https://soundcloud.com/noerman-rizky-alfarozi/kekancan-djombloensemble-music-ilustration-for-dance
Mike Driver
Keni
Three Goblin Art
NASA
noise dept.
hello vonnie
Jules of Nature

@theartofmadeline
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Kaledo Art
Sade Olutola

❣ Chile in a Photography ❣

PR's Tumblrdome
YOU ARE THE REASON
𓃗
Lint Roller? I Barely Know Her

izzy's playlists!
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
cherry valley forever
Today's Document

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Ireland

seen from United States

seen from Germany

seen from China
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@noermanrizky
https://soundcloud.com/noerman-rizky-alfarozi/kekancan-djombloensemble-music-ilustration-for-dance
https://soundcloud.com/noerman-rizky-alfarozi/keong-stories-at-fenomena-dua-teater-keong
Coba anda cek :) #gamelan #composition #DJombloEnsemble #digitalmusic
Coba anda cek .. #DJombloEnsemble #gamelan #composition #music
https://soundcloud.com/noerman-rizky-alfarozi/meaning-for-soul-device-dance
https://soundcloud.com/noerman-rizky-alfarozi/noerman-rizky-alfarozi-happy-birthday
“Bapak, selamat jalan ...”
......
Sedikit cerita dari 11 tahun perkenalan saya dengan sosok tukang kayu yang menjadi maestro gamelan dan influence bermusik saya.
Pak bu, begitulah saya dan teman-teman memanggilnya. Awalnya pasti sangat aneh mendengar kata “pak” dan “bu” diucapkan bersamaan tanpa ada kata penyambung atau yang lainnya. Tentu saja itu menjadi bahan candaan saya dan teman-teman sekelas dulu, kelas 1D SMPN 4 malang, kelas yang memang sengaja diprogram untuk banyak menerima pelajaran kesenian seperti tari dan gamelan. Pak buari yang akhirnya akrab disapa pak bu, adalah mentor bermain gamelan kami.
Rasanya seperti baru saja saya mengenal bapak. Ternyata itu adalah kisah 11 tahun yang lalu, sudah lama sekali. Saya ingat betul bagaimana Pak bu sangat telaten mengajar kami yang bandel dan suka ramai sendiri. Telaten menghadapi saya yang suka ngambek jika tidak main saron. Telaten menghadapi kebutuhan musik pertunjukan yang harus segera selesai. Bapak adalah sosok yang telaten dan ulet. Bapak seringkali marah ketika saya dan teman-teman tidak bisa mengikuti patternnya dengan baik. Tapi bapak tidak marah pada kami, kemarahan itu bapak lampiaskan pada kendang. Selalu setelah itu kami terdiam dan ketakutan. Setelah kami diam dan bapak melihat kami, bapak selalu bilang, “Main iku kudu nggawe roso, ojok mek aslal nuthuk ae. mbaleni!” (Main itu harus pakai perasaan, jangan hanya asal memukul saja, ulang!)
Seperti baru saja terjadi, ketika bapak menantang saya dan teman-teman untuk bisa menguasai teknik-teknik seperti krucilan, timpalan, pinjalan agar kami bisa lebih maju. Saya selalu tertantang untuk bisa menguasai itu. Bapak, selalu memotivasi kami dengan mengejek jika kami tidak kunjung bisa. Sampai kami bisa, sampai kami kemana-kemana bersama beliau.
Rasanya seperti baru kemarin pak kita nongkrong di taman krida, sembari menunggu giliran kita bermain. Ternyata itu sudah lama sekali. Bapak itu orang yang suka nyangkruk (nongkrong). Kata beliau, dari situ dia bisa berkenalan dengan banyak orang, juga belajar dari banyak orang. Bapak tidak pernah malu harus belajar lagi. “Lek aku yo man, msial e dikongkon sinau maneh nang arek enom, yo kudu sinau aku. Koyok saiki ngene aku lagi sinau nang awakmu, sinau nggawe musik sing kreatif, saya tidak malu buat mengatakannya” (Kalau saya ya man, semisal saya disuruh belajar lagi ke anak yang lebih muda, ya saya akan belajar. Seperti sekarang, saya sedang belajar pada kamu, belajar membuat musik yang kreatif, saya tidak malu buat mengatakannya). Selalu itu yang bapak katakan pada saya, jangan pernah malu untuk belajar lagi. Dari keinginan untuk belajar terus, bapak bisa menguasai berbagai macam keahlian salah satunya bermain gamelan.
Bapak memang keras dalam ucapan, tapi lembut di hati. Berulang-ulang bapak mengeluh karena selalu merasa tidak diperhatikan saat sedang membuat karya. Sering sekali bapak merasa tertekan untuk menyelesaikan permintaan-permintaan musik yang mendadak, atau permintaan musik yang tidak mengenakkan. Toh bapak hanya mengeluh pada murid-muridnya. Saat beberapa bulan yang lalu bapak membutuhkan bantuan saya untuk menyelesaikan karya musiknya, saya sering kali tidak bisa datang karena juga dituntut untuk mengerjakan musik di lain tempat. “Aku tekanono, kamu kan lebih pintar kalau musik kreatif kayak begini”, Bapak tidak pernah marah, hanya selalu meminta tolong dan mengingatkan saya untuk tidak lupa mendatangi beliau. Baru disaat seperti inilah saya menyesal tidak bisa menolong beliau. Manusia .....
Bapak sosok yang sederhana, tapi tidak pernah melupakan cara berpakaian. Kata beliau, seseorang bisa dihormati ketika berpakaian yang rapi dan terbaik. Saya suka sekali baju batik kesukaan beliau yang berwarna biru corak putih, yang ternyata menjadi pakaian bapak saat bapak sudah didalam rumah terakhirnya. Bapak sosok yang sangat sederhana tapi tidak pernah menyederhanakan kemanusiaan. Meskipun mengajar dengan keras, bapak selalu meminta maaf.
Bapak selalu bangga dengan murid-muridnya. Selalu saya diperhatikan oleh beliau. Diam-diam, bapak memanggil saya ketika saya sedang mentransfer komposisi saya pada anak-anak, lalu saya diberikan beberapa pattern yang menurut beliau lebih cocok. Bapak selalu tanya kondisi murid-muridnya yang lain. Tanya keadaan petal, willy, hafidh, dalbo, kebo, mbak thea, mbak retta, mbak ony, valdian, mbak reny, dan lainnya. Bapak pernah cerita pada saya punya angan-angan untuk berkumpul lagi dengan semua angkatan yang pernah menjadi murid beliau. Ternyata keinginan bapak belum bisa terwujud.
Beberapa tahun yang lalu ketika saya mulai mengajar di SMP, saya jarang sekali berkomunikasi dengan beliau. Saya takut bapak mengira saya mengambil pekerjaan bapak. Kondisi dilematis yang membuat saya takut bertemu beliau. Bapak sepertinya marah pada saya. Sampai akhirnya kami dipertemukan di taman krida, tempat saya dan beliau bermain bersama, tapi saat itu bapak menonton saya yang perform dengan kakak saya Mas Prasetyo. Bapak bilang pada mas pras:
“Yo mrene iki ate nontok muridku siji iki ta. Seneng rek ono sing dadi siji muridku wes an. Saiki yo wes ngajar, cek iso ngrewangi bapak e iki lo ..” (YA kesini ini mau lihat muridku yang satu ini. Senang rasanya muridku suidah ada yang jadi satu. Sekarang sudah ngajar juga, biar bisa bantu bapak gurunya ini)
Bapak adalah influence dasar saya ketika mengomposisi gamelan. Banyak sekali pattern beliau yang selalu muncul tiba-tiba dari kepala saya. Tanpa bertemu bapak 11 tahun yang lalu, saya tidak akan seperti ini. Tidak ada PSYCOETNYC, tidak ada Teater Keong, tidak ada LongTrip Art, ceritanya akan sangat berbeda. Banyak sekali ilmu dari bapak yang saya terapkan. Mencintai dan mengasihi sesama, menghormati pemeluk agama lain, bermaind dengan rasa, tulus, dan nyaman. Saya tidak akan bisa melepaskan bayangan beliau di ruang seni, di tempat saya duduk sekarang, menggantikan beliau. Saya belum pantas, saya selalu merasa malu pada bapak.
Bapak adalah bukti nyata dari pentingnya berusaha. Siapa sangka lulusan Sekolah Rakyat jurusan perkayuan ini menjadi sosok penting di dunia kesenian Kota Malang? Banyak sekali pelaku seni muda yang sedang berkembang saat ini adalah murid beliau dahulu. Bapak tukang kayu tapi sudah terkenal sampai ke Dinas Pendidikan Provinsi. Tapi bapak tidak pernah minta lebih, bapak hanya ingin lihat muridnya senang bisa bermain gamelan, ingin bisa lihat anak-anak muda bermain gamlean. Tukang kayu yang melegenda, itulah beliau.
Selamat jalan Bpk. Samuel Buari. Baru saja beberapa bulan yang lalu kita ngobrol dengan banyak, Mengantar bapak memutari Banyuwangi, menemani bapak berkeluh kesah karena peraturan lomba yang tidak menguntungkan. Menemani bapak makan kacang yang bapak suka. Murid bapak sudah 13 angkatan sekarang. Dari yang dulu ruang kecil, sekarang menjadi ruang seni untuk bapak bekerja. Sudah selama itu bapak mengabdi, satu-satunya foto bapak di ruang seni masih saja diturunkan dan diganti foto lain. Tapi bapak tidak pernah mengeluh. Ya pak, tidak perlu foto untuk mengingat bapak. Bapak akan kami ingat dari komposisi-komposisi bapak, dari tulisan partitur bapak, dari gamelan yang biasa bapak tunggu, bahkan dari setiap vespa yang lewat didepan mata saya, saya akan mengingat bapak. Bapak orang baik, pemakamannya dihadiri banyak sekali orang.
Selamat jalan bapak. Ini tulisan dari muridmu, yang selalu akan mengingat bapak. Selalu ingat petuah bapak. Murid yang selalu menghadirkan bapak disetiap komposisinya. Murid yang ingin sekali menghadiahkan bapak karikatur tapi sudah terlambat. Murid yang selalu ingin berbagi rokok dengan bapak. Maaf pak untuk segala kesalahan saya. Maaf jika musik yang saya buat selalu mengecewakan bapak, maaf untuk tulisan terakhir ini tidak bagus karena susah sekali menulis dengan menangis. Semoga bapak bisa membaca ini di surga pak. Bapak, yando sudah disana pak. Semoga bapak bertemu yando, dan semoga bapak bisa bermain gamlen dengan murid yang mendahului bapak itu. Salam saya pak untuk Yando.
Salam pak bu. Terus berbunyi pak .....
70 Tahun, Mari berpikir ...
......
Selamat hari kemerdekaan kawan-kawan, saudara-saudara, dari Sabang sampai Merauke!
Sering sekali saya menulis sesuatu di tanggal ini, mungkin hampir setiap tahun. Menulis keluh kesah saya tentang tanah air tercinta.
Jadi teman-teman, dari sebuah tulisan mahasiswa semester 10 ini, yang juga tidak pernah menjadi aktifis di kampus, yang hanya mencoba membanggakan negeri tercinta melalui bebunyian, saya ingin mengajak merenung dan berpikir.
Sering sekali saya membaca tulisan teman-teman saya, dalam bentuk notes, cerpen, caption foto dan lainnya, tentang kegelisahan di dalam negeri kita. Membahas tentang korupsi, ada yang membahas reshuffle kabinet, ada yang mengkritisi habis-habisan Presiden kita, mengkritisi sistem pemnerintahan dan lainnya. Merdeka darimana? Ya, saat ini memang semua belum merasakan kemerdekaan seutuhnya.
Lalu sahabat saya bertanya pagi ini, “mau nulis apa hari ini? biasanya kamu nulis kan ..?” Wah, capek juga kalau ngomongin permasalahan negeri yang kompleks dan rumit. Apa saya harus mencoba menulis dan mengkritisi pemerintah? Sepertinya bukan itu yang saya pilih. Saya lebih memilih introspeksi diri saya. Apa sih yang sudah kamu berikan buat negara? Memberikan bukan selalu tentang materi bukan? Negeri ini saya rasa butuh spirit anak-anak nya untuk memperbaiki negeri kita.
Jadi, mari kita back to basic saja. Tuhan menciptakan dua telinga, dua tangan, dua mata, tetapi hanya satu mulut. Pahamilah kawan, mulut lah yang paling berbahaya dari beberapa organ kita. Mulut tidak bisa membunuh seperti tangan, tapi kata-kata yang keluar dari dalam mulut bisa setajam pedang yang dibawa tangan. Benar atau tidak sih, kita kadang terlalu banyak omong kosong?
Sepuluh tahun yang lalu, ada demonstrasi dari mahasiswa kampus di kota saya menentang berdirinya pusat perbelanjaan modern di dekat lingkungan pendidikan. Kebetulan sekolah saya berada didekat mall itu dan melihat langsung demonstrasi. Ada satu mahasiswa yang keren sekali saya lihat, berorasi, berteriak, membarakan semangat teman-temannya. saat itu di mata saya dia adalah sosok yang inspiritaif. Jas almamater, ada slayer di kepala dan tangan kanan, celana blue jeans warna biru luntur dan sepatu yang tidak kalah keren, dan jangan lupakan pengeras suara yang dibawa di tangannya. Saya sejujurnya terinspirasi, dan pada akhirnya insipirasi saya dimakan kekecewaan saya ketika melihat orang ini ternyata beberapa bulan kemudian memasuki mall itu dan terlihat asik berbincang bersama teman-temannya. Seolah tidak pernah merasa jijik di tempat yang dulu tidak ia setujui berada disini. Mari berpikir ..
Saya juga pernah mengetahui beberapa artikel dari koran, harian di dunia maya, ada beberapa tokoh yang terjaring KPK dan dulunya dia adalah aktivis ‘98. Bayangkan, dia adalah sosok yang dulunya ikut untuk meminta diktator saat itu turun, dan menduduki gedung DPR/MPR. Salah satu angkatan mahasiswa yang mempunyai cerita luar biasa setelah kejadian tahun ‘66, ternyata habis dipeenjara karena terciduk KPK. Kok bisa? Mari berpikir ...
Pernah suatu ketika saya berdiskusi dengan teman-teman saya. Diskusi seru yang membuat kami semua terpancing untuk berargumen, cukup panas saya rasa. Saya sendiri lupa saat itu kami membahas tentang apa, tapi sangat lah seru. Yang amat saya ingat adalah seringkali keluar kata-kata “ya begini ini Indonesia” atau “Indonesia gitu looh .. wajar laah ..” atau “Susah ya di Indonesia ini, luar negeri lo enak ...” Kawan-kawan pasti pernah kan mengucapkan atau mendengar hal seperti ini? Teregelitik kah kawan? Bukan kah kita memang tinggal di Indonesia?
Saya yakin, negara sudah berusaha untuk mencoba memperbaiki apapun yang fasilitas publik untuk rakyatnya. Saya ngefans dengan salah satu menteri di kabinet sekarang. Kalau tidak salah dia dulu kepala PT KAI. menurut saya beberapa tahun ini kereta api sudah mengalami peningkatan service dan jasa yang luar biasa. Bayangan bahwa kereta api adalah moda transportasi yang lusuh, tidak terjaga kebersihannya, capek, banyak copet, panas, sudah hilang menurut saya. Kereta api sudah bertransformasi. Gerbong ekonomi sudah ada AC dan ada fasilitas men-charge gadget anda. Perbedaan dengan gerbong eksekutif hanyalah kursi yang kurang nyaman untuk perjalanan jauh. Tapi pemesanan dan transaksi bisa melalui online, bisa langsung memilih kursi, bisa mencetak tiket sendiri seperti di bandara, stasiun bersih dan sermua punya jalur bawah tanah untuk menyebrang. Amazing! Tapi yang terjadi ketika saya pernah melakukan perjalanan ke barat, ternyata kursi yang sudah dtiketkan dan punya nomer kursi ini tidak dipatuhi penumpang. Seenaknya mereka menukar-nukar nomer kursi, mengisi kursi yang belum tentu kosong karena siapa tahu pemumpangnya naik di stasiun berikutnya.
Bagaimana negeri kita mau maju kalau masyarakatnya juga masih belum mau memahami nilai dari menghargai dan disiplin? Mari kita ingat etika berkendara kita di jalan raya. Tidak ada yang mau mengalah, semua mementingkan kepentingan masing-masing. Bahkan rambu-rambu dan lampu merah yang notabene adalah benda mati saja kita tidak mau menghargainya, bagaimana mau menghargai sesama manusia?
Saya perokok tetapi saya harus tahu dimana saya harus merokok. apa jadinya ketika kita merokok di bis yang masih penuh dengan penumpang? Ketika ditegur, perokok ini malah marah-marah dan mengatai-ngatai saya. Anak muda kurang ajar lah, suka ikut campur orang lain lah. Lalu seolah ini mejadi salah saya. Ini salah siapa? Mari berpikir ..
Saya yakin kawan-kawan semua pernah mengalami hal serupa. Apa yang anda lakukan? Bukankah memperbaiki sesuatu harus dimulai dari memperbaiki diri sendiri dan sesuatu hal yang kecil? Bukankah sebelum membangun gedung pencakar langit kita harus membangun fondasi yang kuat? Bukankah untuk turut serta membangun negara ini kita harus menjadi pribadi yang baik dan berguna untuk bangsa? bagaimana negera mau baik kalau anak-anak sebagai fondasi negara kita selanjutnya sudah dipertontonkan hal seperti yang saya ceritakan diatas? Sekolah sebagai lingkungan sekunder seorang anak pun tidak bisa diharapkan lagi peran sertanya. Anak zaman sekarang hanya dituntut untuk menguasi ilmu eksakta tanpa disuruh memahami apa maksut dibalik angka-angka. Hal-hal yang sangat baik untuk mengembangkan kecerdasan sosial seperti pramuka, kesenian dan sastra, cukuplah untuk hobi anak. Tidak perlu ditekuni hanya sebagai penyeimbang hidup aja. Sejak dini anak sudah diajarkan untuk mencapai target maksimal, tetapi tidak pernah tahu esensi dari setiap nilai yang dia dapat. Salahkah saya berpikir seperti ini? mari berpikir ..
Saya yakin kita semua punya cara masing-masing untuk membanggakan nama negeri ini. Lihatlah para atlet yang bersusah-payah membawa nama baik negeri tercinta meskipun mereka harus bersusah-payah tanpa dukungan pemerintah. Para seniman yang sudah dikenal secara massive dan global melalui dunia maya tanpa pemerintah tahu siapa mereka. Sosok yang sudah saya anggap kakak saya sendiri, Sandidhea Cahyo Narpati, tidak pernah lupa mambawa syal kebanggaan klub sepakbola kota kami di setiap lawatan ke luar negerinya. Bagaimana kita? yang mungkin belum punya kesempatan seperti mereka untuk membawa nama baik ke luar negeri? Saya rasa kita masih harus memperbaiki apapun disekitar kita. Menjadi pribadi yang lebih baik, disiplin, dan teladan masyarakat. Saya rasa anda sudah cukup berkontribusi untuk negara ini bukan? Meskipun anda tidak diberitakan melalui media.
Mari berpikir kawan, bukan kah ketulusan untuk melakukan sesuatu akan menjadi harga yang berharga kedepannya? Bukankah nilai dari sebuah ketulusan selain bermanfaat untuk dirimu juga bermanfaat untuk negara dan dunia sekitarmu? Bukankah tujuan hidup paling mulia adalah menjadi berguna untuk orang lain? Apapun caranya?
Mari berpikir, mari membangun negeri ini dari dalam diri kita. Mari kibarkan merah putih di dalam hati. Sehingga anda tahu, bagaimana indahnya merah putih yang berkibar di setiap tiang bendera di seluruh negeri, dan betapa indahnya negeri kita kalau semua orang mau berguna untuk lingkungannya. Dirgahayu Indonesiaku. Semoga aku bisa berguna untukmu suatu hari kelak. Aku akan berusaha.
17 Agustus 2015.
https://soundcloud.com/noerman-rizky-alfarozi/djombloensemble-papat-musuh-songo-live-in-voyage-of-ie-surakarta-indonesia
https://soundcloud.com/noerman-rizky-alfarozi/djombloensemble-ppst-smpn-4-malang-narawangsa
Awalnya saya tertarik dengan tulisan tembok. Lalu ada tembok yang kosong. Dan langsung terpikir untuk mengajak foto teman2 kontingen Jatim. Kontingen ini ber embrio dari dua kota, Malang dan Nganjuk. Dua kota berbeda yang juga punya tradisi berbeda dengan identitasnya masing-masing. 4x latihan bersama, yang menurut saya sangat singkat, lalu menuju pulau dewata. Meskipun banyak kendala teknis, saya rasa perform teman-teman begitu luar biasa. Terima kasih untuk kolaborasi kali ini. Ternyata, tidak ada kalimat yang tepat untuk menggambarkan kebahagiaan saya bisa satu tim dengan teman-teman Nganjuk. Ada mas Sonny Jatmiko (salah satu komposer yang selalu saya lihat perkembangannya), mira si penyanyi international, kim, ria, raggil, gilang, dll. Tidak ada kalimat yang tepat. Seperti tembok itu, putih diantara kata-kata. Mungkin kalau ada yang paling tepat, dan ingin saya tulis di tembok itu, adalah "Saya Bahagia!" Terima kasih, semoga ada kesempatan berproses dan berbunyi lagi. Saat itu, mungkin akan lebih baik. Nb: Maaf tidak bisa berfoto dengan all team. Semoga ini mewakili
Selamat hari jazz! 30 April ditetapkan UNESCO menjadi International Jazz Day. Saat ini musik jazz dianggap sebagai musik yang rumit, susah, dan tidak bisa dipahami. Menurut saya bukan seperti itu. Saya tidak akan bohong kalau main jazz memang susah, tapi suatu hal yang susah akan mudah kalau kita mau memahami dan mau mempelajarinya. Belajar sejarahnya, budayanya, dan pelaku-pelakunya. Jazz bukan hanya tentang musik, tapi tentang belajar "berbicara" dan "ngobrol" melalui musik. Saya pun masih 3 tahun belajar musik ini. Masih sangat dangkal, tapi sangat menantang. Mari, mendengarkan musik jazz :)
Before perform this day .. I love my sista :D #Muridndableg #perform #dance #gamelan #DJombloEnsemble
Nice shoot from Kata Lensa waktu tadi perform di launching albumnya @sumberkenconoband . sesi bersama mbak istak. Terima kasih :)
Tulisan ini keren abis. Monggo dibaca kawan-kawan
Ballad Jazz. Days of Wine and Roses. Ngulik lick nya papa Dexter Gordon ..
Read partiture. #latepost #JavaJazzOnTheMove