Kenakalan Remaja Zaman Dulu: Nakal yang Sederhana, Bandel yang Berkesan
Ada masanya ketika kata nakal tak selalu berkonotasi gelap. Zaman dulu, kenakalan remaja lebih sering berwujud tawa, debu jalanan, dan lutut yang penuh luka. Tak ada gawai di genggaman, tak ada media sosial untuk pamer keberanian. Yang ada hanyalah keberanian polos, rasa ingin tahu yang besar, dan dunia yang terasa luas untuk dijelajahi.
Kenakalan remaja kala itu sering dimulai dari hal-hal sepele. Pulang sekolah tak langsung ke rumah, melainkan mampir ke sungai, ke kebun kosong, atau ke lapangan yang rumputnya sudah botak oleh kaki-kaki kecil yang berlarian setiap sore. Baju sekolah basah, sepatu penuh lumpur—dan di rumah sudah menanti omelan yang hafal di luar kepala.
Bolos Sekolah Demi Petualangan Kecil
Bolos sekolah bukan untuk hal aneh-aneh. Kadang hanya ingin menonton film di bioskop kelas bawah, main dingdong, atau sekadar nongkrong di warung sambil minum es lilin. Rasanya seperti melakukan kejahatan besar, padahal yang dikorbankan hanya satu jam pelajaran Matematika yang memang sulit dipahami sejak awal.
Ada degup jantung yang tak bisa dilupakan saat guru mencatat absensi, sementara kita bersembunyi di balik semak atau tembok tua. Ketakutan itu justru menjadi bagian paling seru dari kenakalan tersebut.
Perang Sarung dan Petasan Rakitan
Menjelang bulan puasa atau malam tahun baru, kenakalan naik satu tingkat. Perang sarung antar kampung, petasan rakitan dari korek api, hingga balapan sepeda tanpa rem di jalan menurun. Semua dilakukan tanpa perlindungan, tanpa rencana cadangan—hanya modal nekat dan rasa kebersamaan.
Jika ada yang terluka, cukup ditertawakan bersama. Besoknya sudah baikan lagi, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Tidak ada dendam panjang, tidak ada saling lapor di dunia maya.
Dimarahi, Dipukul, Lalu Dimaafkan
Orang tua zaman dulu tegas, bahkan kadang keras. Namun amarah mereka selalu berakhir dengan nasihat. Setelah dimarahi atau dihukum, kita tetap disuguhi makan malam, tetap diajak bicara, dan esoknya kembali disuruh sekolah.
Kenakalan remaja saat itu menjadi bagian dari proses tumbuh dewasa. Dari situlah kita belajar batasan, tanggung jawab, dan rasa bersalah yang sehat.
Nakal yang Membentuk Kenangan
Kini, ketika usia bertambah dan dunia berubah, kenakalan remaja zaman dulu justru terasa hangat untuk dikenang. Bukan untuk ditiru mentah-mentah, tetapi untuk diingat bahwa kita pernah muda, pernah bandel, dan pernah belajar hidup dengan cara yang sangat manusiawi.
Karena pada akhirnya, kenakalan-kenakalan kecil itulah yang membentuk cerita—cerita tentang masa muda yang sederhana, jujur, dan tak tergantikan.
Rujukan: https://www.nostalgiaan.net












