I'm on Instagram as @novianiwidia. Install the app to follow my photos and videos.
almost home

oozey mess

ellievsbear
NASA
No title available
wallacepolsom
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
RMH
No title available

blake kathryn
Misplaced Lens Cap
Today's Document

#extradirty
$LAYYYTER

No title available
we're not kids anymore.
noise dept.
Cosimo Galluzzi

⁂

祝日 / Permanent Vacation

seen from India

seen from United States
seen from United States

seen from Taiwan

seen from Mexico
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from India

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
@novianiwidia
I'm on Instagram as @novianiwidia. Install the app to follow my photos and videos.
Perfect place Artistic space Full of peace To my soul, cheers! . . . . . . . . #tejapranaresort&spa #ojalounge #perfectlounge #artspace #desaigninterior #artinterior (at Tejaprana Resort & Spa)
Out of the woods 👾 (at Gili Trawangan)
Color of long way to home
Menerawang di Gili trawangan . . . . #gilitrawangan #thegiliway #sonyxperia #xperiam5
It's time to escape from the heaven #gilitrawangan #sonyxperia #xperiam5 #sonyid
Breathe the environment . . . . . #sonyxperia #xperiam5 #sonyid #thegiliway #gilitrawangan #sunset #beachyoga (at Gili Trawangan Island,Lombok)
Jalan yuk! #adidasclimacool #newbalance #greatoutdoors #traveller #outdoractivity
Believe
Sebenarnya agak sulit untuk mengungkapkan isi pikiran tentang satu topik ini. Entah karena saat ini aku hidup di negara multikultural atau aku sesungguhnya merasa kecil karena berada dalam kelompok yang orang biasa sebut minoritas. Apalah arti kelompok jika kita sesungguhnya telah memutuskan untuk menjadi suatu negara dan meresmikan berbagai hal yang membuat banyak perbedaan ini harmonis (sementara). 1 hal yang aku yakini bahwa agama atau kepercayaan atau apapun namanya merupakan sebuah pedoman hidup menuju hidup yang lebih baik. Perlu digarisbawahi hal ini aku posisikan sebagai pedoman bukan tujuan hidup. Aku terbersit kembali dengan konsep 'agama' karena mendapati salah seorang temanku dengan kondisi tiba2 men'judge' seorang temannya karena berpindah kepercayaan setelah menikah dan mengikuti kepercayaan suaminya. Let see this condition in other side view, Kebebasan memeluk agama telah diatur oleh negara dan dengan jelas tertuang di undang-undang. Sudah jelas secara konstitusi hal tersebut tidak melanggar hukum. Kita lihat lagi kondisi kita saat ini. Apakah kita memilih kepercayaan kita masing2? Atau kita mengikuti kepercayaan yg orang tua kita peluk sejak dulu? Meskipun pada akhirnya kita setuju dan jatuh cinta dengan kepercayaan ini. Tapi apakah kita pernah menjalani atau sekedar sedikit masuk ke dalam kepercayaan yang orang lain anut? Kita tahu darimana bahwa kepercayaan orang lain tidak lebih baik daripada kepercayaan kita? Kita mengagung2kan kepercayaan yang orang tua turunkan kepada kita sementara ada orang lain yang punya kesempatan untuk memilih, apakah hal itu tidak bisa disebut beruntung? Tidak ada agama manapun yang merestui umatnya berpindah ke agama lain. Tp bagi saya bukan itu point pentingnya. Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya utk menyakiti sesama, meskipun hanya dengan kata2. Saya percaya bahwa setiap orang punya tujuan hidup masing2 dan hal tersebut seperti sebuah perjalan. Sementara agama adalah rambu-rambunya. Sadar atau tidak terkadang kita berjalan ke arah yang sama meskipun dengan rambu-rambu yang berbeda.
'Jalan' bukan melulu tertuju ke suatu tempat. Kadang terkait dengan mengenal. Tapi 'kenal' bukan sekedar tahu. Kadang lebih kepada memahami. Perjalanan merupakan sebuah pembelajaran kesadaran bahwa yang ada tidak selamanya hanya kotak terbatas tapi bahkan ketidakterbatasan itu lebih eksis. Keterbatasan hidup akan disempurnakan dengan ketidakterbatasan akal dalam sekolah perjalanan.
Lelah marah tapi tidak boleh kalah Tertawan tapi harus melawan Tak terpeduli, sendiri tapi harus berani Apa yang dicari senantiasa pergi Apa yg datang terkadang selalu terlambat. Ritme getir meski tak boleh gentar
Perbedaan itu lucu
Lucu aja kalau dipikir-pikir. Dulu sewaktu belum terjalin hubungan seperti saat ini, saya selalu merasa memiliki visi yg sama, sepikiran, memiliki pandangan ke arah yang sama. Itu juga yang membuat kita mengambil suatu langkah yang sangat besar. Kenapa besar? Karena kita sudah memiliki suatu hubungan yang sangat aman, nyaman, tenang, menyenangkan tapi malah berubah ke jalinan yang beresiko menghilangkan segalanya. Sahabat jadi cinta. Ya basi banget kan. Sepertinya mustahil untuk sepasang lawan jenis untuk bersahabat karena pasti akan ada cinta. Tapi saya punya track record yg baik dalam bersahabat dg lawan jenis. Dan sampai saat ini mereka masih sahabat saya yang meskipun jarang bertemu tetap mengusahakan berkabar. Saya membutuhkan mereka, para lelaki yang mengerti saya dg sudut pandang mereka. Hidup jadi lebih seimbang kan kalau kita tdk hanya melihat dari satu sisi. Dan terkadang mereka selalu mengajarkan saya untuk berani dalam setiap langkah saya ditengah ketidakamanan resiko yg lebih banyak dipikirkan wanita. Seimbang karena tanpa mengabaikan resiko tetapi tidak ragu untuk melangkah. Kembali ke sahabat spesial saya. Perbedaan pertama yang sudah siap menghadang pada awalnya adalah keyakinan. Seperti kebanyakan orang timur, keyakinan merupakan hal yg dipegang teguh. Tapi lagi-lagi kami memiliki visi yang sama bahwa agama bukan penentu kualitas hidup manusia. Agama merupakan pedoman hidup menuju kualitas yang baik. Masalah hasilnya manusia penentunya. Karena hubungan manusia dg Tuhannya tidak akan ada tanpa hubungan baik sesama manusianya. We still go on. Setelah hampir setahun ini dg status yang baru, kemudian terbongkar banyak perbedaan diantara kami. Saya orang yang keras kepala. Seringkali sekalipun saya mempercayainya saya lebih percaya dg pemikiran saya sendiri. Tidak jarang kami berdebat akibat saya orang yang tidak mau mendengar nasehat. Selain keras kepala, saya orang yang suka memberi kejutan. Dia. Bukan orang yang senang dikejutkan. Pernah saya tiba2 memaksa untuk pulang ke rumah asli saya di suatu tempat yang jauh dari rumah rantau. Dengan ijin yang setengah hati diberikan saya berpura-pura melakukan perjalanan sehingga tidak menghubunginya selama 2jam. Kemudian datang kerumahnya dg membawa sebuah hadiah kecil. Apa yang saya dapat? Buka pelukan hangat karena diluar hujan, tapi omelannya yang merasa dibohongi. Perbedaan yang baru-baru ini saya sadari adalah kecintaan kami pada semesta yang berbeda. Saya penyuka segala hal tentang laut, pasir, deburan, terumbu karang dan rakyatnya, sentuhan matahari terhadapnya, serta aktivitas manusia disekitarnya. Sekalipun saya belum bisa berenang saya tetap ingin menikmatinya. Dia tidak. Menurutnya, ia dilahirkan untuk gunung. Kesukaannya menikmati alam dari ketinggian tidak membuatnya menyukai alam dititik bawahnya. Baginya, lautan lbh membawa resiko dari pada gunung yang sering ia daki. Bahkan foto latar sosial media kami menunjukkan perbedaan tersebut dg kontras. Si penyuka ketinggian memasang pemandangan langit diatas awannya sementara si penyuka laut menunjukkan buih-buih deburan ombak yang mencium pantai. Entah bagaimana kami menyalurkan kesukaan kami bersama-sama. Satu hal yang saya yakini. Perbedaan seringkali merusak suatu jalinan akibat keduanya berada di titik perbedaan bukan mencari titik persamaan.
I wanna go somewhere!
saya luka, tapi tidak punya alsan untuk blg terluka. karena merasa terluka bukan berarti saya menjadi benar
Pergi untuk kembali
Apa yang sering orang pikirkan tentang kematian?
Beberapa waktu yang lalu ketika 1 kata itu cukup 'sering' saya dengar disekitar saya. Tidak secara pribadi mengalami. Tetapi, cukup membuat saya getir jika suatu waktu tidak sengaja melihat upacara kematian di jalan. Kematian mungkin menjadi sebuah fase yang akan mengambil hidup seseorang yang ditinggalkan atau mungkin mengembalikan sesuatu. Apa yang kembali?bukankah kematian membawa segalanya pergi? Awalnya saya selalu melihat itu. Saya selalu tanpa sadar berpikir, andai kakek saya tidak pergi secepat itu, mungkin saya akan terus dibahagiakan oleh beliau. Mungkin kasih sayang darinya tidak pernah hilang. Mungkin beliau orang yang akan selalu menjemput dan menggendong cucu kesayangannya. Dan beliau yang selalu memenuhi semua harapan saya. Tapi ternyata tidak semua kematian itu perpisahan. Kematian itu jalan pulang. Ketika seseorang yang sangat saya kenal, mengalami masa ditinggalkan karena fase kematian saya takut ia akan berpikiran sama bahwa kematian membawa salah satu kebahagiaannya pergi. Tapi tidak. Ia menjadi sosok yang lebih 'besar' dari sebelumnya. Menjaga perasaan keluarganya yang tersisa. Berusaha menjadi pelindung. Dan merangkai setiap bait mimpi untuk membahagiakan orang2 yang mengalami hal yang sama dengannya. Kematian mengembalikan sesuatu. Sosok yang pergi akan hadir kembali dalam lingkaran. Sehingga peran yang ada akan terus dimainkan. Tubuh boleh kaku, tetapi jiwa didalamnya telah kembali kerumah dalam sosok yang berbeda. Kematian untuk sebuah jalan pulang...
Pilihanku adalah bersamamu,selanjutnya adalah pilihanmu untuk tetap bersamaku atau tidak
Kata kekasih, sahabat, kakak, dan guru terbaik
Tidak semua bangunan disebut rumah, tetapi makna pulang selalu kembali ke rumah
Saya yang sedang rindu rumah