
Product Placement
Not today Justin
cherry valley forever

oozey mess
Keni

No title available
Show & Tell
Game of Thrones Daily

if i look back, i am lost

izzy's playlists!
One Nice Bug Per Day
TVSTRANGERTHINGS
d e v o n
Claire Keane
Alisa U Zemlji Chuda
taylor price

Kaledo Art

Andulka
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
occasionally subtle
seen from United Kingdom

seen from Poland

seen from Türkiye

seen from Italy

seen from Czechia
seen from Tunisia
seen from Indonesia
seen from Morocco
seen from Morocco
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Russia
@notesofhygge
Tokyo
Aku tahu kantor-kantor di kepalamu selalu riuh terkadang bahkan lebih kacau karena di tengah hujan mereka masih bergemuruh Tapi kau tahu? Kantor-kantor itu akan memakan setiap potongan jam dan detik ketika kau memutuskan untuk pulang. Mereka bisa berhenti membuat keputusan-keputusan besar saat kau memutuskan untuk kembali ke kecilnya pelukku yang begitu lebar.
Perkantoran di kepalaku tidak sesibuk di New York, tapi mereka bergerak seiring isi kepalamu: Mengejar Matahari dan malam yang sama, untuk merampas sisa-sisa ramen di Yoiko karena gurihnya.
Waktu kita masih banyak, sayang. Kantor-kantor itu masih bisa tetap sibuk, dan kita bisa tetap mengejar ramen kalau setiap Minggu kita tidak begitu sibuk.
Lagipula, tahukah kamu, Tokyo adalah kota yang paling riuh, tapi menjadi salah satu yang terbaik untuk bekerja?
Love,
K.
in the hereafter, the hare harries in the wood hollow of everything but time inside, a small world breaks apart into so many faceless stars, lupine-spined, a name given to what is unspeakable likethe nocturnal language of lovers which forgets me, which I forget
in the earth of my body, over reeds of wheat that sway dreams of possession - how deep does the emptiness run?
Thank you for @oakyvii for the cover of my MechaMiwa fanfic. A fix-it fic of the Shibuya Incident Arc where Miwa is the main character, and Kokichi is alive at the end of the story.
I just THANK YOU. 😭✨🤍
Jeez it's been forever ago since i opened tumblr the last time, and now I come here just to search this hashtag, and find any AU about Mechamaru and Miwa.
Gladly i found one. 😭
reading this choking me.
I'm sorry.
I cried. God please give me more time.
You were wrong about me. You have no idea how love had brought me to find myself;
a person who is strong enough to get out of your idea.
- K. G.
i'll see you somewehere, someday.
in a better place, in a better condition, in a better world
where we don't know each other.
Untold Story; “Bolehkah Kami Bermimpi”
Kisah ini, sudah saya simpan dalam-dalam di ujung pikiran dan hati saya yang paling dalam. Menjadi salah satu motivasi paling sederhana dan paling mudah untuk tidak berhenti bermimpi sambil berbuat baik. Sebelum bercerita dan tahu kenapa saya angkat ini di Hari Pendidikan Nasional 2020, kita kembali ke 2018 sebentar ya.
April 2018, beberapa teman yang akhirnya saya kenal, menuntaskan sebuah projek konser amal untuk sebuah yayasan pendidikan Kristen. Pada prosesnya sekitar dari 4 bulan sebelum acara berlangsung, saya pun terlibat. Tidak pernah sebelumnya, saya menjadi salah satu anggota Tim Kreatif, yang lingkupnya kurang lebih desain bahan-bahan posting di sosial media, poster, dan lain-lain. Namun yang tidak saya perkirakan sebelumnya: saya harus membuat video dokumentasi untuk teaser acara tersebut. Hmm, kalau tidak salah sih, ketika tugas itu harusnya dilakukan, saya minim partner alias emang gak ada orang lain yang bisa dampingin.
Pendek cerita, saya ditemani papa pergi ke sekolah yang akan dijadikan lokasi shooting. Letaknya di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Please keep in mind, saya belum pernah ke sana sebelumnya. Tahu bentuknya seperti apa pun, gak.
Saya tiba di sekolah itu sekitar pukul 9.30 pagi. Sudah janjian sama ibu Kepala Sekolah, saya bilang akan datang sebelum jam bubaran adik-adik. Melewati beberapa proses, akhirnya saya berhasil mengumpulkan footage untuk video di bawah ini dan kembali ke rumah. Kembali menjadi panitia seperti biasa, dan melanjutkan kegiatan bersama teman-teman. Tapi ada cerita kecil yang tidak pernah saya bagi ke orang banyak, mungkin hanya 2-3 teman. Karena rasanya intim sekali dan sangat menggunggah saya pribadi.
Supaya sedikit jelas rasa yang saya alami waktu itu, mungkin teman-teman bisa lihat video ini yang menjadi teaser final untuk acara konser amal tersebut.
“Story of Us” adalah sebuah konser amal untuk sebuah yayasan pendidikan yang saat itu sedang berjuang keras agar beberapa sekolahnya tidak ditutup. Karena apa? Faktor ketidaklayakan.
Mengusung tema "Bolehkah Kami Bermimpi?" kami berusaha menyampaikan pesan tersirat dari pihak yayasan kepada masyarakat, bahwa mereka masih ingin anak-anak ini terus bersekolah dan menggapai cita-cita mereka apapun itu pada akhirnya. Tapi biayanya terlampau besar untuk mengcover yang ingin mereka lakukan; merenovasi beberapa sekolah, membayar tempat sewa (karena mereka gak sanggup beli tanahnya), menggaji guru, membelikan buku paket untuk anak-anak, dll.
__________
Saya sedang menyiapkan kamera untuk shooting, lalu ibu Kepala Sekolah datang menghampiri saya:
“Halo, Kak Kila ya dari pusat?”
“Iya, betul Bu,” saya senyum simpul. Karena si Kila ini anaknya emang agak susah multi-tasking.
“Wah senang deh ada acara ini. Bisa bantu-bantu kita. Semoga sukses ya,” lanjut si Ibu Kepala Sekolah yang ketika saya lihat wajahnya senyum lega bukan main.
“Iyaaa, amin ya Bu. Hmm.. Kalau boleh tahu, di sini gurunya ada berapa?”
“Oh, cuma 3. Kadang juga 2. Karena yang satu lagi sedang proses pindah ke sekolah lain.”
Saya tersentak, sekolah ini punya anak-anak kelas 1-6 SD, tapi gurunya hanya dua. Gimana bisa deh?
“Hah? Seriusan cuma dua?”
“Iya, udah susah bayarnya kalau dari iuran sekolah anak-anak. Sebulan mereka bayar (saya lupa kalau tidak salah) Rp50.000 itu sudah harus termasuk bahan pelajaran, fotocopyan, dan lain-lain.”
“...” pikiran saya lari entah kemana selama beberapa detik karena sesak membayangkan kesulitan yang diceritakan ibu ini.
“Itu juga kadang beberapa dari mereka ada yang ngutang karena gak sanggup bayar. Baju seragam mereka juga sumbangan. Malu kalau mau numpang ujian praktek ke sekolah lain, gak pakai seragam.”
Di situ rasanya tangis saya sudah di ujung tenggorokan. Maklum sensitif banget kek tespek.
“Emangnya sering ke sekolah lain buat numpang ujian?”
“Iya, kan sekarang UN-nya pakai komputer.. Karena kita tidak punya, harus numpang ke sekolah lain kalau mereka sudah selesai. Dari try-out kemarin sudah begitu, kak..”
“Oh.. Iya iya..”
Sekolah yang saya datangi, sudah menyewa bagian gudang sekolah lain selama 3 periode di tempat yang berbeda karena tidak sanggup membeli tanah dan gedung sendiri. Jumlah anak-anak yang semakin sedikit tiap tahunnya (karena kualitas sekolah menurun dari segi fasilitas, dan ketidakmampuan orang tua membayar iuran), membuat sekolah ini semakin sulit bertahan. Mereka tidak lagi bisa menggaji penuh guru, atau membelikan buku paket untuk masing-masing anak.
___________
Kalau sudah kebayang rasa nyesss-nya kayak apa, kita sampai ke bagian ke paling “seru”nya. Sebelum saya pulang ke Bogor, ini yang membuat saya gak akan lupa sama mereka semua.
Adik A: “Kakkk! Sini dulu sini dulu,” salah satu anak menarik tangan saya ke tempat duduk di depan kelas, yang kalau dilihat di video, lokasinya ada di lorong. 2 buah kursi panjang, di depan toilet.
Adik A: ”Kakak, udah mau pulang?”
Saya: “Iya nih, bentar lagi abis beresin kamera, kayaknya aku pulang. Kalian pulang juga kan?”
Adik B: “Yahhh, bentar lagi donggg. Hehehehehe foto-fotoin lagi.”
Saya: “Kan tadi udah? Hahaha. Nanti ya kalau udah jadi, kalian pasti lihat videonya deh! Kan nanti pas konser kalian bakal diundang ke sana.”
Adik A: “Ah emang iya? Tempatnya dimana sih kak?”
Saya: “Iyaa donggg, masa ada di videonya, tapi nanti orang-orangnya gak keliatan? Hahaha,” lalu saya menerangkan singkat bahwa tempat mereka datang nanti akan berada di sebuah mall besar di Jakarta.
Adik-adik: “Ihh asikk ke mall!”
Hening sejenak. Lalu muncullah obrolan di antara mereka. (Seperti membahas kolam renang dekat sekolah yang harga masuknya Rp15.000 dan untuk mereka sangat mahal alias mendingan dipake buat jajan berapa hari.)
Lalu, inilah saat saya tersentak dan tersentuh bukan main.
Adik C: “Kak, berdoa dulu yuk. Sebelum kakak pulang.”
Saya: “Hah? Oh.. Boleh.. Siapa yang pimpin doa.”
Lalu seperti biasa tunjuk-tunjukkan yang kerap dilakukan bocah, berujung dengan seorang adik perempuan yang ditugaskan berdoa, sebuah doa yang sederhana:
“Tuhan Yesus, makasih udah kumpulin kami hari ini. Makasih kami udah belajar dengan baik. Hmm makasih karena Kak Kila udah dateng ke sini. Semoga hmm acaranya nanti bisa jalan dengan baik, dan bantu sekolah kita. Sekarang kami dan kak Kila mau pulang, Tuhan pimpin kami masing-masing sampai selamat dan ketemu lagi nanti. Makasih ya Tuhan, Amin.”
Saat berdoa sambil tutup mata, saya menangis. Sambil jaga image, takut kalau-kalau ada mereka yang ngintip, jadi ngapus air matanya kayak lagi kelilipan. Selesai berdoa, saya bilang terima kasih buat doanya. Saya beres-beres dan mereka lanjut bermain. Wajah-wajah ketawanya, bisa seperti yang kalian lihat di video: gak ada beban. Meskipun mereka belum tahu, besoknya bisa masuk sekolah atau gak karena mungkin harus bantu ayah/ibunya kerja.
Sampai hari ini, kertas-kertas yang mereka tulis, ada di meja belajar saya. Tidak akan saya hilangkan, sebisa mungkin akan saya simpan. Saya ingin selalu ingat, bahwa di tengah kesulitan dan bermimpi, kita masih bisa berharap, berbuat baik kepada orang lain, dan berterima kasih kepada Sang Pencipta.
__________
Dari lubuk hati saya paling dalam, ketika saya mengetik tulisan ini, saya sangat ingin mereka bisa terus bersekolah. Sampai tuntas. SMA, bahkan kalau bisa sampai perguruan tinggi. Pendidikan seharusnya tidak mahal. Pendidikan seharusnya bisa didapatkan semua orang. Guru harusnya berkecukupan dan sejahtera karena telah mengajar banyak orang.
Tapi saya sadar itu tidak mudah. Tidak serta-merta dapat dilakukan serentak oleh pemerintah. Maka, untuk sebagian orang, mereka akan terus bermimpi.
Mereka boleh terus bermimpi sambil tetap berbahagia seperti adik-adik.
Dan kalau, kalau saja, kalian dan saya bisa bantu mewujudkan mimpi itu, kita juga pasti bahagia.
After bleeding hard, how can she still being kind to change her mind's point-of-view and tell him: "I see it now, your love is so big, that you won't let me hurt me anymore." I adore you, Mar.
Today we lost him.
I need to put this in a note. We lost a big one. A very great one.
Sedih tahu anak-cucu gak bisa lihat seorang legend di Indonesia masih nyanyi live di TV atau dengar dia live di radio, seperti aku kecil dengar Bob Tutupoly atau Vina Panduwinata.
Sedih.
“Eventually absence becomes a balm for forever.”
— Greg Sellers, journal entry, “Notes from Neruda’s Ghost,” 10 March 2020 (via memoryslandscape)
Ya Tuhan, Tumblr;
tempat pelarian paling dalam.
Geez, how am i supposed to trust him?
To trust myself?
How?
I hope we all finally understand, that there is time for happiness and there is time for sadness, and each of them will be placed at a very-very perfect time.
K.G.