Jangan Terlalu Percaya pada Penjelasan yang Rapi, Termasuk Cerita Ini
Selasa dulu itu, seorang psikolog mengatakan kepada saya bahwa saya takut ditinggalkan.
Karena lucu? Bukan. Saya tertawa karena saya terkenang kebiasaan orang-orang: kalau ada yang mengatakan sesuatu dengan suara tenang dan memakai kata-kata yang terdengar ilmiah, kita cenderung harus menganggapnya benar.
“Kenapa Anda tertawa?” tanyanya.
“Karena saya kira saya cuma tidak suka ditinggalkan.”
Saya tidak tahu apa yang ia catat. Mungkin “pasien menggunakan humor sebagai mekanisme pertahanan.” Mungkin “pasien tidak kooperatif.” Mungkin “pasien lapar.”
Sebelum datang ke sana, saya belum sarapan.
“Menurut Anda,” katanya, “apa yang membuat Anda selalu kembali kepada orang yang sama?”
Psikolog itu tidak tertawa.
Saya mulai merasa bahwa psikologi adalah ilmu yang sangat tidak menghargai lelucon.
Saya memandang bunga matahari hias di sudut ruangan. Daunnya terlalu hijau. Potnya terlalu bersih. Saya membayangkan tanaman itu dibeli karena psikolog ini pernah membaca bahwa ruangan yang nyaman membantu pasien terbuka.
Saya membenci orang yang menunggu jawaban dengan sabar. Kesabaran membuat kita merasa bersalah karena tidak segera menghasilkan sesuatu yang bermakna.
“Ayah saya dulu sering pergi,” kata saya akhirnya.
Saya langsung tahu kami sedang menuju suatu tempat yang sangat populer: Masa kecil.
Saya tidak punya masalah dengan masa kecil. Masa kecil saya biasa saja. Ada ayah, ada ibu, ada sekolah, ada nasi goreng, ada demam, ada ulang tahun, ada televisi. Ayah saya memang sering pergi, tetapi ia bekerja. Ia tidak menghilang ke dalam hutan sambil membawa koper.
“Apakah Anda merasa ditinggalkan ketika ayah Anda pergi?”
“Dan mungkin karena itu Anda mencari orang-orang yang tidak tersedia secara emosional.”
Ia menjelaskan sesuatu yang selama ini terasa berantakan. Saya mengingat semua orang yang pernah saya cintai dan tidak berhasil saya cintai dengan baik. Tiba-tiba mereka menjadi satu kelompok. Orang-orang yang sulit dihubungi. Orang-orang yang membalas pesan tiga hari kemudian. Orang-orang yang mengatakan “kita lihat nanti” dan tidak pernah benar-benar melihat apa pun.
Saya bisa menerima teori itu.
Dan karena ia mungkin benar, saya hampir mempercayainya.
Di perjalanan pulang saya memikirkan hal tersebut.
Saya melewati tukang gorengan. Saya berhenti membeli bakwan. Saya makan dua di atas motor.
Saya berpikir: mungkin seluruh hidup saya adalah usaha untuk mendapatkan kembali seseorang yang dulu pergi.
Kemudian saya berpikir: mungkin saya cuma suka orang yang tidak bisa membalas pesan.
Kemudian saya berpikir: mungkin saya cuma bodoh.
Tiga kemungkinan itu terasa sama masuk akalnya.
Malamnya saya menelepon seorang teman.
“Menurutmu, semua pilihan buruk punya akar psikologis?”
“Semua?” Temanku memastikan.
“Kadang-kadang, ya, kita cuma salah.”
“Yang ilmiah itu apa?” tanyanya.
“Bagus. Berarti ilmiah.” Jawabnya.
"Jadi apa kata psikolog tentang masalahmu?" Ia melanjutkan.
“Oh. Kamu mau dengar menurutku?”
“Kamu suka penjelasan yang bikin hidupmu terasa seperti novel.”
“Kalau kamu bilang kamu terus memilih orang yang salah karena trauma masa kecil, hidupmu jadi ada strukturny. Ada sebabnya. Ada akibatnya. Ada proses penyembuhannya.”
“Kalau kamu cuma salah memilih, ceritanya membosankan.”
Saya tidak suka ketika teman saya benar.
Besoknya saya kembali menemui psikolog.
Saya mengatakan kepadanya bahwa mungkin penjelasannya benar, tetapi mungkin juga tidak.
“Memang apa?” tanya saya.
“Memang mungkin.” Jawabnya.
Saya menunggu teori berikutnya.
“Jadi bagaimana saya tahu?” saya tanya lagi.
“Dengan melihat polanya.”
“Bukankah pola juga bisa menipu?”
Saya mulai curiga senyum adalah bagian dari pendidikan psikologi.
“Bisa,” katanya. “Karena itu kita tidak mengambil kesimpulan hanya dari satu cerita.”
Bukan karena saya telah menemukan penyebab hidup saya.
Justru karena saya belum menemukannya.
Saya pikir selama ini memahami diri berarti menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan diri sendiri.
Ternyata mungkin bukan begitu.
Saya belum tahu kenapa saya melakukan ini.
Saya belum tahu kenapa saya mencintai orang tertentu.
Saya belum tahu mengapa saya takut pada hal tertentu.
Saya belum tahu apakah masa lalu saya benar-benar menjelaskan masa kini saya, atau hanya menyediakan bahan untuk cerita yang ingin saya percayai.
Mungkin memang begitu. Saya belum tahu.
Mungkin saya hanya manusia yang sedang mencoba memilih, kadang benar, kadang salah, lalu mencoba lagi.
Dan kadang, tanpa alasan yang cukup puitis, saya membeli bakwan dua.
Yang terakhir itu tidak membutuhkan psikolog.
Setidaknya, saya harap begitu.