Beberapa orang terdekat paham mengenai saya. Namun, ketika saya sedang bercerita kepada seseorang, seringkali, ia menanyakan bagaimana kehidupan cintamu, Pay?
Saya pun menarik nafas, lalu menghembuskannya perlahan. Dulu, semasa saya sekolah, saya pernah tertarik dan jatuh cinta pada seseorang. Saya akui, saya pernah sebegitu egoisnya, juga selalu menjadikan seseorang yang saya cinta adalah dunia.
Saya pernah mengalami pacaran jarak jauh, sangat jauh. Saat itu, saya hanya bercerita kepada seseorang saja mengenai hal ini. Kau tahu? Kami tidak terlalu sering berkomunikasi, karena yang saya tahu, ia sangat sibuk, bahkan karena perbedaan jam waktu kami pun yang lumayan.
Setiap hari, saya selalu tersenyum untuk mengawali hari-hari saya. Tidak terasa, hubungan kami pun sudah berjalan sama 6 bulan. Selama itu, saya tidak pernah berpikir negatif tentang dia, sekalipun. Saya berusaha untuk memupuk sabar, karena saya yakin, di balik semua ini ada jawaban.
Beberapa hari kemudian, saya dipanggil untuk menghadap guru saya di sekolah, kami pun berbincang seperti biasa. Kemudian, beliau mulai menatap saya dengan serius, saya pun menunduk, karena saya tahu, beliau sedang berusaha membaca isi pikiran saya.
Benar, setelah kami diam selama beberapa menit, beliau mulai menanyakan banyak hal. Namun, yang membuat saya bingung yaitu ketika beliau berkata, putuskan saja hubunganmu dengan dia. Saya tidak menggubris perintahnya, tetap diam dan menunduk. Lalu, saya dipersilakan untuk pergi.
Setelahnya, isi pikiran saya begitu hancur. Lalu saya bercerita kepada seseorang yang tahu tentang ini, ia pun berkata jika hidup adalah pilihan. Bagaimana kamu akan tetap tinggal dan bertahan meskipun dengan keadaan yang tidak begitu meyakinkan, atau kamu akan melepaskan?
Saat itu, saya tidak bisa berpikir jernih. Hingga akhirnya saya bisa melupakan masalah ini. Hubungan kami pun sudah berjalan selama 7 bulan, ia pulang. Saya amat senang.
Satu hari setelah perayaan, hati saya benar-benar hancur melihat dia bahagia dengan seseorang yang baru. Saya menangis, hati saya seperti teriris. Saya membuang air mata saya untuk seseorang yang tidak pantas.
Beberapa hari kemudian, saya berusaha berdamai dengannya, ia pun meminta maaf.
Di sini, saya belajar sabar dan ikhlas. Saya lega bisa sabar dan ikhlas atas kehilangannya. Walaupun buah dari kesabaran tidak akan selalu sesuai dengan harapan.
Hingga saat ini, sabar dan ikhlas adalah dua hal yang bisa membuat saya berdamai dengan seseorang, baik masa lalu maupun sekarang. Saya tidak mau menghabiskan banyak tenaga saya karena marah, tidak.
Terakhir, kita tidak bisa memaksakan kehendak seseorang. Kita hanyalah seseorang yang menemani dalam sepersekian kehidupannya.