70 Tahun, Mari berpikir ...
Selamat hari kemerdekaan kawan-kawan, saudara-saudara, dari Sabang sampai Merauke!
Sering sekali saya menulis sesuatu di tanggal ini, mungkin hampir setiap tahun. Menulis keluh kesah saya tentang tanah air tercinta.
Jadi teman-teman, dari sebuah tulisan mahasiswa semester 10 ini, yang juga tidak pernah menjadi aktifis di kampus, yang hanya mencoba membanggakan negeri tercinta melalui bebunyian, saya ingin mengajak merenung dan berpikir.
Sering sekali saya membaca tulisan teman-teman saya, dalam bentuk notes, cerpen, caption foto dan lainnya, tentang kegelisahan di dalam negeri kita. Membahas tentang korupsi, ada yang membahas reshuffle kabinet, ada yang mengkritisi habis-habisan Presiden kita, mengkritisi sistem pemnerintahan dan lainnya. Merdeka darimana? Ya, saat ini memang semua belum merasakan kemerdekaan seutuhnya.
Lalu sahabat saya bertanya pagi ini, “mau nulis apa hari ini? biasanya kamu nulis kan ..?” Wah, capek juga kalau ngomongin permasalahan negeri yang kompleks dan rumit. Apa saya harus mencoba menulis dan mengkritisi pemerintah? Sepertinya bukan itu yang saya pilih. Saya lebih memilih introspeksi diri saya. Apa sih yang sudah kamu berikan buat negara? Memberikan bukan selalu tentang materi bukan? Negeri ini saya rasa butuh spirit anak-anak nya untuk memperbaiki negeri kita.
Jadi, mari kita back to basic saja. Tuhan menciptakan dua telinga, dua tangan, dua mata, tetapi hanya satu mulut. Pahamilah kawan, mulut lah yang paling berbahaya dari beberapa organ kita. Mulut tidak bisa membunuh seperti tangan, tapi kata-kata yang keluar dari dalam mulut bisa setajam pedang yang dibawa tangan. Benar atau tidak sih, kita kadang terlalu banyak omong kosong?
Sepuluh tahun yang lalu, ada demonstrasi dari mahasiswa kampus di kota saya menentang berdirinya pusat perbelanjaan modern di dekat lingkungan pendidikan. Kebetulan sekolah saya berada didekat mall itu dan melihat langsung demonstrasi. Ada satu mahasiswa yang keren sekali saya lihat, berorasi, berteriak, membarakan semangat teman-temannya. saat itu di mata saya dia adalah sosok yang inspiritaif. Jas almamater, ada slayer di kepala dan tangan kanan, celana blue jeans warna biru luntur dan sepatu yang tidak kalah keren, dan jangan lupakan pengeras suara yang dibawa di tangannya. Saya sejujurnya terinspirasi, dan pada akhirnya insipirasi saya dimakan kekecewaan saya ketika melihat orang ini ternyata beberapa bulan kemudian memasuki mall itu dan terlihat asik berbincang bersama teman-temannya. Seolah tidak pernah merasa jijik di tempat yang dulu tidak ia setujui berada disini. Mari berpikir ..
Saya juga pernah mengetahui beberapa artikel dari koran, harian di dunia maya, ada beberapa tokoh yang terjaring KPK dan dulunya dia adalah aktivis ‘98. Bayangkan, dia adalah sosok yang dulunya ikut untuk meminta diktator saat itu turun, dan menduduki gedung DPR/MPR. Salah satu angkatan mahasiswa yang mempunyai cerita luar biasa setelah kejadian tahun ‘66, ternyata habis dipeenjara karena terciduk KPK. Kok bisa? Mari berpikir ...
Pernah suatu ketika saya berdiskusi dengan teman-teman saya. Diskusi seru yang membuat kami semua terpancing untuk berargumen, cukup panas saya rasa. Saya sendiri lupa saat itu kami membahas tentang apa, tapi sangat lah seru. Yang amat saya ingat adalah seringkali keluar kata-kata “ya begini ini Indonesia” atau “Indonesia gitu looh .. wajar laah ..” atau “Susah ya di Indonesia ini, luar negeri lo enak ...” Kawan-kawan pasti pernah kan mengucapkan atau mendengar hal seperti ini? Teregelitik kah kawan? Bukan kah kita memang tinggal di Indonesia?
Saya yakin, negara sudah berusaha untuk mencoba memperbaiki apapun yang fasilitas publik untuk rakyatnya. Saya ngefans dengan salah satu menteri di kabinet sekarang. Kalau tidak salah dia dulu kepala PT KAI. menurut saya beberapa tahun ini kereta api sudah mengalami peningkatan service dan jasa yang luar biasa. Bayangan bahwa kereta api adalah moda transportasi yang lusuh, tidak terjaga kebersihannya, capek, banyak copet, panas, sudah hilang menurut saya. Kereta api sudah bertransformasi. Gerbong ekonomi sudah ada AC dan ada fasilitas men-charge gadget anda. Perbedaan dengan gerbong eksekutif hanyalah kursi yang kurang nyaman untuk perjalanan jauh. Tapi pemesanan dan transaksi bisa melalui online, bisa langsung memilih kursi, bisa mencetak tiket sendiri seperti di bandara, stasiun bersih dan sermua punya jalur bawah tanah untuk menyebrang. Amazing! Tapi yang terjadi ketika saya pernah melakukan perjalanan ke barat, ternyata kursi yang sudah dtiketkan dan punya nomer kursi ini tidak dipatuhi penumpang. Seenaknya mereka menukar-nukar nomer kursi, mengisi kursi yang belum tentu kosong karena siapa tahu pemumpangnya naik di stasiun berikutnya.
Bagaimana negeri kita mau maju kalau masyarakatnya juga masih belum mau memahami nilai dari menghargai dan disiplin? Mari kita ingat etika berkendara kita di jalan raya. Tidak ada yang mau mengalah, semua mementingkan kepentingan masing-masing. Bahkan rambu-rambu dan lampu merah yang notabene adalah benda mati saja kita tidak mau menghargainya, bagaimana mau menghargai sesama manusia?
Saya perokok tetapi saya harus tahu dimana saya harus merokok. apa jadinya ketika kita merokok di bis yang masih penuh dengan penumpang? Ketika ditegur, perokok ini malah marah-marah dan mengatai-ngatai saya. Anak muda kurang ajar lah, suka ikut campur orang lain lah. Lalu seolah ini mejadi salah saya. Ini salah siapa? Mari berpikir ..
Saya yakin kawan-kawan semua pernah mengalami hal serupa. Apa yang anda lakukan? Bukankah memperbaiki sesuatu harus dimulai dari memperbaiki diri sendiri dan sesuatu hal yang kecil? Bukankah sebelum membangun gedung pencakar langit kita harus membangun fondasi yang kuat? Bukankah untuk turut serta membangun negara ini kita harus menjadi pribadi yang baik dan berguna untuk bangsa? bagaimana negera mau baik kalau anak-anak sebagai fondasi negara kita selanjutnya sudah dipertontonkan hal seperti yang saya ceritakan diatas? Sekolah sebagai lingkungan sekunder seorang anak pun tidak bisa diharapkan lagi peran sertanya. Anak zaman sekarang hanya dituntut untuk menguasi ilmu eksakta tanpa disuruh memahami apa maksut dibalik angka-angka. Hal-hal yang sangat baik untuk mengembangkan kecerdasan sosial seperti pramuka, kesenian dan sastra, cukuplah untuk hobi anak. Tidak perlu ditekuni hanya sebagai penyeimbang hidup aja. Sejak dini anak sudah diajarkan untuk mencapai target maksimal, tetapi tidak pernah tahu esensi dari setiap nilai yang dia dapat. Salahkah saya berpikir seperti ini? mari berpikir ..
Saya yakin kita semua punya cara masing-masing untuk membanggakan nama negeri ini. Lihatlah para atlet yang bersusah-payah membawa nama baik negeri tercinta meskipun mereka harus bersusah-payah tanpa dukungan pemerintah. Para seniman yang sudah dikenal secara massive dan global melalui dunia maya tanpa pemerintah tahu siapa mereka. Sosok yang sudah saya anggap kakak saya sendiri, Sandidhea Cahyo Narpati, tidak pernah lupa mambawa syal kebanggaan klub sepakbola kota kami di setiap lawatan ke luar negerinya. Bagaimana kita? yang mungkin belum punya kesempatan seperti mereka untuk membawa nama baik ke luar negeri? Saya rasa kita masih harus memperbaiki apapun disekitar kita. Menjadi pribadi yang lebih baik, disiplin, dan teladan masyarakat. Saya rasa anda sudah cukup berkontribusi untuk negara ini bukan? Meskipun anda tidak diberitakan melalui media.
Mari berpikir kawan, bukan kah ketulusan untuk melakukan sesuatu akan menjadi harga yang berharga kedepannya? Bukankah nilai dari sebuah ketulusan selain bermanfaat untuk dirimu juga bermanfaat untuk negara dan dunia sekitarmu? Bukankah tujuan hidup paling mulia adalah menjadi berguna untuk orang lain? Apapun caranya?
Mari berpikir, mari membangun negeri ini dari dalam diri kita. Mari kibarkan merah putih di dalam hati. Sehingga anda tahu, bagaimana indahnya merah putih yang berkibar di setiap tiang bendera di seluruh negeri, dan betapa indahnya negeri kita kalau semua orang mau berguna untuk lingkungannya. Dirgahayu Indonesiaku. Semoga aku bisa berguna untukmu suatu hari kelak. Aku akan berusaha.