Bayang-Bayang di Beranda Sebelah
Bab 1: Jeda yang Menghanyutkan
Bagi Sani, Aldo adalah sebuah teka-teki yang melelahkan. Tubuhnya yang atletis sebagai mantan atlet daerah berbanding lurus dengan keras kepalanya. Pria berusia 30 tahun itu punya sejuta cara untuk membuat Sani melambung, tapi juga punya seribu kata kasar yang siap menghunus jantung Sani setiap kali mereka berselisih.
Hubungan mereka yang awalnya manis, perlahan berubah menjadi hubungan yang intim namun melelahkan. Hingga malam itu, sebuah pertengkaran hebat kembali pecah. Kata-kata Aldo terlampau tajam.
"Kalau kamu gak bisa nurut, gak usah hubungi aku lagi!" gertak Aldo sebelum akhirnya memblokir nomor Sani.
Sani terdiam di kamar kosnya di Jakarta. Sunyi. Menangis pun ia sudah lelah. Hubungan jarak jauh Jakarta–Surabaya ini terasa semakin menyiksa. Di tengah keheningan berhari-hari tanpa kabar itulah, takdir mempertemukannya dengan Hari.
Hari adalah kebalikan dari Aldo. Usianya 28 tahun, tubuhnya lebih tinggi dan berisi, memberikan kesan hangat yang tidak dimiliki Aldo. Pertemuan tidak sengaja di sebuah grup diskusi daring membawa mereka ke obrolan yang mengalir tanpa henti. Sani merasa menemukan oase. Hari adalah pendengar yang baik, tempat Sani menumpahkan segala keluh kesah—kecuali detail tentang Aldo. Sani hanya bercerita ia baru saja terluka oleh seorang pria di Surabaya.
Sani tidak pernah tahu, dan tidak akan pernah menduga, bahwa Hari adalah keponakan kandung Aldo. Mereka bahkan tinggal di satu area tanah yang sama di Surabaya, hanya terpisah dinding beranda rumah yang berdampingan.
Enam bulan berlalu, kenyamanan itu berubah menjadi hubungan yang mendalam dan intim. Sani jatuh cinta pada Hari. Jauh lebih dalam daripada perasaannya pada Aldo dulu. Namun, bayang-bayang masa lalu tetap menghantui. Setelah setengah tahun, hubungan itu kandas karena satu dan lain hal. Empat bulan setelah putus, Hari datang lagi, memohon untuk kembali.
"San, aku gak bisa bohong. Aku mau kita balik kayak dulu," pinta Hari lewat sambungan telepon, suaranya parau.
Sani menarik napas panjang, menatap langit-langit kamarnya. "Har... aku sayang sama kamu. Tapi sebagai teman. Tolong, kita temenan aja ya?"
Hari terdiam lama sebelum akhirnya menutup telepon dengan kekecewaan yang tertahan.
## Bab 2: Sumbu yang Menyala
Dua minggu setelah penolakan itu, sebuah notifikasi mengejutkan muncul di ponsel Sani. Akun Aldo kembali aktif. *Unblock*.
*"Hadirmu masih terasa. Bisa kita mulai lagi?"* tulis Aldo singkat.
Sani tertegun. Jujur, rasa cintanya pada Aldo sudah menguap, digantikan oleh rasa lelah. Namun, ada secercah rasa iseng dan penasaran di hatinya. "Mau tahu sejauh mana pria keras kepala ini berubah," pikir Sani. Ia pun membalasnya dengan kasual, mengiyakan ajakan untuk menjalin komunikasi lagi.
Sani yang menganggap Hari adalah teman curhat terbaiknya, malam itu tanpa beban bercerita pada Hari lewat pesan teks.
*"Har, Om kamu itu ternyata gak bisa dikerasin ya. Tiba-tiba chat aku lagi. Pria kayak dia itu maunya di-mode lembut, baru bisa luluh,"* tulis Sani, berniat membagikan analisisnya tentang Aldo.
Di seberang sana, di sebuah rumah di Surabaya, Hari membaca pesan itu dengan rahang mengeras. Dadanya bergemuruh panas. Wanita yang dicintainya, yang baru empat bulan lalu menolak ajakan balikan darinya, kini sedang membahas cara "menjinakkan" pria lain—yang ironisnya adalah omnya sendiri.
Hari mengetik balasan dengan jemari bergetar.
*"Waw.. okee..."*
Sani yang membaca itu mengerutkan kening. Ia bisa merasakan ketegangan dari baris kalimat singkat itu.
*"Kok ada bau sarcasm di sini, Har?"* tanya Sani.
Hari tidak membalas. Ia melempar ponselnya ke kasur. Ego cowoknya terluka hebat. Cemburu membakar nalarnya. Ia menoleh ke arah jendela, menatap rumah di sebelahnya di mana Aldo tinggal. *Kalau aku gak bisa memilikimu lagi, San, maka dia juga gak boleh jalan mulus sama kamu,* bisik iblis di kepala Hari.
Malam itu juga, Hari melangkah keluar rumah, mengetuk pintu kediaman Aldo, dan melempar satu pertanyaan memancing, "Om, emang ada rencana mau ke Jakarta tempat Sani ya?"
## Bab 3: Ledakan di Seberang Sana
Sore itu, Sani baru saja selesai melaksanakan sholat. Kedamaian yang baru saja ia rasakan seketika runtuh saat membuka ponsel. Rentetan pesan dari Aldo memenuhi layar, bernada penuh amarah.
Aldo: *"Kenapa kau cerita ke Hari bahwa aku ingin ke tempatmu?? Apakah kau tak bisa jaga rahasia kita berdua?!"*
Aldo: *"Jawab, Sani! Maksudmu apa umbar-umbar rencana kita ke keponakanku sendiri? Kamu sengaja mau bikin aku malu?!"*
Jantung Sani berdegup kencang. Ia terkejut setengah mati. Ia tidak pernah menyangka Hari—pria yang paling ia percaya untuk tempat curhat—akan tega "mengadu" dan memancing keributan seperti ini. Sani langsung menyadari motif Hari: itu adalah luapan cemburu buta.
Sani menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemetar di tangannya. Ia tahu watak Aldo yang kasar akan semakin meledak jika ia membela diri dengan emosi. Sani mulai mengetik dengan kepala dingin, memosisikan diri sebagai pihak yang tidak sengaja.
Sani: *"Tadi aku habis sholat, jadi baru baca chat-nya. Soal Hari, jujur aku nggak kepikiran sampai sejauh itu. Kita cuma lagi bahas topik lain, terus aku refleks saja menyinggung rencana kamu karena teringat. Aku nggak ada niat sama sekali buat umbar rahasia kita berdua. Aku minta maaf ya kalau itu bikin kamu nggak nyaman. Yuk, bahas yang lain saja, aku nggak mau kita berantem gara-gara hal yang nggak penting begini."*
Pesan terkirim. Namun, jauh di lubuk hatinya, Sani merasakan kekosongan yang teramat sangat. Ia menatap ke luar jendela kosnya, memandang rintik hujan kota Jakarta.
Sani tersenyum getir. Di sana, di Surabaya, dua pria yang tinggal berdampingan sedang meributkan dirinya karena ego dan cemburu. Sementara di sini, ia berdiri sendiri, menyadari sebuah kebenaran pahit: rahasia terbesar bahwa ia pernah menyerahkan hatinya seutuhnya pada Hari, masih tersimpan rapi sebagai bom waktu yang siap meledakkan hubungan paman dan keponakan itu kapan saja.
Dan untuk pertama kalinya, Sani merasa tidak peduli lagi jika bom itu meledak. Ia berhak atas ketenangannya sendiri.














