok. Mungkinkah salahku? Ya bisa jadi, tapi memang sengaja dibuat seimbang biar tak semata-mata berdiri dalam satu lini.
Biarkan aku terlihat tak pernah berproses, tak pernah tahu apa-apa, bebal, cengengesan, dan terlihat tak punya impian pun masa depan.
Biar saja mereka tahu, hidupku tak lebih dari sebuah kebetulan, aji mumpung tanpa tangga pijakan.
Hidup terlalu rancu dan ambigu, terlalu sederhana untuk diperrumit, terlalu sepele untuk dibesar-besarkan, terlalu biasa untuk dianggap istimewa, dan terlalu berat untuk dibilang santai.
Biarkan aku menikmati proses yang tak pernah engkau pahami, menyaksikan sendiri tetes darah mengering tanpa sedikitpun kau obati, dan mendengar kata-kata tak berperi, seolah semua pencapaian hanya lah aji keberuntungan tanpa proses berarti.


















