nampaknya bukan hanya Jogja yang terbuat dari rindu dan pulang, Borneo juga demikian. rindu, rindu, rindu 💔 (at Sungairaya, Kalimantan Selatan, Indonesia)
No title available
One Nice Bug Per Day
cherry valley forever
I'd rather be in outer space 🛸

titsay

Kiana Khansmith

❣ Chile in a Photography ❣
The Bright Sessions

shark vs the universe
d e v o n
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Love Begins
art blog(derogatory)
official daine visual archive
h
RMH
🪼
Interview Vampire Daily
Lint Roller? I Barely Know Her
todays bird

seen from Indonesia
seen from Colombia
seen from Ecuador
seen from United States
seen from Ecuador
seen from United States
seen from Venezuela

seen from Lithuania

seen from Malaysia
seen from Argentina

seen from Türkiye
seen from Vietnam
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Australia
seen from United States
@nindysenissiaasri
nampaknya bukan hanya Jogja yang terbuat dari rindu dan pulang, Borneo juga demikian. rindu, rindu, rindu 💔 (at Sungairaya, Kalimantan Selatan, Indonesia)
#KKNLyfe (di Sungairaya, Kalimantan Selatan, Indonesia)
Aspire to inspire before we expire. (di Sungairaya, Kalimantan Selatan, Indonesia)
Jatuh cinta
Manusia selalu berteman dengan kasih dan cinta. Jatuh cinta bukan hal yang asing bagi manusia. Hari demi hari cinta dan kasih selalu hinggap di hati siapa saja yang masih mengharapkannya. Indah memang. Bagai kuncup bunga yang perlahan mekar, begitu perasaan hati seorang insan ketika terjatuh dalam indahnya cinta. Semua hal tentangnya begitu indah, begitu manis. Terkadang tanpa alasan merindu senyum dan suaranya. Sudah berapa kali perasaan seperti itu hinggap di hati anda? Saya, berkali-kali, namun rasanya selalu berbeda dan selalu indah. #random #failed #omongapasih #mager #padahalkerjaanbanyak
Tentang Do'a dan Berteman Kehilangan
Siapa sangka, justru ternyata dia.
Kamu dilahirkan dengan kebahagiaan ayah dan ibu. Dulu, kamu juga bahagia.
Ingat? Kamu bahagia sebelum mengenal dia. Lalu kau menemukan dia dan jatuh cinta. Merasa bahwa kau dan dia saling mencintai. Padahal itu bisa saja cuma merasa.
Waktu dia menghilang, kok kamu jadi lupa caranya bahagia?
Ingatlah, bahwa dia hadir bukan karena kuasamu artinya dia bukan milikmu. Dia cuma hadir. Kalau hadirnya memberimu cinta ya itu berkah. Jika tidak, artinya kamu sedang diajarkan semesta untuk bertumbuh.
#katateman
Aih, benar. Dia hanya hadir sebentar, tanpa singgah.
Bagaimana? Sudah puas untuk tetap seperti itu? Bila belum juga silakan lanjutkan saja. Aku menyerah. Menyerah untuk berada di sekitar. Dan menyerah untuk menjadi tahu bahkan mencoba mengerti
Hujan Mimpi (via hujanmimpi)
Tragis
DI suatu desa, hiduplah seorang penulis. Setiap hari, pekerjaannya menyulam diksi untuk dijadikan sajak-sajak yang indah, juga menyirami halaman yang penuh luka agar tumbuh subur dan berbuah puisi.
Setiap minggu, penulis pergi ke kota untuk menjual hasil sulaman sajaknya dan juga puisi-puisi yang masih segar. Semua sajak dan puisi, selalu habis dijualnya. Orang-orang kota selalu menyukai dagangan sang penulis. Suatu hari, datanglah seorang pembaca. Katanya, dia ingin sekali mempersunting sang penulis. Katanya, sudah lama pembaca ini mengaguminya. Setiap datang ke kota, tidak jarang pembaca membeli sajak dan puisi si penulis.
Penulis tak pernah sebahagia itu. Bahkan tak pernah tau, bagaimana rasanya dikagumi. Penulis pun mengangguk rela. Ikutlah penulis bersama pembaca.
Sejak saat itu, Penulis tak pernah terlihat lagi, Tidak di kota, tidak juga di rumahnya. Sajak-sajak berserakan di lantai rumahnya, semua luka pun mati dan tak ada satupun puisi yang tumbuh di halaman. Orang-orang kota merasa kehilangan. Tak ada lagi sajak yang indah atau puisi yang segar yang biasa dinikmati. 1tahun kemudian, Penulis ditemukan mati di tangan pembaca. Tepatnya di halaman terakhir. Sembari menopang sang penulis, Pembaca berbisik lirih di telinganya, “Kau harus mati sayang, kalau tidak, bagaimana puisi-puisimu bisa hidup untuk menghidupiku?”
Speechless.
Bapak Sapardi, Bukan saya tidak menyukai lagi puisi, tapi kali ini saya merasa ada yang lebih tabah dari Hujan Bulan Juni.
Yaitu kami, yang sudah berjibaku dengan hujan di pagi hari.
Adalah murid sekolah yang melawan kantuk dan dingin demi mandi, bergegas ke sekolah, untuk ilmu dan absensi.
Ibu ibu yang berlomba bangun dengan matahari, agar si murid sekolah bisa sarapan pagi.
Tukang becak yang tetap mengayuh pedahl meski dingin menyerikan sendi.
Polisi yang berdiri di bawah rinai, demi kami para penembus hujan pagi pagi.
Bukankah kami ini tabah pak Sapardi, melebihi hujan bulan Juni?
#30haribercerita #30hbc1703 @30haribercerita
Betapapun rasa sakit itu datang menghujanimu, jangan hiraukan. Kau pasti bisa, meredamnya.
Tertulis begitu saja di hadapanku
Benar benar selesai
Kini tak ada lagi namamu di pikiranku ketika aku membaca puisi. Kini tak ada lagi wajahmu ketika aku berjalan di sepanjang jalanan Jogja. Dan kini tak ada lagi harapan muluk tentang kamu ketika berangan masa depan. Aku benar-benar telah selesai :)
Yesterday's me time! Relaxing and thinking about the difference between giving up and letting go. Giving up is imprisoning. Letting go is freeing. Giving up is self-defeat. Letting go is self-care. Giving up reduces my life. Letting go expands it. Just letting go. And today, I know I deserve to be happy.
Berusaha Menjadi
Mungkin aku tak terlihat mengejarmu seperti mereka yang sudah-sudah Tapi tidakkah kau lihat betapa aku selalu berada di sampingmu tanpa pernah sedikitpun menuntut?
Mungkin aku tak seperti mereka yang berusaha terlihat sama Tapi tidakkah nampak bahwa aku seringkali mengerti tanpa harus diucap sebab dari tatap aku sudah lebih dari sekedar tahu?
Mungkin aku tak sama seperti mereka yang terus memberi kabar Tapi tidakkah kau mengerti bahwa rasa percayaku terlalu tinggi hingga memberimu ruang untuk tak perlu senantiasa mengabari sebab curiga tak selalu menguntit?
Mungkin aku tak terlihat bisa membuktikan apa-apa padamu Tapi seperti yang sudah-sudah sering kamu ucapkan, mungkin hadirku yang belum sedibutuhkan itu dan belum sebegitu nampak bagimu
Tak apa, berusaha menjadi yang selalu ada agar tahu bahwa dirimu baik-baik saja, itu sudah lebih dari sekedar cukup
Hujan Mimpi
Lagi-lagi
Mati-matian inginkan lupa Sepenuh hati mau untuk kembali terluka
Setengah mati menolak dekat Berbesar hati menaruh telinga
Kemudian terdiam,
Batas mana lagi yang setelahnya harus dipertanyakan?
Atau mungkin seharusnya tak perlu bertanya, sebab tanya kerap kembali dibiarkan dengan jawaban yang sudah ada namun cenderung diabaikan
Lagi-lagi logika jadi sasaran bila hati kerap mengiyakan Lagi-lagi penyesalan menuntut untuk didengarkan sedari awal
Dan lagi-lagi aku harus cukup tahu pada bagian sebelah mana seharusnya berada
Hujan Mimpi
Setidaknya, terima kasih
Nampaknya sudah tiba saatnya. Untuk aku menghilang, untuk aku tak lagi semudah itu ditemukan. Bukan berarti aku tak lagi ada di sekitar. Ada, masih ada. Bahkan sesekali akan muncul di muka–entah tak disengaja atau bahkan memang sengaja. Tapi rentang waktunya yang sudah tak lagi bisa menjadi seperti yang sudah-sudah.
Mungkin Tuhan sedang memberikan ruang, untuk membebaskan rasa yang entah milik siapa. Mungkin Tuhan sedang memberikan jeda untuk esok kembali bersua dengan cerita yang kembali penuh terisi. Mungkin Tuhan memang sudah memilihkan jalan untuk kembali kita tapaki seperti sebelum-sebelumnya. Setidaknya hadir masing-masing kita sudah membawa segalanya kembali seperti sedia kala. Itu sudah lebih dari cukup, kan?
Hadirnya aku mungkin untuk membantu membenahi serpihan agar bisa disusun ulang olehmu. Setidaknya, terima kasih. Terima kasih, sudah sempat membiarkan rotasi kita bersinggungan. Adanya aku mungkin untuk menggenapi tapi bukan melengkapi. Setidaknya, terima kasih. Terima kasih untuk terima kasih itu sendiri.
Hujan Mimpi
Adanya aku mungkin untuk menggenapi tapi bukan melengkapi. Ya.
Menyikapi Kehilangan, Kepergian, Apapun Itu
“Hatimu dingin…”
Setidaknya itu frasa pendek yang digaungkan oleh alam bawah sadarku saat ini, tetapi logikaku menolaknya. Tidak, tidak ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku tidak dingin, hatiku tidak mati. Ini hanya sejenis pertahanan agar ketika benar-benar kehilangan orang-orang yang kucinta, aku tetap bisa menjejak dengan stabil, tidak limbung.
“Tetapi nanti kamu menyesal, tidak punya cukup waktu berharga dengan mereka…”
Keadaan itu memang yang sedang aku ciptakan. Aku pergi sejauh-jauhnya, tidak pernah mencipta keadaan “terbiasa” dengan orang-orang yang kucinta. Karena aku tahu, manusia tidak pernah siap ketika harus kehilangan, lebih tepatnya ketika pinjamannya diambil kembali oleh Sang Pemilik. Hari ketika kepergian itu tiba, aku datang paling akhir dan pulang paling awal. Bukan karena tidak merasakan kehilangan mendalam, justru karena aku yang paling merasakan maka aku tidak ingin membaginya. Aku punya jalan untuk menyikapi kehilangan sendirian.
“Kau terlihat tidak peduli, tidak sedih, tidak turut kehilangan…”
Masa bodoh dengan pandangan orang lain, ketahuilah ketika kalian mulai berpura-pura ikhlas dengan kepergian itu, ketika kalian mulai menjalani rutinitas seperti biasa tanpa mengacuhkan lubang besar menganga di dada kalian, ketika kalian merasa bisa mendoakan dari mana saja. Maka aku pastikan aku yang akan selalu membawakan bunga segar setiap Sabtu sore ke tempat peristirahatannya sekarang, aku yang akan membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar rumahnya, aku yang akan selalu ingin mendoakannya dari dekat, bukan sekadar dari mana saja.
Aku punya cara sendiri untuk setiap kehilangan yang menimpa, aku punya tameng tersendiri dari pukulan kepergian yang kadang membuat orang lain limbung. Hidup harus terus berjalan bukan?