Nyatanya Waktu tidak menyembuhkan aku
Mei 2017, sepeninggal kamu untuk selamanya duniaku seakan runtuh seruntuh-runtuhnya. Tak ada yang bisa sekedar memberikan pukpuk kecil pada bahuku. Saat kesedihan itu satu persatu teman mulai menunjukkan sifat aslinya, mereka yang bahkan ketika bersedih kudengarkan ceritanya, ku pukpuk bahunya, ku kuatkan hatinya, nyatanya tak melakukan hal yang sama terhadapku, jangankan untuk memberikan aku penguatan, mendengar ceritanya saja seolah enggan.
Kuobati luka itu sendirian, kunikmati proses kehilangan itu senyaman yang aku bisa. Orang-orang bahkan melihatku baik-baik saja, sehingga tak ada yang bertanya apakah aku baik-baik saja. atau ada yang mempertanyakan bagaimana perasaanku saat itu - tak ada - aku melaluinya sendiri, hingga kini.
2017 itu ternyata 7 tahun lalu, ya, dan kukira waktu yang akan membuatku sembuh, tapi tidak sayang, kehilanganmu tidak pernah membuat aku sembuh. Kenyataannya setiap waktunya aku masih merawat luka itu. Bahkan ada rasa rindu yang aku tidak tahu harus bagaimana menuntaskannya.
Sepertinya aku egois, sayang, aku masih ingin selalu kamu. Tapi sikapku ini bukankah memberatkanmu? Maafkan aku sayang ditempat seharusnya kau lebih bahagia dan melihatku dengan nyaman, aku malah sibuk dengan kesedihan.
Pesanku, teruskan langkahmu jangan melihat aku disini, bukankah aku bisa melewati semuanya selama 7 tahun ini? Aku yakin aku bisa melewati tahun demi tahunnya.
Doaku akan terus mengiringi langkahmu, Tuhan tentu saja lebih mencintaimu, dan Aku, aku dengan cintaku tak akan mampu menandingi bagaimana Tuhan yang mencintaimu.
With Love for you, Pram
15/10/2024














